
"Jujur sama aku, Mas. Ada apa sebenarnya, kenapa kamu seolah sedang menjaga aku dan ibu. Kemanapun kami pergi, pasti ada pengawalan, dan bahkan bukan hanya itu. Bahkan Kak Gita, juga mendapatkan pengawalan itu, sampai asisten rumah tangga juga. Ini sebenarnya ada apa?" Anyelir terus mendesak Devan untuk menceritakan semuanya, sedangkan Devan nampak masih gamang untuk menceritakan semuanya kepada Anyelir, dia takut kalau Anyelir nantinya khawatir dengan kondisi Ibunya.
"Sayang, aku hanya sedang berjaga-jaga, aku nggak mau kejadian buruk terjadi pada kalian. Bukannya kita harus sedia payung sebelum hujan? Dan ini yang sedang aku lakukan," jawab Devan.
"Sayang, ini semua masih praduga, belum bisa dibuktikan. Aku hanya sedang memastikan saja, masalah ini sengaja atau bukan, kalau memang ini disengaja, maka aku akan beritahu kamu. Aku mohon beri aku waktu, ya?" Devan harap, Anyelir mau bersabar untuk bisa bagi Devan menguak semua fakta, siapa dalang sebenarnya di belakang kecelakaan Rose.
"Baiklah, tapi aku mohon jangan sembunyikan apapun dari aku, Mas. Aku juga berhak tahu," pinta Anyelir.
"Iya sayang," Devan mengusap jemari sang istri, lalu dibawanya Anyelir ke dalam dekapan Devan.
-//-
Malam sudah larut, lelaki yang tengah di sekap itu, masih berusaha untuk meloloskan tangannya dari jerat tali, rasa perih karena tergores tali itu, sama sekali tidak dirasakannya, karena yang dia inginkan saat ini, bisa lolos dari tempat itu. Setelah berusaha, akhirnya lelaki itu bisa melepaskan tangannya dari tali tersebut, dia melepas ikatan di kakinya dan berjalan dengan perlahan mencari celah.
'Jendala,' batin lelaki itu, terdapat jendela dengan ukuran pas sebadan, namun cukup tinggi, dia harus memanjat sesuatu untuk bisa menggapi jendela tersebut. Dia mengumpulkan beberapa kayu untuk bisa mencapainya, cukup sulit karena dinding yang licinnya membuatnya hampir kembali jatuh. Namun dengan usahanya yang gigih, akhirnya dia bisa keluar lewat jendela tersebut. Anak buah Devan yang ditugaskan untuk menjaganya, sepertinya tidak menyadari bahwa si pelaku sudah berhasil keluar, dia hanya tinggal mencari jalan keluar dari tempat itu.
'Aku harus segera pergi,' batinnya, dia terus mengendap-endap sampai cukup aman untuk menjauh dari gudang tua itu. Dia terus berjalan, namun yang dia temui hanya semak belukar, tidak ada ciri atau pertanda bahwa hutan itu sering dilalui orang.
"Mereka psikopat atau apa? Sampai sekarang aku belum menemukan jalan keluar, padaha sudah satu jam aku berjalan," lelaki itu mulai kelelahan, ketika dia datang ke tempat ini, dia dibawa dalam keadaan pingsan.
Sedangkan saat ini, anak buah yang ditugaskan oleh Devan sudah mulai menyadari bahwa pelaku itu sudah kabur, mereka terus mencari keberadaannya, dan tidak lupa melaporkan keteledoran mereka, kepada Felix.
["Kabur?!"] Felix sangat terkejut, baru saja dia hendak beristirahat, namun dia justru mendapatkan laporan mengejutkan dari anak buahnya. Setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya, Felix meminta mereka untuk tetap mencari, Felix yakin si pelaku yang sudah menbrak Rose, tidak akan bisa keluar dari hutan itu.
'Sebaiknya, aku jangan menghubungi, Tuan Devan. Katanya, Nyonya Anyelir sudah mulai curiga, sebaiknya aku ke sana sendiri,' batin Felix, dia pun segera bergegas pergi menuju lokasi.
"Jujur sama aku, Mas. Ada apa sebenarnya, kenapa kamu seolah sedang menjaga aku dan ibu. Kemanapun kami pergi, pasti ada pengawalan, dan bahkan bukan hanya itu. Bahkan Kak Gita, juga mendapatkan pengawalan itu, sampai asisten rumah tangga juga. Ini sebenarnya ada apa?" Anyelir terus mendesak Devan untuk menceritakan semuanya, sedangkan Devan nampak masih gamang untuk menceritakan semuanya kepada Anyelir, dia takut kalau Anyelir nantinya khawatir dengan kondisi Ibunya.
"Sayang, aku hanya sedang berjaga-jaga, aku nggak mau kejadian buruk terjadi pada kalian. Bukannya kita harus sedia payung sebelum hujan? Dan ini yang sedang aku lakukan," jawab Devan.
"Sayang, ini semua masih praduga, belum bisa dibuktikan. Aku hanya sedang memastikan saja, masalah ini sengaja atau bukan, kalau memang ini disengaja, maka aku akan beritahu kamu. Aku mohon beri aku waktu, ya?" Devan harap, Anyelir mau bersabar untuk bisa bagi Devan menguak semua fakta, siapa dalang sebenarnya di belakang kecelakaan Rose.
"Baiklah, tapi aku mohon jangan sembunyikan apapun dari aku, Mas. Aku juga berhak tahu," pinta Anyelir.
__ADS_1
"Iya sayang," Devan mengusap jemari sang istri, lalu dibawanya Anyelir ke dalam dekapan Devan.
-//-
Malam sudah larut, lelaki yang tengah di sekap itu, masih berusaha untuk meloloskan tangannya dari jerat tali, rasa perih karena tergores tali itu, sama sekali tidak dirasakannya, karena yang dia inginkan saat ini, bisa lolos dari tempat itu. Setelah berusaha, akhirnya lelaki itu bisa melepaskan tangannya dari tali tersebut, dia melepas ikatan di kakinya dan berjalan dengan perlahan mencari celah.
'Jendala,' batin lelaki itu, terdapat jendela dengan ukuran pas sebadan, namun cukup tinggi, dia harus memanjat sesuatu untuk bisa menggapi jendela tersebut. Dia mengumpulkan beberapa kayu untuk bisa mencapainya, cukup sulit karena dinding yang licinnya membuatnya hampir kembali jatuh. Namun dengan usahanya yang gigih, akhirnya dia bisa keluar lewat jendela tersebut. Anak buah Devan yang ditugaskan untuk menjaganya, sepertinya tidak menyadari bahwa si pelaku sudah berhasil keluar, dia hanya tinggal mencari jalan keluar dari tempat itu.
'Aku harus segera pergi,' batinnya, dia terus mengendap-endap sampai cukup aman untuk menjauh dari gudang tua itu. Dia terus berjalan, namun yang dia temui hanya semak belukar, tidak ada ciri atau pertanda bahwa hutan itu sering dilalui orang.
"Mereka psikopat atau apa? Sampai sekarang aku belum menemukan jalan keluar, padaha sudah satu jam aku berjalan," lelaki itu mulai kelelahan, ketika dia datang ke tempat ini, dia dibawa dalam keadaan pingsan.
Sedangkan saat ini, anak buah yang ditugaskan oleh Devan sudah mulai menyadari bahwa pelaku itu sudah kabur, mereka terus mencari keberadaannya, dan tidak lupa melaporkan keteledoran mereka, kepada Felix.
["Kabur?!"] Felix sangat terkejut, baru saja dia hendak beristirahat, namun dia justru mendapatkan laporan mengejutkan dari anak buahnya. Setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya, Felix meminta mereka untuk tetap mencari, Felix yakin si pelaku yang sudah menbrak Rose, tidak akan bisa keluar dari hutan itu.
'Sebaiknya, aku jangan menghubungi, Tuan Devan. Katanya, Nyonya Anyelir sudah mulai curiga, sebaiknya aku ke sana sendiri,' batin Felix, dia pun segera bergegas pergi menuju lokasi.
"Jujur sama aku, Mas. Ada apa sebenarnya, kenapa kamu seolah sedang menjaga aku dan ibu. Kemanapun kami pergi, pasti ada pengawalan, dan bahkan bukan hanya itu. Bahkan Kak Gita, juga mendapatkan pengawalan itu, sampai asisten rumah tangga juga. Ini sebenarnya ada apa?" Anyelir terus mendesak Devan untuk menceritakan semuanya, sedangkan Devan nampak masih gamang untuk menceritakan semuanya kepada Anyelir, dia takut kalau Anyelir nantinya khawatir dengan kondisi Ibunya.
"Sayang, aku hanya sedang berjaga-jaga, aku nggak mau kejadian buruk terjadi pada kalian. Bukannya kita harus sedia payung sebelum hujan? Dan ini yang sedang aku lakukan," jawab Devan.
"Sayang, ini semua masih praduga, belum bisa dibuktikan. Aku hanya sedang memastikan saja, masalah ini sengaja atau bukan, kalau memang ini disengaja, maka aku akan beritahu kamu. Aku mohon beri aku waktu, ya?" Devan harap, Anyelir mau bersabar untuk bisa bagi Devan menguak semua fakta, siapa dalang sebenarnya di belakang kecelakaan Rose.
"Baiklah, tapi aku mohon jangan sembunyikan apapun dari aku, Mas. Aku juga berhak tahu," pinta Anyelir.
"Iya sayang," Devan mengusap jemari sang istri, lalu dibawanya Anyelir ke dalam dekapan Devan.
-//-
Malam sudah larut, lelaki yang tengah di sekap itu, masih berusaha untuk meloloskan tangannya dari jerat tali, rasa perih karena tergores tali itu, sama sekali tidak dirasakannya, karena yang dia inginkan saat ini, bisa lolos dari tempat itu. Setelah berusaha, akhirnya lelaki itu bisa melepaskan tangannya dari tali tersebut, dia melepas ikatan di kakinya dan berjalan dengan perlahan mencari celah.
'Jendala,' batin lelaki itu, terdapat jendela dengan ukuran pas sebadan, namun cukup tinggi, dia harus memanjat sesuatu untuk bisa menggapi jendela tersebut. Dia mengumpulkan beberapa kayu untuk bisa mencapainya, cukup sulit karena dinding yang licinnya membuatnya hampir kembali jatuh. Namun dengan usahanya yang gigih, akhirnya dia bisa keluar lewat jendela tersebut. Anak buah Devan yang ditugaskan untuk menjaganya, sepertinya tidak menyadari bahwa si pelaku sudah berhasil keluar, dia hanya tinggal mencari jalan keluar dari tempat itu.
__ADS_1
'Aku harus segera pergi,' batinnya, dia terus mengendap-endap sampai cukup aman untuk menjauh dari gudang tua itu. Dia terus berjalan, namun yang dia temui hanya semak belukar, tidak ada ciri atau pertanda bahwa hutan itu sering dilalui orang.
"Mereka psikopat atau apa? Sampai sekarang aku belum menemukan jalan keluar, padaha sudah satu jam aku berjalan," lelaki itu mulai kelelahan, ketika dia datang ke tempat ini, dia dibawa dalam keadaan pingsan.
Sedangkan saat ini, anak buah yang ditugaskan oleh Devan sudah mulai menyadari bahwa pelaku itu sudah kabur, mereka terus mencari keberadaannya, dan tidak lupa melaporkan keteledoran mereka, kepada Felix.
["Kabur?!"] Felix sangat terkejut, baru saja dia hendak beristirahat, namun dia justru mendapatkan laporan mengejutkan dari anak buahnya. Setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya, Felix meminta mereka untuk tetap mencari, Felix yakin si pelaku yang sudah menbrak Rose, tidak akan bisa keluar dari hutan itu.
'Sebaiknya, aku jangan menghubungi, Tuan Devan. Katanya, Nyonya Anyelir sudah mulai curiga, sebaiknya aku ke sana sendiri,' batin Felix, dia pun segera bergegas pergi menuju lokasi.
"Jujur sama aku, Mas. Ada apa sebenarnya, kenapa kamu seolah sedang menjaga aku dan ibu. Kemanapun kami pergi, pasti ada pengawalan, dan bahkan bukan hanya itu. Bahkan Kak Gita, juga mendapatkan pengawalan itu, sampai asisten rumah tangga juga. Ini sebenarnya ada apa?" Anyelir terus mendesak Devan untuk menceritakan semuanya, sedangkan Devan nampak masih gamang untuk menceritakan semuanya kepada Anyelir, dia takut kalau Anyelir nantinya khawatir dengan kondisi Ibunya.
"Sayang, aku hanya sedang berjaga-jaga, aku nggak mau kejadian buruk terjadi pada kalian. Bukannya kita harus sedia payung sebelum hujan? Dan ini yang sedang aku lakukan," jawab Devan.
"Sayang, ini semua masih praduga, belum bisa dibuktikan. Aku hanya sedang memastikan saja, masalah ini sengaja atau bukan, kalau memang ini disengaja, maka aku akan beritahu kamu. Aku mohon beri aku waktu, ya?" Devan harap, Anyelir mau bersabar untuk bisa bagi Devan menguak semua fakta, siapa dalang sebenarnya di belakang kecelakaan Rose.
"Baiklah, tapi aku mohon jangan sembunyikan apapun dari aku, Mas. Aku juga berhak tahu," pinta Anyelir.
"Iya sayang," Devan mengusap jemari sang istri, lalu dibawanya Anyelir ke dalam dekapan Devan.
-//-
Malam sudah larut, lelaki yang tengah di sekap itu, masih berusaha untuk meloloskan tangannya dari jerat tali, rasa perih karena tergores tali itu, sama sekali tidak dirasakannya, karena yang dia inginkan saat ini, bisa lolos dari tempat itu. Setelah berusaha, akhirnya lelaki itu bisa melepaskan tangannya dari tali tersebut, dia melepas ikatan di kakinya dan berjalan dengan perlahan mencari celah.
'Jendala,' batin lelaki itu, terdapat jendela dengan ukuran pas sebadan, namun cukup tinggi, dia harus memanjat sesuatu untuk bisa menggapi jendela tersebut. Dia mengumpulkan beberapa kayu untuk bisa mencapainya, cukup sulit karena dinding yang licinnya membuatnya hampir kembali jatuh. Namun dengan usahanya yang gigih, akhirnya dia bisa keluar lewat jendela tersebut. Anak buah Devan yang ditugaskan untuk menjaganya, sepertinya tidak menyadari bahwa si pelaku sudah berhasil keluar, dia hanya tinggal mencari jalan keluar dari tempat itu.
'Aku harus segera pergi,' batinnya, dia terus mengendap-endap sampai cukup aman untuk menjauh dari gudang tua itu. Dia terus berjalan, namun yang dia temui hanya semak belukar, tidak ada ciri atau pertanda bahwa hutan itu sering dilalui orang.
"Mereka psikopat atau apa? Sampai sekarang aku belum menemukan jalan keluar, padaha sudah satu jam aku berjalan," lelaki itu mulai kelelahan, ketika dia datang ke tempat ini, dia dibawa dalam keadaan pingsan.
Sedangkan saat ini, anak buah yang ditugaskan oleh Devan sudah mulai menyadari bahwa pelaku itu sudah kabur, mereka terus mencari keberadaannya, dan tidak lupa melaporkan keteledoran mereka, kepada Felix.
["Kabur?!"] Felix sangat terkejut, baru saja dia hendak beristirahat, namun dia justru mendapatkan laporan mengejutkan dari anak buahnya. Setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya, Felix meminta mereka untuk tetap mencari, Felix yakin si pelaku yang sudah menbrak Rose, tidak akan bisa keluar dari hutan itu.
__ADS_1
'Sebaiknya, aku jangan menghubungi, Tuan Devan. Katanya, Nyonya Anyelir sudah mulai curiga, sebaiknya aku ke sana sendiri,' batin Felix, dia pun segera bergegas pergi menuju lokasi.