
"Bu, aku tahu aku salah, aku akan berusaha untuk merubah sikapku," Gita mulai menunjukkan wajah memelasnya, "aakkhhhh," tiba-tiba saja, Gita langsung terpekik kesakitan seraya memegang perutnya.
"Gita, kamu kenapa?" Arman, yang berada di samping Gita langsung sigap menghampiri istrinya, dia begitu cemas melihat keadaan Gita.
"Perutku, sa-sakit," rintih Gita, dia terus memegang perutnya.
"Ini semua gara-gara kamu, bisa nggak sih mulut kamu itu dijaga, atau kalau nggak bisa, sebaiknya kamu diam!" bentak Dika, yang geram dengan tingkah Desi. Desi tidak berkutik, sedangkan Rose dan Agam langsung sigap memanggil Dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Arman, dia takut terjadi sesuatu dengan kandungan Gita.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ibu Gita sekarang sudah jauh lebih baik. Tapi seperti yang sudah saya sarankan, tolong jangan sampai bu Gita stres ya karena itu, akan sangat mempengaruhi janinnya," kembali Dokter mengingatkan kepada Arman.
"Baik Dok, terimakasih," Arman pun menganggukkan kepalanya, dia merasa gagal karena masih di rumah sakit saja, dia merasa belum bisa menjaga Gita.
"Bun, aku mau Bunda pulang, dan jangan pernah temui Gita," ujar Arman, kepada Desi. Dia punya alasan kuat kenapa mengatakan hal itu.
"Kamu usir Bunda?" Desi menatap putra semata wayangnya dengan tatapan tidak percaya.
"Bun, ucapan Bunda itu bikin mental Gita down, dan itu akan bahaya pada calon anakku, Bun," Arman mencoba menjelaskan kepada bundanya, dan Desi pun hanya diam.
"Ayah setuju dengan keputusan Arman," Dika nampaknya berada di pihak Arman.
"Ayah juga ikut-ikutan?" Desi menatap suaminya dengan tajam, "kalian kenapa sih, gampang banget dibodohin, dia itu cuman pura-pura," Desi tidak terima sudah diperlakukan begini oleh Gita, dia yakin Gita hanya ingin menghancurkannya dan mencari pembelaan dengan memanfaatkan kehamilannya.
"Kenapa kamu usir, bunda?" Gita memasang wajah tak enak hati, supaya terkesan dirinya menantu yang begitu tertindas.
"Ini demi kamu dan calon anak kita, bunda selalu saja membuat kamu kepikiran, aku tahu kamu nggak nyaman. Aku minta maaf ya?" Arman menggenggam jemari Gita dan menciumnya perlahan.
"Tapi, aku takut kalau nanti bunda akan semakin membenci ku," ucap Gita dengan raut wajah sendu.
"Jangan khawatir, aku yakin setelah anak kita lahir, bunda akan bisa menerima kamu. Apalagi, kalau bunda melihat perubahan kamu yang jauh lebih baik," Arman tersenyum dan mengusap puncak kepala Gita.
"Makasih ya, padahal selama ini aku selalu bersikap buruk sama kamu, tapi kamu malah selalu baik sama aku," Gita memeluk Arman, dan dibalas dekapan erat oleh sang suami. Dalam pelukan Arman, diam-diam Gita tersenyum devil.
'Rasakan kamu ibu mertua jahat, ini baru permulaan, aku yakin ke depannya akan semakin banyak orang yang mendukung ku. Dan aku pastikan, kamu akan dibenci banyak orang,' batin Gita. Dia terlanjur memiliki dendam terhadap ibu mertuanya karena, selama Gita menjadi menantu mereka, Gita terus saja dibandingkan dengan Anyelir, bahkan tidak jarang Desi juga mengatakan kepada teman-temannya soal Gita yang tidak bisa diandalkan menjadi menantu. Desi juga selalu menyebut Gita, pembawa masalah.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat ya, jangan kepikiran yang lain lagi, kasihan anak kita," Arman tersenyum dan mengusap perut Gita yang masih nampak rata.
__ADS_1
"Bu, aku tahu aku salah, aku akan berusaha untuk merubah sikapku," Gita mulai menunjukkan wajah memelasnya, "aakkhhhh," tiba-tiba saja, Gita langsung terpekik kesakitan seraya memegang perutnya.
"Gita, kamu kenapa?" Arman, yang berada di samping Gita langsung sigap menghampiri istrinya, dia begitu cemas melihat keadaan Gita.
"Perutku, sa-sakit," rintih Gita, dia terus memegang perutnya.
"Ini semua gara-gara kamu, bisa nggak sih mulut kamu itu dijaga, atau kalau nggak bisa, sebaiknya kamu diam!" bentak Dika, yang geram dengan tingkah Desi. Desi tidak berkutik, sedangkan Rose dan Agam langsung sigap memanggil Dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Arman, dia takut terjadi sesuatu dengan kandungan Gita.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ibu Gita sekarang sudah jauh lebih baik. Tapi seperti yang sudah saya sarankan, tolong jangan sampai bu Gita stres ya karena itu, akan sangat mempengaruhi janinnya," kembali Dokter mengingatkan kepada Arman.
"Baik Dok, terimakasih," Arman pun menganggukkan kepalanya, dia merasa gagal karena masih di rumah sakit saja, dia merasa belum bisa menjaga Gita.
"Bun, aku mau Bunda pulang, dan jangan pernah temui Gita," ujar Arman, kepada Desi. Dia punya alasan kuat kenapa mengatakan hal itu.
"Kamu usir Bunda?" Desi menatap putra semata wayangnya dengan tatapan tidak percaya.
"Bun, ucapan Bunda itu bikin mental Gita down, dan itu akan bahaya pada calon anakku, Bun," Arman mencoba menjelaskan kepada bundanya, dan Desi pun hanya diam.
"Ayah setuju dengan keputusan Arman," Dika nampaknya berada di pihak Arman.
"Ayah juga ikut-ikutan?" Desi menatap suaminya dengan tajam, "kalian kenapa sih, gampang banget dibodohin, dia itu cuman pura-pura," Desi tidak terima sudah diperlakukan begini oleh Gita, dia yakin Gita hanya ingin menghancurkannya dan mencari pembelaan dengan memanfaatkan kehamilannya.
"Kenapa kamu usir, bunda?" Gita memasang wajah tak enak hati, supaya terkesan dirinya menantu yang begitu tertindas.
"Ini demi kamu dan calon anak kita, bunda selalu saja membuat kamu kepikiran, aku tahu kamu nggak nyaman. Aku minta maaf ya?" Arman menggenggam jemari Gita dan menciumnya perlahan.
"Tapi, aku takut kalau nanti bunda akan semakin membenci ku," ucap Gita dengan raut wajah sendu.
"Jangan khawatir, aku yakin setelah anak kita lahir, bunda akan bisa menerima kamu. Apalagi, kalau bunda melihat perubahan kamu yang jauh lebih baik," Arman tersenyum dan mengusap puncak kepala Gita.
"Makasih ya, padahal selama ini aku selalu bersikap buruk sama kamu, tapi kamu malah selalu baik sama aku," Gita memeluk Arman, dan dibalas dekapan erat oleh sang suami. Dalam pelukan Arman, diam-diam Gita tersenyum devil.
'Rasakan kamu ibu mertua jahat, ini baru permulaan, aku yakin ke depannya akan semakin banyak orang yang mendukung ku. Dan aku pastikan, kamu akan dibenci banyak orang,' batin Gita. Dia terlanjur memiliki dendam terhadap ibu mertuanya karena, selama Gita menjadi menantu mereka, Gita terus saja dibandingkan dengan Anyelir, bahkan tidak jarang Desi juga mengatakan kepada teman-temannya soal Gita yang tidak bisa diandalkan menjadi menantu. Desi juga selalu menyebut Gita, pembawa masalah.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat ya, jangan kepikiran yang lain lagi, kasihan anak kita," Arman tersenyum dan mengusap perut Gita yang masih nampak rata.
__ADS_1
"Bu, aku tahu aku salah, aku akan berusaha untuk merubah sikapku," Gita mulai menunjukkan wajah memelasnya, "aakkhhhh," tiba-tiba saja, Gita langsung terpekik kesakitan seraya memegang perutnya.
"Gita, kamu kenapa?" Arman, yang berada di samping Gita langsung sigap menghampiri istrinya, dia begitu cemas melihat keadaan Gita.
"Perutku, sa-sakit," rintih Gita, dia terus memegang perutnya.
"Ini semua gara-gara kamu, bisa nggak sih mulut kamu itu dijaga, atau kalau nggak bisa, sebaiknya kamu diam!" bentak Dika, yang geram dengan tingkah Desi. Desi tidak berkutik, sedangkan Rose dan Agam langsung sigap memanggil Dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Arman, dia takut terjadi sesuatu dengan kandungan Gita.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ibu Gita sekarang sudah jauh lebih baik. Tapi seperti yang sudah saya sarankan, tolong jangan sampai bu Gita stres ya karena itu, akan sangat mempengaruhi janinnya," kembali Dokter mengingatkan kepada Arman.
"Baik Dok, terimakasih," Arman pun menganggukkan kepalanya, dia merasa gagal karena masih di rumah sakit saja, dia merasa belum bisa menjaga Gita.
"Bun, aku mau Bunda pulang, dan jangan pernah temui Gita," ujar Arman, kepada Desi. Dia punya alasan kuat kenapa mengatakan hal itu.
"Kamu usir Bunda?" Desi menatap putra semata wayangnya dengan tatapan tidak percaya.
"Bun, ucapan Bunda itu bikin mental Gita down, dan itu akan bahaya pada calon anakku, Bun," Arman mencoba menjelaskan kepada bundanya, dan Desi pun hanya diam.
"Ayah setuju dengan keputusan Arman," Dika nampaknya berada di pihak Arman.
"Ayah juga ikut-ikutan?" Desi menatap suaminya dengan tajam, "kalian kenapa sih, gampang banget dibodohin, dia itu cuman pura-pura," Desi tidak terima sudah diperlakukan begini oleh Gita, dia yakin Gita hanya ingin menghancurkannya dan mencari pembelaan dengan memanfaatkan kehamilannya.
"Kenapa kamu usir, bunda?" Gita memasang wajah tak enak hati, supaya terkesan dirinya menantu yang begitu tertindas.
"Ini demi kamu dan calon anak kita, bunda selalu saja membuat kamu kepikiran, aku tahu kamu nggak nyaman. Aku minta maaf ya?" Arman menggenggam jemari Gita dan menciumnya perlahan.
"Tapi, aku takut kalau nanti bunda akan semakin membenci ku," ucap Gita dengan raut wajah sendu.
"Jangan khawatir, aku yakin setelah anak kita lahir, bunda akan bisa menerima kamu. Apalagi, kalau bunda melihat perubahan kamu yang jauh lebih baik," Arman tersenyum dan mengusap puncak kepala Gita.
"Makasih ya, padahal selama ini aku selalu bersikap buruk sama kamu, tapi kamu malah selalu baik sama aku," Gita memeluk Arman, dan dibalas dekapan erat oleh sang suami. Dalam pelukan Arman, diam-diam Gita tersenyum devil.
'Rasakan kamu ibu mertua jahat, ini baru permulaan, aku yakin ke depannya akan semakin banyak orang yang mendukung ku. Dan aku pastikan, kamu akan dibenci banyak orang,' batin Gita. Dia terlanjur memiliki dendam terhadap ibu mertuanya karena, selama Gita menjadi menantu mereka, Gita terus saja dibandingkan dengan Anyelir, bahkan tidak jarang Desi juga mengatakan kepada teman-temannya soal Gita yang tidak bisa diandalkan menjadi menantu. Desi juga selalu menyebut Gita, pembawa masalah.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat ya, jangan kepikiran yang lain lagi, kasihan anak kita," Arman tersenyum dan mengusap perut Gita yang masih nampak rata.
__ADS_1