Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Hancur


__ADS_3

Keesokan harinya, Arman menyambangi rumah kedua orang tuanya, dia khawatir dengan keadaan ibunya, karena yang Arman dengar, ayahnya mengalah dan lebih memilih tinggal di rumah lain. Arman yakin, ancaman ayahnya yang akan menceraikan ibunya itu benar-benar akan terjadi.


"Bunda?" Arman melihat bundanya yang tengah menatap foto keluarga. Foto itu diambil beberapa tahun lalu, saat mereka masih diliputi oleh rasa bahagia.


"Bun, jangan menghukum diri Bunda dengan cara seperti ini," ujar Arman mencoba menasehati bundanya. Dia takut, kalau Desi akan jatuh sakit.


"Bunda sudah kehilangan semuanya, istri kamu benar-benar berhasil menghancurkan Bunda," isak Desi, rupanya dia masih belum menyadari kesalahannya dan masih terus menyalahkan Gita atas kasusnya.


"Bunda, apa Bunda sadar. Bunda sekarang berubah, Bunda yang aku kenal adalah wanita baik bahkan tidak akan tega membunuh hewan. Tapi sekarang Bunda berubah," ucap Arman.


Desi langsung menatap Arman dengan tatapan nanar. "Itu semua karena istri kamu! Bunda nggak mau punya menantu jahat seperti dia!" seru Desi, yang masih tidak mau menerima GIta.


"Bun, aku sadar Gita punya masalalu buruk, tapi sekarang dia sudah berubah, apa Bunda nggak bisa menerima itu? Bahkan Bunda dengan tega ingin mencelakai calon cucu Bunda sendiri. Di mana hati nurani Bunda?" Arman masih tidak menyangka, terjadi perubahan besar pada sikap Desi hanya karena Gita. Tapi, bagi Arman, Gita sudah banyak berubah. Gita skarang menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi istri yang selama ini Arman dambakan. Bahkan hubungannya dengan keluarganya pun sudah benar-benar baik-baik saja.


"Kalu kamu datang hanya untuk membahas hal ini, sebaiknya kamu pergi!" Desi mengusir Arman, karena baginya, tidak ada orang yang berada di pihaknya sekarang. Arman pun terpaksa pergi, tapi sebelum itu, dia menitip pesan kepada para pelayan di rumah, untuk menjaga ibunya, juga memberikan kabar kepada Arman, seputar kondisi Desi.


Setelah Arman dari kediaman Desi, dia menuju kediaman ayahnya yang memang tidak jauh. Di kediaman Dika, sepertinya Dika juga tidak jauh seperti Desi, Dika masih menatap foto keluarganya, yang mungkin saja Dika rindukan.


"Yah?" Arman mendatangi Dika, dan Dika meminta Arman untuk duduk. Dika masih memegang figura foto tersebut.


"Ayah tidak menyangka, kalau keluarga kita akan menjadi seperti ini. Ayah pikir, Ayah dan bunda bisa terus bersama,sampai maut yang memisahkan," Dika menyesali apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah Desi lakukan, jelas itu adalah tindakan yang tidak bisa dimaafkan begitu saja. Dika merasa dia sudah tidak bisa mengendalikan Desi.


"Apa harus dengan berpisah Yah?" tanya Arman, melihat kedua orang tuanya sama-sama terluka, karena sebentar lagi mereka akan berpisah, Arman sebenarnya merasa tidak tega.


"Ayah sudah gagal menjadi suami yang bisa membimbing ibu kamu, Ayah justru malu kepada kamu Arman. Gita saja bisa berubah menjadi lebih baik, justru bunda kamu sekarang berubah," sesal Dika.


"Berikan bunda kesempatan, Yah," pinta Arman memohon.


"Bunda kamu sama sekali nggak ada rasa penyesalan Arman, dia justru terus menyalahkan oran lain karena kesalahannya. Kalau Ayah tidak melakukan ini, maka bunda kamu tidak akan merasa jera," ujar Dika. Keputusannya sudah bulat untuk berpisah dari Desi, dan sepertinya tidak akan bisa berubah.


Keesokan harinya, Arman menyambangi rumah kedua orang tuanya, dia khawatir dengan keadaan ibunya, karena yang Arman dengar, ayahnya mengalah dan lebih memilih tinggal di rumah lain. Arman yakin, ancaman ayahnya yang akan menceraikan ibunya itu benar-benar akan terjadi.


"Bunda?" Arman melihat bundanya yang tengah menatap foto keluarga. Foto itu diambil beberapa tahun lalu, saat mereka masih diliputi oleh rasa bahagia.


"Bun, jangan menghukum diri Bunda dengan cara seperti ini," ujar Arman mencoba menasehati bundanya. Dia takut, kalau Desi akan jatuh sakit.


"Bunda sudah kehilangan semuanya, istri kamu benar-benar berhasil menghancurkan Bunda," isak Desi, rupanya dia masih belum menyadari kesalahannya dan masih terus menyalahkan Gita atas kasusnya.


"Bunda, apa Bunda sadar. Bunda sekarang berubah, Bunda yang aku kenal adalah wanita baik bahkan tidak akan tega membunuh hewan. Tapi sekarang Bunda berubah," ucap Arman.

__ADS_1


Desi langsung menatap Arman dengan tatapan nanar. "Itu semua karena istri kamu! Bunda nggak mau punya menantu jahat seperti dia!" seru Desi, yang masih tidak mau menerima GIta.


"Bun, aku sadar Gita punya masalalu buruk, tapi sekarang dia sudah berubah, apa Bunda nggak bisa menerima itu? Bahkan Bunda dengan tega ingin mencelakai calon cucu Bunda sendiri. Di mana hati nurani Bunda?" Arman masih tidak menyangka, terjadi perubahan besar pada sikap Desi hanya karena Gita. Tapi, bagi Arman, Gita sudah banyak berubah. Gita skarang menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi istri yang selama ini Arman dambakan. Bahkan hubungannya dengan keluarganya pun sudah benar-benar baik-baik saja.


"Kalu kamu datang hanya untuk membahas hal ini, sebaiknya kamu pergi!" Desi mengusir Arman, karena baginya, tidak ada orang yang berada di pihaknya sekarang. Arman pun terpaksa pergi, tapi sebelum itu, dia menitip pesan kepada para pelayan di rumah, untuk menjaga ibunya, juga memberikan kabar kepada Arman, seputar kondisi Desi.


Setelah Arman dari kediaman Desi, dia menuju kediaman ayahnya yang memang tidak jauh. Di kediaman Dika, sepertinya Dika juga tidak jauh seperti Desi, Dika masih menatap foto keluarganya, yang mungkin saja Dika rindukan.


"Yah?" Arman mendatangi Dika, dan Dika meminta Arman untuk duduk. Dika masih memegang figura foto tersebut.


"Ayah tidak menyangka, kalau keluarga kita akan menjadi seperti ini. Ayah pikir, Ayah dan bunda bisa terus bersama,sampai maut yang memisahkan," Dika menyesali apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah Desi lakukan, jelas itu adalah tindakan yang tidak bisa dimaafkan begitu saja. Dika merasa dia sudah tidak bisa mengendalikan Desi.


"Apa harus dengan berpisah Yah?" tanya Arman, melihat kedua orang tuanya sama-sama terluka, karena sebentar lagi mereka akan berpisah, Arman sebenarnya merasa tidak tega.


"Ayah sudah gagal menjadi suami yang bisa membimbing ibu kamu, Ayah justru malu kepada kamu Arman. Gita saja bisa berubah menjadi lebih baik, justru bunda kamu sekarang berubah," sesal Dika.


"Berikan bunda kesempatan, Yah," pinta Arman memohon.


"Bunda kamu sama sekali nggak ada rasa penyesalan Arman, dia justru terus menyalahkan oran lain karena kesalahannya. Kalau Ayah tidak melakukan ini, maka bunda kamu tidak akan merasa jera," ujar Dika. Keputusannya sudah bulat untuk berpisah dari Desi, dan sepertinya tidak akan bisa berubah.


Keesokan harinya, Arman menyambangi rumah kedua orang tuanya, dia khawatir dengan keadaan ibunya, karena yang Arman dengar, ayahnya mengalah dan lebih memilih tinggal di rumah lain. Arman yakin, ancaman ayahnya yang akan menceraikan ibunya itu benar-benar akan terjadi.


"Bunda?" Arman melihat bundanya yang tengah menatap foto keluarga. Foto itu diambil beberapa tahun lalu, saat mereka masih diliputi oleh rasa bahagia.


"Bun, jangan menghukum diri Bunda dengan cara seperti ini," ujar Arman mencoba menasehati bundanya. Dia takut, kalau Desi akan jatuh sakit.


"Bunda sudah kehilangan semuanya, istri kamu benar-benar berhasil menghancurkan Bunda," isak Desi, rupanya dia masih belum menyadari kesalahannya dan masih terus menyalahkan Gita atas kasusnya.


"Bunda, apa Bunda sadar. Bunda sekarang berubah, Bunda yang aku kenal adalah wanita baik bahkan tidak akan tega membunuh hewan. Tapi sekarang Bunda berubah," ucap Arman.


Desi langsung menatap Arman dengan tatapan nanar. "Itu semua karena istri kamu! Bunda nggak mau punya menantu jahat seperti dia!" seru Desi, yang masih tidak mau menerima GIta.


"Bun, aku sadar Gita punya masalalu buruk, tapi sekarang dia sudah berubah, apa Bunda nggak bisa menerima itu? Bahkan Bunda dengan tega ingin mencelakai calon cucu Bunda sendiri. Di mana hati nurani Bunda?" Arman masih tidak menyangka, terjadi perubahan besar pada sikap Desi hanya karena Gita. Tapi, bagi Arman, Gita sudah banyak berubah. Gita skarang menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi istri yang selama ini Arman dambakan. Bahkan hubungannya dengan keluarganya pun sudah benar-benar baik-baik saja.


"Kalu kamu datang hanya untuk membahas hal ini, sebaiknya kamu pergi!" Desi mengusir Arman, karena baginya, tidak ada orang yang berada di pihaknya sekarang. Arman pun terpaksa pergi, tapi sebelum itu, dia menitip pesan kepada para pelayan di rumah, untuk menjaga ibunya, juga memberikan kabar kepada Arman, seputar kondisi Desi.


Setelah Arman dari kediaman Desi, dia menuju kediaman ayahnya yang memang tidak jauh. Di kediaman Dika, sepertinya Dika juga tidak jauh seperti Desi, Dika masih menatap foto keluarganya, yang mungkin saja Dika rindukan.


"Yah?" Arman mendatangi Dika, dan Dika meminta Arman untuk duduk. Dika masih memegang figura foto tersebut.

__ADS_1


"Ayah tidak menyangka, kalau keluarga kita akan menjadi seperti ini. Ayah pikir, Ayah dan bunda bisa terus bersama,sampai maut yang memisahkan," Dika menyesali apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah Desi lakukan, jelas itu adalah tindakan yang tidak bisa dimaafkan begitu saja. Dika merasa dia sudah tidak bisa mengendalikan Desi.


"Apa harus dengan berpisah Yah?" tanya Arman, melihat kedua orang tuanya sama-sama terluka, karena sebentar lagi mereka akan berpisah, Arman sebenarnya merasa tidak tega.


"Ayah sudah gagal menjadi suami yang bisa membimbing ibu kamu, Ayah justru malu kepada kamu Arman. Gita saja bisa berubah menjadi lebih baik, justru bunda kamu sekarang berubah," sesal Dika.


"Berikan bunda kesempatan, Yah," pinta Arman memohon.


"Bunda kamu sama sekali nggak ada rasa penyesalan Arman, dia justru terus menyalahkan oran lain karena kesalahannya. Kalau Ayah tidak melakukan ini, maka bunda kamu tidak akan merasa jera," ujar Dika. Keputusannya sudah bulat untuk berpisah dari Desi, dan sepertinya tidak akan bisa berubah.


Keesokan harinya, Arman menyambangi rumah kedua orang tuanya, dia khawatir dengan keadaan ibunya, karena yang Arman dengar, ayahnya mengalah dan lebih memilih tinggal di rumah lain. Arman yakin, ancaman ayahnya yang akan menceraikan ibunya itu benar-benar akan terjadi.


"Bunda?" Arman melihat bundanya yang tengah menatap foto keluarga. Foto itu diambil beberapa tahun lalu, saat mereka masih diliputi oleh rasa bahagia.


"Bun, jangan menghukum diri Bunda dengan cara seperti ini," ujar Arman mencoba menasehati bundanya. Dia takut, kalau Desi akan jatuh sakit.


"Bunda sudah kehilangan semuanya, istri kamu benar-benar berhasil menghancurkan Bunda," isak Desi, rupanya dia masih belum menyadari kesalahannya dan masih terus menyalahkan Gita atas kasusnya.


"Bunda, apa Bunda sadar. Bunda sekarang berubah, Bunda yang aku kenal adalah wanita baik bahkan tidak akan tega membunuh hewan. Tapi sekarang Bunda berubah," ucap Arman.


Desi langsung menatap Arman dengan tatapan nanar. "Itu semua karena istri kamu! Bunda nggak mau punya menantu jahat seperti dia!" seru Desi, yang masih tidak mau menerima GIta.


"Bun, aku sadar Gita punya masalalu buruk, tapi sekarang dia sudah berubah, apa Bunda nggak bisa menerima itu? Bahkan Bunda dengan tega ingin mencelakai calon cucu Bunda sendiri. Di mana hati nurani Bunda?" Arman masih tidak menyangka, terjadi perubahan besar pada sikap Desi hanya karena Gita. Tapi, bagi Arman, Gita sudah banyak berubah. Gita skarang menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi istri yang selama ini Arman dambakan. Bahkan hubungannya dengan keluarganya pun sudah benar-benar baik-baik saja.


"Kalu kamu datang hanya untuk membahas hal ini, sebaiknya kamu pergi!" Desi mengusir Arman, karena baginya, tidak ada orang yang berada di pihaknya sekarang. Arman pun terpaksa pergi, tapi sebelum itu, dia menitip pesan kepada para pelayan di rumah, untuk menjaga ibunya, juga memberikan kabar kepada Arman, seputar kondisi Desi.


Setelah Arman dari kediaman Desi, dia menuju kediaman ayahnya yang memang tidak jauh. Di kediaman Dika, sepertinya Dika juga tidak jauh seperti Desi, Dika masih menatap foto keluarganya, yang mungkin saja Dika rindukan.


"Yah?" Arman mendatangi Dika, dan Dika meminta Arman untuk duduk. Dika masih memegang figura foto tersebut.


"Ayah tidak menyangka, kalau keluarga kita akan menjadi seperti ini. Ayah pikir, Ayah dan bunda bisa terus bersama,sampai maut yang memisahkan," Dika menyesali apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah Desi lakukan, jelas itu adalah tindakan yang tidak bisa dimaafkan begitu saja. Dika merasa dia sudah tidak bisa mengendalikan Desi.


"Apa harus dengan berpisah Yah?" tanya Arman, melihat kedua orang tuanya sama-sama terluka, karena sebentar lagi mereka akan berpisah, Arman sebenarnya merasa tidak tega.


"Ayah sudah gagal menjadi suami yang bisa membimbing ibu kamu, Ayah justru malu kepada kamu Arman. Gita saja bisa berubah menjadi lebih baik, justru bunda kamu sekarang berubah," sesal Dika.


"Berikan bunda kesempatan, Yah," pinta Arman memohon.


"Bunda kamu sama sekali nggak ada rasa penyesalan Arman, dia justru terus menyalahkan oran lain karena kesalahannya. Kalau Ayah tidak melakukan ini, maka bunda kamu tidak akan merasa jera," ujar Dika. Keputusannya sudah bulat untuk berpisah dari Desi, dan sepertinya tidak akan bisa berubah.

__ADS_1


__ADS_2