The Garabagan

The Garabagan
Episode 28 : Naik Jabatan


__ADS_3

"pak Handoko, tolong  panggil orang yang namanya Diana ini!" suruh Olivia.


Pak Handoko adalah manajer di Staff Controler. Dia mengambil cuti selama 2 hari, kemudian posisinya di gantikan sementara oleh Diana. Itulah yang membuatnya sibuk.


Kini Olivia tengah mencari pegawai yang kinerjanya akhir-akhir ini sangat bagus, untuk di jadikan manajer menggantikan Roy di toko Destiny 47. Pilihanpun jatuh ke tangan Diana.


"baik Boss!" jawab Pak Handoko.


Dua menit kemudian, Diana masuk ke ruangan Olivia dengan sendirian. Dia tak melihat Darma hari itu, Dia tak menyadari  bahwa tentu saja karena hari itu hari rabu, hari dimana Darma libur. Diana sedikit bersyukur karena melihat meja Olivia dan meja Darma agak jauh. Itu artinya mereka tidak ada hubungan khusus. Walaupun sebenarnya dia selalu takut bahwa Olivia akan dekat dengan Darma


"Boss panggil saya?" tanyanya memastikan.


"tunggu sebentar!" Olivia mengacungkan tangannya.


Olivia tengah menonton film laga "Perebutan Menyan" di laptopnya saat itu. Nanggung 30 menit lagi filmnya selesai. Diana berdiri disana menunggu Olivia menyelesaikan filmnya, Sampai pegal dan kesemutan kakinya menunggu selama 30 menit lamanya.!


"Waw! Ini film keren!" kagumnya. Diana memandang Olivia kesal. Kalau bukan atasannya, dia sudah menendangnya sampai luar angkasa. Dia ingin duduk tapi takut ga sopan.


Olivia memandang Diana. Merapatkan tangannya agar terlihat berwibawa.


"Diana?" tanyanya.


"iya bu!" jawab Diana.


"jangan panggil saya ibu" Olivia kesal, dia selalu kesal bila dirinya di panggil dengan sebutan ibu. Alasannya karena itu akan membuat dirinya seperti orang tua, padahal dia masih muda.


"panggil saya BOSS"


"baik, maaf Boss" jawab Diana.


"good"


"kinerjamu bagus dalam mengelola serta dalam penanggulangan control di kantor ini!"


"makasih Boss" jawab Diana.


"kamu akan saya naikan jabatannya jadi manager di toko Destiny 47 menggantikan manager sebelumnya"


Diana kaget. Dia terperangah senang mendengarnya.


"hah? Yang benar Boss?"


"iya"


Diana sangat senang mendengar naik jabatan itu. Akan tetapi dia kepikiran Jika dia di tempatkan di Toko Destiny 47, itu akan jauh dari Darma. Dia jadi bimbang.


"ada apa?" tanya Olivia melihat Diana yang kelihatan seperti murung.


"tidak Boss"


"kalau begitu, silahkan tanda tangani kontraknya!" Olivia menyodorkan sebuah dokumen kontrak.


"di baca dulu kalau mau!"


Diana lalu membaca peraturan kontraknya. Kemudian dia mengambil pulpen. Ketika dia mau tanda tangan, dia kembali kepikiran akan jauh dari Darma. Dia tidak akan terus menemuinya. Tapi dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Ini benar-benar membuat Diana bimbang.


"Kamu seperti orang kebingungan!" ucap Olivia


"ti,,, tidak kok Boss" gugup Diana "aku hanya grogi dan masih tak percaya aku akan jadi manajer. Padahal aku baru seminggu disini!"

__ADS_1


"itu karena kinerja kamu bagus. Sangat sayang bila tidak digunakan!"


Diana kembali memandangi garis ditempeli materai yang harus dia tanda tangani. Dia beneran bingung, pilih karir atau kisah kasihnya.


"saya tidak memaksa kamu untuk jadi manajer di toko Destiny 47! Kalau kamu belum siap, saya bisa kasih orang lain untuk menempati tempat itu." ucap Olivia yang melihat Diana bimbang.


"tidak Boss. Saya siap!" jawab Diana. Dengan berat hati, ia lalu menanda tangani kontrak tersebut.


"satu lagi!" Olivia menyodorkan kontrak sebagai data di perusahaan. Diana menandatanganinya.


"Kamu terlihat bingung. Tapi Kalau kamu sukses dan berhasil nantinya. Kamu pasti bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Percayalah"


Yang kuinginkan!? Bola mata Diana membulat mendengar perkataan Olivia barusan. Diana berkhayal dia telah sukses dan berhasil.


"kamu hebat Diana" ucap Darma memakai baju pangeran piningit.


"Darma!?!?" pipi Diana memerah, Darmapun  kemudian memeluknya erat.


Diana tak sadar sampai bisa berkhayal seperti itu. Saking indahnya, Olivia melihatnya bingung.


Ehemmmm... Olivia batuk sengaja. Dianapun tersadar dari khayalannya.


"Kalau begitu, mulai besok kamu tidak akan di sini lagi. Kamu harus segera mengelola toko itu"


"secepat itu Boss?"


"iya karena kekosongan sudah di isi dan bisnis harus segera di lanjutkan"


"ah, baiklah boss"


"ya udah. Itu saja, silakan keluar"


"iya boss, makasih boss"


"iya"


"Ha... Hallo Agnes"


"iya hallo" jawab Agnes "ada apa Na?" Agnes tengah istirahat di jam kerjanya. Ia bekerj di sebuah caffe.


"aku jadi manajer di toko cabang perusahaan ini!"


"Wahhhh hebat dong!"


"tapi..."


"tapi apa?"


"Lokasinya di Jakarta Barat. Aku nantinya bakalan jauh sama dia"


"Hah? kan masih bisa ke sana, kamu kan manajer. Bebas dong!"


"Bebas gimana?"


"Ya elah! Tugas manajer itu cuman pengarahan, membuat rancangan, dan mengelola kan?"


"iya! Tapi di dalam kontrak haruskan tinggal di apartemen yang lokasinya gak jauh di sana, agar mudah terimplikasi bila ada apa-apa"


"yah terus... Kenapa kamu setuju!"

__ADS_1


"Siapa juga yang tak tergiur sama kenaikan jabatan secepat ini"


"iya juga" Agnes bingung menanggapi sahabatnya ini. Dia bungung lagi, harus berbuat apa?


"ya udahlah jalani aja! Kalau kamu gagal dapatkan Darma! Kamukan bisa jadi orang kaya!"


"iya tapi..."


"aduhhhj aku di panggil boss aku nih. Udah dulu ya!"


"eh Agnes..."


Tut...tut.... Teleponpun berakhir.


"yah si Agnes! Aku lagi butuh pencerahan juga!" Diana berbicara sembari menatap ponselnya "Ya udah deh!"


Diana berjalan menuju ruang Controller, untuk melanjutkan pekerjaannya. Ketika dia masuk....


Tarrrrrrrrrrr...... Tarrrrrrrrr..... Diana terkejut, orang-orang di staff Controller membuat kejutan tanda selamat akan kenaikan jabatannya.


"selamat yah Diana" ucap Anti sahabatnya di kantor. Diana menganga tak percaya melihatnya.


"sudah saya duga, dari hasil kerja kerasmu" ucap Pak Handoko.


"makasih pak" ucap Diana.


"Anti" Diana memeluk Anti.


Namun tidak semua bahagia akan naik jabatannya Diana, ada sebagian orang di sana iri terhadap hasil Diana.


"cih... Pasti dia itu ada orang dalam deh!" bisik seseorang, sebut saja namanya Sindi.


"iya! Gue aja yang lama kerja di sini, gak naik-naik jabatan" jawab temannya, Risa.


"kita harus bikin perhitungan sama dia deh! Gue sebel sama dia!" ucap Sindi.


"iya. Sudah tuh so cantik orangnya" jawab Risa "Aku ada ide nih.!"


"apa?" Risapun berbisik kepada telinga Sindi. 


Sindi tersenyum jahat mendengar bisikan dari Risa.


"haha, iya nanti malam ketika pulang!"


"good!" jawab Risa, mengacungkan jempolnya.


Kemudian mereka berbaur dengan yang lain. Mengucapkan selamat pada Diana seperti yang lain.


Malampun tiba. Sang siang sudah pamit pada bumi Jakarta timur. Ciahhhh puitis! Haha...


Pokoknya malamlah, waktunya pulang. Setelah Diana selesai absen pulangnya, ia lalu pergi keluar dari kantor.


Di tengah jalan, dia tengah berjalan sendirian menuju rumahnya Agnes yang lumayan tidak jauh dari Kantor Destiny Media.


Malam itu terasa aneh, seperti ada yang mengikutinya dari belakang. Dia mencoba menoleh tapi tak ada apapun dibelakangnya. Kemudian dia kembali menoleh ke depan, dan sebuah semprotan mengenai matanya berhasil membuatnya perih tak bisa melihat.


Aaaaaaaahhhhh.... Teriak Diana perih.


"Rasain lo!" ucap penyemprot itu.

__ADS_1


"haha" dia tertawa.


Bersambung...


__ADS_2