
"kamu gagal" ucap Risa.
"Hah!? Kenapa?" tanya Darma Adiwijaya dengan datar dan santai.
"bukankah saya berhasil menjawab semuanya dan juga saya mendapatkan nilai test terbesar ke tiga"
"kamu memang hebat dalam menjawab pertanyaan dan juga testnya"
"terus kenapa?" potong Darma A.
"apakah karena saya menggunakan anting? Apakah karena saya di tindik?"
Risa terdiam menatap Darma A.
"bukankah yang di butuhkan adalah keahlian saya bukan penampilan saya?"
"tapi bukan hanya keahlian yang kita perlu, tapi soal kedisiplinan"
"ibu lihat para koruptor?"
"mereka bahkan berpenampilan rapih"
"kalau kedisiplinan di lihat dari penampilan saja anda salah bu. Kedisiplinan itu dilihat bagaimana cara berprilaku"
"kedisiplinan itu dilihat dari seseorang patuh pada peraturan" jawab Risa.
"jika peraturan itu salah. Apakah kita harus tetap patuh? Enggak kan?"
Sindi yang telah menyetorkan beberapa dokumen pun masuk ke dalam.
"CUKUP YAH PAK. Anda itu sudah tidak di terima disini" sentak Risa. Mulai hilang rasa sabarnya.
"ada apa ini?" tanya Sindi.
Darma A pun menoleh melihat ke arah Sindi. Dengan tatapan dinginnya Darma A menatap Sindi.
Mata Sindi langsung berbinar menatap wajah dari Darma A. Dirinya terdiam seperti tak bisa bergerak. Wajah tampan dari Darma A menghentikan dirinya.
"ini nih Orang. Udah gak ke terima tapi masih ngotot juga" kesal Risa menunjuk Darma A.
Sindi menjuba mengedipkan matanya lalu berjalan mendekati Risa sahabatnya. Mereka berdua juga di percaya sebagai HRD untuk lowongan kali ini.
"kenapa dia gak keterima?" bisik Sindi.
"dia pakai tindik" jawab Risa.
"emang kenapa kalau tindik? Perasaan tidak ada pengaturan yang bertindik tidak boleh ikut" jawab Sindi.
"iya sih. Tapi aku takut di marahi Boss"
"nilai dan komunikasinya gimana?"
"bagus sih"
"ya udah terima aja"
"aku takut dimarahi si boss" takut Risa.
"kalau begitu biar aku saja yang bilang" jawab Sindi.
"kalau begitu bu..." Darma A berdiri.
"saya pamit dulu" lanjutnya menundukkan kepala.
"tunggu dulu" tahan Sindi.
"namamu siapa?"
"Darma Adijaya, bu" jawab Darma A.
"Woooaaahh bukankah kamu yang menempati posisi ketiga?" terka Sindi.
"iya bu" jawab Darma A.
"sebentar dulu yah..." Sindipun lalu menyogoh ponselnya. Kemudian menelepon Olivia.
Oliviapun yang kala itu tengah tertawa sambil makan bersama Darma di ruangannya, harus di ganggu oleh ponselnya yang berdering.
"ih siapa sih yang ganggu" batin Olivia.
"siapa tuh Boss? Siapa tahu penting" ucap Darma menunjuk ponsel Olivia.
Olivia mengambil ponselnya. Kemudian dia melihat Sindi memanggilnya.
"ada apa sih dia menelepon?" tanya hati Olivia.
Diapun kemudian segera mengangkat teleponnya.
"hallo Boss"
"apa?" jawab Olivia dengan nada yang jutek
"Hiiiiihhhhh" gidik Sindi.
"ini Boss ada peserta pencari kerja..."
"eh saya gak mau tahu. Pokoknya kamu sudah saya percaya untuk menjadi HRD. Jadi kalau semisal peserta itu bagus, tinggal pilih saja"
"bagus sih Boss, cuman dia..."
"ya udah kalau menurut kamu bagus. Pilih saja"
__ADS_1
"tapi Boss"
"sudah dulu yah"
"Oh i... Iya Boss"
Tutt... Tuttt... Panggilan pun di akhiri.
"nah terus... Terus...?" Olivia kembali bertanya pada Darma tentang kelanjutan cerita lucunya.
Sindi begitu sangat sebal terhadap Boss nya itu. Kalau dia bukan Boss nya mungkin sudah dia tendang sampai ke kutub utara. Biar hidup dengan pinguin.
Sindi mencoba menghela napasnya untuk menenangkan dirinya. Ia pun menghadap Darma Adijaya yang tengah berdiri menatapnya.
"selamat..." Sindi mengulurkan tangannya.
Darma Adijaya menatap bingung pada Sindi, dia pun membalas menyalami tangan Sindi.
"kamu saya terima"
"Ehhhhh!?" heran Risa.
"terima kasih bu. Saya janji tak akan mengecewakan ibu" jawab Darma Adijaya dengan ekspresi datarnya.
"iya" angguk Sindi tersenyum.
"besok kesini jam delapanan yah"
"iya siap bu" jawab Darma A.
"kalau begitu sampai besok" Sindi tersenyum.
"iya" jawab Darma A singkat.
Darma A pun menatap tangannya yang tidak dilepaskan jua oleh Sindi.
"Bu..." panggil Darma A.
"iya?" jawab Sindi riang.
"tangannya" lanjut Darma A datar.
"oh iya maaf" kaget Sindi segera melepaskan tangannya.
"kalau begitu sampai nanti" pamit Darma A.
"iya. Hati - hati di jalan yah" jawab Sindi tersenyum.
"iya" jawab Darma A kemudian berlalu pergi dari ruangan.
Sindi terus melihati kepergian Darma A sampai ia pun pergi dari ruangan tersebut.
"biar di ruang controller, gue bisa cuci mata" jawab Sindi dengan tatapan terus melihat ke arah pintu.
"ahhh dasar!"
"hey bagimana kalau Boss tahu kita memilih orang yang bertindik dan rambut cat merah"
"asal dia bekerja benar, semua itu takkan masalah"
"lo ini yah..." heran Risa menatap kesal Sindi.
"bagaimana kalau dia kerjanya tidak benar?" tanya Risa kembali.
"yah tinggal kita pecat saja kan. Selesai" jawab Sindi dengan santai.
Risa hanya menghela napas pasrah atas tindakkan sahabatnya ini.
"pokoknya kalau sampai di marahi oleh si Boss. Gue tidak tanggung jawab"
"iya biar gue yang tanggung jawab" Sindi menatap Risa dengan percaya Diri
*****
Sementara itu, Darma Adijaya tengah keluar kantor. Kini dia sudah ditunggu oleh dua satpam yang tengah tersenyum mengejek kepadanya. Darma A tidak mempedulikan itu, dia hanya terus berjalan menghampiri mereka.
"Bagaimana?" tanya Zaenudin tersenyum.
"apa awak keterima? Atau kah tak?" lanjut Zaenudin mendekati Darma A.
"aku keterima" jawab Darma A dengan Santainya.
"Huaahhhhh..." Kaget Bima.
"ahahaha... Kenapa awak terkejut Bima?" Zaenudin tertawa menunjuk Bima.
"dia bohong itu... Dia bohong..."
"Oh bohong yah"
"besok gue akan kesini lagi" ucap Darma A.
"eh beneran ke terima?" kaget Zaenudin.
"ahahaha... Kenapa kamu terkejut Zaenudin?" Bima tertawa menunjuk Zaenudin.
"dia bohong itu... Dia bohong..." Lanjut Bima.
Darma A mulai jengkel dengan sikap mereka kepadanya. Diapun memasukan kedua tangannya pada saku celana. Kemudian berjalan melewati mereka.
"aku rasa dia keterima lah tuh" ucap Zaenudin melongo melihat Darma A yang pergi dari Mereka.
__ADS_1
"hooh" angguk Bima melongo juga.
*****
Di malam hari, setelah waktunya pulang. Olivia pun mengantarkan Darma pulang kekosan menggunakan mobilnya. Olivia jadi kepikiran, kapan waktu yang tepat untuk dirinya bisa bercerita tentang masa lalu nya pada Darma.
"benar juga" batin Olivia. Olivia mengingat sesuatu.
"aku punya tiga permintaan padanya"
"mungkin ku minta saja dia untuk bercerita"
Olivia menatap Darma. Darma yang tengah melihat ke arah luar jendela. Dirinya sedang berpikir, bagaimana caranya dia bisa menemukan Burhan? Dia merasa dirinya seakan gagal membantu ucup dan kedua adiknya.
"Ohoh ini membuatku pusiiiinggg" ucap Darma memegangi kepala dengan kedua tangannya.
Olivia menatapnya bingung.
"pusing kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya.
"Oh itu..." kaget Darma menatap Olivia.
"tidak. Aku hanya berpikir..." Darma memalingkan wajahnya.
"berpikir apa?"
Darma bingung. Haruskah dia memberitahukan pada Olivia.
"tentang ayahnya Ucup..." akhirnya Darma memberitahu. Olivia menatap Darma dengan seksama dan dengan fokus menyetir.
"kenapa emangnya?" tanya Olivia.
"tidak. Hanya saja sampai akhir ini aku masih belum menemukan petunjuk sedikitpun tentang Burhan"
"apakah aku benar - benar serius mencarinya atau tidak yah? Hehe"
Merekapun sampai di kosan Darma. Olivia memberhentikan mobilnya.
"benar" ujar Olivia menatap Darma. Darma menatap Olivia.
"kau tidak serius melakukannya"
"eh?" heran Darma.
"berhentilah mengeluh. Tinggal langkahkan saja kakimu, lanjutkan apa yang ingin kamu lakukan. Jangan menyerah!" lanjut Olivia dengan nada seperti memarahi Darma.
"aku tidak ingin menyerah" jawab Darma.
"bagus. Tapi kalau kamu mengeluh, berarti kamu memang tidak melakukannya dengan serius"
"aku tidak mengeluh" ucap Darma.
"kalau begitu jangan katakan dirimu serius atau tidak. Itu seperti kamu meragukan dirimu"
Darma menatap Olivia. Dirinya malah diceramahi oleh Olivia.
"teruslah berusaha mencari..." Olivia lalu memalingkan wajahnya ke depan.
"aku akan membantumu" lanjutnya.
Darma menatap Olivia. Tertegun dengan setiap perkataannya.
Olivia menatap Darma kemudian memalingkan wajahnya ke depan. Dirinya merasa jadi gugup di lihati oleh Darma.
"Boss..." panggil Darma.
"be-berhentilah menatap ku seperti itu" henti Olivia gugup.
"AHHHH maaf" Darmapun memalingkan wajahnya.
"Boss keren" ucap Darma.
Deg... Deg...
Di puji seperti itu oleh Darma, membuat jantung Olivia kembali berdebar. Kata mutiara Darma membuat pipinya jadi merah merona kembali. Olivia menatap Darma.
"YOOOSSSHHH...." Teriak Darma mengagetkan Olivia.
"AKU AKAN BERJUANG LEBIH GIAT LAGI!"
"baik sudah sampai" Darmapun melepaskan sabuk pengamannya kemudian membuka pintu dan keluar dari mobil.
"makasih yah Boss hihi" ucapnya membungkuk melihat ke dalam, ke arah Olivia.
Olivia yang melihat senyuman Darma itu, pipinya tambah memerah lagi. Senyumnya itu mempesonakan Olivia. Begitu beruntungnya Olivia, Tuhan mempertemukan Olivia dengan makhluk manis ciptaannya.
"kenapa manis banget sih?" heran batin Olivia.
"Assalamualaikum" Darmapun melambaikan tangannya kemudian menutup pintu lalu masuk ke dalam.
"Oh... Waalaikumsalam" jawab Olivia yang masih menatap Darma.
Olivia memejamkan matanya, kemudian menoleh kearah depan. Iapun lalu menghembuskan napasnya dan membuka matanya.
"akan ku cubit pipinya" ucap Olivia memasang tangan mengepalnya.
Bersambung...
Darma Adijaya
__ADS_1