Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Menjalankan misi bersama


__ADS_3

Anyelir, menatap nanar ponsel yang masih dalam genggamannya. Hati kecilnya benar-benar begitu kuat mengatakan bahwa Rose adalah orang yang mengirim kan parsel tersebut.


'Kenapa Anyelir begitu yakin?' Devan, rupanya menguping pembicaraan mereka tanpa Anyelir sadari, Devan membuka sedikit pintu kamar supaya mendengarkan suara pembicaraan Anyelir.


Devan segera pergi meninggalkan rumah, karena tidak mau kalau sampai Anyelir curiga, namun Devan akan tetap menyelidik semuanya, karena Devan yakin, pasti ada sesuatu kenapa Anyelir bisa begitu yakin bahwa Rose yang sudah mengirimkan parsel buah itu.


Sesampainya di kantor, Devan langsung menceritakan semuanya kepada Felix dan meminta pendapat pada asisten pribadinya.


"Menurut kamu, bagaimana?" tanya Devan.


"Saya sulit percaya, Tuan. Kalau benar ibu Rose yang sudah mengirimkan parsel itu, kan selama ini kita tahu bagaimana tabiat ibu Rose," ucap Felix.


Devan, membenarkan apa yang dikatakan oleh Felix, namun mengingat bagaimana Anyelir yang sangat meyakini, bahwa itu adalah kiriman ibunya.


"Bagaimana kalau kita selidiki, Tuan?" tanya Felix.


"Baiklah, kau selidiki lewat ini." Devan memberikan alamat toko buah yang mengirimkan parsel.


"Baik, Tuan, secepatnya saya akan mendapatkan informasi untuk anda." Felix pun langsung bergegas pergi, menuju alamat yang tertera dalam bukti pengiriman tersebut.


.


.


Akhirnya, Felix sampai di alamat yang dia tuju, dia meyakinkan bahwa alamat itu sudah benar.


"Sepertinya, benar ini alamatnya," gumam Felix.


"Pak Felix?" Felix terkejut, karena ada seseorang yang menepuk bahunya.


"Nabila?" rupanya, orang yang yang menepuk bahu Felix adalah Nabila.


"Bapak ngapain di sini?" tanya Nabila heran.


"Mau, beli buah." jawab Felix dengan cepat, "Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Felix.


"Saya juga mau beli buah, buat Anyelir," jawab Nabila, dia baru saja pulang dari kampus dan teringat dengan Anyelir. Jadi dia memutuskan untuk berkunjung.


"Bapak, mau beli buah juga buat Anyelir?" tanya Nabila.


"Bu-bukan mau buat, teman kantor," jawab Felix dengan gugup.

__ADS_1


"Oh saya pikir, soalnya Anyelir paling suka beli buah di sini, Pak." ucap Nabilla memberitahu kan tanpa diminta.


"Kok kamu tahu?" tanya Felix curiga.


"Bapak gimana sih, kan saya temennya," ujar Nabilla kesal.


"Oh iya." Felix menepuk jidatnya karena dia benar-benar lupa, Nabila adalah sahabat dekat istri atasannya. Namun, dari apa yang dikatakan oleh Nabila, menambah clue untuk Felix.


"Tunggu Nabila." Felix, menghentikan langkah Nabila.


"Ada apa Pak?" tanya Nabila.


"Kamu yakin, ini tempat nyonya Anyelir sering membeli buah?" tanya Felix memastikan, dan Nabila pun menganggukkan kepalanya.


"Iya Pak, ini juga langganan keluarga Anyelir kok. Saya tahu dari Anyelir, di sini semua buahnya berkualitas," jawab Nabila.


"Tapi, kenapa Pak Felix nanya ini? Ada apa nih?" tanya Nabila dengan raut wajah curiga.


"Jadi begini, tadi pagi Nyonya Anyelir mendapatkan parsel buah, atas naman pak Agam. Namun, saat dikonfirmasi, bukan pak Agam pengirimnya. pak Devan sangat penasaran siapa sebenarnya orang yang sudah mengirimkan parsel tersebut," jelas Felix.


"Dan, alamat pengirim nya dari toko buah ini?" tanya Nabila memastikan.


"Betul." jawab Felix seraya menunjukkan alamat yang dia pegang.


"Bu Anyelir, berpikir kalau itu ibunya, tapi mengingat sikap ibu Rose selama ini, apa mungkin?" Felix menunjukkan keraguannya.


"Tapi, ini isinya semua buah kesukaan Anyelir, dan saya rasa memang hanya Tante Rose yang tahu," jawab Nabila membenarkan.


"Kita masuk dulu aja Pak, terus kita tanya nomor pemesanny," ucap Nabila memberikan ide. Akhirnya, Nabila dan Felix pun masuk.


Nabila mencari beberapa buah yang akan dia beli, lalu dia juga langsung bertemu dengan pemilik toko buah.


"Betul Pak, ini dari toko kami," pemilik toko buah, membenarkan.


"Boleh saya tahu, siapa yang memesan, Pak?" tanya Felix penasaran. Namun, raut wajah sang pemilik, nampaknya sedikit ragu.


"Begini Pak, alamat yang Bapak kirim parsel ini adalah alamat saya, tapi saat saya tanya apakah benar pak Agam yang mengirim, katanya bukan. Jadi saya takut, kalau orang itu berniat jahat." akhirnya, Nabila bersandiwara di depan pemilik toko.


"Baiklah, pemesan tersebut, memang mengirimkan pesan, dan ini nomornya." Pemilik Toko buah memperlihatkan pesan yang dikirim oleh si pemesan misterius.


"Ini, nomor Tante Rose." ucap Nabilla setelah mengeceknya.

__ADS_1


"Kamu yakin?" tanya Felix memastikan.


"Lihat Pak." Nabila memperlihatkan buktinya.


"Baik Pak, terimakasih atas bantuannya." Felix sudah cukup mendapat kan bukti. Setelah itu, karena dia merasa sudah dibantu oleh Nabila. Felix berinisiatif membayar belanjaan Nabila.


"Kok Bapak, bayar punya saya?" tanya Nabila dengan serius.


"Sebagai ucapan terimakasih, karena kamu sudah bantu saya," jawab Felix.


"Kalau mau makasih, ya tinggal makasih aja. Saya masih punya uang kok buat beli ini. Nggak semuanya bisa dinilai pakai uang Pak," Nabila, nampaknya tidak suka dengan cara Felix, yang seolah menunjukkan bahwa Felix punya banyak uang. Nabila mengeluarkan uang dalam dompet sejumlah belanjaan yang dia habiskan tadi.


"Makasih atas tawaran anda membayar belanjaan saya, ini saya kembalikan." ucap Nabila seraya menyerahkan uang itu kepada Felix. Nabila pun berlalu, menaiki taksi.


Felix, masih tertegun, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Dia marah? Karena saya bayar belanjaannya?" gumam Felix.


Felix tidak mau memikirkan hal tersebut, karena saat ini dia tengah menjalani perintah dari Devan. Tidak menunggu lama, Felix pun memutuskan untuk kembali ke kantor.


Sedangkan Nabila, masih menaruh kesal kepada Felix.


"Gue tahu, dia itu orang punya duit. Tapi bisa gak sih, kalau mau makasih ya tinggal bilang makasih. Segala pake belanjain, dia gak tahu apa, kata-kata maaf dan terimakasih justru lebih berharga," gumam Nabilla kesal.


.


.


"Bagus, jadi sudah bisa dipastikan, bahwa benar ibu Rose yang sudah memesannya." Devan, menatap bukti yang dibawakan oleh Felix. Felix sudah menceritakan semuanya dengan detail.


"Tapi, kenapa harus sembunyi-sembunyi, apa ada yang dirahasiakan oleh ibu Rose?" tanya Devan.


"Sepertinya begitu, Tuan." jawab Felix, dia belum bisa mengiyakan dugaan Devan kali ini.


"Baiklah, nanti akan aku urus sendiri," ucap Devan akhirnya. Devan menatap lurus ke arah Felix, yang nampak tengah melamun.


"Kamu, kenapa?" tanya Devan dengan raut wajah curiga.


"Felix?!" seru Devan, membuat Felix terkejut, karena Felix tengah melamun.


"E-eh iya Tuan, maaf." jawab Devan seraya menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan? Apa ada masalah?" tanya Devan.


Felix masih diam, dia bingung apakah harus menceritakan semuanya kepada sang atasan, atas apa yang terjadi tadi di Toko buah? Namun, Felix takut kalau Devan nantinya salah paham, dan mengira bahwa Felix telah jatuh hati dengan Nabila.


__ADS_2