
"si Boss kemana yah?" tanya Darma.
Di Malam Hari, Darmapun akhirnya telah menyelesaikan tugas-tugasnya.
Darmapun mengambil tasnya kemudian mengunci pintu ruangan Olivia tersebut dan pergi menuju tempat check lock untuk absen. Setelah itu dia pamitan pada satpam dan keluar dari kantor.
*****
Olivia telah pulang dari jalan-jalan refreshingnya. Dia telah mengunjungi nenek Ratih hari ini. Karena di taman dia hanya terbayang Darma terus. Nek ratih hanya bercerita pada Olivia tentang anaknya yang meninggal dunia.
"Hahhhhhhh...." ucapnya membaringkan diri di kasurnya. Olivia lalu menatap langit-langit, Kemudian dia mengingat percakapannya dengan Nek Ratih.
"Nek aku mau ngeghibah boleh?"
"hah? Gak mau ah. Dosa"
"eh sedikit!"
"eh gak mau gak mau"
"kalau begitu aku mau tanya"
"tanya apa?"
"apa pendapat nenek tentang..." ucapan Olivia terjeda "balas dendam?"
"hah?" bingung Nek Ratih "kenapa kamu menanyakan hal itu?"
"Apa nenek tidak dendam sama yang nabrak anak nenek? Apa tak marah?" Nek Ratih terdiam mendengar pertanyaan dari Olivia "jawab nek"
"baiklah... Baiklah"
Olivia memandang Nek Ratih dengan penuh hayat.
"yah marah sih itu pasti ada. Akan tetapi kalau dendam..." Nek Ratih memandang Olivia "aku tidak mau"
"kenapa nek?"
"bukankah hidup akan tenang jika memaafkan"
"tenang?" heran Olivia.
"jika kita ada dendam di hati kita. Hidup kita tidak akan tenang. Pasti kita ingin berbuat sesuatulah, lakukan ini itulah agar hasrat dendam kita terpenuhi. Kamu bisa saja menghalalkan segala cara agar dendam kamu terpenuhi. Itu bisa membutakan hatimu. Hidupmu gak akan bahagia, kalau diliputi itu semua"
Olivia teringat ketika dia rapat dengan Mr. Martin. Biasanya dia selalu bisa berkomunikasi dengan baik, namun saat itu kenapa dirinya tidak bisa berpikir jernih. Dirinya hanya diam tak berkutik ketika ada satu kesalahan terjadi. Biasanya jika Olivia presentasi dirinya bisa membuat hati pendengarnya tergerak akan ucapannya, seperti yang dilakukannya waktu pertama kali mendapatkan investor. Namun seperti semuanya terasa gelap, tidak ada cahaya yang menerangi. Kemudian Darma datang, komunikasinya seperti kembali.
Mungkin ucapan Nek Ratih benar. Kemungkinan karena pikirannya tidak bisa berpikir jernih, karena hatinya gelap dipenuhi gelombang dendam pada Darma, jadi pikirannya semrawutan.
"kok nenek bisa tahu semua itu! Nenek pernah lakukan balas dendam?"
"nenek ini dulunya samurai x"
"haha... masa?"
"ya enggaklah. Nenek hanya menyimpulkan dari berbagai film yang nenek tonton"
"iya nek" faham Olivia.
"lagian kalau dendamnya berhasil. Kita dapat apa coba?"
"kepuasan diri, Nek"
"hmmm" Nek Ratih memajukan bibir bawahnya kedepan. Meledek jawaban dari Olivia.
"hanya itu?"
"iya"
"coba kamu pikir. Kan lebih baik kalau jadi akur. Bisa hidup berdampingan tanpa adanya permusuhan. Itu lebih dari kepuasan diri"
Olivia menatap langit-langit kamarnya. Membuang nafasnya panjang.
"apakah gue sudahi saja misi balas dendam ini?" tanya Olivia pada dirinya sendiri.
Olivia mengingat kelanjutan cerita Nek Ratih kembali.
"terus yang nabrak anak nenek dimana sekarang nek?"
"di penjara"
"lah pantas saja tenang. Dia sudah dapat batunya"
__ADS_1
"itukan proses hukum. Bukan kemauan nenek"
"emang mau nenek apa?"
"dia dibebasin. Kasihan kan ada keluarga yang menunggunya di rumah"
"kenapa gak ajukan pada pihak polisi kalau nenek gak mau dia di penjara?"
"sudah. Sampai memohon malah, tapi hukum tetaplah hukum"
"hmmm" Olivia tersenyum memandang Nek Ratih "Nenek sungguh berhati mulia"
"ah tidaklah" Nenek Ratih tersipu malu. Pipinya memerah.
Teringat semua itu membuat Olivia bimbang. Olivia lantas melihat cermin.
"bagaimana kalau aku akur dengan Darma?" pikir Olivia. Olivia malah mengingat kembali bayangannya waktu Darma pingsan.
"lo gak apa-apa ?" tanyanya.
"masih agak pusing"
"kenapa lo nahan gue tadi? Padahal lo sangat takut pada boneka pisang tadi?"
"itu karena... Aku..." Darma nampak gugup, pipinya memerah.
"aku apa?" tanya Olivia penasaran semakin mendekati Darma.
"aku...."
"aku apa Darma?"
"suka sama Boss"
Olivia langsung tersenyum sendiri mengingat bayangan itu. Ah, Olivia seperti malam yang cerah di sinari rembulan. Dirinya menatap ranah ke arah cermin.
"Andai bayangan itu jadi kenyataan" ucapnya tanpa sadar tersenyum riang.
"ahhhhhh" Olivia menidurkan badannya ke kasur. Olivia malah jadi senang jadinya.
"Darma" ucapnya memandang langit-langit.
Olivia kembali mengingat senyuman-senyuman manis Darma kepadanya. Jantungnya jadi berdebar mengingat semua itu.
"tapi apakah kamu baik padaku. Hanya karena aku atasanmu?"
Olivia jadi merasa gundah jadinya. Dirinya sampai pakai aku-kamu segala, seperti bukan dirinya. Diapun mematikan lampunya. Tidur, untuk mengistirahatkan pikirannya.
*****
Keesokan harinya, pihak KPK mendatangi kantor pusat untuk memeriksa semua pegawai dari Olivia. Semuanya di kumpulkan, baik data ATM, Data keuntungan bulanan dan kerugian bulanan. Semua pegawainya di periksa, termasuk Darma, akan tetapi hasilnya nihil pihak KPK belum mendapat bukti apapun. Kemungkinan yang korupsi bukan di tempat ini.
Kini para petugas KPK telah berada di depan kantor bersama Olivia dan Asistennya Darma.
"Maafkan kami bu Olivia. Kami belum bisa mendapatkan bukti apapun. Tapi kami berjanji akan segera mentuntaskan kasus ini secepat mungkin"
"iya, makasih yah"
"iya bu" pihak KPKpun berpamitan, kemudian pergi dari kantor pusat itu.
"hah.... menyebalkan" sebal Olivia.
"sabar Boss. Nanti juga kebenaran pasti terungkap"
Olivia memandang Darma.
"iya" jawab Olivia dingin
"mungkin juga elo pelakunya"
Darma hanya tertawa menanggapi tuduhan Olivia.
"apa? Aku?" tunjuk Darma paa dirinya sendiri.
"haha" Darma tertawa.
"mana mungkin aku berbuat seperti itu"
Darmapun membalikkan badannya pergi meninggalkan Olivia. Olivia menatap punggung Darma yang berjalan pergi meninggalkannya.
Diapun berjalan menyusul Darma.
__ADS_1
"Hey" panggil Olivia, akan tetapi Darma tidak menoleh
"hey Darma" panggilnya lagi, langkah Darmapun akhirnya terhenti. Darma lalu menoleh ke arah Olivia.
"iya Boss" jawabnya.
"lo..." Olivia menatap Darma "marah?"
"hah?" kaget Darma. Kenapa Olivia tiba-tiba peduli soal Darma.
"enggak" jawab Darma tersenyum "kalau aku marah, aku akan mendiamkan diri. Itu caraku Boss"
Olivia mendekati Darma. Sehingga mereka benar-benar dekat.
"awas aja kalo lo marah" ancam Olivia menunjuk Darma. Darma hanya terbelalak menatap Olivia. Dirinya begitu dekat dengan Olivia.
"gaji lo taruhannya" ucap Olivia kemudian berjalan melewati Darma.
Darma tertegun di sana. Lalu iapun menoleh pada Olivia kemudian berjalan mengekor.
Olivia hanya tersenyum sambil berjalan. Kenapa dirinya melakukan hal itu tadi. Hah, jauntungnya berdebar tidak karuan.
"kurasa jadi petugas KPK keren yah?" ucap Darma.
"iya" jawab Olivia. Tiba-tiba mata Olivia membulat kaget dengan ucapan Darma. Langkahnya terhenti. Kemudian menoleh ke arah Darma.
"lo mau jadi petugas KPK?" tanya Olivia.
"wahah" Darma tertawa "iya, kayaknya keren. Bisa menangkap para koruptor pemakan uang rakyat"
Olivia menatap Darma.
"apakah aku akan cocok?" tanya Darma.
"Gak" saut Olivia dengan cepat.
"hah? Kenapa?"
"itu karena..." Olivia bingung mau menjawab apa. Dan kenapa dirinya tidak setuju Darma menjadi petugas KPK?
"lo gak bakalan cocok pokoknya"
"belum juga di cobakan?"
"muka lo kayak kriminal. Jadi gak pantes"
"nah itu" Darma menunjuk ke atas "Dunia ini terlalu memandang fisik. Bisa jadi kan orang yang tampangnya serem kayak pisang, itu berhati mulia"
"pisang?" Olivia terkekeh.
"hey. Bagaimana kalau pelaku memberi lo pisang, dan lo pingsan. Pasti pelakunya dengan mudah kabur"
"hmmmm" Darma menempelkan jari telunjuk di dagu, berpikir. Ucapan Olivia ternyata ada benarnya juga.
"Udah deh, jangan banyak tingkah. Mending Lo itu sekarang tugasnya tinggal turutin perintah gue. Kerja yang bener"
Darma menatap Olivia bingung.
"Boss" panggil Darma
"Apakah aku pernah membuat kesalahan fatal sampai membuat Boss rugi?" tanya Darma
"Enggak kan?" tanya Darma menekan.
Olivia terdiam. Darma berhasil membuatnya terpojok. Sial, kenapa Olivia harus kalah dengan orang seperti Darma.
"i-ya" ragu Olivia
"Dah lah. Ayo kita ke atas" ajak Olivia mengalihkan.
Merekapun masuk kedalam kantor kembali. Seperti biasa, Olivia menaiki lift dan Darma lewat tangga. Sebenarnya Olivia ingin mengajak Darma naik lift, namun karena egonya dia tidak melakukannya.
Di dalam lift Olivia berpikir, kenapa tadi dirinya sampai bisa membulat matanya mendengar Darma mau menjadi petugas KPK.
"apakah karena gue takut jauh dari Darma?" batin Olivia.
*****
Bersambung...
jangan lupa like, comment, dan votenya gengs! hihi
__ADS_1