
“Kamu nggak berperan apapun dalam keluarga, jadi sebaiknya kamu diam! Di sini, Anyelir yang paling berjasa, tapi kamu terus saja menyudutkan dia! Harusnya kamu sadar diri!” ujar Agam, perkataannya pedas karena Agam tidak punya cara lain. Selama ini Gita terus saja menggunjingkan Anyelir, menyudutkan Anyelir dan menjelekkan nama Anyelir di depan Armand an keluarganya.
“Yah sudah…” Anyelir mencoba menenangkan Agam, karena takut perkataan Agam akan semakin menyakiti Gita. Benar saja, Gita benar-benar sakit hati dan berlari menuju kamarnya, Arman pun langsung menyusul Gita.
“Mas, kamu sadar nggak sih, udah keterlaluan!” Rose kembali membela Gita, padahal saat Gita berbicara yang menyakiti perasaan Anyelir, Rose hanya diam.
“Kenapa kamu baru buka suara? Kenapa tidak sedari tadi? Saat Gita menyudutkan Anyelir?” kali ini Agam benar-benar tidak bisa mentolerir lagi kelakuan Rose yang tidak bisa adil dengan kedua putri Agam.
“Mas, kamu kan tahu bagaimana sulitnya aku mencoba dekat dengan Gita, sekarang ini aku sudah lebih dekat, aku nggak mau merusak hubungn aku dengan Gita. Dan Anyelir? Aku rasa dia bisa bersikap dewasa, dan sudah terbiasa dengan sikap Gita, dan aku yakin Anyelir bisa memahami Gita dan tidak akan memasukkan ke hati omongan Gita,” sampai di sini, Rose terus membela Gita, dan itu membuat Anyelir muak.
“Bu, Devan pamit pergi ya? ada beberapa urusan,” izin Devan.
“Ini sudah malam Nak,” ujar Mayang, dia heran dengan Devan, dan merasa Devan mulai gila kerja.
“Ini malam penting Bu, dan sebenanrnya Devan pulang juga untuk mengambil beberapa dokumen,” Devan memperlihatkan beberapa dokumen yang sebenarnya itu kosong.
“Ibu tahu, kamu sudah sangat bekerja keras untuk semua ini. tapi, luangkan juga waktu untuk Laura, bagaimana pun kalian sudah menikah dan kalian masih harus tetap menjaga keromantisan dan kehangatan rumah tangga kalian,” saran Mayang.
“Iya Bu,” jawab Devan, dia langsung mencium tangan dan kening ibunya lalu beranjak pergi.
‘Kehangatan? Cinta? Romantic? Itu semua sudah tidak bisa aku rasakan lagi Bu bersama dengan Laura, karena sekarang semua sudah tergantikan dengan kehadiran Anyelir,’ batin Devan seraya berlalu pergi.
Rupanya, Lauara melihat Devan pergi dari balkon kamar, Laura bersedekap dada dan menatap Devan dengan tatapan kesal. Laura jelas tahu ke mana Devan akan pergi, menyusul Anyelir.
**
Kini Anyelir sudah tiba di kediaman Agam, dia mengetuk pintu dengan perlahan, dan tidak lama asisten rumah tangga nampak membuka pintu. Agam yang mendengar bel rumah berbunyi, langsung berlari keluar kamar untuk menemui putrinya.
__ADS_1
“Ayah ada?” tanya Anyelir seraya masuk.
“Ada Nona, mari.”
Agam berlari, dan membuat Gita, Arman, serta Rose yang masih duduk di ruang keluarga terkejut. Mereka mencoba bertanya, namuan Agam enggan menjawab.
“Ayah kenapa Bu?” tanya Arman was-was.
“Nggak tahu,” jawab Rose, dia pun segera menyusul Agam, karena takut terjadi sesuatu, Gita dan Arman pun ikut menyusul. Namun, saat mereka sampai di depan pintu, mereka melihat Agam yang tengah memeluk Anyelir.
‘Anyelir? Ngapain sih dia ke sini?’ batin Gita kesal.
“Anyelir?” Rose mendekati putrinya, Anyelir masih dengan sopan mencium tangan Rose, karena biar bagaimanapun Rose adalah ibunya, wanita yang harus Anyelir hormati.
“Kamu datang dengan siapa Nak?” tanya Agam, pasalnya ini sudah cukup malam dan Agam cukup khawatir dengan putrinya.
“Tidak bersama Devan?” tanya Rose.
“Nggak Bu, mala mini adalah penting, karena acara ulang tahun perusahaan,” ujar Anyelir menjelaskan.
“Oh iya? Bukannya karena lagi sibuk sama yang lain?” sindir Gita, dia tahu Devan punya dua istri, dan selama ini yang Gita tahu, Devan tidak mencintai Anyelir. Sebab Anyelir hanya dijadikan sebagai penebus hutang.
“Gita!” hardik Agam, dia tidak suka jika Gita selalu saja menyudutkan Anyelir, padahal semua yang terjadi dalam kehidupan Anyelir, adalah demi keluarga.
“Kamu nggak berperan apapun dalam keluarga, jadi sebaiknya kamu diam! Di sini, Anyelir yang paling berjasa, tapi kamu terus saja menyudutkan dia! Harusnya kamu sadar diri!” ujar Agam, perkataannya pedas karena Agam tidak punya cara lain. Selama ini Gita terus saja menggunjingkan Anyelir, menyudutkan Anyelir dan menjelekkan nama Anyelir di depan Armand an keluarganya.
“Yah sudah…” Anyelir mencoba menenangkan Agam, karena takut perkataan Agam akan semakin menyakiti Gita. Benar saja, Gita benar-benar sakit hati dan berlari menuju kamarnya, Arman pun langsung menyusul Gita.
__ADS_1
“Mas, kamu sadar nggak sih, udah keterlaluan!” Rose kembali membela Gita, padahal saat Gita berbicara yang menyakiti perasaan Anyelir, Rose hanya diam.
“Kenapa kamu baru buka suara? Kenapa tidak sedari tadi? Saat Gita menyudutkan Anyelir?” kali ini Agam benar-benar tidak bisa mentolerir lagi kelakuan Rose yang tidak bisa adil dengan kedua putri Agam.
“Mas, kamu kan tahu bagaimana sulitnya aku mencoba dekat dengan Gita, sekarang ini aku sudah lebih dekat, aku nggak mau merusak hubungn aku dengan Gita. Dan Anyelir? Aku rasa dia bisa bersikap dewasa, dan sudah terbiasa dengan sikap Gita, dan aku yakin Anyelir bisa memahami Gita dan tidak akan memasukkan ke hati omongan Gita,” sampai di sini, Rose terus membela Gita, dan itu membuat Anyelir muak.
“Kata siapa aku bisa menerimanya Bu?” Anyelir buka suara, membuat Rose dan Agam menatap Anyelir.
“Apa selama ini pernah bertanya, bagaimana keadaan ku? Bagaimana perasaan ku? Sakitkah aku? baikkah aku? Ibu nggak pernah bertanya sedikitpun tentang aku, Ibu hanya memikirkan diri Ibu sendiri. Bagaimana caranya mendapatkan maaf dari kak Gita? Sampai-sampai Ibu mengabaikan aku, dan mengabaikan perasaan ku,” akhirnya Anyelir mengeluarkan kembali semua isi hatinya yang selama ini terpendam.
“Jangan kaya anak kecil Anyelir, kamu harusnya bisa memahami Gita, dia sudah kehilangan ibu kandungnya, dan dia tidak pernah lagi merasakan kasih sayang ibunya,” Rose nampak tidak menyesal sama sekali setelah mendengar perkataan Anyelir, tidak ada rasa bersalah karena selama ini sudah tidak adil dalam memperlakukan putrinya sendiri.
“Oh iya? Kak Gita yang kehilangan Ibunya, tapi kenapa aku yang malah kehilangan kasih sayang ibuku sendiri?!” seru Anyelir, dia mungkin tidak akan masalah kalau saja Rose bisa adil kepada Anyelir dan Gita, namun sayangnya Rose terlihat begitu membandingkan antara dirinya dengan Gita. Padahal, selama ini Anyelir selalu berusaha membahagiakan kedua orangtuanya.
“Ka-,”
“Selamat malam,” Rose hampir saja memaki Anyelir, namun Devan datang membuat Rose seketika terdiam.
“Nak Devan, kamu datang Nak?” Agam menyambut dengan baik menantu pertamanya.
“Iya Yah, Anyelir bilang katanya mau menginap, jadi aku harus ikut,” ujar Devan menjelaskan.
“Wah, rumah ini seketika ramai, kedua anak Ayah menginap dengan suaminya,” ujar Agam membuat Anyelir dan Devan terkejut, sebab Anyelir tidak tahu sama sekali bahwa Gita juga akan menginap dengan Arman.
“Kamu sudah makan malam Nak?” Agam mengajak Anyelir dan Devan menuju ruang keluarga, dan mereka duduk berkumpul bersama.
__ADS_1