The Garabagan

The Garabagan
Epesode 104 : Darimana?


__ADS_3

Di jam Istirahatpun, Darma telah menyelesaikan pekerjaannya. Diapun ke meja Olivia untuk memberikan flashdisk nya. Di meja, Olivia masih terlelap tertidur. Darmapun mengangkat tangannya bertujuan untuk membangunkan Olivia, akan tetapi rasanya Darma tak tega. Diapun kembali menurunkan tangannya.


"Boss pasti lelah" ucap Darma.


Melihat posisinya tertidur, Darma rasa Olivia pasti pegal ketika bangun. Diapun melihat ke arah sofa. Pasti enak tidur disana. Tapi apa yang harus ia lakukan? Posisinya tidak memungkinkan Darma untuk mengangkatnya. Takutnya nanti malah tersentuh bagian tertentu, yang belum boleh Darma sentuh. Darma jadi bingung, merasa kasihan pada Bossnya itu.


Darmapun melihat ke atas kemudian melihat ke arah Olivia kembali. Dia kemudian melihat wajah Olivia yang tengah tertidur pulas. Dia berkedip lambat menatap wajah Olivia itu, ternyata Bossnya itu nampak begitu cantik ketika tidur. Jantung Darma kembali berdebar menatap wajah Olivia itu. Darmapun memegang dadanya, dan melihatnya bingung.


"Kenapa aku malah lapar yah?" heran Darma.


Darmapun kemudian membalikkan badannya dan berjalan ingin keluar, namun ketika dia hendak keluar, Darma kembali menoleh melihat Olivia kembali. Ah perasaanya jadi tak enak. Tapi apa yang harus dia perbuat?


Darmapun menghembuskan napasnya kesal, kemudian berjalan pergi menuju kantin.


Setelah di kantin, dia kini telah duduk di bangku yang kosong. Dia tengah melihat nasi Goreng yang mirip dengan yang kemarin ia makan. Disana juga ada Laila, yang sudah menyiapkan makanan itu untuk Darma.


Darma menelan salivanya, ngeri melihat makanan tersebut. Cuman Darma merasa tidak enak melihat Laila yang sudah menyiapkannya. Iapun mulai mengambil sendok yang ada di dekat piring dengan gemetaran. Setelah terpegang, iapun menelan salivanya kembali. Entah perasaannya atau mungkin aslinya seperti itu, dia seperti melihat asap dari nasi goreng itu membentuk seperti tengkorak.


"wahahahaha... Apa itu?" sedih Darma dalam hati.


"setelah melihat reaksimu kemarin. Nampaknya kamu begitu menyukai nasi goreng ini. Jadi aku membuatnya lagi" ucap Laila.


"oh.. Hohoh" Darma beroh di sertai senyuman kaku. Sebenarnya dirinya ingin teriak.


"ayo di makan" ucap Laila.


"oh tentu saja!" jawab Darma, kemudian mengambil nasi goreng itu menggunakan sendok dan memasukkan ke dalam mulutnya.


ZELEGURRR... Rasanya seperti gunung krakatau meletus dalam mulutnya. Namun Darma tidak mau memuntahkannya karena takut Laila sakit hati. Diapun menghabiskan nasi goreng itu kemudian menempelkan wajahnya pada meja. Nampaknya dia tidak sanggup kalau harus makan itu setiap hari.


Panas di perutpun mulai terasa. Perutnya kini serasa bergejolak meledak - ledak. Darma rasa dirinya tidak kuat untuk berjalan lagi. Tapi ada yang ingin ia lakukan di jam istirahat ini. Setelah mendapat uang dari Daniel, Dia ingin jalan - jalan ke Destiny Mall dan membeli sesuatu.


Darmapun membuka matanya, dia harus kuat, dia harus bangkit. Dia harus membeli barang itu. Soalnya barangnya terbatas.


Darmapun akhirnya berdiri, kemudian berjalan layaknya zombie menuju ke arah luar. Setelah di luar, Darmapun minta ijin pada satpam, setelah itu dia menaiki taksi menuju Destiny Mall.


*****


Sementara itu, Olivia yang tertidur pulas kini akhirnya membuka matanya melihat dunia. Dia pun kaget dan kemudian melihati jam tangannya. Ternyata waktu sudah menunjukkan waktunya istirahat, sudah lebih.


"ah sudah istirahat yah?" syukur Olivia.


Iapun kemudian melihati Flashdisk yang tadi di berikan Darma. Sontak, Oliviapun langsung teringat Darma.


"apakah Darma melihatku tertidur?" tanya nya memegangi kepalanya.

__ADS_1


"ahhhh... Astaga!" gundahnya.


"Hah... Dasar bodoh!" gerutu Olivia memegangi rambutnya kesal.


"apakah Darma sedang berada di kantin sekarang?" tanya Olivia.


KRUYUUUKKk... Suara perut Olivia berbunyi.


"ah!" Olivia memegangi perutnya.


"aku belum makan"


Oliviapun langsung mengambil ponselnya kemudian menelepon kepala kantin. Oliviapun memesan nasi dengan rendang saja untuk mengisi perutnya itu. Setelah memesan, iapun segera menutup teleponnya.


Olivia menatap kosong ke depan. Dirinya kembali teringat hari ini adalah ulang tahun dirinya. Dan Darma, dia melupakan hari paling spesial bagi Olivia itu.


Hah... Oliviapun menghembuskan napasnya. Mencoba menenangkan dirinya.


"jangan terlalu berharap Olivia!" ucapnya.


"lagipun..." Olivia kembali mengingat kejahatan - kejahatannya pada Darma dulu. Dirinya yang begitu senang melihat Darma menderita.


"...kamu tak pantas mendapat hadiah bahkan kata selamat dari Darma" lanjutnya. Olivia merasa merana mengingat semua perlakuannya pada Darma. Yah, walaupun Darma pernah menjahatinya sewaktu kecil, tapi itukan Darma waktu kecil. Darma belum tahu mana yang baik dan mana yang batil. Olivia merasa dirinya keterlaluan. Dirinya bahkan menggaji Darma dengan sangat kecilnya. Bagaimana Darma bisa betah berada di kantor ini?


"setelah tiga bulan ini berakhir..." Olivia menghembuskan napasnya sembari menitikkan air matanya.


"Tidak bisa di bayangkan kalau dia pergi..." Olivia mulai membayangkan dan mengingat kembali keceriaan Darma. Senyum Darma yang terus terpancar padanya. Juga sosok Darma yang selalu membuat Olivia tersenyum. Cerewetnya yang melebihi ibu - ibu arisan saat mengghibah. Dan juga, kata - kata bijak, dan pujiannya. Ah semua itu sangat, sangat mempesonakan Olivia.


"...apakah hari - hariku akan semengasikkan seperti akhir - akhir ini?"


Oliviapun menatap kepalanya ke atas, kemudian menghapus air matanya yang jatuh di pipinya.


"kenapa aku galau terus sih?" herannya tersenyum.


"gak! Gak! Olivia gak boleh lemah gini! Olivia harus kuat! Pasti bisa bangkit!" ucapnya meyakinkan dirinya untuk kuat.


"jangan mengeluh! Teruslah berusaha sebaik mungkin"


Oliviapun kemudian berdiri, menghadap Jendela kaca. Diapun kembali melihat jam tangannya.


"kenapa makanan nya belum datang yah?" herannya.


Iapun melihat ke jendela kembali, beberapa detik kemudian terlihat sebuah taksi berhenti di depan kantornya. Lalu seseorang yang seperti ia kenal turun dari taksi itu. Ia memakai kemeja biru, dan membawa beberapa bingkisan di dua tangannya.


"Darma?" heran Olivia.

__ADS_1


"dari mana dia?" Seketika Oliviapun kembali teringat kemarin Darma sudah mendapatkan nomor Diana. Diapun mulai membayangkan...


"Darma bisakah besok di waktu Istirahat kita berkencan?" Tanya Diana.


"ouh tentu bisa, suayang!" jawab Darma.


Merekapun akhirnya berjalan - jalan dan bersenang - senang. Itulah yang di pikirkan Olivia.


Oliviapun terdiam menatap Darma. Dadanya menjadi sesak. Rasa sakit yang sama mulai terasa kembali. Diapun kemudian, membalikkan badannya dan duduk di kursinya. Matanya mulai berkaca - kaca kembali.


"Olivia kuat! Olivia kuat!" ucap Olivia untuk menguatkannya dirinya.


"misi Boss" Kemudian seseorang pelayan dari kantin datang menghantar makanan kepada Olivia. Diapun melihat aneh pada Olivia. Kenapa Boss nya itu seperti sedang gelisah?


"kenapa Boss?" tanya pelayan itu lirih.


Di tanyai seperti itu oleh pelayannya. Membuat Olivia tak kuat lagi membendung air matanya. Air Matanya langsung menetes seketika.


"cepat pergi!" ucap Olivia.


"kenapa Boss?" tanya pelayan itu tak terdengar.


"CEPAT PERGI!" teriak Olivia.


"ah iya Boss" pelayan itupun kemudian bergegas pergi dan menutup pintunya rapat - rapat.


"jatuh kan akhirnya" ucap Olivia menghapus air matanya. Dia terus menghapus air matanya, namun Olivia terlalu mencintai Darma, air itu terus berjatuhan tiada henti. Olivia terus mengusap air matanya, dia tak ingin Darma melihat ini semua. Sampai akhirnya diapun berhasil membuat air matanya tak berjatuhan lagi.


Disaat itu juga, Darmapun datang ke ruangan Olivia sembari menyembunyikan sesuatu di belakangnya. Olivia berdecih kesal, kenapa Darma harus menyembunyikannya padahal Olivia sudah tahu. Dan untuk apa Darma harus menyembunyikan nya juga?


"yo selamat siang Boss" Sapa Darma tersenyum.


"iya" jawab Olivia dingin, kemudian pura - pura memainkan ponselnya.


"wuahhhh sudah bangun yah?" Darmapun berjalan ke samping layaknya kepiting. Dia tidak ingin Olivia mengetahui sesuatu yang di bawanya.


"iya" jawab Olivia singkat.


Olivia menatap aneh Darma. Darma terus berjalan ke samping sampai ke mejanya.


"apa yang kamu bawa?" tanya Olivia.


"enggak ada" jawab Darma menjatuhkan barang bawaanya di mejanya.


"yah gak terlalu peduli juga aku" ucap Olivia kemudian berdiri dan pergi ke luar.

__ADS_1


Darma menatap Olivia bingung, Kenapa Olivia jadi cuek lagi padanya? Apa salah Darma?


Bersambung...


__ADS_2