Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Penawaran


__ADS_3

"Bu Desi memang meminta saya untuk mencelakai wanita bernama Gita," ucap si pelaku.


"Gita?" tanya Devan memastikan.


"Tapi, saat itu saya melihat ada dua orang, GIta dan ibu mertua anda, saya sudah mengatakannya kepada bu Desi, tapi dia meminta saya untuk menabrak keduanya," lanjutnya, tangan Devan sudah terkepal dengan erat mendengar semua penjelasan itu.


"Lalu, apa yang kalian bicarakan terakhir kali," tanya Devan lagi.


"Dia masih belum puas, Tuan. Dia masih ingin, untuk saya melukai menantunya, kali ini dia mau saya benar-benar melenyapkan wanita bernama Gita, kalau tidak,-"


"Kalau tidak apa?" tanya Devan semakin penasaran.


"Maka, dia tidak akan membantu biaya istri saya di rumah sakit. Saya juga tidak mau melakukan pekerjaan ini, Tuan. Saya sudah akan memiliki anak, tapi dia menjanjikan uang yang banyak dan akan memastikan bahwa istri saya akan baik-baik saja," pria itu terisak, mengingat istrinya yang kini ada di rumah sakit, sebentar lagi istrinya akan segera melahirkan.


"Kau, akan aku beri pekerjaan yang lebih baik, dan kehidupan istrimu juga akan aman, asalkan kau mau bekerja sama dengan ku," Devan kembali memberikan sebuah penawaran.


"Saya mau, Tuan." jawab pria itu tanpa berpikir panjang.


"Pertama, kita pindahkan istrimu ke rumah sakit lain, yang jauh jangkauannya dari Desi. supaya Desi tidak bisa mengancam kamu lagi," langkah awal Devan adalah menyelamatkan lebih dulu istri dari pelaku itu, kemudian Devan akan kembali memikirkan caranya nanti. Hari itu juga, Devan membawa si pelaku menuju ke rumah sakit, kali ini Devan percaya bahwa pria itu tidak akan mengkhianatinya.


-//-


Arman, tengah melakukan janji temu dengan ayahnya di salah satu restaurant yang menjadi favorit keluarganya, makan siang kali ini memang terlihat jauh berbeda. Arman dan Dika merasa, mereka sudah sangat jarang bertemu dan mengobrol bersama.


"Makanan di sini, masih sama kan, Arman?" tanya Dika, di sela makan siang mereka. Untuk makan siang dengan sang putra, DIka sudah membooking ruang VIP.


"Iya, Yah. Selalu enak," Arman menyetujui pendapat ayahnya.


"Bagaimana kabar Gita?" tanya Dika, ternyata dia masih ingat dengan menantunya.


"Ayah, ingin tahu kehamilan Gita, atau kabar Gita?" Arman justru balik bertanya.


"Calon cucu Ayah sehat, Ayah tidak perlu khawatir. Meskipun waktu itu, hampir saja Gita celaka, tapi alhamdulillah Gita selamat," terang Arman.


"Kenapa tiba-tiba kamu memulangkan asisten rumah tangga yang Ayah rekomendasikan? Lalu bagaimana dengan Gita. apa dia mengerjakan semuanya sendiri?" Dika sepertinya cukup khawatir, karena dia tahu diusia kehamilan Gita yang masih muda, seharusnya Gita banyak beristirahat.

__ADS_1


"Ayah tenang saja, Gita baik, dan soal asisten rumah tangga, Arman sudah mencari gantinya," jawab Arman lagi.


"Apa ada sesuatu yang terjadi, apa mereka melakukan kesalahan?" Dika nampaknya tengah menyelidiki sesuatu, tapi Arman tidak akan terkecoh semudah itu.


"Untuk Ayah, mereka bekerja dengan baik, untuk Arman mereka juga bekerja dengan baik, hanya saja informasi yang seharusnya tertutup rapat, juga akhirnya sampai di telinga Ayah, kan?" sindir Arman.


"Soal Gita, yang bukan anak kandung pak Agam?" tanya Dika, sepertinya Dika tidak mau mengelak, dia mengakui semuanya, terlihat dari cara dia yang begitu tenang.


"Iya, mereka memberitahu pada Ayah, atau Ayah mendengar sendiri lewat penyadap suara?" tanya Arman lagi, seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Dika nampak menghela napasnya, kali ini dia benar-benar tidak menyangka, bahwa pertemuannya dengan sang putra untuk membahas semua soal dirinya, yang diam-diam masih sering memantau kehidupan rumah tangga Arman.


"Yah, kenapa Ayah harus melakukan ini? Ini rumah tangga Arman, Yah. Arman nggak suka cara Ayah yang pasaang penyadap suara, dan mencari info lewat pekerja Arman. Arman juga punya privasi dalam hidup Arman," Arman mencoba menyampaikan kekecewaan kepada sang Ayah, Arman mau ayahnya berpikir kembali dan merenungkan apa yang sudah dilakukannya.


"Ayah cuman mau, kamu memiliki keluarga yang baik. Kamu jelas tahu, di keluarga kita harus jelas bibit, bebet, dan bobotnya. Sedangkan Gita, dia tidak jelas ayahnya siapa, hanya saja Gita beruntung karena memiliki ayah seperti pak Agam," terang Gita.


"Yah, aku yakin, Gita juga nggak mau dilahirkan dengan cara seperti itu, tapi di dunia ini sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, dan kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan takdir yang sudah digariskan," Arman mencoba memebrikan pengertian kepada Dika, berharap dengan begini pemikiran Dika kepada Gita, bisa berubah.


"Arman, Ayah tahu saat ini kamu sedang dibutakan oleh cinta, tapi Ayah harap kamu bisa kembali memikirkannya. Ayah bisa bantu kamu mendapatkan hak asuh anak kamu kelak, dan Ayah pastikan akan memberikan uang kepada Gita, karena sudah melahirkan anak untuk kamu. Tapi, Ayah harap, setelah Gita melahirkan nanti, kamu bisa meninggalkan Gita dan memulai hidup kamu yang baru dengan anak kamu. Ayah akan carikan wanita yang lebih baik dari Gita, Ayah janji," Dika, masih berusaha untuk membuat Arman berpaling dari Gita.


"Bu Desi memang meminta saya untuk mencelakai wanita bernama Gita," ucap si pelaku.


"Gita?" tanya Devan memastikan.


"Tapi, saat itu saya melihat ada dua orang, GIta dan ibu mertua anda, saya sudah mengatakannya kepada bu Desi, tapi dia meminta saya untuk menabrak keduanya," lanjutnya, tangan Devan sudah terkepal dengan erat mendengar semua penjelasan itu.


"Lalu, apa yang kalian bicarakan terakhir kali," tanya Devan lagi.


"Dia masih belum puas, Tuan. Dia masih ingin, untuk saya melukai menantunya, kali ini dia mau saya benar-benar melenyapkan wanita bernama Gita, kalau tidak,-"


"Kalau tidak apa?" tanya Devan semakin penasaran.


"Maka, dia tidak akan membantu biaya istri saya di rumah sakit. Saya juga tidak mau melakukan pekerjaan ini, Tuan. Saya sudah akan memiliki anak, tapi dia menjanjikan uang yang banyak dan akan memastikan bahwa istri saya akan baik-baik saja," pria itu terisak, mengingat istrinya yang kini ada di rumah sakit, sebentar lagi istrinya akan segera melahirkan.


"Kau, akan aku beri pekerjaan yang lebih baik, dan kehidupan istrimu juga akan aman, asalkan kau mau bekerja sama dengan ku," Devan kembali memberikan sebuah penawaran.


"Saya mau, Tuan." jawab pria itu tanpa berpikir panjang.

__ADS_1


"Pertama, kita pindahkan istrimu ke rumah sakit lain, yang jauh jangkauannya dari Desi. supaya Desi tidak bisa mengancam kamu lagi," langkah awal Devan adalah menyelamatkan lebih dulu istri dari pelaku itu, kemudian Devan akan kembali memikirkan caranya nanti. Hari itu juga, Devan membawa si pelaku menuju ke rumah sakit, kali ini Devan percaya bahwa pria itu tidak akan mengkhianatinya.


-//-


Arman, tengah melakukan janji temu dengan ayahnya di salah satu restaurant yang menjadi favorit keluarganya, makan siang kali ini memang terlihat jauh berbeda. Arman dan Dika merasa, mereka sudah sangat jarang bertemu dan mengobrol bersama.


"Makanan di sini, masih sama kan, Arman?" tanya Dika, di sela makan siang mereka. Untuk makan siang dengan sang putra, DIka sudah membooking ruang VIP.


"Iya, Yah. Selalu enak," Arman menyetujui pendapat ayahnya.


"Bagaimana kabar Gita?" tanya Dika, ternyata dia masih ingat dengan menantunya.


"Ayah, ingin tahu kehamilan Gita, atau kabar Gita?" Arman justru balik bertanya.


"Calon cucu Ayah sehat, Ayah tidak perlu khawatir. Meskipun waktu itu, hampir saja Gita celaka, tapi alhamdulillah Gita selamat," terang Arman.


"Kenapa tiba-tiba kamu memulangkan asisten rumah tangga yang Ayah rekomendasikan? Lalu bagaimana dengan Gita. apa dia mengerjakan semuanya sendiri?" Dika sepertinya cukup khawatir, karena dia tahu diusia kehamilan Gita yang masih muda, seharusnya Gita banyak beristirahat.


"Ayah tenang saja, Gita baik, dan soal asisten rumah tangga, Arman sudah mencari gantinya," jawab Arman lagi.


"Apa ada sesuatu yang terjadi, apa mereka melakukan kesalahan?" Dika nampaknya tengah menyelidiki sesuatu, tapi Arman tidak akan terkecoh semudah itu.


"Untuk Ayah, mereka bekerja dengan baik, untuk Arman mereka juga bekerja dengan baik, hanya saja informasi yang seharusnya tertutup rapat, juga akhirnya sampai di telinga Ayah, kan?" sindir Arman.


"Soal Gita, yang bukan anak kandung pak Agam?" tanya Dika, sepertinya Dika tidak mau mengelak, dia mengakui semuanya, terlihat dari cara dia yang begitu tenang.


"Iya, mereka memberitahu pada Ayah, atau Ayah mendengar sendiri lewat penyadap suara?" tanya Arman lagi, seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Dika nampak menghela napasnya, kali ini dia benar-benar tidak menyangka, bahwa pertemuannya dengan sang putra untuk membahas semua soal dirinya, yang diam-diam masih sering memantau kehidupan rumah tangga Arman.


"Yah, kenapa Ayah harus melakukan ini? Ini rumah tangga Arman, Yah. Arman nggak suka cara Ayah yang pasaang penyadap suara, dan mencari info lewat pekerja Arman. Arman juga punya privasi dalam hidup Arman," Arman mencoba menyampaikan kekecewaan kepada sang Ayah, Arman mau ayahnya berpikir kembali dan merenungkan apa yang sudah dilakukannya.


"Ayah cuman mau, kamu memiliki keluarga yang baik. Kamu jelas tahu, di keluarga kita harus jelas bibit, bebet, dan bobotnya. Sedangkan Gita, dia tidak jelas ayahnya siapa, hanya saja Gita beruntung karena memiliki ayah seperti pak Agam," terang Gita.


"Yah, aku yakin, Gita juga nggak mau dilahirkan dengan cara seperti itu, tapi di dunia ini sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, dan kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan takdir yang sudah digariskan," Arman mencoba memebrikan pengertian kepada Dika, berharap dengan begini pemikiran Dika kepada Gita, bisa berubah.


"Arman, Ayah tahu saat ini kamu sedang dibutakan oleh cinta, tapi Ayah harap kamu bisa kembali memikirkannya. Ayah bisa bantu kamu mendapatkan hak asuh anak kamu kelak, dan Ayah pastikan akan memberikan uang kepada Gita, karena sudah melahirkan anak untuk kamu. Tapi, Ayah harap, setelah Gita melahirkan nanti, kamu bisa meninggalkan Gita dan memulai hidup kamu yang baru dengan anak kamu. Ayah akan carikan wanita yang lebih baik dari Gita, Ayah janji," Dika, masih berusaha untuk membuat Arman berpaling dari Gita.

__ADS_1


__ADS_2