Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Bukan parsel berbahaya


__ADS_3

Setelah, tahu bahwa bukan Agam yang mengirimkan parsel buah itu. Mayang langsung meminta Anyelir mengeluarkan semuanya yang sudah dia telan. Bahkan, Mayang meminta untuk pelayan mengamankan parsel itu, karena akan segara dibawa ke lab. Mayang juga segera menghubungi Devna, supaya putranya bisa segera menyusulnnya dan juga Anyelir ke rumah sakit.


"Bu, Anyelir beneran nggak apa-apa  kok," Anyelir berusaha meyakinkan ibu mertuanya, bahwa dia dalam keadaan baik.


"Nak, jangan dianggap remeh. Hari ini kamu mendapatkan parsel buah yang entah dari siapa. Ibu takut kalau buah itu sudah diberi racun," jelas Mayang. Sekarang, mereka tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit, tidak lupa juga Mayang membawa buah yang akan dia periksa di lab.


Sesampainya di rumah sakit, Mayang langsung membantu Anyelir untuk turun dari mobil, dan meminta sopir untuk memanggil petugas tim medis dan membawakan Anyelir kursi rooda. Namun, Anyelir sampai saat ini masih belum merasakan apapun dan dia merasa bahwa dirinya baik-baik saja.


"Dok, cepat tangani anak saya, anak saya sedang hamil dan dia baru saja memakan buah ini. Buah yang tidak jelas siapa pengirimnnya," ucap Mayang menjelaskan kepada Dokter.


"Baik, Bu. Silahkan Ibu duduk, dan biarkan tim medis yang bekerja." Dokter pun berlalu masuk menuju ruangan Anyelir berada.


"Bu?" Devan baru saja datanng dengan tergesa-gesa. Mendengar semua penjelasan dari Ibunya, membuat Devan langsung khawatir.


"Dokter masih memeriksa kondisi Anyelir, semoga saja Anyelir dan kandungannya tidak apa-apa," harap Mayang dengan cemas.


"Mana buahnya, Bu?" tanya Devan, dan Mayang pun memberikan buah itu kepada putranya.


"Ya sudah, Ibu tunggu di sini, biar Devan yang bawa ke ruang lab," ucap Devan dan diangguki oleh Mayang.


Devan langsung menuju ke ruang lab, dan meminta Dokter untuk menguji buah yang dia bawa, apakah mengandung bahan berbahaya atau memang aman. Tidak menunggu lama, akhirnya Devan sudah mendapatkan hasilnya, dan menurut uji coba yang dilakukan, semua buah yang dikirim untuk Anyelir, aman.


"Syukurlah," Devan bernapas lega. Dia pun segera menyusul ibunya untuk mengetahui kondisi Anyelir. Saat Devan ke sana, sangat bertepatan, karena Dokter juga tengah menjelaskan semuanya kepada Mayang.


"Jadi bagaimana, Dok?" tanya Devan dengan risau.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Pak Devan, semuanya dalam kondisi baik," jawab Dokter dengan tenang.


"Syukurlah, jadi istri saya sudah boleh pulang?" tanya Devan memastikan.


"Sudah Pak, karena memang semuanya normal," jawab Dokter.

__ADS_1


Akhirnya, Devan pun membawa Anyelir untuk pulang, karena memang kondisinya yang baik-baik saja. Selama perjalanan, Mayang menanyakan hasil dari uji lab buah tersebut.


"Buahnya aman kok, Bu." jawab Devan seraya memberikan hasilnya.


"Syukurlah, jadi bukan orang yang berniat jahat ya. Maaf ya, Ibu sangat panik sampai membawa Anyelir ke rumah sakit dengan tergesa-gesa." ucap Mayang nampak tak enak.


"Nggak apa-apa kok, Bu. Justru Anyelir senang, karena itu bukti bahwa Ibu sangat menyayangi Anyelir dan sangat menjaga Anyelir." ujar Anyelir dengan senyum merekah.


"Tentu Ibu sangat menyayangi kamu, Nak. Kamu, kan sudah menjadi anak perempuan Ibu." Mayang tersenyum dan mengusap lembut tangan Anyelir.


"Lantas? Kalau bukan pak Agam yang kirim, terus siapa ya?" hal ini juga masih menjadi pertanyaan dalam benak Devan. Dia masih belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


"Entahlah, Bu. Devan juga cukup khawatir, kalau hal ini terus terjadi. Devan takut, ada orang yang berniat jahat kepada keluarga kita. Tapi, dia mengenal ayah Agam ya?" Devan nampak berpikir.


"Iya, itu berarti dia mengenal keluarga kita, kan?" tanya Anyelir.


"Ya sudah sayang, setelah sampai di rumah aku mau kamu istirahat ya? Aku nggak mau kamu capek apalagi memikirkan masalah parsel buah ini," Devan memberikan peringatan untuk sang istri, karena dia tahu persis bagaimana perangai sifat istrinya, yang selalu saja mudah memikirkan masalah sekecil apapun itu.


Devan pun mengantarkan ibu juga istrinya ke rumah lebih dulu. Sesampainya di rumah, Devan menyempatkan diri untuk mengantarkan Anyelir ke kamar, dan memastikan Anyelir untuk beristirahat.


"Kamu nggak langsung ke kantor, Kak?" tanya Anyelir.


"Enggak, aku tungguin kamu dulu sebentar sayang," jawab Devan seraya mengelus perut istrinya.


"Aku nggak apa-apa kok, kamu balik ke kantor gih, pasti kerjaan kamu banyak, kan?" Anyelir paham, suaminya yang seorang CEO pasti mengemban tugas yang tidak mudah.


"Kamu ngusir aku nih? Nggak mau banget aku temenin," Devan mengerucutkan bibirnya kesal. Entah kenapa membuat Anyelir gemas.


Cup, tanpa diduga oleh Devan, Anyelir memberikan kecupan di bibirnya dengan singkat. Namun, hal ini sudah membuat Devan bahagia, karena biasanya Devan yang harus meminta duluan.


"Nggak usah ngambek, aku tuh cuman nggak mau kamu jadi pulang telat nanti malam, karena harus lembur urus pekerjaan, karena sekarang kamu di sini sama aku," Anyelir menjelaskan maksudnya.

__ADS_1


"Aku mau ngambek aja terus," jawab Devan, menolak.


"Loh kenapa?" tanya Anyelir bingung.


"Supaya bisa dekecup sama kamu duluan, jarang-jarang, kan?" Devan mengerlingkan sebelah matanya, membuat Anyelir membelalakkan matanya kaget.


"Kamu tuh." Anyelir memukul lengan Devan dengan kekuatan sedang.


"Udah sana, dari pada nanti kamu lembur, justru aku yang bingung nanti, karena nggak ada yang nemenin tidur." ujar Anyelir dengan nada manja dan bergelayut manja di lengan Devan.


"Oke baiklah, aku akan ke kantor." Devan akhirnya menyerah, dia pun bangkit dari tempat tidurnya dan memeluk Anyelir.


Devan melepas pelukannya, dan menangkup kedua pipi Anyelir dengan gemas.


Cup, Devan mengecup dahi Anyelir, lalu turun ke kedua pipi Anyelir, dan memberikan kecupan singkat dibibir Anyelir.


"Aku ke kantor dulu, kamu harus istirahat ya??" ucap Devan kembali mengingatkan Anyelir. Anyelir pun mengangguk paham.


Devan, akhirnya benar-benar pergi, Anyelir memastikan bahwa Devan sudah menjauh dari kamarnya, dan dia pun mencoba menghubungi seseorang.


["Ada apa kamu hubungi Ibu?"] ya, ternyata Anyelir mencoba menghubungi Rose.


["Aku tahu, Ibu yang kirim parsel buah itu kan? Dengan atas nama ayah?"] tanya Anyelir, air mata sudah berlinang membasahi pipi mulusnya.


["Nggak usah kepedan, Iba nggak punya waktu buat beliin kamu parsel,"] jawab Rose dengan ketus.


["Aku ini anak Ibu, aku tahu Ibu seperti apa. Dan semua buah yang aku terima, ini buah kesukaan aku, dan Ibu sangat paham itu,"] ucap Anyelir dengan yakin.


["Udah Anyelir, nggak usah halu. Kamu kan tahu, Ibu sedang kecewa sama kamu, karena kamu tidak mengundang Gita, jadi buat apa Ibu kirim kamu parsel?"] kekeh Rose. Meskipun jawaban Rose yang nampak yakin dan begitu ketus terhadap Anyelir. Namun, Anyelir juga meyakini perasaannya tidak akan pernah salah.


["Aku tahu, Ibu tidak akan mengakuinya, tapi aku akan tetap mengatakan ini. Terimakasih, Bu atas parselnya. Aku, dan calon cucu Ibu sangat menyukainya, aku harap nanti setelah cucu ibu lahir, ibu bisa menyayanginya,"] harap Anyelir dengan suara isakan. Anyelir menunggu jawaban dari Rose, namun tidak ada sahutan sama sekali, dan tidak lama, panggilan pun dimatikan sepihak oleh Rose.

__ADS_1


__ADS_2