Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Permintaan istri muda


__ADS_3

Setelah, perjanjian pernikahan itu sudah disepakati bersama, akhirnya Agam dan Erma menikah secara siri. Rose dan Erma tidak tinggal satu rumah, karena biar bagaimanapun, mereka sama-sama wanita yang pastinya memiliki rasa cemburu cukup besar.


Dua bulan pernikahan Agam dan Erma, akhirnya hari yang dinantikan tiba, Erma dinyatakan hamil. Namun, selama kehamilan, Rose merasa kalau Erma banyak menyita waktu Agam, dan seharusnya Agam bisa bersama dengan Rose, justru harus mengurus Erma dengan alasan Erma tengah hamil dan butuh Agam di sampingnya.


"Mas, Erma nggak lupa, kan soal perjanjian kita di awal?" tanya Rose dengan nada was-was. Karena dia merasa kalau Erma mulai kelewat batas.


"Enggak lah, kan kita sudah mejanjikan jumlah uang yang banyak ke dia, memangnya kenapa sih?" Agam seolah sadar, dengan sikap sang istri yang terlihat was-was.


"Aku mulai curiga sama Erma, karena dia sekarang sepertinya semakin menguasai waktu kamu," akhirnya, Rose mengatakan apa yang menjadi kagundahan hatinya.


"Sabar ya sayang, ternyata selama hamil muda, Erma sering merasa kram pada perutnya, dan aku harus berada di sampingnya, untuk memastikan semua baik-baik saja. Kalau kita tidak memperhatikan Erma, aku takut terjadi hal buruk pada kandungannya, dan akhirnya apa yang sudah kita lakukan selama ini, justru sia-sia." Agam menggenggam jemari Rose dan menjelaskan kepada Rose tentang keadaan sekarang ini, berharap sang istri bisa mengerti.


"Baiklah Mas, maaf ya kalau aku sekarang jadi banyak menuntut," ucap Rose tak enak hati. Rose merasa bersalah, karena dia merasa terllau banyak menuntut pada Agam, Rose sadar bahwa semua ini juga karena permintaannya, Rose yakin, Agam juga sudah cukup sulit menjalani semuanya.

__ADS_1


'Meskipun sekarang aku dan mas Agam jarang ada waktu, aku yakin setelah Erma melahirkan dan berpisah dari mas Agam, semua akan kembali padaku, bahkan kamia akan bersama-sama merawat anak kamu,' batin Rose.


beberapa bulan kemudian.


Tidak terasa, sudah 8 bulanĀ  usia kandungan Erma, perkembangan janinnya juga sangat bagus. Erma dan Agam sudah tahu jenis kelamin bayi mereka, yaitu perempuan.


"Mas Agam," Erma memanggil suaminya yang hendak berangkat kerja.


"Iya, ada apa?" tanya Agam menatap Erma, takut ada yang diperlukan oleh istri mudanya.


"Apa kamu bilang?" tanya Agam dengan raut wajah terkejut.


"Iya, aku mau kita menikah secara sah di mata hukum," sekali lagi, Erma mengatakan apa permintaanya.

__ADS_1


Agam tersenyum lucu, "Kamu nggak lupa, kan? dengan perjanjian pra nikah?" tanya Agam dengan tajam, namun Erma terlihat tidak takut sama sekali.


"Aku nggak lupa kok, tapi setelah aku pikir, aku kan yang mengandung anak ini, aku juga yang berjuang untuk melahirkannya. Berapapun jumlah uang yang kalian berikan, tidak akan ada tandingannya, dan lagi aku harus menyerahkan anak ku pada Rose? Aku nggak bisa," tolak Erma.


"Jangan bercanda Erma, sedari awal kamu sudah menyetujuinya," Agam terlihat frustasi, dia tidak menyangka kalau Erma benar-benar akan berubah seperti ini.


"Apa aku terlihat sedang bercanda Mas? Aku serius." jawab Erma dengan lantang.


"Kalau kamu tidak mau menuruti permintaan ku, maka aku akan membawa anak ku pergi, dan kamu tidak akan pernah bisa melihat anak kamu sampai kapan pun!" seru Erma.


Agam mengacak rambutnya frustasi, dia tidak tahu harus bertindak bagaimana.


"Baiklah, beri aku waktu untuk berpikir dan merundingkan ini dengan Rose," jawab Agamn kemudian.

__ADS_1


"Baiklah, aku tunggu jawaban kamu besok," ucap Erma.



__ADS_2