
Sudah sekitar setengah jam Anyelir pergi, terdengar suara mesin mobil yang berhenti di teras rumah, semua pelayan juga menyambut dengan baik si tuan rumah, ya dia adalah Devan.
“Tuan? anda datang ke sini?” tanya Larissa dengan bingung, karena dia pikir Anyelir pergi dengan Devan.
“Iya, kenapa? ada yang salah?’ tanya Devan bingung.
“Bukankah anda pergi bersama nona Anyelir?” tanya Lariisa, membuat Devan terkejut, karena dia tidak ada sama sekali membuat janji bertemu di luar.
“Maksudnya? aku tidak ada janji temu dengan Anyelir di luar, kalaupun ingin pergi pasti aku sudah menjemputnya,” ujar Devan.
“Jadi Anyelir pergi?” tanya Devan dengan was-was.
“Iya Tuan, katanya akan pergi makan malam dengan Nyonya,” jawab Larissa semakin membuat Devan was-was, dia mencoba menghubungi Anyelir tapi ponselnya tidak aktif.
“Sepertinya ponsel nona tertinggal Tuan, karena tadi sedang dicas,” ujar Larissa memberitahukan kepada Devan.
“Kapan Anyelir berangkat?”
“Sekitar setengah jam lalu Tuan,” setelah mendengar jawaban dari Larissa, Devan pun berpamitan dan segera pergi untuk menyusul Anyelir, dia berharap tidak terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.
.
.
Disisi lain, Anyelir baru saja tiba di kediaman Mayang, awalnya dia nampak gugup, namun kembali meyakinkan diri bahwa dia harus percaya diri. Niatnya datang ke kediaman Mayang hanya untuk memenuhi undangan makan malam, tidak lebih.
__ADS_1
“Nak Anyelir?” tidak disangka, ternyata Mayang sudah menantikan kedatangannya di teras rumah.
“Ibu? Kok di teras rumah?” tanya Anyelir setelah dia menyalimi tangan Mayang dengan sopan.
“Iya, Ibu menunggu kamu Nak,” ujar Mayang, dia langsung membawa Anyelir untuk masuk ke dalam rumah, namun baru sampai di ruang tamu, mereka mendengar suara seorang wanita memanggil Mayang, yang tidak lain adalah Laura. Saat Mayang dan Anyelir menoleh bersamaan, pada saat itu Laura terkejut, karena melihat keberadaan Anyelir di rumah ibu mertuanya.
“Laura? Kamu pulang Nak?” tanya Mayang semebari memeluk penuh sayang Laura, awalnya Anyelir merasa cemburu, namun dia mencoba menahannya dan hanya bisa berdoa dan berharap, semoga saja kelak Mayang juga bisa menyayanginya dan menerima Anyelir sebagai menantu.
“Oh iya, kenalkan ini Anyelir, dan Anyelir kenalkan ini menantu Ibu, namanya Laura,” baik Anyelir dan Laura saling berjabat tangan, di sini Mayang juga menjelaskan bahwa Anyelir adalah orang yang sudah menolong Mayang saat Mayang tersesat. Mendengar penjelasan Mayang, membuat Laura menjadi paham, bahwa Mayang belum tahu siapa Anyelir sebenarnya dan Laura yakin perkenalana mereka hanyalah ketidak sengajaan.
‘Jangan-jangan Anyelir juga baru tahu soal Ibu? Ini bisa aku gunakan untuk memanasi Anyelir, dengan begitu hubungan Devan dan Anyelir akan memburuk,’ batin Laura tersenyum licik, dia pikir Anyelir belum sepenuhnya tahu soal Mayang.
“Oh iya Bu, mas Devan mana?” Laura memperlihatjkan betapa dia sangat dekat dengan Mayang, hal ini memang sengaja dilakukannya supaya Anyelir semakin cemburu.
“Devan? Dia belum pulang, dia bilang sih mungkin menginap karena ada acara di kantor,” ujar Mayang, kini mereka sudah duduk di meja makan.
“Ini sudah lebih dari cukup kok Bu,” dengan lembut Anyelir menjawab, membuat Laura tidak suka.
Ditengah makan malam yang sedang berlangsung, tiba-tiba saja Devan datang, yang membuat Devan bingung, saat ini Laura juga ada di meja makan bersama, ada Anyelir dan juga ibunya juga. Suasana benar-benar tidak memihak pada Devan, dia yakin Laura akan membuat ulah.
“Sayang, akhirnya kamu pulang,” Laura memeluk dan mencium pipi Devan di hadapan Mayang dan Anyelir.
“Jaga sikap kamu Laura, ada tamu di sini!” hardik Devan dengan tegas, dan Mayang tidak membela Laura sama sekali, karena memang bagi Mayang apa yang dilakukan oleh Laura tidak dibenarkan, sebab di sini bukan hanya ada dirinya, namun ada Anyelir juga. Anyelir mencoba menahan perasaannya saat melihat bagaimana Laura berlaku mesra dengan Devan dihadapannya. Sakit hati? Mungkin iya, namun Anyelir mencoba menahan sekuat mungkin.
“Devan, ayo makan bersama, ada tamu spesial Ibu.” Ajak Mayang, dia mencoba mencairkan suasana, karena tidak enak jika Anyelir harus melihat pertengkaran suami istri.
__ADS_1
“Laura, ayo kembali ke tempat kamu,” titah Mayang. Kini mereka semua sudah kembali ke posisi semula. Devan diam-diam mencuri pandang kearah Anyelir, dia tahu betul, pasti perasaan Anyelir tengah tidak baik-baik saja, hal ini membuat Devan merasa bersalah.
“Mas, mau makan pakai apa?” tanya Laura yang tengah mengisi nasi dan lauk pauk ke dalam piring Devan, sebenarnya hal ini sangat jarang Laura lakukan ketika mereka hanya berdua, namun kini di hadapan Anyelir, Laura seolah berlaku menjadi istri yang begitu sempurna, dan menunjukkan bahwa rumah tangga Devan dan Laura baik-baik saja.
“Oh iya, Devan dan Anyelir belum kenal kan?” ujar Mayang, “Nak Anyelir, ini anak Ibu, dan Devan ini adalah Nak Anyelir yang sudah menyelamatkan Ibu,” ujar Mayang, kemudian Devan dan Anyelir berdiri dan saling berjabat tangan satu sama lain, hal ini tentu saja tidak disukai oleh Laura.
“Terimakasih sudah menyelamatkan ibu saya,” ucap Devan, bagaimanapun dia harus melakukan hal itu, berpura-pura di hadapan ibuny, meski batinnya menolak.
“Sama-sama Kak,” jawab Anyelir, sungguh kalau saat ini dia tengah sendirian pastinya air mata itu sudah mengalir deras, namun Anyelir menahan air mata itu mati-matian, rasanya menahan tangis itu sangat menyiksa.
“Oh iya, Anyelir, kamu sudah menikah?” Laura melontarkan pertanyaan yang seharusnya tidak dia tanyakan, Anyelir terkejut dan sempat terdiam.
“Belum, saya masih mahasiswi Ka,” jawab Anyelir dengan senyumnya.
“Karena kamu belum menikah, aku ingin memberikan beberapa saran, ketika kamu menikah nanti pastikan kamu mendapatkan ibu mertua yang baik, seperti aku contohnya. Tapi, pastikan dulu kamu mendapatkan restu, iya kan Bu?” Laura menatap Ibu mertuanya, meminta persetujuan, seraya menunjukkan bahwa dia menjadi menantu kesayangan Mayang.
Mayang mengelus pipi Laura dengan sayang, “kamu bisa aja,” ujar Mayang sembari tersipu malu, karena dipuji oleh Laura. Anyelir yang melihat bagaimana interaksi Mayang dan Laura, merasa begitu sedih, karena dia tidak bisa merasakan apa yang Laura rasakan.
“Tapi, sebelum menikah kamu harus pastikan Nak, bahwa calon suami kamu tidak memiliki istri, karena wanita yang merusak kebahagiaan wanita lain, itu bukan wanita yang baik,” ujar Mayang, mendengar perkataan Mayang, tentu saja Anyelir merasa tersudutkan, dan Laura malah tersenyum mendengarnya.
‘Malam ini benar-benar berpihak padaku,’ batin Laura.
“Iya Bu,” hanya itu jawaban yang bisa Anyelir berikan, mereka semua melanjutkan makan malam mereka. Anyelir ingin segera pergi dari sana, dia tidak bisa terus melihat Laura yang terang-terangan memanasi dirinya. Kini Anyelir tengah diajak berkeliling rumah oleh Mayang, ada Laura juga.
“Laura, kamu baru pulang kan? mandi sana,” titah Devan.
__ADS_1