Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Tidak tahu diri!


__ADS_3

Agam masih memikirkan bagaimana dia harus bertindak. Agam tidak mau kehilangan calon buah hatinya yang masih dalam kandungan Erma, namun Agam juga tidak mau menyakiti perasaan Rose. Agam sadar, jika dia menikahi Erma secara sah menurut hukum, dan lagi, Erma juga tidak mau berpisah dengan Agam.


"Mas? Kamu kenapa sih?" sepulang kerja, Agam memutuskan untuk pulang ke rumah Rose. Rose menyadari, ada hal yang aneh dengan sikap suaminya, Rose yakin, saat ini suaminya tengah memikirkan sesuatu.


"Mas? Kamu kenapa?" tanya Rose lagi seraya menyentuh lengan suaminya.


"A-aku ... Rose, aku ingin mengatakan sesuatu." ujar Agam, seraya menatap Rose dengan intens.


"Apa itu Mas?" tanya Rose dengan raut wajah serius.


"Tadi pagi, Erma berbicara pada ku, dia meminta sesuatu," ucap Agam.


"Dia ngidam?" tanya Rose, karena biasanya begitu, namun anehnya, ngidam Erma cukup unik. Erma selalu ngidam perhiasan mahal ataupun mobil.


Agam menggeleng pelan. "Bukan," jawabnya.


"Lalu?" Rose mulai penasaran dengan apa permintaan Erma kali ini.

__ADS_1


"Dia ingin, pernikahan aku dan dia diresmikan," jawab Agam, dia susah payah mengatakannya kepada Rose.


"A-apa?" Rose terlihat terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Agam.


"Aku tahu, kamu akan terklejut, dan kamu pasti akan sulit menerima ini. Tapi Erma bilang, dia tidak mau berpisah, dan jika keinginannya tidak dikabulkan, maka ... dia akan membawa anaknya," ujar Agam.


Rose hanya bisa terisak, dia juga bingung sekarang. Rose tidak mau egois, bagaimanapun dia sudah berada di titik sejauh ini sekarang.


"Baiklah, aku setuju kamu menikahi dia secara resmi Mas, dan aku akan tanda tangani surat pernyataan bahwa aku menyetujui kamu untuk menikah lagi," akhirnya, Rose sudah mengambil keputusan. Dia setuju untuk Agam meresmikan pernikahannya dengan Erma.


Sepulangnya Agam dari kediaman Rose, Agam langsung membicarakan soal hasil pembicaraannya dengan Rose, kepada Erma. Erma tentu saja sangat bahagia, karena akhirnya dia bisa menjadi istri sah dari Agam.


Setelah, Agam dan Erma meresmikan pernikahan mereka, Erma semakin semena-semana dengan Rose, bahkan Erma juga sering mengambiln jatah hari Rose bersama Agam, dengan alasan dirinya tengah kram perut karena kandungan yang semakin membesar. Rose tetap sabar, karena dia tidak mau memancing keributan.


"Mas, kenapa sih, kamu nggak ceraikan aja Rose, dia nggak ada gunanya banget jadi istri, karena dia nggak bisa kasih kamu anak," tiba-tiba saja, saat Erma dan Agam tengah makan malam, Rose menyinggung soal Rose. Agam tiak terima, dia langsung meletakkan alat makannya, sampai sendok dan garpu itu berdenting cukup keras.


"Kenapa kamu berkata begitu?" tanya Agam dengan wajah tegas.

__ADS_1


"Ya, kan Rose mamang nggak bisa hamil Mas, cuman aku yang bisa kamu kasih keturunan," jawab Erma, tanpa berperasaan.


"Ralat, lebih tepatnya Rose belum diberi kesempatan untuk hamil, aku yakin suatu saat Rose akan hamil," jawab Agam dengan tegas.


"Lagi pula, kamu itu perempuan, harusnya sesama perempuan kamu itu saling support, dan kamu juga harus ingat Erma, kamu ada di sini juga karena Rose yang membawa kamu di tengah-tengah kami!" tegas Agam, dia pun memilih meninggalkan meja makan, dan berjalan keluar rumah.


"Mas, kamu mau ke mana?" Erma mencoba mengejar suaminya.


"Keluar, aku nggak betah di sini." jawab Agam, seraya terus berjalan keluar.


"Mas, malam ini harusnya kamu sama aku," ucap Erma.


"Kemarin juga harusnya aku sama Rose, tapi kamu tahan aku, kan? jadi gantian." jawab Agam, dia pun segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya, meninggalkan kediamannya bersama Erma.


"Mas Agam!" seru Erma, namun Agam sudah tak mendengarnya.


"Arrgghh sial!" Erma sangat marah dan kesal.

__ADS_1


__ADS_2