Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Membujuk


__ADS_3

"Pasti berat untuk kedua orang tua Anyelir, mereka bagaikan buah simalakama sekarang," ujar Mayang, "tapi, Anyelir juga pasti tidak nyaman terus menjadi bahan balas dendam Gita, yang terus saja salah paham. Memang sebaiknya kesalah pahaman ini diluruskan, akna tetapi melihat kondisi Gita yang sekarang masih agak labil, sebaiknya ditunda sampai kondisinya benar-benar membaik. Mungkin bisa bertanya pada dokter yang menangani," saran Mayang.


"Iya, Ibu benar, nanti aku akan coba untuk membujuk Anyelir dulu. Semoga dia mau mengerti," harap Devan.


Anyelir menggeliatkan tubuhnya, dia cukup kaget karena ternyata dirinya berada di kamar. Karena seingat Anyelir, dia berada di salah satu restaurant bertemu dengan ayah dan ibunya.


"Apa itu cuman mimpi?" gumam Anyelir.


"Bukan sayang," Devan tiba-tiba datang dan menjawab pertanyaan Anyelir.


"Mas?" Anyelir menatap sang suami.


"Kamu tadi menangis, dan kelelahan, jadi kamu tertidur," jawab Devan, menjawab kebingungan Anyelir.


"Oh iya, aku baru ingat," ujar Anyelir.


Devan mendekat dan duduk di samping Anyelir. "Bisa kita bicara?" tanya evan memastikan.


"Bisa," jawab Anyelir tenang, Devan memastikan bahwa kondisi istrinya benar-benar baik-baik saja, "ini soal perbincangan kita tadi siang dengan ayah dan ibu," ujar Devan, dia memperhatikan mimik wajah Anyelir yang nampak berubah.


"Kamu yakin, masih mau dilanjutkan?" tanya Devan lagi.


"Iya, kenapa tidak?" jawaban Anyelir masih terlihat santai, itu berarti Devan bisa kembali melanjutkannya.


"Aku tahu, kamu pasti kecewa sayang, dengan keputusan ayah dan ibu, aku harap kamu masih mau bersabar, sampai beberapa bulan, dan memastikan bahwa kondisi sudah benar-benar membaik. Supaya kita, bisa membuka semuanya, kalau kita membuka semuanya sekarang, itu terlalu riskan sayang," Devan mencoba untuk menjelaskan segala kemungkinan yang terjadi pada Gita, dan bagaimana kiranya perasaan mereka nanti.

__ADS_1


"Kamu benar, Mas. Kalau aku tetap egois, dan tetap pada pendirian aku, akku takut terjadi sesuatu pada kak Gita, bukannya menyelesaikan masalah, justru bisa saja menambah masalah," pikir Anyelir.


"Iya sayang, kita hanya bisa berdoa, semoga saja semuanya lekas membaik, dan kita bisa merubah sudut pandang GIta terhadap kamu, ya?" harap Devan, dan diangguki juga oleh Anyelir.


Devan lega, karena ternyata Anyelir masih mau mendengarkannya dan menerima masukan darinya, Devan berharap Anyelir sudah bisa memaafkan kedua orang tuanya dan bisa menghubungi kedua orang tuanya. Devan yakin, pasti kedua mertuanya sangat menunggu kabar seputar Anyelir.


"Aku mau mandi dulu ya, Mas," pamit Anyelir, dia sudah merasa gerah dan lengket.


"Ya sudah, ayo aku bantu," Devan bermaksud membantu Anyelir ke kamar mandi, tapi di tolak oleh Anyelir, karena dia merasa bisa pergi ke kamar mandi sendiri. Lagi pula, semenjak dia hamil, Devan meminta pelayan untuk memastikan kamar mandi dalam kamarnya aman dan tidak licin.


Setelah Devan memastikan bahwa Anyelir sudah masuk ke dalam kamar mandi, Devan pn mencoba menghubungi Agam, untuk memberitahukan bahwa dia sudah berhasil membujuk Anyelir.


["Syukurlah, kalau Anyelir sudah mau dibujuk. Ayah sangat berterimakasih pada kamu, Nak.] Agam bersyukur karena berkat Devan, Anyelir mau mendengarkan sarannya.


["Tidak perlu berterimakasih, Yah. Devan hanya melakukan apa yang Devan bisa,"] ujar Devan. Mereka tidak bisa menelpon terlalu lama karena bisa saja Anyelir tiba-tiba keluar dari kamar mandi.


"Alhamdulillah, Bu. Devan bilang, dia sudah berhasil membujuk Anyelir," jawab Agam dengan senyum lega, tidak jauh dengan Rose, dia juga nampak lega setelah mendengar penjelasan dari sang suami.


"Syukurlah, Ibu jadi lega, Yah, dari tadi Ibu terus kepikiran Anyelir," ucap Rose.


"Sekarang kamu tenang, ya. Semoga Anyelir juga bisa memaafkan kita nanti," harap Agam.


-//-


Gita tengah bosan di rumah sakit, dia benar-benar ingin segera pulang dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya, di sini Gita tidak bisa bebas. Untuk bermain ponsel saja, Gita sangat dibatasi oleh Arman. Saat ini Arman tengah ke kantin membeli makanan, ponsel milik Arman tergeletak di atas nakas samping ranjang Gita. Gita mengambil ponsel tersebut, dan mengecek isi pesan whatsaap sang suami, Gita cukup was-was kalau saja Arman bermain belakang darinya.

__ADS_1


"Nenek lampir itu, whatsap apaan?" gumam Gita, saat melihat ada beberapa pesan dari ibu mertuanya.


Bunda


[Arman, Bunda mau kamau segera talak Gita, setelah dia melahirkan. Dan ambil hak asuh anak kamu.]


Arman


[Nggak bisa, Bun. Gita sudah berubah dan aku masih mau bertahan sama dia, aku mau menua bersama Gita dan mengurus anak-anak kami bersama-sama.]


Gita tersenyum puas saat dia membaca pesan balasan sang suami, belum terlihat ibu mertuanya membalas pesan Arman. Gita pun berfikir sesuatu, dia mulai mengetik pesan untuk ibu mertuanya.


[Dasar Nenek lampir, sekeras apapun kamu mencoba memisahkan aku dan Arman, kamu nggak akan bisa, karena kami saling mencintai. Jangan harap kamu bisa memisahkan kami, justru aku yang akan menghancurkan kamu sampai kamu dibenci oleh suami dan anak kamu!]


Gita segera mengirim pesan itu, tidak lama, Desi pun membacanya, Desi mulai mengetik pesan, dan dengan gerakan cepat Gita menghapus pesan yang sudah dikirimkan olehnya. Setelah itu, dia segera menaruh kembali ponsel Arman, karena sepertinya sebentar lagi Arman akan datang, jadi dia bersiap berpura-pura tidur. Benar saja dugaan Gita, tidak lama Arman kembali, dengan membawa dua bungkus makanan di tangannya, dia duduk di samping Gita dan mencoba membangunkannya.


"Sayang, ayo makan dulu," ucap Arman dengan sangat lembut, tidak lupa dia menepuk pelan pipi Gita. Gita berpura-pura menggeliat dan mengerjapkan matanya.


"Sayang, kamu udah dateng," lirih Gita, dia benar-benar pandai memainkan sandiwaranya.


"Iya, ini aku sudah bawakan makanan yang kamu mau," Arman sudah menyiapkan makanan itu dalam piring, lalu dia bersiap menyuapi Gita. Gita sangat senang diperlakukan begitu spesial oleh Arman. Gita menerima suapan demi suapan dari tangan suaminya, canda tawa mereka berdua memenuhi ruangan itu. Arman dan Gita nampak bahagia.


"Aku udah kenyang, sayang," tolak Gita, dia sudah tidak bisa lagi membuka mulutnya.


"Ya sudah, sekarang minum dulu," Arman memberikan air mineral untuk Gita.

__ADS_1


"Makasih ya, sayang. Sekarang kamu makan dong," titah Gita.


"Ya udah sekarang aku makan, ya," Arman pun mengambil makanannya sendiri dan mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Gita menatap Arman dengan tatapan iba, entah kenapa dia merasa kasihan kepada Arman, selama ini Gita sellau berlaku buruk pada Arman. Dalam hati Gita berjanji, bagaimana pun caranya dia akan terus mempertahankan rumah tangganya, dia harus melahirkan anak yang ada dalam kandungannya, dan tidak akan membiarkan siapapun merusak rumah tangganya dengan Arman, termasuk ibu mertuanya sendiri.


__ADS_2