
Semenjak pengakuan Devan soal Anyelir adalah adiknya, membuat semua karyawan memperlakukan Anyelir dengan begitu baik, dan Anyelir tidak suka itu, karena dia tahu itu semua hanya karena mereka ingin mencari muka di hadadapan Devan. Suasana seperti ini membuat Anyelir muak, banyak orang yang memakai topeng saat bersamanya, tiba-tiba saja karyawati yang biasa bersikap judes padanya berubah menjadi baik, membelikan kopi atau sebagainya, yang paling terlihat adalah Della. Kalau biasanya Della sering meminta Anyelir mengerjakan dokumen yang diminta Devan, kali ini Della seolah sangat baik kepada Anyelir.
“Nye, loe mau ke mana?” tanya Nabila yang melihat Anyelir bangkit dari tempat duduknya, Nabila sudah kenal lama dengan Anyelir, dan dia paham seperti apa sikap sahabatnya itu.
“Gue nggak bisa begini,” jawab Anyelir, dia pun melangkah meninggalkan ruangannya menuju lift. Nabila paham ke mana Anyelir pergi, ke ruangan Devan karena dia adalah orang yang memang harus bertanggung jawab atas semuanya.
“Nona Anyelir?” Felix yang baru saja keluar dari ruangan Devan berpapasan dengan Anyelir.
“Aku mau bertemu dengan kak Devan,” Anyelir menekan kata kak Devan, dan sudah Felix pahami sekarang, kalau hubungan suami istri itu pasti sedang tidak baik-baik saja, karena pengakuan Devan soal Anyelir yang adalah adiknya.
“Silahkan Nona,” Felix membukakan pintu dan mempersilahkan masuk, sedangkan Felix lebih memilih meninggalkan ruangan Devan dan membiarkan sepasang suami istri itu menyelesaikan masalah mereka. Felix terlalu pusing kalau harus ikut campur dan memikirkan permasalahan mereka berdua, bagi Felix siang ini Devan dan Anyelir bertengkar, tapi malam harinya semua akan baik-baik saja dan setelah itu semua permasalahan mereka akan sirna begitu saja, seolah tidak terjadi apapun.
“Kehidupan pernikahan memang memusingkan,” lirih Felix seraya menggelengkan kepalanya lirih.
“Ada apa Felix? Apa kau masih belum jelas? Aku meminta mu melihat situasi di mana istriku berada,” ujar Devan yag masih fokus pada berkas yang ada di mejanya, dia tidak tahu menahu kalau sebenarnya Anyelir yang datang.
“Kak Laura maksudnya?” tanya Anyelir, sontak saja Devan terkejut karena dia mendengar suara Anyelir, bukannya Felix. Devan langsung menatap lurus ke depan, di mana Anyelir berada.
“Sa- sayang?” lirih Devan terbata.
__ADS_1
“Kenapa? terkejut karena adik kamu datang?” Anyelir menekan kata adik.
“Sayang, aku tahu kamu pasti kesal, tapi …” Devan hendak mendekat, namun Anyelir langsung menghindar.
“Aku tahu kamu hanya ingin menutupi ini semua lebih dulu, tapi aku juga tidak nyaman dengan perlakuan mereka semua yang akhirnya memperlakukan aku berbeda, aku tidak melakukan pekerjaan apapun, lalu apa gunanya aku magang? Kalau begitu aku akan pindah saja,” putus Anyelir buru-buru, niat dia mengikuti kegiatan magang, supaya dia bisa mendapatkan banyak ilmu dan pelajaran.
“Jangan,” cegah Devan cepat, “jangan pindah tempat magang sayang,” pinta Devan memohon, dengan Anyelir magang di kantornya, itu membuat Devan mudah untuk mengawasi istrinya dan juga mengawasi mata keranjang yang menatap istrinya penuh minat.
“Aku janji akan menyelesaikan semuanya, aku janji akan membuat semua karyawan berperilaku seperti semula terhadap kamu sayang,” janji Devan kepada istrinya.
“Baiklah, aku percaya, kalau begitu aku pergi,” Devan hendak mencegah, namun Anyelir tetap meninggalkan ruangan suaminya, dia tidak mau berlama-lama berdua dengan Devan di kantor.
Mayang tengah menikmati suasan taman yang ada di rumahnya, beberapa tanaman di tanam sendiri oleh Mayang, karena dia memang suka berkebun. Suasana rumah yang begitu sunyi, membuat Mayang merindukan suasana dulu, di mana masih terdengar suara tawa kebahagiaan mendiang suaminya dan juga Devan. Dulu, sikap Devan begitu hangat dan murah senyum, namun Mayang tidak tahu menahu kenapa putranya berubah, Mayang pikir karena mungkin kini Devan sudah memiliki seorang istri.
“Laura sudah beberapa hari meninggalkan rumah, tapi dia sama sekali tidak menghubungi, padahal beberapa kali aku coba hubungi tetapi tidak diangkat, apa dia begitu sibuk,” lirih Mayang bertanya pada dirinya sendiri, Mayang memang tahu bahwa Laura tidak terlalu perduli padanya, dan Mayang paham Laura terlalu sibuk pada dirinya dan juga kariri. Namun, Mayang tidak memusingkan soal itu, yang Mayang inginkan adalah kebahagian putranya, dan yang Mayang ketahui selama ini adalah, Devan bahagia jika bersama dengan Laura. Tanpa Mayang ketahui, cinta Devan sudah pupus terhadap Laura, kini cinta itu sudah bersemi kembali, namun tidak lagi dimiliki oleh Laura, melainkan Anyelir.
“Anyelir?” tiba-tiba saja Mayang teringat akan sosok Anyelir, wanita yang baik hati dan Mayang yakin Anyelir adalah wanita yang menebarkan aura positif di sekitarnya. Bagi Mayang, Anyelir adalah wanita baik, karena saat Anyelir menolongnya, Anyelir tidak tahu siapa dirinya, apakah Mayang orang berada atau hanya orang biasa, namun dengan sabar dan telaten Anyelir begitu sabar menghadapi sikap Mayang yang pada saat itu masih ketakutan.
“Aku ingin bertemu dengannya, aku yakin Anyelir adalah wanita yang sangat humble dan enak untuk teman ngobrol,” ujar Mayang, dia ingat sempat meminta nomor telepon Anyelir dan disimpannya kepada salah satu pelayan di rumahnya. Mayang pun memanggil salah satu pelayan yang memang sudah biasa mengurus kebutuhan Mayang.
__ADS_1
“Ada yang bisa dibantu nyonya?” tanya Ani pelayan yang mengurus semua keperluan Mayang.
“Kamu ingat tidak, aku pernah meminta kamu menyimpan nomor telepon Anyelir?” tanya Mayang dengan mata berbinar, dia semakin senang ketika Ani menganggukkan kepalanya. Dengan tidak sabar, Mayang meminta Ani untuk menghubungi nomor telepon tersebut, yang tidak lain milik Anyelir.
Anyelir yang tengah menikmati makan siangnya, dibuat heran dengan nomor telepon yang tidak dikenalnya dan menghubungi dirinya, karena takut itu penting, akhirnya Anyelir pun menerima panggilan telepon tersebut.
[“Nak Anyelir?”] Anyelir mengernyit, dia merasa tidak asing dengan suara yang didengarnya ini.
[“Iya, maaf ini dengan siapa?”] tanya Anyelir sopan, pasalnya Anyelir benar-benar tidak bisa ingat siapa pemilik suara itu.
[“Ini saya, Bu Mayang yang waktu itu tersesat dan ditolong oleh Nak Anyelir,”] ucap Mayang, sontak Anyelir tersenyum, dia tidak menyangka kalau ibu mertuanya menghubunginya.
‘Ya Allah, Ibu,’ batin Anyelir menangis haru, ingin sekali Anyelir mengatakan bahwa dirinya adalah menantu Mayang juga, namun Anyelir paham bahwa itu semua tidak bisa dia lakukan. Anyelir tidak mau egois dan hanya mementingkan diri sendiri, karena Anyelir harus kembali memikirkan soal kesehatan Mayang juga.
[“Bu Mayang, apa kabar bu?”] tanya Anyelir.
[“Alhamdulillah Ibu baik Nak,”] Anyelir merasa lega, karena dari suara Mayang nampaknya Mayang memang sudah lebih baik, mereka pun berbicara beberapa menit, dan Mayang mengajak Anyelir untuk makan malam di rumahnya sembari memperkenalkan kepada keluarganya, awalnya Anyelir hendak menolak, namun Anyelir rasa dengan begini dia bisa lebih dekat dengan ibu mertuanya, meskipun Mayang sama sekali tidak tahu menahu soal siapa dirinya sebenarnya.
__ADS_1