
"ini Bu" ucap seorang pegawai.
"ouh iya" jawab Diana.
Pegawai itupun pergi kembali.
"sudah sebulan aku tak bertemu Darma" ucapnya menyangga dagu, entah pada siapa?
"Kurasa aku rindu"
Dia kemudian membuka dompetnya. Disanalah ada foto Darma yang tengah lomba lari waktu SMK. Diana memandanginya.
Hanya foto itu yang bisa Diana lihat ketika rindu datang melanda. Sebuah foto yang mewakili keinginananya tuk bertemu. Menjadi ladang pertemuan antara dia dengan Darma disaat raga mereka sulit tuk bertemu. Malam yang gemulai, bertiup ranah pada jiwa Diana ketika menatap foto itu.
"Darma... Sedang apa kamu disana?" tanyanya memandangi foto itu.
"tunggu aku! Aku akan diam-diam ke tempatmu"
Dianapun tersenyum bahagia... Kemudian bersiap untuk pulang menuju mess-nya.
*****
Di waktu subuh, Olivia kembali terbangun. Kira-kira pukul empatan. Dia melirik ke samping kanannya, tengah ada seseorang yang sedang berdo'a. Siapa lagi kalau bukan Darma. Dia melihati terus Darma yang tengah merenung dalam rintihan do'anya.
"munkin Darma memang sudah menjadi baik" pikir Olivia
"setelah satu bulan lamanya Darma bekerja, dia tidak pernah membuat sesuatu yang merugikanku. Malahan sering membantuku. Apa aku sudah kelewatan ya?"
Olivia menatap Darma terus sampai Darma selesai berdo'anya. Dia langsung memalingkan wajahnya pura-pura tidur. Darmapun menghampiri.
"Boss" ucap Darma membangunkan Olivia.
Olivia pura-pura habis bangun dari tidurnya. Kemudian pura-pura menguap biar realistis.
"apa?" tanyanya.
"sholat subuh dulu" ajak Darma.
"lah kan gue lagi lemes!" jawab Olivia.
"sembari tidur juga bisa!" jawab Darma
"terus wudlunya?"
"tayamum aja"
"gimana tayamum?"
"hehe" Darma tersenyum.
Olivia langsung mengerutkan dahinya. Dia mengira Darma mengejek dirinya.
"kok lo senyum sih?" kesalnya.
"apa boss bersedia sholat?"
"gak jadi!"
"lah kenapa?"
"habisnya lo malah ngeledek gue! Gue jadi malas"
"haaaaaahhhhh!?!?" bingung Darma termangap - mangap "Boss aku gak ngeledek boss sumpah deh!"
"au ah" Olivia membalikan badannya ke arah berlawanan dari Darma.
"boss" panggil Darma.
"udah diam nanti bangunin pasien lain"
"tapi boss...."
"udah gue gak mau!"
"yah gagal lagi!"
Darmapun menyerah. Dia akhirnya menuju luar untuk mencari udara segar. Olivia diam pura-pura tidur.
"Jangan terpengaruh Olivia! Dia itu pura-pura baik hanya karena lo itu atasannya!" ucap Olivia pelan pada dirinya sendiri.
*****
Pada waktu pukul delapanan Darma datang pada kamar tempat Olivia. Olivia kala itu tengah memainkan ponselnya
"Boss" panggil Darma.
"hmmmm"
__ADS_1
"katanya Boss boleh pulang sekarang"
"ouh iya! Emang niat gue itu mah!"
Darma terdiam. Olivia menatapnya kemudian menatap layar ponselnya kembali.
"mending lo beliin gue buah-buahan deh!" titah Olivia.
"sekarang boss?" tanya Darma.
"tahun depan!"
"oh masih lama dong"
"ya sekaranglah bodoh!"
"hehe becanda boss" Darma tersenyum. Olivia diam tak menghiraukan.
Oliviapun menyodorkan uang seratus ribunya. Darma diam hanya menatap. Olivia melirik Darma.
"ambil bodoh!" sentaknya.
"ouh" Darmapun mengambilnya.
Mungkin sudah beberapa hari terakhir ini mereka belum berdialog seperti ini karena kesibukan kerja. Tapi entah kenapa rasanya seru, pikir Olivia.
"aku pamit Boss"
Darmapun pergi. Olivia diam tak menjawab. Dia langsung sibuk main game di hp nya.
Setelah berada di luar Darma kembali lagi mengahadap Olivia.
"Boss" panggil Darma.
"apa?" Olivia menatap Darma.
"Apa boss sudah makan?"
"kenapa emang lo nanya?"
"yah kan gak baik makan buah-buahan sebelum makan"
"udah!" Olivia langsung menatap ponselnya kembali.
"beneran?"
"kapan?"
"ih banyak nanya ya lo!"
"aku takutnya Boss belum makan tapi udah makan buah-buahan. Nanti bisa sakit perut!"
"ah udahlah! Perut-perut gue, kok lo yang repot sih?" sentak Olivia.
Suaranya cukup keras. Mungkin pasien lain memperhatikan mereka.
"kan aku asisten boss"
"terus?"
"jadi tugasku juga memperhatikan Boss tentang yang baik dan yang buruk tentang Boss. Ini demi kesehatan boss"
"alahhh lulusan SMK aja lo belagu! Bicara soal kesehatan! Emang lo jurusan farmasi?"
"ya... Bukan sih... Tapi kan kita penting harus tahu tentang kesehatan walaupun itu sedikit"
"kan udah gue bilang tadi udah makan!"
"aku cuma mastiin"
"udah sana!" Olivia menempelkan gigi atas dan bawahnya geram mulai kehilangan kesabarannya.
"ouh iya boss!" Darma berjalan takut Olivia mengamuk.
Darmapun segera membeli buah-buahan. Hingga akhirnya dia kembali setelah setengah jam pergi mencari tukang buah yang ada di rumah sakit itu. Dia sampai lupa bahwa dirinya belum sarapan.
"ini Boss" Darma menyodorkan kantong plastik berisi beberapa buah-buahan di antaranya anggur, apel, dan mangga.
"gak lo ambilkan?"
"astagfirullah Enggak boss!"
Oliviapun mengambil kantong plastik itu. Tak sengaja dia menyentuh tangan dari Darma. Diapun menatap Darma sebentar. Namun segera dia menarik tangannya.
Tak ambil pikir Olivia langsung melahap semua buah-buahan tersebut. Darma hanya menatap Olivia. Dia teringat belum sarapan sehingga perutnya keroncongan terdengar sampai telinga Olivia.
Olivia hanya menatapnya kemudian memakan buah-buahannya lagi tak menghiraukan Darma.
__ADS_1
"Boss aku mau minta sesuatu" pinta Darma.
"minta apa?"
"aku ingin gajiku di naikkan"
Olivia tersenyum sinis mendengarnya.
"hah!? Apa? Apa?" Ejek Olivia menyodorkan kupingnya.
"aku ingin kenaikan gaji!" ucap Darma kembali.
"haha" Olivia tertawa "mana bisa!"
"Boss toloooonggg banget! Gaji kemarin hanya bisa buat bayar kosanku saja!"
"terus?"
"yah kan gimana untuk biaya hidupku?"
"yah tinggal gunakan uang itu!"
"lalu untuk kosan?"
Olivia berpikir, memang kasihan melihat Darma dengan wajah yang memelas seperti itu. Tapi kenapa dirinya jadi kasihan? Bukankah itu yang dia inginkan? Membuat hidup orang yang di bencinya menderita.
"ya udah karena lo udah bantuin gue disini! gue naikin gaji lo"
Darmapun langsung tersenyum mendengarnya. Dia menjerit kemudian memegang tangan Olivia saking senangnya.
"benarkah Boss?" tanyanya tidak percaya sembari memegang tangan Olivia.
"lepasin ih apaan sih?" Olivia menarik tangannya agar terlepas dari cengkeraman Darma.
"makasih ya Boss" ucao Darma.
"gue belum selesai!"
"hah?" Darma yang kesenangan langsung diam.
"gaji lo gue naikin jadi 600 ribu"
"Alhamdulillah" syukur Darma melanjutkan kesenangannya.
"Aneh nih anak, cuman naik seratus ribu aja udah seneng?" batin Olivia.
"biasanya kalau orang biasa sih pada merengek! Tapi dia malah bersyukur. Orang aneh!" lanjut batinnya.
"mulai bulan depan!"
"iya, Boss" jawab Darma "tapi aku boleh gak pinjam uang dulu sama Boss"
"berapa?"
"50 ribu aja Boss"
Olivia menatap wajah Darma, kemudian mengeluarkan uang sebesar seratus ribu lalu di berikan pada Darma.
"makasih Boss"
Olivia diam tak menjawab.
"dokter tadi bilang gue boleh pulang sekarang!" ucap Olivia kemudian.
"ouh iya Boss" jawab Darma.
"ya udah, ayo sekarang aja!"
"ouh iya Boss"
Oliviapun langsung membawa tasnya kemudian nyelonong keluar. Sementara Darma dia bersalaman dengan semua pasien disana untuk pamit dan mendoakan semuanya agar cepat sembuh.
"aku pamit ya bu, semoga lekas sembuh"
"ouh iya nak"
"iya maaf yah kalau suka berisik"
"udah biasa!"
"haha"
Olivia menatap Darma tengah tertawa bersama pasien-pasien di sana. Bisa di bilang Darma juga ramah dan mudah tersenyum.
"senyumnya manis" ucap Olivia secara tak sadar terucap di mulutnya
Bersambung...
__ADS_1