The Garabagan

The Garabagan
Epesode 69 : Dug dug


__ADS_3

"kenapa aku tidak minta nomer Darma yah, waktu di sana" heran Diana.


"ahhhhhhh" Diana membentangkan kedua tangannya.


"rabu besok aku harus mendapatkan nomornya"


Diana mengepalkan kedua tangannya lalu mengangkatnya,


"semangat Diana" teriaknya menyemangati dirinya sendiri.


*****


Keesokan harinya Oliviapun berniat untuk menjenguk Darma. Kini dia telah sampai di depan kamar pasien tempat Darma berada. Dirinya juga membawa kue untuk Darma. Kini dirinya gugup untuk masuk, dan berdiri menghadap pintu. Dia juga teringat percakapannya kemarin dengan Renita. Bahwa dirinya akan memberitahu Darma tentang siapa sebenarnya dirinya di masa lalu Darma.


Oliviapun menarik napas lalu membuangnya. Kemudian ia membuka pintu dan...


"ahahahahahaha" tertawa Darma menunjuk Ferdian.


"AWAS KAU DARMAAAA!!!" teriak Ferdian, wajahnya bulepotan oleh spidol. Di kantung matanya di gambar mirip panda.


"apa? Sini kamu sini bleeee" ejek Darma.


Ferdianpun melempar bantal yang ada di dekatnya. Darma mengelak. Memang di kamar itu hanya ada mereka berdua, jadi mereka bisa bebas untuk bermain sesuka hati mereka tanpa ada yang memarahi.


"eittsss tak kena... Tak kena... Bleeee!!!" ejeknya menggoyangkan bokongnya.


"kau" kesal Ferdian sembari tertawa.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Olivia. Semua matapun langsung menatap Olivia.


"ohoh Boss?" kaget Darma.


"ternyata kamu udah sembuh?" tanya Olivia menghampiri Darma.


"dari kemarin juga aku mah udah sembuh"


"oh" jawab Olivia, beroh ria.


"iya, cuman karena Boss suruh aku untuk istirahat disini selama tiga hari. Yah aku menurut saja"


"kalau udah sehat. Ya udah pulang aja" ucap Olivia.


"nih buat kamu" Olivia menyodorkan makanan nya.


"oh" Darma menatap tangan yang menyodor itu, "makasih Boss" Darma menerima makanan itu dengan tersenyum.


"Boss udah sarapan?"


"sudah"


"nah begitu. Sarapan itu penting hehe"


Darma lalu melihat bingkisan makanan itu.


"Wuahhhh. . ." kagumnya. Ia lalu membuka bingkisan itu. Ferdianpun lalu mendekati Darma.


"ini Ferdian buat kamu" Darma menyodorkan sebuah kue.


"Darma..." haru Ferdian. Ternyata Darma itu benar-benar sahabat baiknya.


"ambil" perintah Darma.


Ferdianpun mengambil makanan itu, lalu dengan perlahan memakannya. Dia mulai memejamkan matanya menikmati rasanya, ternyara rasanya sangat enak.


"enak" ucapnya.


"wahahaha... Aku harus coba"


Darmapun mencicipi kue itu. Dan setelah memakannya, rasanya seperti dia melayang ke atas pelangi kemudian meluncur ke bawah dengan pelangi itu.


"wuahhhh enak Boss" puji Darma.

__ADS_1


Olivia merasa senang Darma menikmati kue itu. Walaupun bukan buatan dirinya, dia merasa bangga di puji oleh Darma.


"Boss yang buat?" tanya Darma.


"eh enggak" jawab Olivia.


"oh kirain"


Olivia langsung teringat percakapan Laila dengan Darma.


"kamu suka cewek yang bisa masak?" tanya Laila pada Darma.


"hah!?" kaget Darma.


"jawab" paksa Olivia menyuruh Darma menjawab.


"iya suka atuh" jawab Darma "siapapun pasti suka wanita yang pintar masak"


Setelah mengingat percakapan itu, Olivia menatap khusyuk Darma


"Darma suka cewek yang bisa masak yah" batin Olivia.


"Boss udah coba?" tanya Darma kemudian.


"eh?" kaget Olivia.


"belum" jawabnya.


Olivia melihat ke arah Ferdian, sayang ada ferdian disana, kalau tidak mungkin Olivia akan menyuruh Darma menyuapinya lagi. Dirinya tidak mungkin mengatakan sekarang juga, perihal siapa sebenarnya Olivia di waktu kecil. Dirinya harus bicara berdua bersama Darma.


"kalau begitu ini" Darma menyodorkan kue nya ke hadapan Olivia.


Olivia melihat ke arah Darma tersenyum. Ternyata Darma mau menyuapinya lagi yah, pikir Olivia.


Oliviapun lalu menyambar kue di tangan Darma itu lalu memakannya. Darma kaget, padahal dirinya hanya ingin memberikan pada tangan Olivia.


"huahhhhh... Darmaaa kau membuatku iriiii" rengek Ferdian.


"wuah benar-benar enak yah" ucap Olivia.


"benar rasanya kayak aku pergi ke langit menggunakan popok"


"haha" Olivia terkekeh.


"masa ada popok bisa membuatmu terbang?"


"ishh... Ishhh... Boss ini. Siapa tahukan nanti di masa depan si Ferdian dapat membuat itu"


"haha gak mau lah. Buat apa popok bisa terbang?"


"yah buat terbang ke planet mars"


"mending naik roketlah, lebih save. Ini mah popok gak ada pengamannya"


Darma menatap Ferdian "waduh aku kalah argumen ini"


"hehe... Makannya jangan yang aneh-aneh" ejek Olivia.


"hehe" Darma menggaruk belakang kepalanya.


Darmapun melihat ke arah jam dinding. Ternyata sudah menunjukan pukul delapan lebih.


"eh Boss udah jam delapan tuh"


"oh iya. Harus ke kantor yah"


"makasih sudah mau menjenguk" Darma lalu tersenyum.


"iya" Olivia tersenyum.


Mereka berdua saling bersitatap, Rasanya indah sekali. Benar kata nek ratih, hidup ini akan menyenangkan kalau kebencian di dada lenyap. Damai itu indah.

__ADS_1


"kalau begitu aku pamit dulu" pamit Olivia.


"iya hati-hati yah" jawab Darma. Ferdian hanya melambaikan tangannya.


Oliviapun lalu membalikkan badannya. Lalu berjalan menuju pintu keluar.


"oh iya Boss..." ucap Darma menghentikan langkah Olivia yang sudah dekat dengan pintu.


"kurasa aku akan pulang saja hari ini. Aku sudah sehat juga kan?"


"oh gitu" jawab Olivia "tapi jangan dulu kerja yah"


"iya tenang aku akan jalan-jalan saja sambil beli makanan di traktir sama Ferdian"


"opo iki? Aku bae?" heran Ferdian.


"baiklah kalau gitu" Oliviapun lalu berbalik badan. Namun naas dirinya terlalu dekat dengan pintu dan akhirnya terjedot.


"ppfffttttt...." Darma dan Ferdian menahan tawa mereka dengan di tutupi tangan dengan kepala merunduk ke bawah.


Olivia melihat pada Darma. Astaga, betapa malunya ia sampai Darma ingin mentertawakannya.


"Boss tidak apa-apa?" tanya Darma.


"ppfftttt" sementara Ferdian masih menahan tawanya.


Karena merasa malu, iapun kesal lalu membukakan pintu dan pergi keluar, kemudian setelah di luar ia menyandarkan dirinya di puntu.


Dia menutup matanya. Astaga, rasanya malu sekali apalagi di hadapan Darma. Namun pintupun tiba-tiba terbuka, otomatis Olivia kaget dan terjungkal ke belakang.


Namun dengan sigap orang yang membuka pintu itu menahan punggung Olivia dengan kedua telapak tangannya dari belakang. Mata Olivia membulat setelah menoleh ternyata orang itu adalah Darma.


Dug... Dug... Jantungnya kembali berdetak kencang. Waktu seakan berhenti kala Darma menahannya. Suara-suara yang tadi terdengar di telinga, mulai membuyar sunyi. Mata Olivia berkedip lambat menatap Darma. Wajahnya begitu dekat, sampai terdengar suara desak napasnya.


Darmapun lalu membenarkan posisi Olivia menjadi berdiri. Oliviapun menghadap Darma dengan wajahnya yang memerah. Jantungnya masih terasa berdetak kencang. Olivia menundukan kepalanya karena rasanya tak kuasa menatap Darma.


"Boss tidak apa-apa?" tanya Darma.


"hmmmm" angguk Olivia.


"kalau begitu syukurlah"


"hmmm" angguk Olivia kembali.


"tadinya aku mau mengejar Boss"


"eh?" kaget Olivia akhirnya menatap Darma. Dia tak salah dengarkan? Darma mengejar dirinya.


"yahah aku takut Boss marah terus aku di hukum lagi" ucap Darma dengan senyum lebarnya.


Mendengar kelanjutannya, Olivia merasa kecewa. Ternyata Darma mengejar hanya takut dirinya di hukum olehnya saja.


"tentu saja. Dia mengejarku bukan karena peduli padaku" batin Olivia.


"dia hanya takut kalau aku marah dan menghukumnya"


Olivia lalu memejamkan matanya. Lalu menarik udara dari hidungnya lalu mengeluarkannya.


"tidak" Diapun membuka matanya menatap Darma.


"beginipun sudah cukup. Dia sudah mengejarku karena takut aku marah"


"dia peduli agar aku tidak marah. Itu sudah cukup. Aku senang Darma"


"hehe" Olivia tertawa dengan tangan yang menutupinya. Darma melihat Olivia bingung.


"aku gak akan menghukummu kok" ucap Olivia dengan senyum manisnya.


Darma membuntang menatap senyuman itu. Jantungnya berdebar kencang.


"kenapa aku jadi lapar melihat senyuman si Boss?" batin Darma.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2