
Keesokkan harinya, akupun pergi dengan kakakku menggunakan mobilnya.
"sudah siap?" tanya kakakku.
"iya" jawabku tersenyum.
Kemudian kakakpun melajukan mobilnya. Di dalam mobil, kakakku memutar lagu kangen band, lagu kesukaanku.
Menit demi menit, kami di perjalanan, tidak ada percakapan sama sekali. Hingga akhirnya akupun buka suara.
"mau kemana kita kak?" tanyaku.
"jalan - jalan" jawabnya.
"Ayah dan Ibu itu tidak bermaksud untuk menyakiti hati kamu" lanjut kakak.
Akupun menoleh, dan menatap kakakku yang tengah menyetir.
"mereka meminta kamu untuk ikut di perusahaan kakak. Agar kamu tidak lelah, Vi"
"tapi aku mau membuktikan pada mereka kak. Aku bisa seperti kakak"
"kakak tahu" sahut kakak.
"tapi berbisnis itu memang sulit. Apalagi kalau tim kita nya jelek"
"tapi aku sudah buat kemajuan banyak kak" jawabku.
"iya. Kakak mah terserah kamu Vi, kalau kamu mau ikut sama perusahaan kakak, ya syukur. Kita bisa berjuang bersama. Tapi kalau kamu milih kembangin bisnis kamu, itu pilihanmu. Kakak gak bisa maksa"
Aku berpikir. Mungkin hidup lebih enak kalau aku dan kakakku berjuang bersama tanpa harus ada persaingan. Akan tetapi itu akan membuat ayah dan ibuku semakin meremehkanku.
"enggak kak. Aku lebih memilih kembangin bisnisku" jawabku.
"hmmm... Sudah kakak duga" jawab kakakku tersenyum kemudian menoleh ke arahku.
"fighting!" ucap kakakku memberi semangat.
Kemudian tiba - tiba, di depan ada mobil yang mengambil jalur kami untuk menyalip mobi yang lain di jalurnya.
"kak AWASSS!!!" ucapku.
Kakakpun melihat ke arah depan kemudian langsung membelokkan mobil kami ke pinggir kemudian menghentikan mobil. Mobil itupun terus melaju sampai akhirnya kembali ke jalurnya kembali.
"Ish Dasar!" kesal kakakku.
"ah kagetnya" ucapku. Ku pikir saat itu kami akan tabrakan. Hah, jantungku hampir terhenti saking kagetnya.
Kakakpun kembali melajukan mobilnya kembali dengan hati - hati. Dan kami melanjutkan perjalanan menuju tempat yang menjadi tujuan kakak.
Tak ku sangka, ternyata kakak mengajakku ke mall. Diapun kemudian, memegang tanganku kemudian pergi berbelanja membeli baju.
"hmmm... Kayaknya ini cocok deh buat kamu" ucap kakakku memegang baju disana.
"baju apa itu?" tanyaku.
"ayo kamu coba" ucap kakakku menyodorkan bajunya.
Setelah kubuka ternyata itu sebuah jas. Akupun mengikuti perintah kakakku, pergi ke ruang ganti untuk mamakai jas itu. Setelah memakainya, akupun membuka tirai ruang ganti, kemudian memperlihatkannya pada kakakku. Kakak pun tersenyum.
__ADS_1
"pantas" ucap kakak.
"benarkah?" tanyaku meyakinkan.
"iya" jawab kakakku.
"kalau gitu belikan aku yah kak. Oh yah sama celananya sekalian"
"emang itu tujuan kakak"
Aku tersenyum mendengarnya. Ternyata kita jauh - jauh ke tempat belanja ini, sudah di rencanakan oleh kakakku. Aku benar - benar bersyukur mempunyai kakak sepertinya.
Selain dari belanja baju, aku dan kakakku juga bermain game di sana. Ah aku senang sekali. Rasanya aku ingin punya mall sendiri nantinya, agar bisa bermain sepuasnya.
Waktu malampun tiba, aku dan kakakku pulang kembali ke tempat yang di sebut rumah. Walaupun itu tak seperti rumah bagiku.
Kamipun di sambut oleh kedua orang tuaku. Tapi aku rasa itu bukan untukku.
"wuahhh anak - anakku sudah pulang" ucap ayahku.
Apa kah kupingku kemasukan paku? Aku tak salah dengarkan?
"iya ayah" jawab kakakku.
"kak, aku masuk dulu" ucapku pamit ingin segera ke kamar. Rasanya aku tak tahan melihat ayahku.
"kemana sih? Buru - buru amat" ucap ayahku.
"ke kamar" jawabku dingin.
"gak mau ikutan?"
"ikutan apa?" tanya kakakku.
"maaf aku gak ikut" ucap Olivia kemudian melangkahkan kaki pergi.
Ayahku geram melihat tingkah ku itu, tapi dia berusaha menahannya karena ada kakak. Tapi aku tak memedulikannya, dan terus berjalan masuk rumah.
"Oliv" panggil kakak.
"lihat kan! Dia itu tak pernah mendukung perusahaan keluarga kita" ucap ayahku.
"bukan seperti itu ayah. Dia hanya ingin memiliki jalan lain"
"ah tetap sajalah"
Itulah yang percakapan yang terdengar sebelum aku pergi. Seterusnya, aku tak tahu. Karena aku lebih ke tidak peduli lagi.
Malam itu aku di kamar, sementara keluarga mungkin sedang berpesta di bawah. Aku tidak peduli lagi, aku tidak...
Hikksss....
Hiiikksss...
Hehhhhhhh... Sedih rasanya. Aku merasa sepi dalam hidup. Jujur aku tidak bisa berpura-pura tidak peduli. Aku benar-benar ingin di beri kasih sayang dan di perhatikan oleh kedua orang tuaku. Kenapa aku merasa bukan anak kandung di keluarga ini?
*****
Keesokkan harinya, akupun berangkat pergi dari rumah ini. Tanpa pamitan, dan tanpa berbicara dulu pada keluargaku.
__ADS_1
Aku mulai berkeinginan membuat produk lagi. Aku benar - benar ingin mengalahkan kakakku. Aku pun memberitahu soal ide ku pada Renita.
"apa tidak apa - apa, langsung mempasarkan produk ini langsung?" ragu Renita.
"gue yakin Ren" jawabku yakin.
Dua hari kemudian, akupun memperkenalkan produk terbaru yang ku buat ini pada publik. Hasilnya, baru juga di launching, orang - orang pada mengantri untuk mendapatkan produkku itu.
Akan tetapi, semua tidak berjalan lancar. Seminggu kemudian, Semua orang yang membeli produk baru ku itu marah karena barangnya gampang rusak. Katanya tidak sesuai seperti di iklan. Mereka bahkan ada yang membanting langsung kantor kami.
Saham kami turun dari perkiraan. Kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Bukan hanya perusahaan kami, Martin Corp sebagai distributor, juga ikut kena imbasnya.
"kan sudah saya bilang untuk ngembangin kamera saja! Malah buat produk baru, gimana sih?" amuk Mr. Martin kepada kami.
Saat itu aku terpukul, aku merasa itu semua salahku. Semua karena ego ku. Itu semua karena Aku hanya ingin secepatnya mendapat perhatian dari kedua orang tuaku. Tapi hasilnya malah menghancurkan segalanya.
"bagaimana ini Vi?" tanya Renita.
Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa. Renita juga, banyak orang yang tak berlangganan lagi di channelnya. Dan para pegawai juga banyak yang keluar. Kacau! Semuanya kacau.
Dua hari kemudian, kakakku mendatangiku. Kamipun berbicara di ruang makan.
"kakak turut prihatin" ucapnya.
"iya" jawabku dengan menyedihkan.
"kamu butuh uang gak? Nanti kakak transfer"
"gak perlu. Aku kan bukan karyawan kakak" jawabku.
"baiklah kalau begitu"
"hmmm" anggukku.
"tetap semangat dong! Bagaimana kamu mau ngalahin kakak kalau begitu"
Mataku langsung membara mendengar perkataan kakakku itu.
"iya, tentu saja. Aku tak akan menyerah" jawabku dengan semangat.
"hehe bagus kalau begitu" jawab kakakku tersenyum.
Keesokkan harinya, akupun mulai meneliti kembali produk terbaruku itu. Kemudian setelah tiga hari di teliti dan di cari letak kesalahannya, akupun akhirnya menemukannya. Setelah di temukan akupun kemudian mengganti komponen yang bermasalah itu. Dan hasilnya, bukan hanya bagus, akan tetapi sungguh luar biasa hasilnya.
Setelah barangnya telah baik kembali. Akupun memberitahu Renita. Renita sangat senang bukan main. Tapi sekarang, bagaimana cara memasarkannya?
Di Internet, produk kami sudah di kenal buruk. Kamipun memikirkan sebuah ide. Bagaimana caranya agar orang mau membeli produk yang sudah gagal sebelumnya?
Dan akhirnya, Renitapun punya usul.
"bagaimana kalau memurahkan 80% pada 10 orang di beda daerah"
Setelah di pikir - pikir, Akupun menyetujuinya. Dan mulai mempraktikannya esok hari.
Akhirnya dalam kurun waktu seminggu. Produk kami jadi peringkat paling atas di negara ini. Dan masuk ke 50 besar dunia. Itu semua meningkatkan saham perusahan kami. Dan tidak ku sangka, akupun sudah berdiri mengungguli kakakku.
Namun kakakku, mengalami kebangkrutan. Ada beberapa pegawainya yang melakukan penggelapan uang, kemudian orang - orang mulai tidak menyukai barang - barang dari Intan Media sehingga pemasaran turun drastis. Kakakku sudah mencoba berbagai cara, akan tetapi tidak bisa menghentikan kebangkrutan. Tidak ku sangka aku menang.
Keesokkan harinya, Ayah dan Ibuku datang ke kantor dan menuju ruanganku. Akupun terkejut senang melihat kedua orang tuaku.
__ADS_1
"ayah Ibu" ucapku senang.
Bersambung...