The Garabagan

The Garabagan
Episode 29 : Setelah Badai


__ADS_3

Malam itu terasa aneh, seperti ada yang mengikutinya dari belakang. Dia mencoba menoleh tapi tak ada apapun dibelakangnya. Kemudian dia kembali menoleh ke depan, dan sebuah semprotan mengenai matanya berhasil membuatnya perih tak bisa melihat.


Aaaaaaaahhhhh.... Teriak Diana perih.


"Rasain lo!" ucap penyemprot itu, yang tidak lain adalah Risa.


"haha" Suara tawa jahat dari dua orang terdengar di telinga Diana. Suara mereka tidak asing bagi Diana. Dia seperti pernah mendengar suara mereka.


"apa maumu?" teriak Diana.


"mauku...." ucap Sindi menarik rok Diana "ini!" kemudian merobeknya. Kini rok Diana sangat pendek, sehingga terlihat paha putih mulusnya. Nasib baik dia menggunakan celana pendek dalamnya. Astagfirullah


"sekarang!" seru Sindi.


Sssssshhhhhh... Risa menyemprotkan obat bius ke arah hidung Diana.


Kepala Diana mulai pusing kemudian pingsan disana. Mereka berdua menggotong Diana dan menjatuhkannya ke tempat yang tersembunyi dan sepi.


"haha Ma*pus lo!" ucap Risa.


"Sekarang tunggu si pemabuk itu!" lanjut Risa.


Mereka berencana membuat Diana malu seumur hidup, yaitu dengan membuang kesuciannya. Mereka telah memanggil Herman, pemabuk kelas berat dari salah satu diskotik. Kemudian Membuat Diana kehilangan kesadaran agar Herman dengan mudah melakukannya. Tempat di sana emang biasanya sangat sepi, dan selalu sengaja digunakan orang-orang untuk yang mau berzina. Mereka telah merencanakannya dengan baik.


Hermanpun datang ke lokasi dengan berjalan seloyongan. Risa menaruh kaki kanannya di bahu Diana.


"Lo akan menyesal telah merebut posisi yang gue inginkan" ucap Risa tersenyum jahat.


"Woyyyyy!!!" teriak Herman. Mereka berdua tersenyum.


"Wah ada cewek!" Hermanpun menghampiri mereka.


"ayo pergi! Nanti kita malah yang kena lagi sama ******** itu!" ucap Sindi.


"iya ayo!"


Seorang pemuda yang tidak sengaja lewat sana, melihat Diana yang tergeletak di injak oleh Risa. Pemuda itu tidak lain Darma, tokoh utama di cerita ini.


"heyyyy!!!" teriak Darma. Mereka berdua terkaget mendengar suara itu.


"Apa yang kalian lakukan?" Darma menghampiri. Mereka lalu pergi berlari karena takut ketahuan, dan Risa sedikit melihat wajahnya Darma.


"Diana?" kaget Darma melihat yang tergeletak adalah Diana. Dia melihat rok Diana yang sangat pendek akibat tadi di robek Sindi. Dia menelan salivanya, dan mengucapkan Istigfar dihatinya.


"Wisssss sexy banget! Hey itu cewek gue!" ucap Herman. Darma melihat ke arah Herman yang membawa botol minuman di tangannya. Dia kemudian berdiri dan berjalan ke depan Diana.


"Cewekmu?" bingung Darma.


"iya bangs**" sentak Herman.


"woy santai dong!"


"apa lu, mau gue botol heh?" Herman mengacungkan botolnya mengancam Darma.


"Apa mau aku sentet kamu heh?" Ancam Darma kembali.


"haha ,,,santet?" Herman tertawa tak percaya.


"Iya" Darma kebingungan, sepertinya Herman tidak takut "Aku juga punya kecoa, Mau aku kasih kecoak kamu heh?"


"Haaaaahhhh!?!?" Herman menggigil ketakutan. Darma tersenyum.


"nih kecoak!" Darma mengambil Daun di dekatnya. Karena pengaruh mabuk, Herman melihatnya seperti kecoa.


"Aaaaaaahhhhhhhhh!!! Buang cepat!" Teriak Herman ketakutan.


Diana tersadar dan melihat pemuda berdiri di hadapannya.


"akan aku kasih ke kamu!" usil Darma menggoyangkan daun yang di pegangnya.


"jangan! Ku mohon jangan!"

__ADS_1


"hahhhhhhh!!!" Darma menyodorkan daun itu ke arah Herman.


"Ahhhhhhhhhhhhhh" jerit Herman seperti wanita"


"Darma!?" ucap Diana. Darma lalu menoleh ke arah Diana. Memandanginya.


Apa aku sudah mati sehingga bertemu dengan malaikat? Benak Diana.


Herman mengambil kesempatan disaat melihat Darma tengah menoleh, dia menendang daun yang di pegang Darma. Daun itu melayang cukuuuuuuuuuppppp dekat.


"Apa kamu heh?" Darma kembali mengambil daun itu. Kemudian mendekati Herman.


"Jangan Aaaaaaahhhhhhhh" Herman berlari sekencang kilat menjauh. Darma berpura-pura mengejarnya, namun diam tak jauh dari Diana.


"Darma!" panggil Diana masih agak lemas.


"Dasar Barakokok!" teriak Darma pada Herman.


Darma kemudian membalikan badannya berjalan cepat menuju Diana. Dia lalu menurunkan kakinya mengahadap Diana.


"kamu tidak apa-apa?" tanya Darma.


Diana mencoba berdiri namun dia agak lemas keadaannya akibat pengaruh obat bius yang di berikan mereka.


"aku masih agak lemas!" jawabnya.


"kenapa kamu bisa terkapar seperti ini?"


"tadi..." Diana kembali mengingat ada yang menyemprot dirinya dan tergeletak pingsan.


"ada yang sengaja melakukan ini sehingga aku pinsan"


"pasti mereka berdua tadi!"


"iya, aku juga mendengar suara dua orang tertawa"


"kamu bisa berdiri!?" tanyanya.


Darma lalu memegangi pundak dan juga bawah lutut Diana. Kemudian dia mengangkatnya. Diana terkejut, memandangi Darma.


"aku akan menggendongmu sampai kita menemukan Taxi"


Diana hanya bisa diam tak bisa berkata, dia hanya menatap Darma. Ia tak menyangka akan sedekat ini. Rasanya seperti mimpi saja di bopong oleh Darma.


Tangan kanan Diana yang terambai ke bawah, secara pelan naik ke atas memegangi pundak Darma.


Darma berjalan sembari membopong Diana menuju jalanan utama. Diana, ah dia hanya tersenyum dalam larutan bahagianya. Dia layaknya seorang putri yang di gendong oleh seorang pangeran.


Kalaupun aku harus terus menderita seperti ini. Aku rela. Asal kamu bisa dekat denganku, Darma. Benak Diana.


"Apa aku berat?" tanya Diana mulai bicara.


"Tidak, aku pernah menggendong yang lebih berat" jawab Darma.


"menggendong apa?"


"bayi king kong"


"haha" Diana tertawa. Tangan Diana memegang lebih erat pada pundaknya Darma.


Jikalau aku dimasa tua mengenang kenangan paling indah, maka itu kenangan bersamamu. Benak Diana.


"kenapa kedua wanita itu melakukan ini? Kamu ada masalah apa dengan mereka?"


"Aku men...." pekataannya terpotong seketika. Mata Diana terperangah, Dia ngelantur, hampir saja dia mengatakan mencintai Darma.


"men...?"


Diana salah tingkah jadinya. Apakah dia harus menyatakannya sekarang? momennya sangat pas. Dia sedang di gendong layaknya tuan putri.


"Darma..."

__ADS_1


"iya, aku"


"Aku..." Diana gugup mengatakannya "aku..." ucapnya lagi. Darma bingung melihatnya, apa yang mau Diana katakan?


"Aku..." ucap Diana kembali. Entahlah, rasanya mengatakannya terlalu sulit.


"Taxiiiiiii" Teriak Darma.


"Darma tempat tinggalku dekat" Diana malah mengucapkan itu. Ah gagal.


Taxipun berhenti di hadapan mereka.


"kenapa kamu gak bilang!" jawab Darma, kemudian dia melihat supir Taxi yang melihat ke arah mereka "naik Taxi aja biar cepat!"


Diana melihat ke arah Taxi yang tengah berhenti. Dia sebenarnya tak ingin semua ini berakhir. Terlebih lagi, dia harus jauh dari Darma mulai besok.


"tapi rumah temanku sudah dekat!" jawab Diana "maukah kamu menggendongku sampai sana!" pinta Diana.


Darma bingung. Dia melihat ke arah Taxi, tak enak sudah memberhentikan, tapi ketika dia melihat wajah memelas Diana, dia merasa kasihan.


Darma membantu Diana, bukan karena dia cantik. Dia hanya ingin membantu saja. Siapapun yang terlihat kesulitan pasti Darma akan bantu sebisa dia. Itulah Darma yang sekarang, Diana tahu itu. Itu sebabnya Diana menyukai Darma.


"baiklah" ucap Darma "tapi janji dekat ya!"


"Iya" Diana tersenyum.


"maaf bang gak jadi, rumah temannya dekat katanya"


"Heh... Bilang saja mau pacaran!" kesal supir Taxi itu. Supir taxipun melajukan mobilnya secepat kilat.


Perkataan Supir Taxi tadi membuat pipi Diana memerah diliputi kebahagiaan.


"Pacaran?" bingung Darma.


"Apa kamu belum bisa berjalan?" tanya Darma.


"aku sepertinya masih lemas" jawab Diana


"Ok baiklah" Darma melanjutkan perjalanannya.


"kemana arahnya?"


"lurus terus!"


"Lain kali Kalau kamu pulang naik taksi saja lagi. Takut ada orang jahat!"


"besok aku tidak akan kesini lagi" Darma menghentikan langkah kakinya mendengar perkataan itu.


"kenapa?" tanyanya


"Aku sudah jadi manajer di toko Destiny 47"


"hah? Kamukan baru seminggu di perusahaan ini. Kok sudah jadi manajer saja sih?" heran Darma.


"Kinerjaku bagus kata Boss. Jadi aku terpilih deh"


"begitu!" Darma melanjutkan langkah kakinya berjalan menuju rumah Agnes.


"aku bakalan sendirian dong kalau makan siang"


"kita makan siang bareng cuma sekali!"


"haha iya yah!"


"itu di sana rumah temenku! Aku tinggal disana di Jakarta ini" Diana menunjuk Rumah besar yang ada tidak jauh di depannya


"wah besar yah! Kamu pasti betah disana"


"hehe"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2