
Ketika anyelir tba di ruangannya, ternyata Nabila sudah sampai lebih dulu, anggota dari Divisi pemasaran begitu penasaran dengan hasilnya, dan ketika Anyelir menjelaskan bahwa client setuju pun membuat anggota dari divisi pemasaran begitu senang, karena itu berarti kerja keras mereka tidak sia-sia. Namun berbeda dengan yang lain, Della nampak kesal ketika mendengar cerita dari Anyelir.
“Loe kok lama banget sama Pak Devan?” tanya Della kesal.
“Kok loe kepo? Kan bukan hak loe juga pak Devan mau ngapain sama Anyelir,” kali ini Ayu buka suara. Melihat teman-temannya yang lebih memihak pada Anyelir, membuat Della sangat kesal, dia pun memilih pergi dari sana, dia juga sempat menabrak bahu Anyelir, sampai Anyelir hampir terjatuh. Untung saja Nabila sigap.
“Udah sabar aja, dia emang berlebihan kalau menyangkut pak Devan, padahal pak Devan aja risih sama dia,” ujar Daniel menenangkan Anyelir.
‘Gimana kalau kak Della tahu aku dicium tuan Devan? Dan gimana kalau kak Della tahu kalau aku istri kedua tuan Devan. Pasti dia bakalan daftar jadi istri ketiga deh,’ Anyelir berbicara dengan hatinya sendiri.
**
Di rumah sakit, Laura merasa mati bosan, dia tidak bisa bergerak kemanapun karena harus menjaga ibu mertuanya. Sudah beberapa kali Laura mengiba dan membujuk Devan, supaya dia bisa pulang, tapi hasilnya nihil. Devan malah mengancam akan membawa Laura ke tempat yang asing dan tidak diketahui oleh Laura, membayangkan tempat seperti itu, tentu saja Laura langsung bergidik ngeri, dan mau tidak mau dia harus menurutui ucapan suaminya.
‘Ini semua gara-gara nenek tua bangka ini, merepotkan,’ batin Laura kesal, dia semakin kesal ketika membayangkan kebersamaan Devan dengan Anyelir, apalagi perkataan Devan waktu itu mengatakan bahwa Devan menikmati waktu kebersamaan dengan Anyelir selayaknya bulan madu.
‘Aku harus bisa membuat Ibu pulang ke rumah Devan, denga begitu Devan tidak akan bisa berkutik, bahkan mungkin aku bisa satu kamar dengan Devan, karena aku tahu Devan sangat takut jika menyangkut ibunya,’ Laura mulai menyusun rencana untuk bisa menyingkirkan posisi Anyelir, dia tidak mau selamanya hidup di madu.
‘Jangan sampai aku terlambat, karena semua bisa fatal. Apalagi kalau sampai wanita itu hamil,’ batin Laura was-was.
Saat Laura tengah melamun, dia kejutakan dengan kedatangan Devan, Devan benar-benar datang lebih cepat dari dugaannya.
“Devan, kamu sudah datang?” Laura hendak memeluk suaminya, namun Devan segera menghindar.
__ADS_1
“Bagaimana kondisi Ibu?” tanya Devan, raut wajah datarnya begitu mendominasi.
Laura menghela napasnya, dia termat kesal dengan perlakuan Devan padanya, “ibu baik, tapi …” Laura sengaja menganggungkan perkataannya.
“Tapi apa?” Devan bertanya dengan sangat serius, tapi Laura langsung mengajak Devan untuk keluar dari kamar rawat Mayang.
“Ibu terus meminta pulang, dia ingin tinggal bersama kita. Tapi kan di rumah ada Anyelir,” ujar Laura berpura-pura frustasi dengan permintaan ibu mertuanya, padahal inilah yang dia harapkan.
“Biar aku yang berbicara pada Ibu,” Devan langsung melangkah masuk menemui Ibunya.
“Bu …” Devan mengelus punggung tangan ibunya, yang semakin hari semakin kurus.
“Kamu datang Nak?” Mayang tersenyum melihat kedatangan putranya, melihat senyuman Mayang, hati Devan merasa teriris.
“Tapi Ibu merasa, kalau Ibu terus di sini, Ibu tidak bisa sehat,” jawab Mayang, dia sangat bosan terus berbaring di rumah sakit.
“Baiklah, kalau begitu Ibu akan aku rujukkan untuk di rawat di rumah, tapi akan aku pilihkan di rumah lama kita ya Bu, karena di sana aku juga merasa nyaman, nanti aku dan Laura juga akan pindah ke sana,” ujar Devan, lebih baik memang begini, dari pada ibunya di ajak ke rumah miliknya, maka itu akan bahaya.
“Baiklah, terimakasih ya Nak,” Mayang tersenyum, karena akhirnya dia akan segera pulang.
**
Saat ini Anyelir tengah bersama ketiga sahabatnya, setelah magang memang mereka jarang bertemu, apalagi Anyelir juga sudah menikah, yang dimana dia tidak bisa lagi sebebas dulu. Mereka berempat mulai membicarakan dan bertukar cerita seputar keseharian mereka di tempat magang, dalam kesempatan kali ini Anyelir juga bercerit tentang perusahaan yang menjadi tempatnya magang adalah miliki Devan Willson yang tidak lain adalah suaminya.
__ADS_1
“Loe seriusan Nye?” tanya Dinda memastikan, Anyelir pun mangguk sebagai jawaban.
“Gimana Nye rasanya, magang di kantor suami?” Nina begitu penasaran.
“Rasanya … was-was, kan kalian tahu pernikahan ini harus dirahasiakan, dan ternyata semua karyawan Devan tahunya dia itu belum nikah, jadi gue harus hati-hati dan jaga sikap, gue nggak mau mereka menganggap gue cuman mau menggoda Devan,” jelas Anyelir, tapi sahabat Anyelir malah lebih fokus pada peryataan Anyelir yang mengatakan bahwa karyawan Devan tidak ada yang tahu bahwa Devan sudah menikah.
“Kenapa nggak ada yang tahu? Apa pernikahan sebelumnya dirahasiakan juga?” tebak Dinda.
“Bisa jadi,” hanya itu jawaban Nabila, karena memang dalam kasus ini, Devan memiliki kekuasaan , jadi mudah bagi Devan untuk membungkam semua media agar tidak memberitakan seputar dirinya dan juga pernikahannya.
“Oh iya, gue ketemu Arman tadi siang,” Anyelir menceritakan awal mula pertemuannya dengan Arman, dan juga katakutan Anyelir kalau Arman mencari tahu soal Devan. Karena keluarganya sudah berjanji pada Devan, bahwa pernikahan ini akan ditutp rapat-rapat.
“Loe tenang aja, kalau pun Arman mau nanya seputar loe, pasti larinya ke kita kok,” Dinda mencoba menenangkan Anyelir.
“Bener tuh, kalau dia mengulik lebih jauh soal loe, kita harus bisa menghalangi. Salah siapa dia selingkuh,” tegas sahabat Anyelir, Anyelir merasa beruntung memiliki sahabat yang selalu ada untuknya, dan juga selalu siaga membantunya dalam hal apapun, dengan begini Anyelir merasa tenang dan tidak terus memikirkan Arman. Mengingat nama Arman, membuat Anyelir juga teringat dengan Gita, dan menggiring Anyelir memikirkan kedua orangtuanya, sudah lama dia tidak berkunjung dan bertemu ayah dan ibunya.
Malam ini, entah kenapa Anyelir tidak juga bisa memejamkan mata, padahal malam sudah cukup larut, namun mata Anyelir masih terus terjaga. Dia memutuskan untuk membuka social medianya, dan membuka aplikasi whatsapp. Anyelir tersenyum karena di sana sudah tertera nomor Devan, Devan sempat meminjam ponsel Anyelir dengan alasan untuk menghubungi ponselnya yang lupa ditaruh di mana. Namun Anyelir tahu itu hanyalah alasan Devan belaka, untuk menyimpan nomor Devan di ponsel Anyelir.
“Suamiku?” Anyelir tersenyum karena nama yang diberikan oleh Devan.
‘Kenapa ya? perasaan dulu aku begitu takut dekat denga tuan Devan, tapi sekarang? Aku merasakan rindu ketika aku harus jauh darinya,’ batin Anyelir.
“Tapi … banyak hal yang tuan Devan sembunyikan dari ku, dan ini membuat aku ragu. Mungkinkah akhirnya pernikahan ini berakhir bahagia? Mungkinkah dalam pernikahan ini akhirnya akan tumbuh rasa cinta? Sedangkan dala hubungan ini saja tidak ada rasa percaya yang tuan Devan berikan padaku,” hal it uterus menerus mengganggu pikiran Anyelir. Ragu dan ragu yang dia pikirkan, karena sampai detik ini, Devan sama sekali tidak pernah terbuka apapun pada Anyelir, yang bahkan tentang keluarganya. Bagaimana mungkin cinta diantara mereka bisa tumbuh? Jika rasa percaya saja tidak ada diantara mereka. Namun benarkah? Belum ada cinta yang tumbuh diantara mereka? Mengingat Devan saja sudah mau menyentuh Anyelir, ataukah hanya sebagai pelampiasan?
__ADS_1