
Disisi lain, kini Gita tengah membereskan barang-barangnya, tadi siang dia sudah melakukan ijab qobul pernikahan dengan Arman, sebenarnya Gita masih tidak rela karena masa mudanya harus dilalui menjadi seorang istri. Gita belum siap untuk semua itu, dan Gita masih ingin menikmati hidupnya, karena bagi Gita, kehidupan setelah menikah akan semakin mengekangnya.
“Ayo.” Ajak Arman, setelah dia melihat Gita sudah merapikan semuanya.
“Kita mau tinggal di mana? Lagian kenapa kamu ajak aku pindah segala sih? Kan bisa kita tinggal di sini,” ujar Gita kesal, sebenarnya Gita tidak mau merasakan hidup susah. Semenjak lahir sampai sekarang, Gita selalu hidup dalam kecukupan, apapun yang dia inginkan pasti akan dia dapatkan, dan itu harus.
“Aku sudah siapkan apartement, dan kita akan tinggal di sana, jadi kamu jangan khawatir ya?” ujar Arman mencoba menenangkan Gita, namun wajah murung Gita belum juga berganti. Suara ketukan pintu menghentikkan pembicaraan mereka, membuat Gita dan Arman saling bertatapan.
“Biar aku yang buka pintu,” Arman melangkah dan membuka pintu kamar, terlihat Rosse yang berdiri di depan pintu.
“Ibu?” lirih Arman.
“Maaf ya Nak Arman, kalau Ibu mengganggu, soalnya Nak Arman ditunggu ayah di bawah, katanya ada yang ingin dibicarakan,” ujar Rosse menyampaikan pesan Agam.
“Oh iya Bu, Arman segera ke sana,” jawab Arman, setelah menyampaikan pesan Agam, Rose pun pergi dari kamar Gita, sedangkan Arman berpamitan kepada Gita untuk pergi menemui Agam lebih dulu. Setelah Arman pergi, nampak Rose menyelinap masuk dari kamar Gita.
“Ngapain Ibu ke sini?” tanya Gita.
__ADS_1
“Ini, tapi jangan bilang ke Arman maupun ayah,” Rose memberikan uang tunai kepada Gita sebesar 10 juta sebegai pegangan Gita karena mulai saat ini mereka tidak tinggal dalam satu atap.
“Kalau ayah tahu gimana?” ucap Gita.
“Jangan sampai, makanya kamu simpan uang ini baik-baik ya?” ujar Rose, Gita pun memeluk Rose sangkin senangnya.
‘Yes, bisa pergi ke salon, anggap saja sebagai hadiah pernikahan untuk diri sendiri,’ batin Gita, padahal Rose mengumpulkan uang itu dari sisa uang belanja, karena Rose takut kalau Gita nantinya akan merasa kesusahan diawal pernikahan, apalagi Gita masih baru menyandang status sebagai istri, belum banyak hal yang bisa Gita lakukan, seperti bersih-bersih rumah, memasak, dan lain halnya pasti membutuh kan tenaga orang lain.
“Ibu sudah mencarikan art untuk kamu, nanti soal gaji, biar menjadi urusan Ibu,” ujar Rose menyanggupi. Karena takut ketahuan akhirnya Rose memilih pergi, sebelum nanti Arman kembali dan curiga terhadap Rose.
Arman sudah duduk berhadapan dengan Agam, yang sekarang sudah menjadi ayah mertuanya, kalau biasanya Agam terkesan santai, namun mala mini Arman merasa ada yang berbeda dari Agam, dan Arman yakin Agam ingin membahasa soalpernikahannya dengan Gita, karena memang pernikahan mereka terbilang sangat mendadak, padahal baik Arman maupun Gita sama-sama sudah sepakat kalau mereka akan menikah setelah mereka wisuda nanti.
“Ayah hanya ingin, mengatakan, sebenarnya berat bagi Ayah untuk melepaskan Gita, namun Gita juga harus belajar mandiri, dan Ayah harap kamu bisa membimbing Gita ke jalan yang lebih baik, kalau suatu nanti Gita melakukan kesalahan, dan kamu sudah tidak bisa lagi mendidiknya, tolong jangan sakiti Gita, tapi kembalikan kepada Ayah dengan cara baik-baik, biar Ayah yang mengamil tugas tersebut lagi,” pinta Agam kepada Arman. Sebagai seorang Ayah, Agam merasa belum bisa puas memberikan kasih sayang untuk putri-putrinya, namun keadaaan memaksanya untuk melakukan hal ini, terpakasa menikahkan kedua putrinya diusia muda.
“Baik Yah, Arman akan berusaha semampu Arman untuk bisa mendidik Gita, dan Arman mohon bimbingan dan doa restu dari Ayah, semoga pernikahan ini akan menjadi pernikahan yang pertama dan terakhir bagi kami, semoga saja pernikahan ini akan langgeng sampai akhir hayat,” ujar Arman, mulai hari ini dia akan mengemban tugas yang lebih berat, yaitu tanggung jawabnya seorang kepala rumah tangga, dan Arman berharap dia bisa menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab, dan bisa mendi imam yang baik untuk Gita yang bisa menjadi panutan. Pembicaraan mereka berdua berlanjut pada bagaimana persiapan Arman untuk memboyong Gita pinddah, sebagai orangtua Arman ingin memastikan bahwa putrinya baik-baik saja. Perasaan khawatir Agam akhirnya hilang setelah dia mendengr jawaban Arman, Agam berharap semoha semoga saja seterusnya Arman bisa menjadi suami yang bertanggung jawab.
**
__ADS_1
“Nona, anda sudah pulang?” Larissa menyambut kepulangan Anyelir, kalau biasanya Anyelir akan menjawab pertanyaan Larissa dengan senyuman, berbeda dengan hari ini. Anyelir hanya diam dan tatapannya terasa kosong, dia kembali teringat dengan semua kenyataan yang Anyelir ketahui malam hari ini, dan Anyelir juga mendapati kenyataan tentang jawaban dari Laura. Sakit, dan sesak yang Anyelir rasakan di rongga dadanya, dia merasa hampir kehilangan oksigen, dia butuh ruang untuk bernapas saat ini.
“Nona, saya siapkan makan malam ya?” ujar Larissa masih membujuk Anyelir agar dia mau berbicara, Anyelir menghentikkan langkahnya dan menatap Larissa dengan sendu.
“Aku sudah makan,” lirih Anyelir, hanya jawaban singkat yang Anyelir berikan, hal itu tentu saja membuat Larissa khawatir. Bahkan bukan hanya Larissa, namun semua pelayan di rumah itu juga khawatir dengan keadaan Anyelir, tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi pada Anyelir.
“Nona, ada yang anda inginkan?” tanya Larissa lagi, namun tidak ada jawaban sampai Anyelir berlalu melangkah menuju kamar miliknya. Larissa sangat khawatir dengan keadaan Anyelir, dia pun langsung memberitahukan kepada Felix tentang Anyelir yang sudah kembali ke rumah dan dengan keadaan yang mengkhawatirkan. Felix langusung bergerak cepat menyampaikan semuanya kepada Devan, kebetulan Devan juga baru saja keluar dari kamar Mayang.
“Apa?” Devan begitu terkejut mendengar penejelasan Felix soal Anyelir, rasa bersalah menggerogoti hatinya, dia takut terjadi sesuatu dengan Anyelir.
“Kau Sudah pastikan Anyelir tidak pergi ke manapun kan?” tanya Devan, pasalnya dia takut kalau nantinya Anyelir akan kabur dan jauh dari Devan, Devan tidak mau lagi jauh dari Anyelir karena dia sudah sadar bahwa dia sudah jatuh cinta dengan Anyelir, dia sudah menemukan tambatan hatinya, dia sudah menemukan tempatnya untuk pulang, kenyamanan dan perhatian yang Anyelir berikan kepada Devan sudah mampu melunakkan perasaannya.
“Sudah Tuan,” jawab Felix dengan yakin.
“Ayo kita pergi.” Devan bergegas pergi meninggalkan kediaman Mayang, tadi Devan sudah meminta suster untuk menjaga Mayang dan Devan sudah mengetatkan penjagaan agar lebih aman. Dalam perjalanan Devan terus saja risau, dia takut kalau nantinya Anyelir akan marah padanya dan akan membenci Devan selamanya, Devan tidak mau itu terjadi.
“Tuan, menurut data informasi ponsel nona Anyelir, nona Anyelir sempat menghubungi nyonya Laura,” ujar Felix, Felix benar-benar melakukan pekerjaannya dengan sangat baik, sampai-sampai hal sekecil ini saja bisa diketahui olehnya.
__ADS_1
“Laura? Untuk apa?” alis Devan saling bertautan, dia merasa aneh, karena dalam keadaan seperti ini Anyelir malah menghubungi Laura, Devan pikir mungkin Anyelir akan menghubungi Agam untuk mengadukan semuanya, namun Devan salah, Anyelir malah menghubungi Laura dan entah apa yang mereka bicarakan, satu yang Devan takutkan adalah, dia takut kalau Laura malah mencuci otak Anyelir.