
"sorry for all my mistake, and thank you for your kindness to me" ucap Olivia kemudian Karena malu, Oliviapun lari pergi ke luar.
"Oh..." Darma melongo
"yes!" lanjutnya. Darma melihat bingung ke luar. Kenapa Olivia berlari menjauhi dirinya.
Diluar, Olivia memegangi dadanya dengan kedua tangan. Jantungnya sampai berdebar kencang mengatakan hal itu. Pipinya menjadih merah merona.
Tapi,,, Olivia jadi merasa lega setelah mengatakan kata maafnya. Walaupun dia belum mendengar jawaban dari Darma. Entahkah Darma memaafkannya atau tidak. Tapi yang pasti Olivia sudah mengatakannya, itu yang terpenting bagi Olivia.
Olivia rasa mungkin Darma mengerti bahasa inggris. Namun rasanya Olivia merasa belum cukup kalau hanya sebatas ucapan saja. Dia teringin memberikan sesuatu pada Darma.
Lalu Oliviapun pergi keluar untuk membeli makanan untuk Darma. Dia membeli cemilan-cemilan dan beberapa buah. Setelah membeli makanan diapun pergi masuk menuju rumah sakit kembali. Walaupun malam itu begitu dingin, tapi Olivia merasakan kesejukan. Dia terus tersenyum, mengingat saat dirinya pergi jalan-jalan bersama Darma. Tingkah konyolnya Darma yang membuat Olivia bisa tersenyum melupakan masalahnya. Ah Rasanya Olivia tidak akan melupakan hari itu.
Olivia juga mengingat semua kebaikan Darma kepadanya. Seperti yang dilakukannya kala Olivia lemah dan di larikan ke rumah sakit oleh Darma. Ah Olivia terus tersenyum melangkahkan kakinya itu. Berlarut dalam kebahagiaan.
Tapi Olivia langsung merasa sakit kala mengingat Darma ketika mengejar Diana.
"Sebenarnya Diana itu siapanya Darma?" tanya hati Olivia.
Dirinya jadi gelisah rasanya, senyumnya yang tadi ada bersama Olivia tiba-tiba jadi sirna. Mungkinkah alasan dirinya kesal itu karena, dirinya cemburu?
"Tidak. Aku tidak cemburu, hanya saja ada rasa yang mengganjal saat aku melihat kamu bersama dia." batin Olivia.
Oliviapun terus berjalan sampai ia sampai di kamar tempat Darma di rawat. Dia melihati Darma yang sudah terlentang, tertidur lelap di kasurnya.
"ah Dia tertidur" batin Olivia.
Olivia mendekati Darma, lalu menyimpan makanannya di atas laci pasien. Kemudian Olivia duduk di kursi dekat kasur Darma, ia lalu menatap Darma yang tengah tertidur pulas. Begitu jelas matanya melihat wajah Darma yang masih tampan walaupun banyak luka memar.
"pasti kamu lelah yah?" tanya Olivia menatap wajah Darma.
tangannya lalu menggenggam tangan dari Darma. Rasanya tangannya begitu hangat mendekap tangan miliknya. Diapun semakin erat menggenggam tangan dari Darma.
Olivia lalu menarik tangan Darm dan menempelkan tangan Darma pada pipinya. Tengannya yang halus membuat Olivia nyaman bersandar di pangkuan tangan Darma.
"Darma..." batin Olivia
"Mulai sekarang, Aku ingin akulah yang terus bersamamu. Menua bersamamu. Jadi orang pertama yang menemukan uban di antara helai-helai rambutmu"
__ADS_1
"aku akan berubah. Jadi maafkanlah semua kesalahanku. Aku akan jadi orang yang lebih baik lagi dari kemarin."
"aku ingin kamu melihat ke arahku, Darma"
"aku sayang kamu"
Olivia mengenggam erat tangan dari Darma. Tak lama kemudian, dirinya melihat ponsel Darma di samping kepalanya. Layar Ponselnya yang retak-retak akibat berkelahi. Olivia jadi penasaran, Darma selalu berbicara dengan siapa saja di ponselnya. Siapa yang selalu dihubunginya. Apakah benar Diana selalu berbicara dengan Darma? Ataukah mungkin mereka sudah berpacaran?
Hmm, karena penasaran Oliviapun mengambil ponsel milik Darma. Kemudian mengaktifkannya. Untunglah ponsel Darma tidak di sandi ataupun di pola, jadi Olivia bisa dengan lebih mudahnya mengetahui rahasia-rahasia Darma.
Oliviapun lalu membuka aplikasi chatting. Dia tertegun setelah melihat isi chattingannya. Darma hanya bercakap-cakap dengan keluarga beserta tiga temannya waktu SMK; Firda, Arif, dan Billy.
Olivia merasa lega. Hatinya berasa lapang setelah melihat ini semua. Namun dirinya masih belum terlalu percaya. Iapun mengetikkan kata "Diana" di pencarian kontak. Dan syukurlah, hasilnya tidak menemukan apapun.
Olivia benar-benar senang mengetahui hal ini. Rupanya prasangka bahwa Darma dan Diana memiliki hubungan ternyata tidak benar. Olivia merasa dirinya masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Darma.
Iapun mengetik lagi kata "Laila" di pencarian. Dan syukurlah, hasilnya tidak ada juga. Olivia tersenyum, dirinya benar-benar senang sekali mengetahui kalau wanita yang dekat dengannya, tidak ada dalam ponselnya.
Dirinya lalu mengetikkan kata "Olivia" di pencarian. Namun hasilnya tidak ada.
"hah!?" heran Olivia.
"tentu saja, mana mungkinkan nama kontaknya, Olivia" Oliviapun tersenyum menepak jidatnya.
Dia lalu mengetikkan kata "Boss" di pencarian. Alhasil tertera disana nama kontak "Boss Galak"
Olivia terkejut bukan main. Itu membuat dirinya agak kesal, namun itulah kebenarannya. Olivia memang selalu berbuat galak dan jahat kepada Darma.
Oliviapun lalu menatap Darma dengan tatapan merasa bersalah. Olivia merasa bahwa dirinya tidak punya kesempatan. Tidak, tidak, Olivia menggelengkan kepalanya, tidak sepatutnya orang seperti Olivia berpikir psimis seperti itu.
Olivia berpikir kembali, dirinya telah menang selangkah dari Diana dan Laila. Lihat, hanya dirinya yang ada di kontak Darma. Dirinya sekarang tersenyum dengan bangga dan lebih percaya diri.
"mulai dari sekarang, rencanaku adalah membuatmu menyukaiku" lirih Olivia pelan.
"dan aku yakin, akulah yang akan menang" yakin Olivia, kemudian tersenyum.
Olivia kemudian membuka galeri foto dari Darma. Terlihat disana ada sedikit foto dari Darma. Disana juga Olivia bisa melihat keluarga dari Darma, terus dirinya bersama teman-temannya. Tidak banyak emang foto dari Darma, karena kebanyakan memang Darma hanya memotret pemandangan. Olivia tersenyum melihat itu semua.
Olivia lalu menyimpan ponsel Darma ke tempat semula. Kemudian duduk terus memegang tangan Darma erat kembali.
__ADS_1
Iapun lalu menyandarkan kepalanya pada tangan satunya yang bersidekap di kasur. Ia menatap Darma dan tersenyum.
"ini tanganku di genggamanmu, jangan ragu jadikan tanganku sebagai peganganmu yaa…"
"selamat malam, Darma"
Oliviapun terlelap dalam tidurnya. Begitu nyamannya tangan Darma sampai bisa melelapkan tidur dari Olivia. Dirinya bisa tertidur dengan indah karena ada Darma dihadapannya.
Walaupun rembulan saat itu tak muncul, keadaan di langit masih terang. Masih ada bintang-bintang yang menemani malam. Keindahan malam seperti mendukung kebahagiaan yang di rasakan Olivia. Tangannya yang masih menggenggam erat tangan dari Darma menambah cahaya kebahagiaan dalam hatinya. Menambah kesan di dalam malam yang sunyi.
Olivia mulai bermimpi untuk malam ini dan membiarkan sang mentari menjemput dengan pancaran hangat sinarnya di pagi hari nanti. Kemudian malam melanjutkan tugasnya sampai matahari mulai terbit kembali.
Pada dini hari Darmapun terbangun dari tidurnya. Dia merasakan tangannya serasa ada yang hangat. Iapun lalu melihat ke arah tangannya. Betapa terkejutnya ia, melihati tangannya di genggam oleh seorang wanita.
"Boss?" heran Darma.
"kenapa ini?" bingung Darma.
"tidak, ini pasti mimpi"
"tapi kenapa mimpi rasanya seperti nyata?"
Darmapun lalu bangun. Dia kemudian gemetaran dan mencoba menyentuh Olivia dengan telunjuknya. Diapun menyentuhkan telunjuknya pada rambut Olivia sebanyak tiga kali.
"HUAAAAAAAHHHHHH!!?" teriak hati Darma.
"ternyata bukan mimpi!"
"Wuahhhhh ada apa ini?"
Bersambung...
Jangan lupa like 👍
Comment💬
Dan Rate 5 nya ⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
OLIVIA ANNA JELITA