
Setelah mendengar pernyataan Arman, salah satu anak buah utusan Devan segera mengabari Devan dan melaporkan hasil temuan mereka. Devan meminta supaya mereka tetap berjaga di sana, dan Devan juga ingin bertemu dengan Arman di dekat apartementnya. Devan memang memutuskan untuk mampir di cafe yang ada di dekat apartement Arman.
"Aku sudah mendapatkan laporan dari anak buahku, soal sadap suara yang mereka temukan," ucap Devan.
"Itu berarti, atas perintah ayah kamu?" tanya Devan semakin mengulik informasi. Mendengar nama ayahnya, Arman sedikit meragukan.
"Kenapa, apa ada yang kamu curigai selain ayah kamu?" tanya Devan lagi.
"Bukan, hanya saja mengingat bagaimana ayah ku yang sangat bahagia mendengar kehamilan Gita, aku ragu jika memang ayah yang meminta dua asisten rumah tangga ku yang memasangnya. Sebab, untuk apa juga ayah melakukan hal itu?" kata Arman.
"Lalu, menurut kamu, apa bunda kamu yang lebih mendekati untuk dicurigai?" tanya Devan, namun lagi-lagi Arman bingung.
"Aku tahu, rasanya tidak percaya saat orang yang sangat dekat dengan kita, melakukan sebuah kejahatan. Tapi, tidak ada salahnya kita curiga, aku sudah menyelidiki dari pihak ayah Agam, dan menurut ku tidak ada alasan dari pihaknya mencelakai ibu Rose, maka hanya tersisa satu, orang itu musuh kamu, lalu mengincar Gita. Atau, itu adalah musuh Gita sendiri," terang Devan, membuat Arman semakin was-was.
"Bunda ku, memang beberapa kali mencoba untuk meminta aku segera meninggalkan Gita, atau memberi ku pilihan untuk meninggalkan Gita setelah dia melahirkan, tapi aku menolak dengan tegas. Memang, hubungan mereka sedang renggang," tutur Arman.
"Tapi, aku juga nggak yakin, kalau bunda bisa berbuat sejauh itu, biar bagaimanapun dalam rahim Gita ada cucunya, aku yakin itu bukan dia," Arman tidak bisa menuduh dari pihak ayah atau ibunya.
"Baiklah, lalu apa kedua orang tua kamu sudah tahu, soal Gita yang bukan anak kandung ayah Agam?" tanya Devan dan dijawab anggukan oleh Arman.
"Kenapa kamu belum memberitahunya? Apa ada yang kamu takutkan?" tanya Devan lagi. Dan nampak Arman menghembuskan napasnya, sepertinya cukup berat baginya menghadapi permasalahan seperti ini.
"Iya, alasan aku belum memberitahu mereka, salah satunya karena aku khawatir, mereka akan semakin membenci Gita dan memandang rendah Gita. Karena menganggap Gita adalah anak dari hasil hubungan gelap, ayah dan bundaku tidak akan bisa menerima Gita, dan aku tidak mau itu," ungkap Arman, mengatakan apa yang menjadi bebannya saat ini.
"Lalu, bagaimana kalau ayah kamu sudah mendengar semuanya, karena ada alat penyadap suara di ruang tamu," kata Devan. Dan seketika Arman seolah baru tersadar dari lamunannya, kenapa dia bisa melupakan hal itu?
"Ayah ku memang tidak mengatakan hal apapun, atau mungkin ayah sudah tahu soal hal itu?" tanya Arman dengan cemas.
"Dengar Arman, dengan kamu sudah menghancurkan alat sadap ini, yang memasang alat ini akan curiga, ditambah dengan kamu memulangkan dua asisten rumah tangga. Kira-kira apa jawaban yang akan kamu berikan kepada ayah kamu, jika beliau bertanya?" tanya Devan.
"Iya, aku sudah menyiapkan jawabannya," jawab Arman dengan yakin. Setelah pertemuannya dengan Devan, Arman kembali ke apartement dengan dua orang wanita. Mereka tidak lain pelayan kepercayaan Devan yang dibawanya dari kediaman Mayang.
"Sayang, kamu dari mana aja?" tanya Gita cemas, saat Arman pergi memang keadaannya Gita tengah mandi, dan Gita begitu terkejut saat dia melihat ada dua orang yang berjaga di depan apartement.
"Maaf ya sayang, aku ada urusan sebentar tadi," ucap Arman menenangkan sang istri.
"Mereka siapa?" tunjuk Gita pada dua wanita yang berdiri di belakang Arman.
"Ini asisten rumah tangga kita yang baru, atas usulan dari Devan," jawab Arman.
__ADS_1
"Loh, memang asisten rumah tangga kita yang lama kenapa, sayang?" Gita merasa, pekerjaan mereka baik-baik saja, lalu kenapa harus diganti?
"Aku cuman khawatir, karena mereka, kan utusan ayah. Aku takut, mereka nggak bisa menolak kedatangan bunda ke sini, dan justru berakibat fatal dengan kamu sayang," hanya itu alasan yang bisa Arman berikan, dia tidak mau kalau sampai Gita terlalu banyak pikiran, karena saat ini Gita tengah hamil muda.
"Oh begitu, ya sudah karena itu sudah jadi keputusan kamu aku ikut aja, dan aku juga percaya karena mereka rekomendasi Devan," kata Gita.
"Oh iya sayang, terus rang-orang di depan siapa sih, kok serem?" tanya Gita dengan raut wajah curiga.
"Oh itu, mereka anak buah yang ditugaskan oleh Devan untuk berjaga di apartement," jawab Arman, dan membuat Gita lega, juga bingung.
"Devan? Buat apa dia memerintahkan anak buahnya berjaga di apartement?" tanya Gita.
"Nggak apa-apa, cuman aku memang minta tolong sama Devan, aku takut Bunda ke sini dan ganggu kamu. Aku terlalu cemas kalau tentang kamu, sayang," kata Devan, seraya mengusap pipi Gita. Gita tersenyum penuh haru, dia merasa bersykur karena bisa dicintai sedalam ini oleh Arman.
-//-
Agam, masih setia menunggu sang istri siuman. Di menatap wajah sang istri dan tidak hentinya berdoa, semoga Rose akan baik-baik saja, dan mereka bisa terus bersalam sampai menua bersama dan bisa melihat cucu mereka tumbuh besar.
"Selamat pagi, Tuan."
Setelah mendengar pernyataan Arman, salah satu anak buah utusan Devan segera mengabari Devan dan melaporkan hasil temuan mereka. Devan meminta supaya mereka tetap berjaga di sana, dan Devan juga ingin bertemu dengan Arman di dekat apartementnya. Devan memang memutuskan untuk mampir di cafe yang ada di dekat apartement Arman.
"Aku sudah mendapatkan laporan dari anak buahku, soal sadap suara yang mereka temukan," ucap Devan.
"Itu berarti, atas perintah ayah kamu?" tanya Devan semakin mengulik informasi. Mendengar nama ayahnya, Arman sedikit meragukan.
"Kenapa, apa ada yang kamu curigai selain ayah kamu?" tanya Devan lagi.
"Bukan, hanya saja mengingat bagaimana ayah ku yang sangat bahagia mendengar kehamilan Gita, aku ragu jika memang ayah yang meminta dua asisten rumah tangga ku yang memasangnya. Sebab, untuk apa juga ayah melakukan hal itu?" kata Arman.
"Lalu, menurut kamu, apa bunda kamu yang lebih mendekati untuk dicurigai?" tanya Devan, namun lagi-lagi Arman bingung.
"Aku tahu, rasanya tidak percaya saat orang yang sangat dekat dengan kita, melakukan sebuah kejahatan. Tapi, tidak ada salahnya kita curiga, aku sudah menyelidiki dari pihak ayah Agam, dan menurut ku tidak ada alasan dari pihaknya mencelakai ibu Rose, maka hanya tersisa satu, orang itu musuh kamu, lalu mengincar Gita. Atau, itu adalah musuh Gita sendiri," terang Devan, membuat Arman semakin was-was.
"Bunda ku, memang beberapa kali mencoba untuk meminta aku segera meninggalkan Gita, atau memberi ku pilihan untuk meninggalkan Gita setelah dia melahirkan, tapi aku menolak dengan tegas. Memang, hubungan mereka sedang renggang," tutur Arman.
"Tapi, aku juga nggak yakin, kalau bunda bisa berbuat sejauh itu, biar bagaimanapun dalam rahim Gita ada cucunya, aku yakin itu bukan dia," Arman tidak bisa menuduh dari pihak ayah atau ibunya.
"Baiklah, lalu apa kedua orang tua kamu sudah tahu, soal Gita yang bukan anak kandung ayah Agam?" tanya Devan dan dijawab anggukan oleh Arman.
__ADS_1
"Kenapa kamu belum memberitahunya? Apa ada yang kamu takutkan?" tanya Devan lagi. Dan nampak Arman menghembuskan napasnya, sepertinya cukup berat baginya menghadapi permasalahan seperti ini.
"Iya, alasan aku belum memberitahu mereka, salah satunya karena aku khawatir, mereka akan semakin membenci Gita dan memandang rendah Gita. Karena menganggap Gita adalah anak dari hasil hubungan gelap, ayah dan bundaku tidak akan bisa menerima Gita, dan aku tidak mau itu," ungkap Arman, mengatakan apa yang menjadi bebannya saat ini.
"Lalu, bagaimana kalau ayah kamu sudah mendengar semuanya, karena ada alat penyadap suara di ruang tamu," kata Devan. Dan seketika Arman seolah baru tersadar dari lamunannya, kenapa dia bisa melupakan hal itu?
"Ayah ku memang tidak mengatakan hal apapun, atau mungkin ayah sudah tahu soal hal itu?" tanya Arman dengan cemas.
"Dengar Arman, dengan kamu sudah menghancurkan alat sadap ini, yang memasang alat ini akan curiga, ditambah dengan kamu memulangkan dua asisten rumah tangga. Kira-kira apa jawaban yang akan kamu berikan kepada ayah kamu, jika beliau bertanya?" tanya Devan.
"Iya, aku sudah menyiapkan jawabannya," jawab Arman dengan yakin. Setelah pertemuannya dengan Devan, Arman kembali ke apartement dengan dua orang wanita. Mereka tidak lain pelayan kepercayaan Devan yang dibawanya dari kediaman Mayang.
"Sayang, kamu dari mana aja?" tanya Gita cemas, saat Arman pergi memang keadaannya Gita tengah mandi, dan Gita begitu terkejut saat dia melihat ada dua orang yang berjaga di depan apartement.
"Maaf ya sayang, aku ada urusan sebentar tadi," ucap Arman menenangkan sang istri.
"Mereka siapa?" tunjuk Gita pada dua wanita yang berdiri di belakang Arman.
"Ini asisten rumah tangga kita yang baru, atas usulan dari Devan," jawab Arman.
"Loh, memang asisten rumah tangga kita yang lama kenapa, sayang?" Gita merasa, pekerjaan mereka baik-baik saja, lalu kenapa harus diganti?
"Aku cuman khawatir, karena mereka, kan utusan ayah. Aku takut, mereka nggak bisa menolak kedatangan bunda ke sini, dan justru berakibat fatal dengan kamu sayang," hanya itu alasan yang bisa Arman berikan, dia tidak mau kalau sampai Gita terlalu banyak pikiran, karena saat ini Gita tengah hamil muda.
"Oh begitu, ya sudah karena itu sudah jadi keputusan kamu aku ikut aja, dan aku juga percaya karena mereka rekomendasi Devan," kata Gita.
"Oh iya sayang, terus rang-orang di depan siapa sih, kok serem?" tanya Gita dengan raut wajah curiga.
"Oh itu, mereka anak buah yang ditugaskan oleh Devan untuk berjaga di apartement," jawab Arman, dan membuat Gita lega, juga bingung.
"Devan? Buat apa dia memerintahkan anak buahnya berjaga di apartement?" tanya Gita.
"Nggak apa-apa, cuman aku memang minta tolong sama Devan, aku takut Bunda ke sini dan ganggu kamu. Aku terlalu cemas kalau tentang kamu, sayang," kata Devan, seraya mengusap pipi Gita. Gita tersenyum penuh haru, dia merasa bersykur karena bisa dicintai sedalam ini oleh Arman.
-//-
Agam, masih setia menunggu sang istri siuman. Di menatap wajah sang istri dan tidak hentinya berdoa, semoga Rose akan baik-baik saja, dan mereka bisa terus bersalam sampai menua bersama dan bisa melihat cucu mereka tumbuh besar.
"Selamat pagi, Tuan."
__ADS_1