Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Masih berhubungan baik


__ADS_3

Kini, Anyelir tahu bagaimana cerita dari pihak Devan, dan akhirnya Anyelir paham bahwa sebenarnya cukup sulit berada diposisi Devan. Devan sangat ingin bahagia dengan pilihan hidupnya, namun kesehatan ibunya membuat Devan harus berpikir kesekian kali untuk melakukan itu, karena Devan tidak ingin terjadi hal buruk pada Mayang, yang tidak lain ibu Devan.


“Aku mohon, berikan aku waktu untuk menyelesaikan ini, aku janji setelah keadaan ibu sudah lebih baik, aku akan menceritakan semuanya, dan aku janji akan memperkenalkan kamu sebagai istriku, bukan hanya pada ibu tapi juga pada seluruh dunia, agar mereka tahu bahwa kamu adalah milikku,” janji Devan, dia ingin Anyelir percaya karena saat ini hanya Anyelir yang Devan butuhkan, dan bagi Devan, Anyelir adalah salah satu sumber semangatnya.


“Aku mengerti, aku akan bersabar menunggu waktu itu,” jawab Anyelir, memberikan secercah harapan kepada Devan yang saat ini tengah menantikan sebuah keajaiban tentang permasalahannya yang sudah berlarut-larut.


“Terimakasih banyak, karena masih mau bertahan dengan ku,” Devan memeluk Anyelir dengan hangat. Nyaman, adalah satu kata yang pertama kali Devan rasakan saat berdekatan dengan Anyelir, jika dengan Laura, Devan tidak pernah bisa sedekat ini, bahkan ketika Laura mencoba mendekatinya , maka Devan akan menjauh. Namun, lain halnya dengan Anyelir, Devan justru akan mencari cara untuk bisa selalu dekat dengan istrinya.


Disisi lain, Laura saat ini tengah bahagia, karena dia berpikir dia sudah bisa merecoki hubungan Devan dan Anyelir. Laura pikir, saat ini Anyelir dan Devan tengah bertengkar hebat karena Anyelir sudah percaya dengan perkataannya.


‘Nanti malam, aku akan coba hubungi Anyelir, aku yakin di sana pasti sudah pagi,’ batin Laura, dia ingin memastikan bahwa saat ini suasana hati Anyelir pasti tengah hancur karena berpikir selama ini Devan hanya ingin memanfaatkannya.


**


Matahari masih malu-malu memunculkan sinarnya, namun suara dering telepon yang terus berbunyi sudah membuat Devan terasa terganggu. Devan menatap di sampingnya, di mana Anyelir berada, namun ranjang itu kosong, dan ponsel yang berdering itu adalah milik Anyelir. Devan menyenderkan tubuhnya yang masih tertutup oleh selimut sebatas pinggang ke bawah, karena saat ini tubuhnya polos.


‘Siapa sih pagi-pagi begini,’ gerutu Devan, dia membaca nama penelepon, rupanya Laura.


‘Menarik,’ batin Devan seraya menyunggingkan senyumnya tipis, dia pun menggeser tombol hijau namun masih diam.

__ADS_1


[“Hai Anyelir, aku tahu kamu pasti lagi sedih ya? soal ucapan aku kemarin? Maaf ya aku bukan bermaksud ingin menyakiti perasaan kamu, hanya saja aku ingin kamu bisa lebih berhati-hati dengan Devan, karena aku tahu kamu hanya dimanfaatkan oleh suami kita,”] ujar Laura, namun Devan masih diam, dia masih ingin tahu hal apa lagi yang akan diucapkan oleh mulut wanita berbisa itu.


[“Anyelir, kalau kamu sudah tidak tahan lagi dengan Devan, maka aku akan siap membantu kamu, kamu tenang saja aku punya kenalan pengacara yang hebat, dan saranku sebaiknya memang kamu berpisah dari Devan sebelum kamu hamil, atau nanti anak kamu akan direbut paksa oleh Devan,” tanpa menaruh curiga, Laura terus memprovokasi Anyelir, dia berharap Anyelir akan mau berpisah dengan Devan dan Laura bisa kembali menjadi istri satu-satunya. Devan sudah tidak tahan lagi, dia menekan tombol supaya mereka bisa bervideo call, dan tanpa menaruh curiga sedikitpun Laura pun menerima panggilan video call tersebut.


[“Hai,”] Devan melambaikan tangannya, sengaja memperlihatkan dirinya yang kini tengah berbaring sembari bergelung selimut.


Mata Laura membulat sempurna, [“De-Devan?”] Laura tidak menyangka, kalau sedari tadi yang menerima panggilan teleponnya adalah Devan.


[“Kenapa? nampaknya kau sangat terkejut?”] ujar Devan dengan santai.


‘Tidak, bagaimana bisa mereka terlihat baik-baik saja, dan bahkan …’ sebagai orang yang sudah dewasa, Laura paham apa yang sudah terjadi antara Devan dan Anyelir semalam.


[“Dengar baik-baik, kamu tidak akan pernah bisa melakukan apapun untuk bisa merusak hubunganku dengan Anyelir, karena apapun yang kamu lakukan tidak akan pernah bisa menghancurkan kepercayaan ku dengan Anyelir,”] perkataan dingin Devan membuat Laura terdiam, dia pun langsung mengakhiri panggilan teleponnya. Napasnya memburu, karena amarah yang sudah menguasai, Laura marah karena apa yang sudah dia bayangkan tidak terjadi. Jangankan perpisahan, pertengkaran saja tidak terjadi diantara mereka berdua.


**


“Sayang, ayo  mandi dulu,” Anyelir masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Devan sudah bangun, posisi Devan masih memegang ponsel Anyelir sembari tersenyum.


“Kamu ngapain?” tanya Anyelir bingung, dia tidak takut apapun karena bagi Anyelir dia tidak memilik rahasia di belakang Devan.

__ADS_1


“Foto,” jawab Devan seraya memperlihatkan hasil foto selfinya, Anyelir akui, meskipun baru bangun tidur namun Devan terlihat tampan, dan kadar ketampanannya tidak berkurang sedikitpun.


“Narsis,” ujar Anyelir seraya tertawa, “mandi dulu, nanti kita sarapan bersama,” ujar Anyelir, dan diangguki oleh Devan, sebelum bangun Devan menyempatkan mencium kening Anyelir dengan penuh sayang.


“Buatkan aku kopi hitam tanpa gula sayang,” pinta Devan seraya melenggang kearah kamar mandi, Anyelir hanya tersenyum karena sampai sekarang Devan masih saja suka dengan kopi hitam tanpa gula, dan anehnya Devan hanya mau buatan Anyelir, karena menurut Devan rasanya jauh lebih enak buatan Anyelir. Setelah merapikan kamar tidur, Anyelir berniat pergi, namun ponsel berdering dan Anyelir lihat itu panggilan dari ibu Devan.


“Ibu? Pasti ibu nyari mas Devan,” lirih Anyelir, dia tidak berani menjawab panggilan telepon tersebut, Anyelir pun berlalu meninggalkan kamar dan menuju dapur untuk membuatkan kopi kesukaan suaminya.


“Nona memikirkan apa?” Larissa yang melihat Anyelir tengah melamun pun menegurnya.


“Ah, tidak,” Anyelir mencoba menyembunyikannya.


“Jangan kebanyakan melamun Nona,” saran Larissa, dan Anyelir hanya tersenyum.


“Eeem Larissa, apa kamu tahu soal Ibu Mayang?” tanya Anyelir, dan Larissan mengangguk. Anyelir menanyakan soal bagaimana sifat Mayang, karena biar bagaimanapun Anyelir harus siap dalam semua keadaan.


“Nyona Mayang orang yang baik Nona, anda tidak perlu khawatir, beliau sebenarnya sangat menyayangi tuan Devan dan juga orang-orang yang dekat dengan putranya, termasuk nyonya Laura,” raut wajah Larissa berubah sendu saat menyebut nama Laura. Anyelir paham, pasti karena saat ini keadaan yang sebenarnya sudah berbanding terbalik. Laura bukan lagi menjadi wanita yang dcintai Devan, itu semua karena kesalahan Laura yang sudah pergi meninggalkan Devan sesuka hatinya dan datang kembali disaat dia butuh. Andai saja dulu Laura tidak  melakukan tindakan bodoh,  dengan meninggalkan Devan tepat di har pernikahan mereka, mungkin saat ini Devan masih mencintai Laura dan saat ini Devan tidak akan menyalahkan semua yang terjadi kepada Laura. Namun, beginilah takdir hidup, Yang Maha Kuasa sudah menyiapkan semuanya, Anyelir menggantikan posisi Laura di hati Devan.


......Hai aku mau promo novel baru, tolong ramaikan yaa dan jangan lupa juga kasih dukungan 🥰 dengan cara, like, komentar, dan jangan lupa kasih Vote juga 😁tips dari kalian juga salah satu hal yang aku tunggu 🤣 terimakasih......

__ADS_1



__ADS_2