Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Meminta maaf


__ADS_3

"Jangan sekarang, Bu. Arman pasti sedang istirahat, besok kita bisa hubungi Arman, saat kita sudah memastikan kondisi Gita," saran Agam.


"Ayah benar, sangkin bahagianya Ibu, sampai lupa kalau ini sudah sangat larut," ujar Rose seraya menyimpan kembali ponselnya. "Berarti, Gita dan Arman, nggak bisa berpisah, Yah?"


Agam mengangguk, seraya menatap lurus ke arah Gita yang masih tertidur. "Iya, mungkin Yang Maha Kuasa masi menyayangi Gita, dan memberikan kesempatan supaya Gita mau berubah. Semoga saja, Gita bisa merubah sikapnya nanti," harap Agam, harapan yang memang selama ini selalu dia harapakan.


-//-


Pagi hari, seperti biasa Anyelir akan menyiapkan pakaian yang nantinya akan dikenakan oleh Devan ke kantor. Kegiatannya sehari-hari yang pasti dilakukan. Padahal Devan selalu meminta Anyelir untuk duduk di rumah, dan tidak melakukan pekerjaan karena takut jika Anyelir kelelahan. Tapi, Anyelir selalu bersikeras.


"Hari ini, kamu jadi ajak ayah sama ibu ketemu?" tanya Devan saat Anyelir tengah memasangkan dasi.


"Iya, aku harus menanyakan hal ini kepada ayah dan ibu, biar bagaimanapun sudah seharusnya mereka jujur, kan?" Anyelir balik bertanya.


"Iya, tapi pesan aku, jangan terlalu stres memikirkan soal ini ya, aku nggak mau kamu sama calon anak kita, kenapa-napa," Devan mengusap perut Anyelir yang sudah membuncit.


"Iya sayang, kamu nggak usah khawatir, aku akan selalu jaga anak kita" Anyerlir tersenyum hangat. Devan bahagia sekarang, dia sudah mendapatkan cinta yang selama ini dia dambakan, bahkan saat ini dia juga tengah menantikan kelahiran sang buah hati. Hanya saja, ada rasa kasihan kepada Anyelir, saat Devan melihat Anyelir yang agak kesulitan berjalan. Bahkan Devan juga terkadang merasa menyesal karena semenjak hamil, Anyelir jarang keluar rumah atau sekedar berjalan-jalan bersama teman-temannya.


"Kalau kamu bosan, kamu bisa ajak teman-teman kamu main ke sini nanti," saran Devan. Dia terlalu khawatir dengan keselamatan Anyelir, apalagi setelah mengetahui semua soal Gita. Devan menjadi selalu was-was jika Anyelir berada di luar rumah tanpa pengawasannya.


"Oke, nanti kabari mereka," Anyelir mengedipkan sebelah matanya, membuat Devan gemas dan mencium Anyelir dengan bertubi-tubi, dari mulai pipi hingga ke bibir.


Pukul 06.30 pagi, Felix baru saja tiba di kediaman Devan, untuk menjemput sang atasan, tapi baru saja dia keluar dar mobil, dia melihat sebuah mobil yang juga datang. Sampai akhirnya, mobil itu berhenti dan keluarlah seorang wanita yang sangat Felix kenal.


"Nabila?" sapa Felix dengan gugup, tatapan mata Nabila masih terlihat kesal, mungkin saja dia masih ingat kejadian di toko buah itu. Nabila tidak menjawab, dia bahkan terus melangkah tanpa memperdulikan Felix, sampai akhirnya Felix kembali bersuara.


"Nabila, tunggu." ucap Felix, membuat Nabila menghentikan langakah kakinya.


"Kenapa?" tanya Nabila dengan suara yang tidak bersahabat.

__ADS_1


"A-aku. Aku mau minta maaf," ucap Felix, nampak kaku. Nabila menatap Felix dengan seksama, dia bahkan tidak sungkan mendekat.


"Kamu nggak sakit, kan?" tanya Nabila heran.


"Enggak, saya sehat," elak Felix. Karena memang dia merasa dirinya sehat.


"Terus kenapa tiba-tiba minta maaf?" tanya Nabila heran, sebab yang Nabila tahu, Felix adalah salah satu orang yang begitu egois, dan mungkin Nabila tidak pernah melihat Felix meminta maaf selain pada atasannya.


"Karena saya merasa salah, maaf waktu di toko buah, saya sudah membuat kamu tidak nyaman," ujar Felix mengakui kesalahannya. Felix menatap Nabila yang tengah berpikir, hal itu membuat Felix deg-degan, dia was-was karena takut Nabila tidak akan memaafkannya.


"Mas, stop." Anyelir menarik tangan Devan, kini mereka tengah berada di depan pintu, melihat pemandangan yang nampak tidak biasa.


"Felix sama Nabila, mereka lagi apa?" bisik Anyelir nampak penasaran.


Devan nampak berpikir, dan dia ingat, pada waktu itu Felix belum meminta maaf belum benar, dan sudah bisa Devan tebak, kalau saat ini Felix tengah menyelesaikan permasalahan keduanya.


"Memangnya masalah apa? Kok aku nggak tahu," protes Anyelir.


Devan menghela napasnya, merasa gemas dengan tingkah sang istri. "Hanya salah paham kecil. Ayo duduk dulu, nanti kamu lelah, biarkan mereka berbicara sejenak." Devan membawa Anyelir untuk duduk di kursi ruang tamu, dia ingin Felix bisa menyelesaikan urusannya lebih dulu.


Kembali pada Felix dan Nabila. Nabila akhirnya memaafkan kesalahan Felix, tidak lupa dia memberikan beberapa petuah kepada Felix.


"Tuan Felix yang terhormat, saya tahu uang anda itu banyak, tapi lain kali lihat kondisi. Tidak semua orang suka dengan uang anda, terkadang sebuah ucapan jauh lebih berharga dari pada uang," ucap Nabila seraya mengakhiri perkataannya dengan sebuah senyuman, dia juga langsung berpamitan untuk menemui Anyelir, seolah tidak memberikan waktu bagi Felix membela diri.


"Assalammualaikum." Nabila mengetuk pintu, tidak lama Anyelir keluar bersama dengan Devan. Karena memang sedari tadi, Anyelir sudah menunggu.


"Ya sudah, aku berangkat dulu ya?" Devan mengecup kening sang istri, dan membuat Nabila langsung memalingkan muka karena malu, menyaksikan kemesraan pasangan suami istri itu.


"Nabila, saya titip istri saya," pesan Devan.

__ADS_1


"Baik, Pak," jawab Nabila seraya tersenyum canggung.


Devan pun melangkah menuju mobilnya, seketika Felix langsung sigap membukakan pintu mobil untuk Devan.


"Silahkan, Tuan," ucap Felix, dan Devan tersenyum ke arah Felix.


"Bagaimana, beres?" tanya Devan dengan suara lirih.


"Sudah, Tuan," jawab Felix dengan malu, dia yakin kalau atasannya itu melihat semuanya. Felix segera masuk ke dalam mobil, dan duduk di kursi kemudi, melajukan kendaraan menembus ramainya kota, menuju perusahaan.


Kini, Anyelir dan Nabila sudah berada di gazebo rumah, Anyelir merasa bosan di rumah, jadi dia mengundang Nabila dan teman-temannya yang lain untuk main ke rumahnya. Kebetulan, hari ini kelas mereka kosong.


"Kamu ada masalah apa, sama asisten Felix?" tanya Anyelir, dia sedari tadi sudah sangat gatal ingin menginterogasi sahabatnya itu.


"Kamu lihat?" tanya Nabila, yang nampaknya terkejut.


"Iya, kata mas Devan, kamu sama asisten Felix ada kesalah pahaman," jawab Anyelir.


Nabila nampak menghela napasnya, dia tidak mau menutupi apapun. karena bisa-bisa Anyelir berpikir lain soal dirinya dengan Felix.


"Itu soal, kejadian waktu kamu dikirim buah sama ibu kamu," jawab Nabila, membuat Anyelir mengernyit.


"Waktu itu, aku sedang ke toko buah itu, dan kebetulan ketemu asisten Felix," Nabila menceritakan semua kejadiannya dari awal sampai akhir, dan Anyelir mendengar dengan seksama.


"Berati kamu wanita pertama, yang bisa membuat asisten Felix meminta maaf. Biasanya cuman ke kak Devan," ujar Anyelir.


"Ke kamu juga sering kali," sanggah Nabila.


"Tapi beda, itu karena aku istri kak Devan," Anyelir tidak mau kalah, dan membuat Nabila memutar bola matanya malas. "Pokoknya, aku udah jelasin, dan aku harap kamu nggak berpikir aneh-aneh," Nabila sudah mewanti-wanti sebelum nantinya gosip soal dirinya beredar.

__ADS_1


__ADS_2