Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Kabar duka


__ADS_3

Napas Erma terlihat naik turun, menandakan dia juga tengah emosi sekarang. Namun ERma tidak mau gegabah, dia memilih untuk pergi dari hadapan Agam, dari pada nantinya hal yang tidak dia inginkan terjadi. Erma berpikir bisa saja Agam akan menceriakannya jika dia terlewat emosi, karena sekarang Agam sudah memiliki anak perempuan dari Rose, jadi bisa saja perhatian dan cinta Agam kepada Gita menghilang.


"Mas," panggil Rose kepada suaminya, "kamu harus sabar, jangan gegabah begitu," tegur Rose.


"Aku terlalu lelah menghadapi sikap Erma, dia terlalu egois, dan tidak pernah sadar dirinya sebenarnya siapa," ungkap Agam kesal.


"Mungkin, Erma sedang merasakan kecemburuan Mas, jadi wajar," Rose terus mencoba menenangkan hati Agam.


"Dulu aku juga sering menghabiskan waktu bersama dia, bahkan sering dia mengambil jatah waktu kamu," ucap Agam mengingat kejadian dulu,  "tapi, kamu sama sekali tidak bertindak seperti Erma, justru Erma yang seolah ingin menguasai ku, dan terus mendesak aku menceraikan kamu."


"Sudahlah Mas, doakan saja semoga secepatnya Erma bisa sadar," Rose memberikan nasihat untuk suaminya, dan Agam pun hanya bisa menganggukkan kepalanya paham.


Waktu terus berjalan, dua anak perempuan Agam tumbuh dengan baik, dan mereka tidak pernah mengetahui satu sama lain, bahwa mereka memiliki saudara tiri. Agam terus membagi waktunya bersama dengan Erma dan Rose. Sampailah ketika usia Gita menginjak 20 tahun, Erma mulai sakit-sakitan. Sakit yang diderita cukup parah, karena komplikasi, bahkan setiap bulannya Erma harus terus melakukan cuci darah.


Kesehatan Erma yang terus menurun, membuat Rose ikut bersedih. DIa pun memutuskan untuk mengunjungi madunya, yang saat ini tengah dirawat di rumah sakit.

__ADS_1


"Erma?" Rose menatap Erma dengan penuh iba.


"Kau datang Rose?" ucap Erma dengan suara yang lirih.


"Iya, aku di sini. Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Rose dengan penuh perhatian. Rose sangat prihatin dengan kondisi Erma yang semakin kurus.


"Rose, aku rasa waktu ku sudah tidak banyak," ujar Erma, dengan begitu lirih.


Rose terkejut, mendengar Erma yang berucap demikian, "Apa sih yang kamu bilang, aku yakin kamu akan sembuh dan aku yakin kamu akan bisa sehat seperti sedia kala."


"Apa itu?" tanya Rose semakin mendekat.


"Kalau aku sudah tidak ada, tolong jaga Gita ya? Aku titipkan Gita kepada kamu, tolong jaga dia dan sayangi dia," Erma memberikan pesan kepada Rose.


Rose menggenggam jemari Erma dengan lembut. "Tanpa kamu minta, aku sudah sangat menyanyangi Gita dan sudah menganggap Gita seperti putri ku sendiri. Berjanjilah pada ku Erma, kita akan membesarkan anak-anak bersama-sama," pinta Rose.

__ADS_1


Erma menggeleng lemah. "Aku rasa, waktuku sudah tidak banyak, aku tidak bisa berjanji lagi Rose, karena aku takut, akau tidak bisa menjalankannya, seperti dulu," Erma teringat dengan janjinya pada Rose dan Agam dulu. Saat Agam hendak meniikahi Erma.


Erma yang sudah berjanji akan berpisah dengan Agam, dan menyerahkan bayinya pada Agam, justru mengingkari semuanya.


"Rose, aku minta maaf atas semua kesalahan dan sikapku pada kamu,"ucap Erma, seraya menitikkan air matanya.


"Erma, aku sudah memaafkan kamu, jauh sebelum kamu meminta maaf. Aku sudah melupakan semuanya, dan kita buka lembaran baru ya?" ujar Rose begitu legowo.


Erma memejamkan matanya sejenak, membuat linangan air matanya semakin banyak, ucapan syukur dia panjatkan. "Terimakasih banyak Rose, aku menyesal karena sudah menyakiti kamu." Erma tersenyum begitu tulus ke arah Rose.


"Aku yakin, putri kamu akan bangga, jika tahu betapa baik ibunya. Tapi berbeda dengan aku, aku yakin putri ku akan membenci aku dan akan malu, jika dia tahu bahwa ibunya dulu seorang perebut suami orang," sesal Erma.


"Itu tidak akan terjadi, aku janji," ucap Rose dengan sungguh-sungguh. Perbincangan di rumah sakit, menjadi pertermuan terakhir bagi Rose dengan Erma, karena beberapa esok harinya, Erma dinyatakan meninggal dunia.


Agam yang tengah sibuk bolak-balik keluar kota, pada akhirnya memboyong Rose serta Anyelir ke kediamannya bersama Erma. Gita begitu benci, saat dia bertemu dengan ibu tiri dan saudara tirinya, dia menganggap selama ini Agam sudah menduakan bundanya. Agam yang berniat mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada Gita, nyatanya terus dilarang oleh Rose, dengan alasan dia sudah berjanji pada Erma, bahwa semua rahasianya akan tetap tertutup rapat.

__ADS_1


Flashback end.


__ADS_2