
Pagi hari, Olivia sudah datang ke kantor. Dan, Di depan pintu ruangannya sudah terlihat berdiri seorang pria memakai seragam jas pink aneh. Siapa lagi kalau bukan Darma.
"selamat pagi boss" sapa Darma.
Olivia berjalan tak menghiraukan Darma yang menyapanya. Bukan karena kesal, bukan juga karena lee min ho ganteng, tapi dirinya bersikap acuh seperti itu karena malu teringat kejadian malam hari tadi. Bahkan mengingatnya lagi membuat Olivia muak. Dirinya yang tidak mengerti, bagaimana dirinya bisa terus memikirkan Darma.
Diapun langsung menempelkan sidik jarinya pada scanner pintu, kemudian pintu pun terbuka, diapun masuk ke dalam. Darma yang terbiasa di acuhkan, tak begitu menghiraukan. Dirinya langsung masuk mengekor.
Oliviapun langsung duduk di kursi kesayangannya dan langsung membuka laptopnya.
"Boss" panggil Darma.
"apa!?" jawab Olivia.
"Bagaimana boss bisa sehebat itu dalam bermain game?"
"tentu saja karena..."
Olivia teringat kembali ketika dia masih SD, dia tidak memiliki teman. Terus sebagai pengganti rasa bosannya dia selalu bermain game setiap waktu.
Dirinya padahal pernah di ajak main oleh teman perempuannya. Namun karena keasikan bermain game, dia menghiraukan ajakan mereka. Sampai ketika dirinya di smp, baru dia mengurangi aktivitas bermain gamenya. Karena lebih Fokus membaca buku tentang bisnis dan teknologi.
"Tidak ada yang bisa mengalahkan gue" lanjut Olivia dengan sombongnya.
"iya tapi bagaimana bisa?"
"nanya mulu lo! Cepat kerjakan pekerjaan lo!" sentak Olivia.
"sekarang aku sudah tidak ada kerjaan Boss. semuanya sudah selesai"
"oh begitu ya!" Olivia baru ingat. Ternyata memang benar Darma sudah tidak ada tugas lagi yang harus ia kerjakan.
"kalau begitu diam di meja lo dan jangan banyak tingkah" ucap Olivia dengan nada tinggi.
"wokeh siap Boss" Darma mengacungkan jempolnya. Lalu ia pergi ke mejanya.
****
2 jam kemudian ketika Olivia sedang bermain game di laptopnya. Seseorang sedang berdiri menatapnya.
"Boss aku bosan. Sekarang tidak ada kerjaaan?" rengek Darma.
Olivia menatap Darma tajam "lo mau kerjaan?" tanyanya.
"bukan begitu" ucap Darma malu-malu mengetuk-ngetukan jari telunjuknya "kalau tidak ada kerjaan lagi. Aku mau pergi keluar kantor sebentar"
"buat apa?"
"jalan-jalan hehe"
"mana bisa gitu! Balik ke meja lo cepat!" sentak Olivia "gak profesional banget"
"baiklah boss! Maaf hehe" Darma tersenyum.
Lagi-lagi dia tersenyum dengan manisnya membuat Olivia diam. Kenapa dia selalu tersenyum waktu Olivia memarahinya? Olivia jadi bingung sendiri jadinya.
"mungkin nanti sajalah waktu istirahat" ucapnya pergi menjauh.
****
Waktu istirahat kerjapun tiba, Darmapun sudah berada di kantin untuk makan siang. Dia sudah memesan menu Fried Chicken Gatot.
Laila yang melihat Darma, bergegas mengantarkan pesanan milik Darma.
"ini silakan dinikmati" ucap Laila.
"iya makasih mbak" Darma tersenyum.
"ini menu baru" lanjut Laila.
"wahhhhh benarkah!?" kaget Darma.
"iya" Laila tersenyum dan mengangguk "coba kamu cicipi"
Darmapun langsung menggigit Fried Chicken itu. Rasanya sangat renyah dan gurih. Ditambah rasa pedasnya yang begitu hot membakar lidah. Membuat masakan itu sangat enak.
"wuahhh enak!" Darma menatap Fried Chicken itu dengan mata yang berbinar bintang.
"benarkah?"
"iya" mata Darma berbinar.
__ADS_1
Laila membalikan badan kemudian tersenyum senang. Setelah itu dia membalikkan badan mengahadap Darma lagi.
"sebenarnya i... Itu ide ku"
"wahhhhh benarkah?" kaget Darma tidak percaya "hebat atuh kamu"
Laila yang di pujipun langsung memerah pipinya. Tersipu Malu.
"eng... Enggak juga" dia jadi gugup karena di puji Darma.
"yah teruslah kembangkan, kamu pasti akan jadi chef profesional"
"haha... Aamiin"
"iya kayak chef terkenal Gina"
Laila bingung. Emang ada chef yang namanya Gina? Namanya seperti pemain bola.
"aku baru dengar chef Gina"
"itu loh yang suka ada di TV. Kontes memasak"
Heh? Bingung Laila. Apa ada yang namanya Gina jadi chef di TV?
"itu yang tatoan, terus suka marah-marah"
"itu Chef Juna"
"iyakah? Aku jarang nonton TV sih"
Mereka berdua tertawa bersama.
"kamu ini" ucap Laila
"maaf"
"Darma" panggil Laila.
Darmapun telah menyelesaikan makanannya.
"iya" jawabnya.
"Apa kamu udah punya pacar?" tanya Laila tiba-tiba. Mengejutkan hati milik Darma.
"bukan apa-apa kok" Laila langsung salah tingkah "aku hanya ingin tahu"
"ahhhhhhhhh.... Kenapa tiba-tiba aku menanyakan ini?" batin Laila.
Darma mengangkat tangannya dan menempelkan jari telunjuk di dagunya. Dia tidak tahu maksud dari Laila. Kenapa tiba-tiba menanyakan hal ini?
"aku..." Darma mengambil jeda "tidak pernah memikirkan hal itu"
"jadi..."
"aku tidak punya pacar"
Entah kenapa rasanya, seperti ada sorakan kebahagiaan di hati Laila. Dia seakan tak percaya, Darma tak punya pacar. Maksudnya wajahnya yang lumayan tampan, serta keasikkannya. Kenapa tidak ada yang mau dengannya?
"begitu" Laila tersenyum.
"i... Iya" Darma jadi gugup melihat senyum Laila. Dia lalu menundukkan pandangannya ke bawah.
"kalau begitu, aku mau ke dapur dulu yah"
"ohhhhh iya"
Lailapun berjalan pergi ke dapur dengan tersenyum riang. Darma masih bingung dengan Laila.
Huahhhhhhhhhhhhh!?!? Teriak Darma yang sontak membuat siapapun yang ada di kantin memandangnya.
"Jangan - jangan....." Darma dalam batinnya menerka "Laila mau menjodohkan aku dengan seseorang" yap itulah Darma, dengan otaknya yang lemot.
*****
Darmapun pergi keluar di jam istirahatnya. Dirinya sedang ada di taman kecil yang tak jauh dari kantor pusat Olivia.
"wahhh udaranya disini segar" Diapun menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya.
Tak lama kemudian dia melihat seseorang yang membuang sampah sembarangan. Dia agak kesal, Bagaimana bisa ada orang yang mau mencemari udara segar disana. Dia mendatanginya dengan tenang.
Setelah mendekati ternyata itu seorang pria Kira-kira umurnya 45 tahunan. Irwan, ayahnya Olivia.
__ADS_1
"Anu bapak. Jangan membuang sampah sembarangan atuh" ucap Darma tersenyum.
Pria itu menatapnya tajam. Apa dia akan marah? Batin Darma.
"wahah... Maaf!" Irwan meminta maaf.
"eh... Iya" ujar Darma. Tidak disangka, Darma kira pria itu akan marah.
"wah jarang loh orang seperti kamu yang menyayangi alam dan menyukai kebersihan" Irwan tersenyum.
"ah tidak kok, masih banyak di indonesia yang sayang lingkungan, aku yakin itu" Darma mengepalkan tangannya yakin.
"haha... Mudah-mudahan ya"
"iya"
Irwanpun mengambil sampah yang tadi dia buang kemudian membuangnya kembali ke tempat yang seharusnya. Tong sampah.
"entah kenapa aku seperti pernah melihat paman" ucap Darma. Wajah Irwan begitu tak asing di matanya. Dia seperti pernah melihat Irwan.
"begitu yah!" Irwan tersenyum "yah banyak yang bilang sih saya itu mirip Chaesar Hitto "
Darimananya??? Batin Darma.
Darma hanya tersenyum menanggapinya.
"oh yah... Anak muda lagi apa kamu disini? Terus..." Irwan melihat jas Darma berwarna pink dan gambarnya yang aneh "kenapa pakaianmu seperti itu!" Irwan menunjuk pakaian dari Darma
Darma melihat pada seragamnya. Ternyata seragamnya itu sangat mencolok anehnya. Dia tidak mau bilang ini seragam dari Destiny Media. Dia takut itu akan menghancurkan reputasi Olivia.
"ini style loh"
"cuhahahahahahahaha" Irwan tertawa terbahak-bahak. Darma pipinya memerah akibat malu.
"style kayak upil badak seperti itu haha" Irwan semakin tak bisa menahan gelak tawanya. Darma menatap Irwan dengan datar.
"oh ya... Om juga sedang apa disini?"
Irwan lalu menghentikan tawanya kemudian mengusap air mata ketawanya.
"aku sedang merenung" jawabnya
"merenung?"
"ada sesuatu yang harus saya ambil untuk kepentingan semua orang" Irwan memandang gedung Destiny Media.
Darma tak mengerti maksudnya, yang Darma lihat Irwan sedang menatap lampu taman yang mati ketika siang.
Untuk apa lampu taman? Herannya di hati. Mencuri lampu taman juga adalah dosa. Darma harus memperingatkannya. Tapi untuk apa lampu taman di curi? Kalau ikan asin kan jauh lebih mudah.
"Tidak boleh loh" ucap Darma. Irwan menoleh.
"mengambil sesuatu yang bukan milik kita"
Irwan kesal mengepalkan tangannya. Tapi dia mengerti, pemuda itu tidak tahu apa-apa.
"itu milik saya namun di ambil orang" jawab Irwan.
"oh begitu" Darma masih tidak mengerti.
"emang apa itu Om?"
"sulit untuk di jelaskan!"
Angin beehembus disana. Mendiamkan percakapan dua orang ini.
"yah aku tak tahu Apa yang om maksud. Kalau begitu semoga berhasil yah"
"iya doakan ya"
"iya"
Darma melihat ponselnya. Bahaya dirinya terlambat lima menit. Gawat, Olivia pasti marah lagi kepadanya.
"Kalau begitu aku pergi dulu yah om" pamit Darma.
"oh iya. Hati-hati yah"
"wokehhh"
Darmapun pergi meninggalkan Irwan di taman itu. Setelah beberapa langkah dia berlari sekencang ayam.
__ADS_1
Bersambung...