
Selesai makan malam, Devan menemani ibunya dan menemani sebentar sampai dia melihat Mayang benar-benar sudah tertidur dengan pulas. Devan mengecup kening Mayang dengan sayang, Devan begitu menyayangi Mayang, bagi Devan Mayang adalah cahayanya, dan tanpa Mayang, maka dunia Devan akan gelap.
“Istirahat ya Bu,” lirih Devan, dia pun melangkah dengan perlahan keluar dari kamar Mayang. Devan menuju ruang kerjanya, untuk mengecek beberapa pekerjaan yang belum bisa dia selesaikan saat di kantor tadi, secangkir kopi sudah tersedia, Devan memang sudah memesan kopi hitam kepada pelayan rumah, sebagai teman lemburnya malam ini. sembari mengecek berkas, sesekali Devan menyesap kopi hitam tanpa gula kesukaannya, menikmati setiap rasa yang menempel pada indra perasanya.
5 menit setelah menyesap kopi, entah kenapa Devan merasa panas disekujur badannya, padahal ac di ruangannya menyala. Entah kenapa, perasaan seperti ini Devan merasa pernah mengalaminya, dan setelah berpikir sejenak, dia tahu apa yang terjadi pada tubuhnya saat ini.
‘Tidak salah lagi, ini pasti karena obat sialan itu,’ batin Devan, dan dia tahu siapa yang sudah merencanakannya, yaitu Laura. Sekujur tubuh Devan semakin menggila, bahkan sesuatu di bawah sana sudah mengeras, Devan tidka bisa lagi menahan hasratnya, tapi dia tidak mau melakukan hal itu dengan Laura. Hanya satu pilihan Devan, pergi ke Anyelir, atau tetap bertahan di sini dan bisa saja hal lain terjadi antara dirinya dengan Laura.
“Aku harus pergi,” Devan memutuskan untuk pergi sekarang, dengan langkah yang sedikit sempoyongan, dia keluar dari rumah dengan sangat perlahan, karena dia tidak mau kalam sampai Laura tahu ke mana Devan ingin pergi. Devan tidak bisa menyetir sendiri, dia pun meminta sopir untuk mengantarnya ke kediaman Anyelir.
Disisi lain, Laura sudah bersiap, bahkan dia sudah menggunakan parfum yang bisa semakin merangsang Devan, Laura mengenakan lingerie tipis, dengan panjang hanya sepaha Laura, bagian dada yang transparan, membuat lekuk tubuh Laura terekspose bebas. Laura yakin, begitu Devan melihatnya pasti Devan akan semakin terangsang, apalagi pakaian Laura yang mengundang hasrat.
Sudah satu jam lamanya Laura menunggu, namun Devan belum juga masuk ke dalam kamar Laura. Akhirnya Laura memutuskan untuk menyusul Devan, tidak lupa dia mengenakan piyama kimono untuk menutupi lingerie tipisnya. Dengan santai, Laura melangkah menuju ruang kerja Devan, mencoba mengetuk beberapa kali namun tidak ada sahutan, akhirnya Laura memutuskan untk masuk ke dalam, dan yang Laura lihat adalah ruangan yang kosong. Senyum terbit dari bibir Laura, saat dia melihat cangkir kopi milik Devan yang tinggal separuh, itu menandakan kalau Devan sudah sempat meminumnya.
“Tapi ke mana Devan?” Laura mencoba berpikir, dan dia pun tersenyum, karena Laura pikir Devan berada di kamar miliknya sendiri, akhirnya Laura memutuskan untuk mengecek kamar Devan. Laura semakin dibuat bingung, karena Devan tidak juga berada di sana, pikiran Laura semakin kalut, karena Devan kini berada dalam pengaruh obat perangsang.
__ADS_1
“Apa Devan keluar rumah?” tanya Laura pada salah satu pelayan.
“Iya Nyonya, tadi tuan keluar rumah dan mengendarai mobil bersama sopir,” jawab pelayan. Mendengar jawaban pelayan tentu saja Laura sangat marah, susah payah dia menyiapkan untuk malam ini, tapi semua gagal. Laura kembali masuk ke dalam kamarnya, dia mencoba berpikir ke mana Devan pergi, dan jawabannya hanya satu, Anyelir.
“Sial,” suara Laura tertahan, karena dia tidak mau kalau sampai Mayang mendengar umpatannya. Laura benar-benar marah, karena malam ini harusnya Devan mengahabiskan waktu dengan Laura, bukannya Anyelir. Namun, Laura tidak bisa berbuat banyak, karena dia takut nantinya Devan akan marah.
**
Disisi lain, Anyelir yang belum juga bisa tidur, tengah menatap langit lewat balkon kamarnya, Anyelir menatap aneh karena melihat Devan yang datang malam-malam begini, dan seingat Anyelir, seharusnya malam ini Devan masih harus bersama Luna.
“Tuan?” Anyelir terkejut, karena saat ini Devan sudah berada dalam kamarnya, Anyelir pun masuk ke dalam kamar dan menutup jendela, Anyelir merasa tatapan Devan saat ini jauh berbeda, Anyelir pun menyadari, bahwa saat ini dia mengenakan kimono yang membuat belahan dadanya sedikit terlihat, dengan cepat Anyelir mencoba menutupinya karena malu. Namun, dengan cepat Devan menyambar Anyelir dan mempertemukan bibir keduanya.
Anyelir belum siap dengan permainan Devan, dia pun mulai kewalahan karena pagutan mereka benar-benar menguras tenaga Anyelir, entah kenapa Anyelir merasa permainan Devan kali ini terasa berbeda, tidak lembut seperti biasanya. Setelah napas mereka hampir habis, Devan melepaskan pagutannya dan menatap mata Anyelir, ada rasa bersalah yang menjalar ke dalam hatinya, dia merasa bersalah kepada Anyelir karena maksud kedatangan Devan sedari awal, adalah untuk melepaskan hasratnya, efek samping dari obat perangsang yang diberikan oleh Laura.
“Maaf,” lirih Devan, mata Devan menatap manik mata Anyelir dengan teduh.
__ADS_1
“Kenapa minta maaf?” Anyelir bingung dengan sikap Devan sekarang ini, biasanya Devan tidak mengatakan maaf setelah mereka beciuman.
“Aku datang kemari karena efek dari obat perangsang yang diberikan oleh Laura, dia menjebakku dan membuat aku begini, namun aku tidak mau melakukan hal itu dengan Laura, dan aku malah mendatangi kam,” sesal Devan, mendengar kejujuran Devan membuat Anyelir tersenyum.
“Aku harus pergi sekarang, aku tidak mau kalau nantinya aku akan memaksa kamu melakukan hal lebih,” ujar Devan, dia tahu kalau Anyelir pasti belum siap untuk melakukan hubungan suami istri, karena Devan juga paham, pernikahan ini bukanlah pernikahan yang didasari atas nama cinta, melainkan sebuah pernikahan paksaan.
“Kenapa suami ku? Kenapa harus pergi? Bukankah suami istri wajar melakukan hal itu?” Anyelir mencoba menekan egonya, kalau tidak sekarang lalau kapan lagi dia menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.
“Aku dalam perngaruh obat perangsang Anyelir,” Devan tidak mau menyakiti Anyelir, karena efek dari obat tersebut. Devan yakin, obat ini pasti akan bertahan cukup lama.
“Aku adalah istri kamu sayang, dan sudah sewajarnya kalau aku melayani kamu, termasuk di atas ranjang,” Anyelir yakin, sekarang ini dia pasti sudah gila, Anyelir seolah menawarkan dirinya sendiri kepada Devan suaminya.
“Kamu yakin? Tidak akan menyesal dengan keputusan kamu sayang? karena aku tidak akan bisa berhenti lagi nantinya dan menahan hasratku,” suara Devan mulai berat dan serak, dia menatap wajah Anyelir semakin intens, membuat Anyelir malu-malu dibuatnya, namun Devan memegang dagu Anyelir dan membuat Anyelir kembali menatap Devan, tatapan mereka pun bertemu. Hujan perlahan turun, menambah suasana dingin yang menembus kulit, dan meminta untuk dihangatkan. Dengan perlahan Devan kembali mencumbu Anyelir, kali ini dia melakukan dengan lembut, Devan benar-benar bahagia, dua insan anak manusia tengah bergulat menacapi puncak kenikmatan surga dunia. Malam ini, Anyelir sudah menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.
__ADS_1