Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Hanya sandiwara


__ADS_3

“Ibu juga minta maaf, kalau selama ini kamu merasa, Ibu tidak adil terhadap kamu dan kakak kamu,” Rose memperlihatkan wajahnya yang sendu, membuat Anyelir ikut iba, “Ibu tahu, kamu pasti marah, maaf ya? selama ini Ibu hanya memikirkan soal perasaan Ibu, tanpa memikirkan kamu sedikitpun,” Rose memeluk Anyelir, dan seketika tatapannya bertemu dengan Devan. Rose melihat Devan yang memberikan ibu jarinya kearahnya, menandakan acting Rose berhasil.


“Ibu, jangan merasa begitu … Anyelir tahu kok, niat Ibu karena Ibu tidak mau kak Gita terus sedih, Anyelir tahu Ibu ingin hadir dan menggantikan peran alm. Ibunda kak Gita. Justru Anyelir yang minta maaf, kalau selama ini Anyelir tidak bisa memahami Ibu,” Anyelir terisak, dia menangis bahagia karena akhirnya dia mendapatkan pelukan lagi dari ibunya, yang sudah cukup lama tidak Anyelir rasakan.


“Jadi kamu memaafkan Ibu?” Rose menatap mata Anyelir yang sudah basah.


“Bu, nggak ada yang perlu di maafkan, bagi Anyelir Ibu nggak salah kok,” senyum tulus Anyelir pelrihatkan pada Ibunya.


‘Apakah Ibu masih belum bisa melihat ketulusan Anyelir, Bu?’ batin Devan, dia tidak menyangka, bagaimana seorang ibu bisa seegois Rose? Bagaimana bisa Rose bisa begitu tidak perdulinya dengan Anyelir?


“Terimakasih ya Nak,” Rose menggenggam tangan Anyelir dengan lembut, “semoga saja, setelah ini keadaan keluarga kita semakin membaik,” harap Rose, dan tentuharapan itu juga sangat diharapkan oleh Anyelir sendiri.


“Baiklah, Ibu pamit ya? kamu lanjutkan makan siang dengan suami mu, maaf karena Ibu sudah mengganggu,” sebenarnya Anyelir ingin menahan Rose supaya bisa makan siang bersama, namun Rose berdalih kalau dia akan ke kantor Agam, dan membuat Anyelir tidak bisa menahan Rose lagi tentunya.


Setelah Rose pergi, Devan langsung meminta manager keuangan mentransfer uang yang sudah dijanjikannya kepada Rose. Sejujurnya ada rasa bersalah dalam hati Devan, karena dia merasa dengan begini dia juga membohongi Anyelir. Namun, Devan hanya ingin Rose bisa melihat dengan matanya sendiri, bagaimana Anyelir yang begitu menyayanginya.


‘Semoga dengan begini, Ibu bisa sadar,’ batin Devan.


Raut wajah bahagia begitu terlihat dari Anyelir, dia terus saja tersenyum mengingat kejadian di restaurant tadi. Jujur saja, ini malah membuat Devan merasa bersalah, dia takut kalau nantinya Anyelir justru akan semakin kecewa jika tahu bahwa Rosse mengatakan semua hal tadi, hanya sandiwara, karena takut terhadap Devan.


“Aku berharap, hubungan aku dan Ibu akan semakin membaik,” harap Anyelir, dia membayangkan mungkin mulai sekarang hubungannya dengan Rosse akan kembali dekat seperti dulu, saat dia dan Rose belum pindah di kediaman Agam.


“Aku akan sering menjenguk ibu dan ayah nanti,” Anyelir begitu bersemangat sekarang.

__ADS_1


“Jangan,” cegah Devan, membuat Anyelir mengernyit bingung.


“Kenapa jangan?” tanya Anyelir curiga,


“Kalau kamu keseringan ke sana, aku sama siapa?” Devan mencoab untuk menutupi kebohongannya, Devan hanya tidak ingin Anyelir kembali kecewa, jika dia tahu bahwa sikap Rosse tidak akan bisa berubah terhadapnya.


“Iya, tapi sesekali kita harus tetap jenguk orangtua,” ujar Anyelir lagi.


“Iya, tapi sama aku ya?” setidaknya, jika bersama Devan, maka Rosse tidak  akan bisa berkutik, bergitu pikir Devan. Tentu tidak menaruh curiga, dan dia mengangguk dengan semangat.


“Oh iya, nanti sore aku harus ke luar kota, karena ada pekerjaan di sana, tapi aku janji aku hanya akan 3 hari berada di sana,” sejujurnya Devan ragu untuk meninggalkan Anyelir, namun proyek di Palembang mengharuskannya untuk hadir.


“Baiklah, kamu hati-hati ya? nanti akan aku masakkan makanan spesial untuk kamu,” ujar Anyelir, biasanya sebelum bepergian Devan memang sering meminta Anyelir untuk memasak.


“Nggak sama sekali kok,” Anyelir memang selalu bersemangat dalam hal melayani suaminya, karena selain itu bisa menyenangkan suami, itu juga menjadi ladang pahala bagi Anyelir.


**


“Ibu lagi apa?” Laura melihat ibu mertuanya yang tengah sibuk bermain ponsel.


“Ibu lagi coba mengabari Anyelir, Ibu ingin mengajak dia makan siang besok,” ujar Mayang dengan penuh semangat.


“Kalau mau ajak dia, mending besok aja Bu,” ucap Laura memberikan saran.

__ADS_1


“Kenapa besok? Nanti kasian dong Anyelir, mendadak begitu,” protes Mayang, dia merasa bahwa saran Laura tidak tepat.


“Kalau besok, Anyelir tidak bisa berpikir banyak Bu, pasti dia akan mau. Tapi kalau Ibu ajak sekarang, dia pasti menolak,” ucap Laura meyakinkan Ibunya, Mayang pun berpikir kembali dan membenarkan ucapan menantunya itu.


“Kamu benar, ya sudah besok saja Ibu mengajak Anyelir, oh iya tapi kamu ikutkan?” Mayang sangat berharap kalau Laura, menantunya bisa ikut dengannya.


“Lihat jadwal besok ya Bu? kalau bisa aku datang?” jawab Laura, dan Mayang sekali lagi hanya bisa maklum dengan menantunya yang memiliki pekerjaan sebaga model.


>>


Sore harinya, setelah dari rumah Anyelir, Devan kembali ke kediaman Mayang, untuk berpamitan sekaligus memberitahukan keberangkatannya ke Palembang kepada Mayang.


“Kamu ajaklah Laura,” pinta Mayang, niatnya supaya pasangan suami istri itu juga bisa menikmati bulan madu.


“Bu, aku di sana mau bekerja, bukan liburan, dan lagi aku di sana hanya 7 hari,” ujar Devan, sebenarnya dia hanya butuh waktu sebentar, karena dia juga menggunakan jet pribadi.


“Ibu kasihan kepada Laura, karena kalian tidak sering menghabiskan waktu bersama, dan sekarang, kamu malah mau meninggalkan dia lagi,” keluh Mayang, sebenarnya dia juga merasa curiga dengan putranya, karena Mayang merasa sikap Devan sekarang ini menjadi lebih dingin kepada Laura. Karena seingat Mayang, Devan  begitu mencintai Laura.


“Iya Bu, nanti gampang Devan mencari waktu luang lagi,” lagi-lagi itu jawaban yang Devan berikan, dan Mayang tahu itu semua hanyalah alasan Devan. Mayang bisa saja menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Devan dan Laura, namun Mayang yakin, Devan tidak akan jujur sepenuhnya.


“Ya sudah, Devan pergi dulu Bu,” Devan mencium tangan Ibunya, dan tidak lama Laura terlihat muncul, dan memeluk Devan dengan erat. Devan tidak membalas namun juga tidak melepasnya, Devan membiarkan Laura memeluknya, karena ada Mayang.


“Aku harus pergi,” Devan sedikit mendorong tubuh Laura, sejujurnya dia sudah muak dengan semua sandiwara pernikahan ini.

__ADS_1


'Sial, bahkan di depan Ibu, Devan sudah berani menolak ku,' batin Laura kesal.


__ADS_2