
Diruangannya Olivia tengah gelisah. Dirinya tidak bisa berhenti berpikir terhadap Darma. Tentang dirinya yang harus memberitahukan masa lalunya pada Darma. Juga tentang tadi Darma berjalan ke kantin dengan Diana.
"Kenapa mereka ke kantin bersama?" heran Olivia.
"mungkinkah mereka sudah janjian lewat chat?" Ah memikirkan hal itu membuat Olivia jadi Gegana.
"apa aku harus melihat dan mengikuti mereka yah?"
"ah tidak usahlah..." pasrah Olivia.
"Hari ini aku terlalu banyak mempermalukan diri sendiri di depan Darma"
Oliviapun menelepon pada staf kantin, untuk mengantarkan makan siangnya.
*****
"HOOOOAAAAAMMMMMMMM!!!" teriak Darma merasa lidahnya panas.
Laila melihat Darma, dirinya sudah terlambat. Darma telah memakan masakannya.
"oh tidak..." kaget Laila melihat Darma.
"Darma?" kaget sekaligus bingung Diana.
"heh" Darma A tersenyum melihat Darma berteriak seperti itu.
"kenapa Darma?" tanya Diana khawatir.
"wuahhh a-apa ini?" Darma melihat ke arah nasi goreng di mejanya.
"Rasanya..." Darma melihat pada Diana, sekaligus dia melihat Laila berada jauh di belakang Diana.
"Enak sekali" bohong Darma tersenyum di paksakan melihat Diana. Dirinya tidak enak pada Laila, jika berkata "rasanya aneh sekali" Juga tidak enak juga melihat semua orang yang melihatnya. Darma tidak mau merusak reputasi Laila. Darma pun kembali duduk dengan anggunnya.
"Wuuuahhh bumbunya apa ini? Bisa enak seperti ini yah haha" wajah Darma merah akibat terbakar mulutnya karena kepedasan.
"benar. Makanan di kantin ini emang enak" ucap salah satu pegawai.
"beruntung kita kerja di sini" balas salah satu temannya.
"seenak itukah sampai kamu kaget?" tanya Diana penasaran.
"iya" Darma tersenyum mengangguk di paksakan. Sebenarnya dia ingin cepat-cepat minum, tapi tak enak, Laila masih melihatinya.
"enak?" heran Laila. Makanan yang bak racun itu di sebut enak? Darma emang aneh.
"ya ampun lebay sekali" gumam Darma A.
"iya yah hahahaha" Darma tertawa sambil menepak bahu Darma A, walaupun air mata keluar dari matanya karena kepedasan. Darma A menatapnya risih.
"tapi kenapa keringatmu banyak sekali? Padahal baru satu suapan?" heran Diana.
"wahah... Itu..." Bingung Darma, memalingkan matanya.
__ADS_1
"ini karena semangat makan dalam diriku membara" Darma kemudian melahap kembali nasi goreng di depannya itu.
Dan... Zelegurrr.... Di dalam mulut Darma seperti menggembur api meledak. Tapi Darma tetap menahannya, kemudian menelannya.
"wohoh en... Enak" Darma mengacungkan kedua tangannya, dengan wajah yang memerah.
Diana menatap Darma dengan cermat, Diana tahu pasti, Darma sedang berbohong.
"benarkah?" Diana memicingkan matanya.
"hmmm" Darma kembali melahap nasi goreng itu. Dan zelegur, mulutnya kembali meledak, namun dia kembali menelan nasi goreng itu.
"Ahahaha... Aku sudah gak kuat ini!" batin Darma menangis.
Laila merasa aneh, Kenapa masakan itu bisa menjadi enak? Padahal dirinya masak menggunakan amarahnya. Membuat nasi goreng itu bak racun pembunuh. Namun melihat Darma, nampaknya Darma sangat menyukai Nasi goreng itu.
"bolehkah aku ikut mencicipinya juga?" pinta Diana.
"e... Tak boleh" jawab Darma kemudian tersenyum.
"kenapa?" heran Diana. Kenapa Darma tidak memperbolehkannya untuk mencicipi nasi goreng itu.
"karena..." Darma melihat Laila terus menatapnya. Darma menatap nasi goreng itu, dia sudah tidak kuat untuk memakan semuanya. Namun tiba - tiba Darma jadi teringat tentang sebuah kisah. Kisah yang di ceritakan ustad Steven. Kala itu, Darma dan ustad Steven sedang ada di kebun berdua. Darma sedang membantu Ustad Steven memanen buah mangga. Setelah selesai mengambil hampir seluruh mangga di pohon, merekapun istirahat.
"makasih yah Darma" ucap Ustad Steven mengusap atas kepala Darma.
"iya, sama - sama tad" jawab Darma tersenyum.
Ustad Steven melihat Darma dengan anggun. Betapa baik dan berhati mulianya pemuda ini.
"Oh... Haha begitu" hancur harapan.
"haha becanda Ustad" Darma terkekeh.
"Oh begitu" Ustad Steven tersenyum.
"tapi itu sedikit benar" lanjut Darma.
"iya iya hehe" Ustad Steven terkekeh akan ucapan Darma "makasih pokoknya"
Darma hanya tersenyum menjawab, ucapan terima kasih ustad steven. Ustad Steven melihati buah yang di pegangnya.
"melihat buah ini, teringat ustad akan kisah Rasulullah SAW"
"wuahhh cerita tad" pinta Darma.
"haha rasanya di antara teman - temanmu, kamu yang paling suka mendengar cerita dari ustad" Ustad Steven tersenyum.
"alah ustad ini. Itu yang cewek - cewek paling suka dengarin ceramah ustad"
"haha... Iya yah" Ustad Steven pun menatap buah mangga itu kembali.
"baiklah Ustad akan bercerita"
__ADS_1
"Wuuuuaahhhhhh..." kagum Darma.
"Ketika Rasul sedang kumpul bersama beberapa sahabatnya, tetiba datanglah seorang tamu. Seorang wanita Quraisy membawa beberapa buah jeruk"
"tunggu Ustad, jeruk? Apa kaitannya dengan mangga?" heran Darma.
"karena sama - sam buah - buahan"
"hmmm ustad ini" Darma menatap Ustad Steven bingung.
"terus kelanjutannya ustad?" tanya Darma.
"Oh Jeruknya kelihatan bagus. Kulitnya bersih mengkilap. Warnanya merah kekuningan. Rasul dan sahabatnya berpikir, jeruk ini pasti rasanya manis dan segar. Mereka senang mendapat hadiah jeruk itu"
"Baginda Rasul pun menerima pemberian itu dengan tersenyum, dan ingin segera merasakannya. Lalu Rasul pun memakan jeruk itu di depan wanita tersebut. Sampai habis. Wanita itu kaget melihat jeruknya “dinikmati” Nabi Muhammad hingga tak tersisa"
"Biasanya, jika mendapat hadiah makanan, Baginda selalu mengajak para sahabat untuk ikut merasakannya.. Tapi aneh, kali ini tidak. Rasulullah justru memakannya sendiri di depan wanita itu sambil menyatakan terima kasih atas hadiahnya. Jeruk itu habis dimakan beliau di depan sang tamu, tanpa menawarkannya kepada para sahabat"
"Para sahabat pun berpikir, kenapa hal itu terjadi? Mereka heran dengan sikap Rasulullah. Setelah sang tamu pulang, salah seorang sahabat bertanya"
"Wahai Rasulullah, kenapa engkau tidak menawarkan kepada kami untuk ikut menyicipi jeruk tadi?"
"Dengan tersenyum Rasulullah menjelaskan: “Tahukah kamu, sebenarnya buah jeruk itu terlalu asam. Rasanya kecut sekali. Pahit lagi. Tidak enak di lidah. Seandainya kalian turut makan jeruk itu, saya ragu apakah di antara kalian bisa menahan rasa kecutnya dan tidak menyinggung perasaan wanita itu?”
"Para sahabat pun melongo. Kaget! Lanjut Rasul: “Karena itu saya menghabiskan semua jeruk agar kalian tidak ikut merasakannya dan kemudian membenci wanita tadi.”
"Begitulah akhlak Rasulullah SAW. Baginda tidak mau mengecilkan pemberian seseorang, meski pemberian itu nilainya rendah dan mengecewakan"
"Masya Allah" kagum Darma, "begitu mulia nya nabi kita ya ustad?"
"iya. Ustad berharap kamu bisa meneladani akhlak beliau ya Darma"
"Aamiin" Darma tersenyum.
Mengingat semua itu, Darma tersenyum pada Diana. Kemudian tanpa berpikir panjang Darmapun menghabiskan semua nasi goreng itu dengan cepat. Laila sampai terperangah melihat Darma melahap semua nasi goreng itu. Apakah seenak itu? Pikir Laila.
Diana menatap Darma memakan semua nasi gorengnya dengan cepatnya. Dirinya jadi lupa memakan Huevo Crocantes nya. Dirinya belum pernah melihat Darma seperti itu.
Lailapun menundukkan kepalanya bersyukur. Untunglah, Darma suka terhadap nasi goreng buatannya. Diapun tersenyum, kemudian kembali lagi ke dapur.
"aku rasa harus masak lagi yang seperti itu besok" batin Laila.
Setelah menghabiskan semua nasi goreng itu Darmapun langsung segera minum. Ah rasanya dirinya merasa mual. Lidahnya seperti terbakar. Perutnya panas. Diapun merundukkan wajahnya pada meja. Sebisa mungkin, dirinya tidak boleh menyinggung perasaan Laila dan mengecilkan pemberiannya. Karena Darma pikir, Laila sedang keadaan sakit, tapi tetap memaksakan memasak.
"kamu tidak apa - apa?" tanya Diana kebingungan.
"enggak haha" Darma terkekeh.
"enak sekali..." Darma mengacungkan jempolnya pada Diana.
Diana menatap Darma. Diana sepertinya mengerti, masakan itu nampaknya tidaklah enak. Darma sedang berbohong.
Bersambung...
__ADS_1
Visual Ustad Steven