Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Bekerja dengan suami


__ADS_3

“Baik Pak Devan, kami sangat tertarik, penjelasan yang diberikan pun sangat mudah untuk kami pahami,” ujar client sembari mengulurkan tangan  untuk berjabat tangan dengan Devan.


“Terimakasih banyak, semoga kedepannya proyek ini akan berjalan dengan lancar,” Devan menjabat tangan clientnya. Iya, hari ini Anyelir berhasil membuat Devan mendapatkan proyek yang cukup besar, Anyelir bisa mempresentasikan dengan baik dan menjawab setiap pertanyaan dari client dengan sangat baik dan tenang, sampai client pun akhirnya tertarik dan setuju.


“Tuan, kita mau ke mana? Ini kan bukan jalan ke kantor?” Anyelir mengerutkan alisnya, karena mobil tidak mengarah kembali ke kantor.


“Katakan kamu ingin ke mana?” tanya Devan kepada Anyelir, membuat Anyelir mengerutkan alisnya karena merasa aneh dengan perkataan Devan.


‘Maksud Tuan?”


“Sebagai ucapan terimakasih ku, aku akan menuruti ke manapun kamu mau, mungkin ada sesuatu yang ingin kamu makan? Atau belanja?” tanya Devan.


“Tidak perlu Tuan, justru saya senang karena bisa dipilih untuk menemani Tuan bertemu dengan client, dengan begitu saya bisa mendapatkan pengalaman,” jawab Anyelir sembari memberikan senyum terbaiknya.


“Aku tahu, ini salah satu pengalaman yang bisa kamu pelajari, tapi tetap saja katakana apa yang kamu inginkan,” Devan memaksa Anyelir untuk mengatakan apa hal yang ingin Anyelir lakukan.


“Baiklah kalau Tuan memaksa, kalau begitu saya ingin pergi ke jalan xxx,” akhirnya Anyelir sudah memutuskan, Devan pun meminta supir mengantar mereka ke alamat yang sudah diberikan oleh Anyelir.


“Ini alamatnya?” tanya Devan memastikan.


“Iya Tuan, kita akan ke sana,” Anyelir menunjuk pedagang bakso kaki lima yang ada di pinggir jalan.


“Kamu yakin?” Devan nampak terkejut dengan perkataan Anyelir, ini adalah kali pertama bagi Devan.


“Yakin Tuan, ayo.” Anyelir mengajak Devan untuk turun dari mobil, dan melangkah menuju pedagang bakso. Dia memilih tempat duduk yang dekat dengan kipas angina yang digantung, sedangkan Devan melihat sekeliling.


“Kamu, yakin makan di sini?” tanya Devan sekali lagi.


“Yakin Tuan, ini enak banget loh,” jawab Anyelir, dia menjelaskan bahwa ini adalah salah satu bakso favoritnya, dia sangat suka makan di tempat ini karena terbilang bersih, namun berbeda dengan Devan, karena ini adalah kali pertama Devan menginjakkan kakinya singgah di penjual bakso kaki lima.

__ADS_1


“Kenapa kamu suka makan di tempat seperti ini?” Devan mencoba mencari tahu tentang Anyelir, karena semakin lama dia mengenal Anyelir, dia merasa Anyelir adalah wanita yang berbeda.


“Karena makanannya enak, dan ditambah lagi, kebanyakan dari penjual kaki lima, hanya mengandalkan dagangan mereka Tuan untuk mencukup kebutuhan hidup, makanan kaki lima mulai ditinggalkan karena dianggap ketinggalan zaman, dan sekarang sudah banyak caffe dan restaurant yang berdiri, dan dinilai lebih nyaman. Mungkin memang benar, di sana lebih nyaman, dan sejuk, tapi Tuan tidak pernah tahu kan betapa sejuknya hati kita ketika melihat pedagang kaki lima yang tersenyum kala kedatangan pembeli,” penjelasan dari Anyelir membuat Devan berpikir, benar apa yang dikatakan oleh Anyelir, zaman sekarang ini, sangat sulit mendapatkan pekerjaan, jadi sudah banyak orang yang memutuskan untuk berjualan, berwirausaha. Banyak pengusaha yang berbondong-bondong membuka caffe dengan makanan yang dibandorl belasan ribu, bermaksud untuk menggaet para remaja, dan hasilnya para pedagang kaki lima sering dilupakan dan jarang adanya pembeli, karena kalah menarik.


Devan menyuap bakso pesanannya, dan menurut Devan, rasa bakso itu memang sangat enak, dia pun jadi menemukan ide untuk menolong para usaha pedagang kaki lima agar kembali dikenal dan menunjukkan bahwa kaki lima pun mempunya rasa yang khas.


“Bagaimana rasanya Tuan?” tanya Anyelir, dia takut kalau rasa bakso ini tidak sesuai dengan lidah Devan.


“Enak,” jawab Devan dengan semangat.


“Syukurlah kalau Tuan suka,” Anyelir bernapas lega karena Devan menyukai rasa baksonya.


“Anyelir?” Anyelir menoleh ke sumber suara, betapa terkejutnya Anyelir harus bertemu dengan seseorang yang pernah hadir dalam masalalunya.


“Arman?” lirih Anyelir, Devan pun menoleh kearah lelaki tersebut.


“Kamu ke sini sama siapa?” tanya Arman, pasalnya dia nampak asing dengan Devan.


“Baiklah, maaf sudah mengganggu kamu Anyelir, kalau begitu aku permisi,” Arman memutuskan untuk berpamitan, karena Anyelir jelas-jelas tidak menginginkan kehadirannya. Bahkan ketika Arman berpamitan pun Anyelir hanya menganggukan kepala, tanpa menoleh sedikitpun pada Anyelir, namun rasa penasarannya masih terus menggelayuti perasaan Arman, dia ingin sekali tahu siapa lelaki yang bersama Anyelir.


“Mantan kekasih kamu?” tebak Devan.


“Iya,” Anyelir justru menjawab dengan sangat jujur, membuat Devan sempat terkejut, karena ternyara tebakannya benar.


“Kenapa dia tahu tempat ini?” tanya Devan lagi.


“Dulu aku pernah mengajaknya ke sini, dan mungkin dia jadi suka,” jawab Anyelir dengan nada bimbang. Devan tidak membahas lelaki itu lagi , karena entah kenapa Devan merasa panas hati sendiri membahas tentang pria yang pernah hadir pada masa lalu Anyelir, apakah mungkin Devan mulai jatuh cinta pada Anyelir dan merasa cemburu?


Disisi lain, Nabila juga baru selesai meninjau tempat yang dijadikan untuk pemotretan, beberapa kali Nabila juga mengarahkan foto grafer pada spot foto yang bagus, melihat bagaimana cara kerja Nabila, membuat Felix kagum, karena tadinya dia berpikir bekerja dengan wanita hanya akan membuatnya susah, namun ternyata salah, Nabilla justru banyak membantunya kali ini.

__ADS_1


“Minumlah dulu, kamu pasti lelah,” Felix memberikan minuman dingin kepada Nabilla yang nampak sudah kehausan.


“Terimakasih Tuan Felix,” ujar Nabila menerima minuman dingin itu.


“Nampaknya kamu tahu banyak tentang photographer?” ujar Felix memulai pembicaraan.


“Kebetulan, itu salah satu hobby saya yang saya geluti, terkadang saya mendapatkan job untuk foto prewedding  dan lainnya,” jawab Nabilla dengan tenang. Felix hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


“Beristirahatlah lebih dulu, sebentar lagi kita kembali ke kantor,” ujar Felix, dia pun meninggalkan Nabila yang masih menikmati waktu istirahatnya. Tiba-tiba terbesit dalam pikiran Nabila, tentang Anyelir. Dia mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu, sebenarnya Nabila ingin menghubungi Anyelir, namun dia mengurungkan niatnya, karena takut jikalau Anyelir tengah bertemu dengan client, akhirnya Nabila hanya mengirimkan pesan menanyakan tentang bagaimana pekerjaan Anyelir di sana.


‘Semoga saja, tidak terjadi hal buruk,’ batin Nabila penuh harap.


**


Anyelir akhirnya sampai di kantor, namun sebelum turun dari mobil, Devan meminta supir untuk turun dari mobil lebih dulu, hal itu membuat Anyelir mengerutkan keningnya.


“Ada apa Tuan?” tanya Anyelir bingung.


“Melakukan apa yang harus aku lakukan,” hanya itu jawaban yang Devan berikan, selanjutnya dia menarik tengkuk Anyelir dan mempertemukan bibir mereka berdua, kali ini bukan hanya megecup tapi lebih mengarah bercumbu. Devan tahu, ini adalah hal baru bagi Anyelir, karena Anyelir sangat kaku dalam hal ini, namun Devan mempunyai cara, dia menggigit bibir bawah Anyelir sampai bibir Anyelir terbuka, dan Devan memiliki kesempatan untuk menjamah lebih dalam lagi.


“Bernapaslah,” ucap Devan setelah melepaskan pagutan mereka, Anyelir terengah-engah karena permainan lidah Devan.


Devan memegang bibir Anyelir, “manis,” hanya satu kata, namun mampu membuat semburat merah di pipi Anyelir.


“Malam ini aku tidak pulang,” ujar Devan, dia mendapatkan kabar dari Laura, bahwa ibunya terus mencari Devan, namun tidak mungkin Devan akan mengatakan hal itu.


“Baiklah Tuan, saya yakin anda pasti sedang sibuk sekarang ini,” Anyelir mencoba berpikir positif.


“Kau bisa pergi bersama temanmu bila kamu mau, lagi pula besok weekend kan?” bagaikan angin segar, mata Anyelir langsung berbinar ketika Devan mengizinkan Anyelir untuk bertemu dengan temannya.

__ADS_1


Devan merapihkan rambut Anyelir yang cukup berantakan karena ulahnya, setelah itu dia mengajak Anyelir untuk turun lebih dulu. Anyelir memilih berjalan di belakang Devan, karena tidak mau menimbulkan kecurigaan oleh pegawai kantor. Debaran jantung Anyelir masih belum stabil, rasanya bibir Anyelir masih hangat oleh bibir Devan.


‘Ish mikir apa sih aku,’ Anyelir menggelengkan kepalanya mencoba melupakan kejadian tadi. Ini adalah kali kedua Devan menciumnya, namun Anyelir masih ragu untuk menyimpulkan bahwa Devan sudah mencintainya, dan Anyelir rasa ini memang masih terlalu dini untuk menyimpulkan perasaan Devan.


__ADS_2