
Hari ini, Devan sudah memindahkan perawatan Mayang ke rumah milik Mayang, dia juga menyediakan peraawat yang standby di rumah. Masalah Mayang sudah teratasi, kini giliran Devan memikirkan cara untuk membagi waktu bersama Anyelir, dia juga harus memikirkan cara untuk segera berpisah dari Laura. Devan mendekat kearah kamar ibunya, di sana dia melihat Laura yang tengah sibuk bermain dengan ponselnya, sedangkan semua kebutuhan ibunya di urus oleh suster.
‘Kalau aku mengatakan kepada Ibu soal pernikahan ku dengan Anyelir, pasti Ibu tidak akan suka,’ batin Devan, dia harus kembali memikirkan cara, dan waktu yang tepat untuk berbicara dengan ibunya.
Devan masuk ke kamar ibunya, dan meminta izin untuk pulang ke rumahnya karena dia harus bersiap berangkat ke kantor.
“Kamu bilang, kamu mau pindah Nak ke sini?” tanya Mayang.
“Aku nggak bisa pindah begitu aja Bu, aku akan bolak-balik ke sini, dan sering menginap, karena kolega ku juga sering datang ke rumah untuk urusan pekerjaan,” jelas Devan, Mayang memang memahami putranya, dia tahu kalau putranya selama ini menyembunyikan dari public tentang kondisinya yang tengah sakit.
“Aku ikut ya mas, aku mau ambil barang-barang,” pinta Laura dan diangguki oleh Devan. Mereka berdua pun berpamitan pada Mayang, lalau bergegas pergi. Sebenarnya Laura sangat ingin tinggal di kediaman Mayang, karena dengan begitu, maka dia dan Devan akan tidur satu ranjang, dan waktu Devan untuk bertemu dengan Anyelir pun akan berkurang.
“Kenapa kamu nggak tinggal di rumah ibu aja sih?” tanya Laura.
“Itu hanya akan menguntungkan kamu, aku tahu apa isi otak mu,” jawab Devan dingin, membuat Laura memutar bola matanya jengah.
“Meskipun aku tinggal sama ibu, tapi aku mau kamu adil sama aku juga, gimanapun aku istri kamu Devan, kamu jangan lupa itu,” kali ini Laura berani menuntut haknya.
Devan tersenyum remeh, “aku dan Anyelir sedang menjalani program hamil, jadi aku harus bersama dia, seandainya saja kamu bisa hamil, mungkin aku tidak perlu repot-repot menikah lagi,” jawab Devan enteng.
“A-apa? program hamil? Tapi Anyelir masih kuliah Devan,” bukan maksud Laura ingin membela Anyelir, tapi dia takut posisinya akan tersingkir jika benar Anyelir bisa hamil.
“Kenapa? tidak masalah,” mendengar jawaban Devan yang nampak santai, membuat Laura kesal, dia harus cepat memutar otak agar Devan menceraikan Anyelir.
‘Ini tidak boleh dibiarkan,’ batin Laura was-was.
“Bagaimana kalau ibu tahu?” Laura menggunakan nama Mayang, dia ingin melihat apa Mayang masih cukup berpengaruh?
__ADS_1
“Tidak masalah, bagaimanapun suatu saat nanti ibu memang harus tahu bahwa Anyelir adalah istriku, dan tidak lain adalah menantu ibu juga,” lagi dan lagi Devan menggampangkan semuanya.
“Devan! Apa kamu lupa? Kalau kondisi ibu belum stabil?” Laura mulai was-was, setelahh mendengar jawaban dari Devan. Dia merasa sekarang ini Devan tidak lagi terlalu khawatir dengan kondisi Mayang, dan itu membuat posisi Laura ternacam.
“Aku tidak lupa, tapi kamu tahu kan siapa aku? jadi sekarang jangan terlalu mencemaskan ibu, tapi cemaskan dirimu sendiri,” Devan menatap Laura sekilas, tatapan mata yang dingin membuat Laura langsung beringsut.
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak jujur pada ibu, kalau pernikahan kita hanya siri, dan kamu sudah menikah lagi, kenapa tidak kamu jelaskan semuanya?” Laura mulai menantang Devan, dia ingin mengetes, apakah Devan hanya menggretaknya saja?
“Kalau itu maumu, akan ku turuti, tapi setelah itu kau tinggal terima nasibmu, bagaimana?” Devan mengangkat sebelah alisnya, melihat bagaimana respone Devan, Laura pun terdiam, dia belum siap kehilangan semuanya.
‘Lihatlah, kau tidak akan mungkin bisa kehilangan semua ini,’ batin Devan.
**
Anyelir yang baru saja hendak sarapan, mendengar suara deru mesin mobil, dan ketika Anyelir keluar, dia melihat mobil Devan yang datang. Senyumnya pun terbit, dia menyambut kedatangan suami, yang ternyata datang pula bersama Laura.
“Selamat datang, kak Laura, kak Devan,” di hadapan Laura, Anyelir memanggil Devan dengan sebutan kak.
“Kau pasti sangat senang, karena aku tidak berada di rumah, jadi kamu merasa menjadi nyonya satu-satunya kan di sini?” Laura bersedekap dada, kekesalannya semakin memuncak kala dia melihat Anyelir datang menyambut.
“Kak aku …” Anyelir ingin membela diri, tapi suara Devan sudah lebih dulu mengiterupsi.
“Diam Laura!” sentak Devan, membuat Laura dan Anyelir akhirnya hanya diam, “pergi kemasi barangmu,” titah Devan saat itu juga, Anyelir begitu terkejut kenapa tiba-tiba Devan meminta Laura berkemas. Laura sendiri menghenttak kakinya kesal, dia pun melangkah masuk ke dalam rumah.
“Ada apa ini tuan?” tanya Anyelir was-was.
“Kenapa panggilanmu berubah?” Devan protes.
__ADS_1
“I-itu …” Anyelir bingung harus menjawab apa.
“Panggil aku sama seperti tadi saat ada Laura,” ujar Devan.
“Baik kak,” Anyelir pun mematuhi perkataan Devan. Senyum Devan terbit, dia pun dengan semangat mengajak Anyelir untuk sarapan bersama, namun Anyelir meminta untuk menunggu Laura sebentar. Selesai sarapan bersama, Devan pun menjelaskan bahwa mulai saat ini Laura akan tinggal di rumah yang lain, Devan beralasan kalau kedua istri tidak bisa tinggal satu atap. Devan pun membagi waktunya, dia berkata satu minggu dia akan bersama Anyelir, dan satu minggu lagi dia akan bersama Laura. Namun Laura meminta untuk minggu pertama ini, Devan bersamanya, karena menurut Laura Devan sudah cukup lama bersama dengan Anyelir.
Dalam pembicaraan kali ini, Devan tidak mengatakan hal apapun soal Anyelir yang magang di kantornya, entah apa yang Devan sembunyikan. Devan tidak bisa berlama-lama bersama Anyelir, karena dia harus ke kantor, memang ini hari weekend, namun Felix memberitahukan padanya, bahwa ada kolega dari Australia yang baru saja datang, dan meminta mengadakan pertemuan saat ini juga. Jadi, mau tidak mau Devan harus tetap bekerja.
Weekend ini dimanfaatkan oleh Anyelir untuk mengunjungi kediaman kedua orangtuanya, karena Anyelir memang sudah cukup lama tidak ke sana karena disibukkan dengan aktifitas magang serta peran barunya sebagai seorang istri. Anyelir memarkirkan mobilnya di garasi, dan melangkah menuju pintu utama.
“Non Anyelir?” asisten rumah tangga membukakan pintu untuk Anyelir, dan menyambut Anyelir dengan ramah. Mendengar kedatangan putrinya tentu saja Agam begitu bahagia, dia juga merindukan Anyelir, namun dia merasa tidak enak jika harus berkunjung ke kediaman Devan, takut mengganggu.
“Anyelir?” Agam memeluk putrinya dengan erat.
“Apa kabar kamu Nak?” tanya Agam, tanpa sadar air mata menetes membasahi pipi Agam.
“Anyelir baik Ayah, kabar Ayah bagaimana? Sehat kan?” Anyelir melihat bentuk tubuh Ayahnya yang tidak banyak berubah.
“Ayah sehat Nak, ayo kita ke gazebo, ada ibu di sana.” Ajak Agam, mereka pun menuju Gazebo yang ada di tepi kolam renangl. Namun, nampaknya Anyelir salah mengambil keputusan, ajakan Agam kepada Anyelir ke gazebo seharusnya di tolak, karena ada Gita dan juga Arman di sana.
“Anyelir, kamu datang Nak?” Rose memeluk putrinya dengan penuh rindu, mereka berdua pun saling bertukar kabar.
“Wah, udah lama ya nggak ketemu Nye,” ujar Gita.
“Iya, kan Anyelir sekarang tinggal sama tante Desi,” jawab Rose, rupanya itulah alasan yang diberikan oleh kedua orangtuanya, jika ada yang bertanya soal ke mana perginya Anyelir, padahal tidak ada sanak keluarga yang bernama Desi.
"Haii semuanya, sebelumnya author mau mengucapkan terimakasih buat semuanya yang udah kasih aku dukungan🥰, terus dukung karyaku supaya aku lebih semangat yaaa"
__ADS_1