The Garabagan

The Garabagan
Epesode 75 : Surat Cinta Untuk Olivia


__ADS_3

Di pagi hari, Olivia sudah sampai di kantor. Dirinya tengah berjalan menuju ruangannya.


"selamat pagi Boss" sapa Darma dengan cerianya.


"pagi" jawab Olivia dengan dingin melewati Darma. Dirinya masih merasa kesal pada Darma, dirinya tidak membalas pesan darinya.


"oh iya Boss aku sudah membersihkan semua ruangan"


Olivia menghentikan langkahnya. Kemudian berbalik menghadap Darma.


"kamu masih membersihkan semua lantai?" tanya Olivia.


"ini" Darma memperlihatkan kemejanya yang basah "sampai berkeringat"


"mulai besok biarkan tugas itu pada OB"


"heh?" kaget Darma.


Olivia lalu membalikkan badannya dan kembali berjalan kembali.


"eh Boss tunggu" Darma mengejar Olivia.


"yang benar?"


"iya" jawab Olivia.


"wuahahahahaha"


Darma sangat senang, dia pun lalu berjoget layaknya pemain kuda lumping.


Ha eh,,, ha eh,,, he ah...


Olivia tersenyum geli melihatnya, namun dia berusaha menahannya. kemudian Olivia masuk ke ruangannya. Darma yang melihat Olivia masuk, dia juga ikut masuk. Olivia kembali menghentikan lankahnya kembali, Darmapun ikut terhenti.


"oh yah Darma..." ucap Olivia.


"iya"


"mungkin kamu lelah. Jadi kamu boleh istirahat selama satu jam ini"


"heh? Yang benar?"


"iya"


"wuahahahaha"


Darma merasa senang kembali, kemudian dia berjoget balet mengelilingi ruangan kemudian berhenti tepat depan Olivia.


"oh yah Boss..." ucap Darma.


"hmmm" jawab Olivia.


"apa boleh aku pergi ke luar"


"iya boleh" jawab Olivia akhirnya tersenyum. Olivia rasa dirinya tidak bisa marah sama Darma dengan kelakuannya itu.


"wuahahaha" Darma sangat senang. Diapun lalu berjoget layaknya Michel Jackson.


"kalau begitu, aku pergi dulu yah" pamit Darma.


"iyah" jawab Olivia terkekeh.


Darmapun pergi keluar dengan jalan yang meloncat-loncat. Olivia tersenyum melihatnya.


Oliviapun lalu duduk di kursinya, kemudian membuka laptop yang ada di mejanya. Dia terdiam setelah membukanya. Olivia melihat sebuah amplop di keyboard laptopnya.


"apa ini?" bingung Olivia.


Oliviapun lalu mengambil amplop itu lalu mengernyitkan dahinya bingung melihat amplop itu. Olivia membulak- balikkan amplop itu, untuk bisa melihatnya lebih jelas. Disana ada bolong sedikit di area bawah. Karena penasaran Olivia lalu membukanya.


Ternyata isinya adalah sebuah kertas yang tercium bau wangi membelai hidungnya. Dia pun semakin penasaran dengan apa yang ada di kertas itu. Olivia lalu mengambil kertas yang ada di dalam amplop, kemudian membeberkannya. Betapa terkejutnya Olivia, ternyata isinya itu sebuah tulisan. Oliviapun lalu membacanya, isi amplop itu sebagai berikut,


"Teruntuk Bossku,


Maaf bila surat ini mengganggumu, akan tetapi hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mengungkap semuanya. Aku tak bisa menahannya lagi.


Sejak pertama kali aku bertemu denganmu, tak ada yang berbeda dari rasa ini. Tak ada yang berbeda dari apapun semua tentang kita. Hanya seorang atasan dan bawahan.


Namun, seiring berjalannya waktu. Wajahmu selalu terbayang dipikiranku. Rasa ini mulai tumbuh berbeda dari biasanya. Rasa di mana aku ingin selalu disampingmu, tertawa, bercanda, menangis . . . Aku ingin kau selalu ada di sisiku.


Kusadari, mungkin ini yang disebut cinta. Yah . . . Ku beranikan diri ku katakan bahwa aku mencintaimu, sangat mencintaimu Boss. Maksudku Olivia.


Ada yang mengatakan bahwa cinta itu tak mempunyai kaki, tapi yang aku rasakan cinta bisa berjalan dari hati ke hati, dan kini cintaku telah berjalan ke hatimu. Dan rasanya, aku tidak akan pernah sanggup untuk berjalan meninggalkanmu.


Aku mencintaimu Olivia.


Maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Aku tunggu jawabanmu nanti sore, temui aku di dekat parkiran.


Dari : D...."


Olivia merasa tersentuh akan surat itu, sayang sekali akhirannya telah terpotong karena bolong, sehingga Olivia tidak tahu siapa yang mengirimnya.


"ih kenapa bolong sih?"

__ADS_1


"D?" bingung Olivia.


Mengingat awalan huruf itu, Olivia lalu teringat pada Darma.


"mungkinkah ini dari Darma?" terka Olivia. Jantungnya jadi berdegup kencang tidak karuan. Pipinya memerah.


"ti-ti-dak mungkin kan?" sangkalnya. Rasanya tidak mungkin juga Darma menyukainya, dirinya selalu dijahati oleh Olivia.


"tapi..." Olivia mengingat semua kebaikan-kebaikan dari Darma. Mulai dari membawanya ke rumah sakit, lalu memberinya boneka, kemudian membalut tangannya yang terluka.


"apakah dia melakukan itu karena dia suka padaku?"


"semua perhatian itu?"


Olivia kemudian tersenyum senang, walaupun saat itu pagi, tapi rasanya seakan-akan ada para bintang datang untuk menyinari hatinya. namun dia kembali melihat surat itu kembali.


"tapi tidak mungkin ah" sangkalnya kembali.


"tapi siapa lagi yang selalu disini selain Darma?"


Olivia terdiam, kemudian dia merasa kalau itu benar-benar dari Darma.


"ini dari Darma"


Iapun lantas tersenyum bahagia kembali. Dia lalu memegangi dadanya, betapa kencang jantungnya berdetak membuat Bunga-bunga bermekaran di hatinya. Darma bisa secepat itu menyukainya.


Seindah nada yang mengalun,


setenang mentari yang bersinar, Olivia merasa sedang terbang pada sebuah surga cinta Darma. Ah rasanya tidak ada kata yang bisa Olivia sebutkan untuk kebahagiaannya itu.


"Darma" ucap Olivia. Tak terasa Air mata kebahagiaannya menitik di pipinya. Rasanya Olivia tidak ingin berhenti.


*****


Satu jam kemudian Darmapun kembali lagi pada ruangan Olivia. Olivia menundukkan wajahnya malu.


"Boss aku kembali hehe" ucap Darma dengan wajah cengengesannya.


"oh i-iya" jawab Olivia tergagap.


Darma lalu menghadap Olivia. Olivia hanya menundukkan kepalanya, sembari berpura-pura memainkan laptopnya.


"apa pekerjaanku hari ini Boss?" tanya Darma.


Olivia lalu menatapnya bingung.


"kenapa dia malah terlihat biasa-biasa saja?" batin Olivia.


"Apakah aku harus menjawabnya sekarang?"


"Nanti saja sore di dekat parkiran"


"iya ada banyak" jawab Olivia.


*****


Hingga di sore haripun, Olivia datang ke dekat parkiran. Tidak ada siapapun disana. Oliviapun menunggu kedatangan Darma.


Olivia terus menunggu, sampai dirinya bergonta - ganti posisi duduk. Dirinya merasa lelah menunggu. Tapi dirinya percaya Darma pasti datang. Oliviapun lalu menelepon Darma. Akan tetapi tidak Darma angkat.


Alhasil setelah menunggu Darma selama satu jam lamanya, ia tak kunjung datang juga.


Akhirnya telepon dari Darmapun datang. Olivia langsung mengangkatnya.


"Assalamualaikum" salam Darma


"Waalaikumsalam" jawab Olivia.


"Darma, kamu dimana?"


"eh? Aku di ruangan Boss. Boss dimana?"


"hah?" bingung Olivia.


"aku di dekat parkiran kan?"


"untuk apa Boss ada di dekat parkiran?" heran Darma.


"tunggu kamu kan..." ucapan Olivia terhenti. Dirinya terdiam, ternyata orang itu bukan Darma.


"maaf tadi HP ku di silent. Aku sudah menyelesaikan tugasnya Boss"


Olivia diam tak menjawab.


"hallo Boss" panggil Darma. Olivia tetap tak menjawab.


"hallo"


"hallo Boss"


"baiklah aku kesana yah" ucap Darma khawatir kemudian menutup teleponnya. Diapun segera berlari menuju tempat Olivia berada.


Olivia duduk dan menjatuhkan ponselnya.

__ADS_1


"mestinya aku tahu" ucap Olivia.


" Jadi bukan dirinya" batin Olivia. Hati Olivia rasanya sakit, terkulai dikunyah nelangsa yang berapi-api. Olivia terlalu berharap kalau surat itu dari Darma, akan tetapi kenyataannya Darma memang belum menyukainya. Kini Olivia tahu itu.


Darmapun akhirnya menemukan Olivia. Darmapun lalu mendekati Olivia.


"a-a-ada apa Boss?" tanya Darma dengan napas yang terengah-engah.


Olivia menatap tajam Darma. Darma kelihatan kebingungan.


"kamu mengirimku sesuatu kan?" tanya Olivia.


"sesuatu?" Darma bingung. Iapun lalu mengingat dirinya mengirim pesan tadi malam.


"ah iya" jawab Darma.


Olivia terkejut mendengarnya. Jantungnya berdegup kencang kembali. Dirinya merasa agak kesal pada Darma.


"lalu kenapa tidak kesini dari tadi?" Oliviapun berdiri kembali.


"hah?" bingung Darma.


"mana aku tahu Boss ada di sini"


"hah kan kamu kan yang..." ucapan Olivia terhenti. Apakah benar Darma yang mengirimkan surat itu pada Olivia? Kalau tidak, dirinya pasti akan malu.


"aku?" Darma menunjuk dirinya sendiri.


"anu Darma..." ucap Olivia.


"ah iya Boss?"


"kamu tidak menyimpan surat di laptopku kan?"


"surat? Surat apa?" heran Darma.


Olivia menghembuskan napasnya, dari ketidak tahuannya Darma, sudah menujukkan kalau bukan dirinya yang mengirim surat itu.


"jadi begitu yah... Bukan kamu yah"


"eh surat apa Boss?" Darma jadi penasaran.


Olivia mengepalkan tangannya. Rasanya sungguh menyebalkan. Tapi Olivia harus menerima kenyataan ini.


"hmmm" Darma tersenyum mengejek menunjuk Olivia.


"mungkinkah itu surat cinta?" Darma meledek Olivia.


"cieee dari siapa?"


Olivia lalu menatap Darma tajam. Dirinya jadi merasa kesal dengan ejekan Darma.


"ihhhhhhh Diam" Olivia mencubit bahu Darma.


"awwwwwww!!! sakit Boss" ringis Darma.


"rasakan"


Darma mengusap bahunya yang di cubit.


"hehe" Olivia tersenyum.


"oh iya Boss" ucap Darma.


" maaf" Darma menempelkan kedua tangannya. Olivia menatapnya bingung.


"U-untuk apa?"


"aku tak membalas pesanmu tadi malam" jawab Darma.


"pesan?" bingung Olivia.


"aku ketiduran" lanjut Darma.


Olivia terdiam menatap Darma.


"jadi begitu yah... Hehe" ucap Olivia. Darma menatap Olivia bingung, sekarang Olivia jadi jarang marah padanya. Syukurlah.


"awas saja kalau kamu berani mengabaikan pesanku lagi" ancam Olivia dengan tatapan yang berapi-api.


"Hiiiiiiihhhhhhh...." Darma merinding melihat Olivia.


"aku salah, ternyata si Boss masih samaaaaaaaaaa" teriak batin Darma.


"baik Boss" ucapnya.


"bagus"


"ah sudahlah. Bisa dekat dengannya saja, aku sudah senang" batin Olivia. Diapun lalu membalikkan badannya.


"tapi orang yang mengirim surat itu. Akan ku bunuh jika bertemu" batin Olivia berapi-api.


...Bersambung...

__ADS_1


Siapakah yah Kira-kira yang mengirim surat cinta tersebut?


__ADS_2