Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Kejujuran


__ADS_3

"Ayah? Ibu?" Anyelir, menatap kedua orang tuanya, dengan tatapan tak percaya.


"Iya, merekalah tamu kehormatan kita malam ini," ucap Devan, yang berdiri di samping Anyelir.


"Anyelir?" Rose, langsung menghampiri putrinya, dan memeluk dengan penuh kasih dan sayang. Pelukan, yang selama ini sangat dirindukan oleh Anyelir.


"Aku nggak percaya Ibu datang." ucap Anyelir, seraya menitik kan air mata bahagianya.


"Maafkan Ibu, Nak." ucap Rose penuh sesal, dia mengelus puncak kepala Anyelir.


Setelah keadaan sudah lebih tenang, Devan mengajak mereka semua untuk masuk dan memulai acara makan malam.


"Sayang, ucapkan terimakasih kepada Ibu, yang sudah mengirimkan parsel buah tadi pagi," ucap Devan kepada Anyelir.


"Oh, jadi parsel buah dari Ibu Rose?" tanya Mayang, nampak terkejut, dia juga tidak enak sempat heboh mengira buah itu berisi racun.


"Iya Bu Mayang, maaf karena saya tidak datang secara langsung dan memberikan parsel buah itu," ucap Rose, dengan perasaan tak enak.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Bu, tapi lain kali kalau memang ingin bertemu Anyelir, langsung datang saja Bu, karena pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk Ibu Rose dan Pak Agam." ucap Mayang dengan senyum sopan dan ramah.


"Terimakasih banyak Bu Mayang, sudah menjaga putri saya dan menyayangi nya dengan setulus hati," Rose merasa bersyukur, karena Anyelir selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik, bahkan Anyelir mendapatkan ibu mertua yang sangat menyayanginya.


Mayang tersenyum. "Anyelir, sudah menjadi istri dari putra saya, jadi Anyelir adalah anak perempuan saya," jawab Mayang.


Rose merasa lega, ketika dirinya tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk sang putri, namun Anyelir bisa mendapatkan kebahagiaan dari keluarga suaminya.


"Bu, makasih ya untuk buah-buahan yang Ibu kirimkan, Anyelir suka." Anyelir terharu, ternyata firasat nya yang mengatakan bahwa ibunya lah yang mengirimkan buah itu, ternyata benar.


"Aku, malu." jawab Rose seraya menundukkan wajahnya.


"Lebih tepatnya, Ibu takut Yah." jawab Devan, meralat jawaban Rose.


"Takut? Apa yang harus ditakutkan?" tanya Agam bingung.


"Karena Gita," jawab Devan.

__ADS_1


"Gita? Apa ada hubungannya, dengan perubahan sikap kamu ke Anyelir?" tanya Agam kepada Rose, dan Rose mengangguk lemah.


"Gita mengancam Ibu, Yah," ucap Devan, dia pun menceritakan semuanya yang terjadi. Tentu saja semua yang mendengar penjelasan Devan, begitu terkejut. Apalagi Agam, karena selama ini dia tidak pernah tahu soal apa yang Gita lakukan terhadap Rose.


"Dia benar-benar keterlaluan." Agam mengepalkan tangannya, menahan gejolak amarah.


"Yah, sabar. Jangan terbawa emosi." Rose mencoba mengelus bahu suaminya, dan menenangkan Agam.


"Tapi, dia sudah keterlaluan Bu, bagaimana bisa dia menjauhkan kamu dengan Anyelir, dengan ancaman yang tidak masuk akal. Harusnya, kamu bicara dengan aku, supaya aku bisa mengambil tindakan," ujar Agam.


Rose menggeleng kan kepalanya. "Aku nggak mau, kalau hubungan kamu dan Gita semakin runyam. Gita sudah kecewa dengan kamu, karena hubungan kita di belakang mendiang bundanya. Aku nggak mau, kalau nantinya Gita beranggapan, bahwa aku ingin merebut kamu dari Gita, dan membuat Gita justru dibenci oleh Ayahnya sendiri," ujar Rose.


"Lalu, bagaimana dengan Anyelir? Dia juga harus merasakan sakit hati, karena Ibunya yang terus mengabaikan dan juga menyakiti Anyelir, bahkan pengkhianatan kisah cinta juga dia rasakan," ujar Agam.


"Ibu hanya bisa mengatakan maaf, Nak. Maaf karena Ibu belum bisa jadi Ibu yang baik." Rose menatap Anyelir, dengan tatapan bersalah.


"Bu, jangan bilang seperti itu. Bagi Anyelir, Ibu adalah wanita terbaik, dan Anyelir tahu, apa yang Ibu lakukan selama ini adalah yang terbaik untuk Anyelir." Anyelir tersenyum ke arah Rose. Malam ini, adalah malam yang begitu bahagia bagi Anyelir, akhirnya dia merasakan kehangatan kembali kasih sayang ibunya. Namun, ada kesedihan karena Anyelir akhirnya tahu, bahwa Gita begitu dalam membenci Anyelir.

__ADS_1


__ADS_2