
Ketika pulang ke rumah, Olivia di kagetkan dengan kedatangan seseorang. Dia menjatuhkan tas yang di pegangnya. Dia sangat kaget. Orang itu tengah duduk di sofa menonton Tv.
"Ayah!" ucapnya tak percaya.
"oh hallo!" sapa Irwan, Ayah dari Olivia.
"Bagaimana bisnis rampasanmu?" tanya-nya.
Irwan, dia sudah 6 tahun menjadi seorang walikota di sebuah kota Kiseki. Dia telah berpisah rumah dengan Olivia, dan lebih memilih tinggal bersama istrinya alias ibu dari Olivia, di kota Kiseki. Setelah sibuk kerja dia kini ingin mengambil sesuatu di rumahnya Olivia.
Olivia tak menjawab. Dia langsung mengambil tas yang terjatuh tadi dan berjalan melewatinya.
"Enak ya! Tinggal menikmati keberhasilan seseorang" ucap Irwan kembali.
Dia tak menghiraukan ayahnya yang berbicara itu. Dia pergi menuju kamarnya di lantai atas.
"Hey! Anak kurang ajar! Sini kau!" ucapnya.
Olivia membanting pintu kamarnya. Bersandar. Kemudian menjatuhkan dirinya duduk di lantai. Dia menangis.
Olivia lalu mengambil sebuah foto di dompetnya. Foto dirinya dan Kakaknya.
"Kak... Aku rindu kakak" ucapnya kemudian dia memeluk foto tersebut. Menangisinya.
Hingga pada subuh dini hari, Olivia yang tengah tidur di dekat pintu terbangun. Semalaman dia menangis hingga akhirnya Olivia ketiduran.
Dia segera memainkan laptopnya untuk melepas beban pikirannya. Dia bermain game FPS online. Hingga pada pukul 7 dia menutup laptopnya. Kemudian mand, mengganti pakaian lalu menuju bawah.
"sudah bangun?" tanya Irwan yang memangku kardus berisi beberapa barang dari kamar Almarhum Arina, kakaknya Olivia. Olivia tak menghiraukan pria tua itu, dia berlalu pergi. Pria itu menaruh semua barangnya di meja kemudian denagn cepat menarik tangan Olivia secara kasar. Olivia yang tentunya telah belajar bela diri, dia dapat melepaskannya dengan mudah.
"Dengerin aku dulu!" ucapnya.
"Ayah mau apa?" tanya Olivia.
"Heh? Ayah?" Pria itu tersenyum sinis "setelah yang telah kamu perbuat! Kamu masih panggil aku ayah!"
"yah aku harus ke kantor!" ucap Olivia.
"cih" Irwan tersenyum "itu perusahaan bukan punya kamu" Irwan menunjuk kasar ke jidat Olivia.
"tapi sekarang sudah jadi milikku" Olivia menepis tangan ayahnya dan menjawab dengan santainya.
"lo..." Irwan mengangkat tangannya ingin menampar Olivia.
"apa? Mau tampar aku? Silakan!" tantang Olivia "nanti tinggal ku ajukan saja pada hukum"
"benar-benar anak kurang ajar kamu ya!" kesal Irwan.
"heh?" Olivia tersenyum "siapa yang lebih kurang ajar?"
Irwan terdiam, menatap Olivia kesal. Olivia kemudian pergi menuju parkiran.
"yah... Bersenang-senanglah lewat keberhasilan uang orang lain" teriak Irwan.
Setelah di luar rumah, Olivia menancap gas mobilnya dipenuhi rasa amarah.
*****
Di pagi hari, Darma sudah berada di ruangan Olivia. Dia sudah membersihkan ruangan disana. Oliviapun datang dengan keadaan muka yang kusut dipenuhi awan badai.
"Selamat pagi Boss" Darma menyapa. Seperti biasa, Olivia tak menghiraukan perkataan Darma. Dia kemudian berlalu melewati Darma.
"ini!" Olivia menyodorkan sebuah dokumen "periksa kembali kemudian kembalikan dan bantu administrasi keuangan"
__ADS_1
"Ok Boss" Darma merasa aneh dengan nada suara Olivia. Suaranya serak-serak basah seperti sudah menangis. Kelopak matanya juga membintit.
"Boss..." panggil Darma. Olivia membuka laptopnya tak menghiraukan Darma.
"Boss..."
"Boss..."
"Boss..."
Olivia yang mendengar Darma berisik, menggebrak mejanya kemudian berdiri menatap Darma. Otomatis Darma terpingkal kaget.
"Brisik... An####!" amuk Olivia dengan kata kasar.
"mau lo apa sih?" tanyanya.
"itu... Anu... E... Suara boss seperti berbeda? Boss habis nyanyi?"
"haha... Lucu!" sentaknya.
"itu bukan melucu boss. Kalau aku sedang melucu begini!" Darma membuat mimik wajah yang lucu, tapi tidak dengan Olivia. Dia malah tambah kesal.
"Mending lo balik badan sekarang!"
"a... Apa boss?"
"BALIK BADAN LO SEKARANG!" teriak Olivia.
"Oh... Ok Boss" jawab Darma dengan santainya.
Darmapun membalikkan badannya. Setelah Darma membalikkan badannya, Oliviapun menendang bokong Darma dengan keras sampai Darma memajukan kakinya beberapa langkah ke depan, saking kerasnya.
"nah itu baru lucu!" ucap Olivia.
Darma membalikkan badannya sembari memegang bokongnya yang sakit.
"serah gue lah" jawab Olivia.
"Boss...!" panggil Darma sembari memegangi bokongnya. Olivia tak menjawab.
"Akitttttt!" lanjut Darma dengan mimik wajah lebaynya.
"salah lo sendiri!" jawab Olivia.
"Boss,,, kalau aku gak bisa eek gimana?"
"ya, terserah... Bukan urusan gue!"
"pasti itu eeknya bakalan liat deh!"
"ih jorok banget sih! Pake ngebahas eek segala!"
"yah kan takutnya aku jadi gak bisa eek boss! Ini aakit benar asli!"
"dah.. sana bawa dokumen itu"
"baiklah Boss" Darmapun membalikkan badannya. Kemudian berjalan agak renggang sembari memegangi bokongnya yang sakit. Olivia yang melihatnya, bibirnya mulai melebar kesamping. Yap, dia tersenyum. Tersenyum riang telah melampiaskan rasa kesalnya pada Darma!
Hingga pada siang hari, Darmapun kembali ke ruangan Olivia setelah dia disuruh membantu dirinya selama setengah hari ini membantu pekerjaan administrasi keuangan di lantai 13. Dia kembali kepada Olivia dengan tujuan seperti biasanya, mengajak dirinya untuk beribadah shalat dzuhur. Mungkin dia hampir tiap hari mengajak Olivia, mulai dari dzuhur, asar, magrib, sampai isya dia selalu mengingatkan. Namun seperti biasa Olivia menolaknya dengan kata kasarnya.
"Boss..." panggil Darma mendekati Olivia dengan berjoget salsa.
"gak" Olivia langsung menolak, dia telah tahu apa tujuan Darma.
__ADS_1
"Boss sedang dilanda badai kesedihan. Ayo menenangkan diri di mushola"
"gak!" Olivia sibuk memainkan laptopnya.
Darma menatap Olivia, Olivia fokus pada laptopnya. Darma mendekat ke meja Olivia.
"Boss..." panggil Darma.
"hmmm" Olivia menjawab dengan menggeram.
"sebenarnya boss membangun mushola itu untuk apa?" tanya Darma memicingkan dahinya.
"ya untuk pegawai gue shalat" jawab Olivia.
"lalu kenapa Boss gak shalat?" tanya Darma.
Olivia menatap Darma tajam.
"Gak usah so suci deh lo!"
"orang yang suci itu tidak ada boss. Setiap orang pasti mempunyai dosa. Justru dengan shalat kita itu meminta ampunan akan dosa-dosa kita!"
"bla...bla... Bla!" Olivia meledek Darma. Olivia tidak akan mendengar perkataan dari Darma, walaupun perkataannya sebijak apapun. Olivia akan tetap akan menganggap setiap perkataan itu hanya sebuah nyamuk yang mengganggu. Dia tidak akan pernah mendengarkan kata baik dari orang yang telah menjahatinya itu.
"jadi boss masih tidak mau?" tanya Darma.
"gak!" jutek Olivia.
"yahhhh... kalau begitu aku gagal lagi!" ucap Darma dengan wajah sedih di buat-buat.
"kalau begitu, Assalamualaikum" pamit Darma.
"Waalaikumsalam"
Darma lalu pergi ke mushola untuk menunaikan ibadah sholat dzuhurnya.
*****
Di malam hari Darma kembali ke ruangan Olivia untuk mengambil tasnya kemudian pamit pulang pada Olivia. Darma hari ini di suruh untuk membantu mendata semua keluaran dan pemasukan keuangan di lantai 13.
"Boss aku mau pulang" pamit Darma. Ketika dia melihat Olivia, ternyata dia sedang tertidur di kursinya.
"Boss..." panggil Darma kembali. Darmapun menghampiri Olivia yang tengah tertidur di kursinya.
Ini sudah malam. Sudah waktunya Olivia pulang. Jika tidak di bangunkan, Darma takut Olivia mengamuk padanya lagi.
Tak ada pilihan lain bagi Darma selain membangunkannya.
"Boss" Darma menggoyangkan tangan Olivia. Betapa terkejutnya dia memegang tangan Olivia yang begitu panas. Dia lalu panik, kemudian menempelkan tangannya di jidat Olivia. Dia terperangah kaget, Olivia sangat panas.
"Boss" Darma menggoyangkan lengan dari Olivia.
"apa!?" Olivia menjawab dengan lemasnya.
Darma lalu menaikan tangan kiri Olivia kepundaknya untuk memapahnya.
"mau apa lo!" ucap Olivia "lepasin"
"tenang boss, aku akan bantu boss" Darma tak ambil pikir, dia langsung memapah membawa Olivia. Tak luput pula dia membawa tas milik Olivia. Para pegawai lain sudah pulang saat itu, jadi dia tidak bisa minta bantuan.
Darma lalu pergi menuju lift, kemudian turun kebawah. Setelah keluar kantor, para satpam nampak kaget setelah melihat keadaan Olivia yang tengah dipapah oleh Darma, satpam itu kemudian menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya Zaenudin, satpam yang berjaga saat itu.
__ADS_1
"gak tahu! Tapi suhu badannya panas" jawab Darma.
Bersambung...