The Garabagan

The Garabagan
Episode 100 : Kesedihan Dan Kesedihan


__ADS_3

"ayah ibu"


Ayah ibupun berjalan mendekatiku. Hatiku pun menjadi berdebar. Akhirnya setelah sekian lama, ayah dan ibukupun berkunjung ke tempatku. Apakah Mereka telah mengakuiku?


"nak" ucap ibu berkaca - kaca.


"Oliv..." ucap ayah kemudian duduk bersimpuh. Akupun kaget kemudian berdiri.


"kenapa kamu hancurkan bisnis Keluarga kita nak?" lanjut ayah.


"eh?" kagetku kemudian terdiam.


"apakah kamu ingin ayah harus duduk memohon seperti ini agar kamu menyerah?"


"eh apa maksud ayah?" tanya ku bingung.


"aku tidak berniat meruntuhkan perusahaan milik kakak? Bagaimana ayah bisa berpikiran seperti itu?"


"kakakmu yang bilang" sewot ayahku.


"hah?" kagetku bingung.


"Kamu sengajakan membuat perusahaan di bidang yang sama agar mengalahkan kami?" pelotot ayahku.


"iya" jawabku.


"tega kamu" ujar ayah.


Aku terdiam, aku kira dengan mengalahkan kakak, mereka akan melihatku. Tapi mereka melihatku dengan tatapan lain. Cukup aku sudah muak. Akan ku kobarkan api yang ada dalam hatiku ini. Api kebencian.


"aku tidak pernah sekalipun berencana membuat perusahaan kalian bangkrut..." ucapku menundukkan kepala.


"hehe" aku tersenyum jahat.


"kalian saja yang bodoh. Tidak tahu caranya mengelola perusahaan dengan baik"


"jaga mulut kamu Oliv" sentak Ibu.


"Apa?" tantangku dengan tatapan tajam.


"kalian yang bilang kan kalau aku itu anak yang bodoh?"


"tapi anak yang bodoh itu sekarang mengelola perusahaannya sendiri! Bahkan lebih unggul dari kalian"


"hentikan sifatmu itu Oliv" henti Ibu.


"atau apa?" pelotot ku.


Ayah dan Ibu tercengang melihat kelakuan anaknya itu. Mereka terdiam membisu melihat amarahku.


"kalian sudah tidak punya apa - apa lagi kan?" tunjukku pada mereka.


"bedebah!" kesal ayahku.


"iya. Maki saja aku. Itu kebiasaanmu kan?" jawabku tersenyum. Rasanya aku sudah gila saat itu.


"Ah tenang! Mulai minggu besok, aku akan mengirimi kalian uang! Kalian masih ada atm nya kan?"


"gak perlu" tolak ibu dengan nada amarah.


"hehe... Aku kasihan kalian sudah gak punya apa - apa lagi"


"kurang ajar!" ayahku pun berdiri dan hendak menamparku, akan tetapi ibu mampu menghentikannya.


"akan ku tampar kamu Oliv"


"tampar saja! Nanti aku akan dapat uang"

__ADS_1


"sudah sayang!" ucap Ibu mencoba membuat ayah tenang. Ayahpun menjadi tenang kembali.


Seketika hawa disana jadi hening, padahal AC nya menyala. Rasanya tubuhku merasa panas, padahal udara di sana sejuk.


"kalau tidak ada yang penting lagi, silakan keluar. Aku sibuk" ucapku kemudian.


Merekapun pergi meninggalkanku dengan rasa amarah. Akupun tersenyum melihat ke arah mereka.


Setelah mereka pergi, akupun kemudian duduk dan menidurkan badanku ke meja. Disana aku kembali menangis kembali. Sakit sekali, sakit sekali. Belum pernah aku melawan kedua orang tua ku seperti itu. Aku sudah seperti anak durhaka.


Akan tetapi hati kebencianku kembali menggelora. Buat apa aku harus sedih karena mereka? Akupun kemudian membangunkan tubuhku.


"benar! Gue harus kuat mulai dari sekarang!"


Akupun memutarkan kursiku menghadap jendela kaca. Kemudian tersenyum.


"Olivia yang baru telah lahir" ucapku.


Dua hari kemudian, akupun mendapatkan wawancara eksklusif dari majalah Tenar. Merekapun ingin tahu perjalanan hidupku, akupun membeberkan semua ceritaku pada media itu. Termasuk kedua orang tuaku yang membenciku.


Keesokan harinya, ibuku mengirimi ku pesan lewat Whattsapp. Pesan itu berisi :


Assalamualaikum Vi.


Ibu harap kamu baik - baik saja.


Ibu tak tahu harus berkata dari mana? Tapi yang terpenting Ibu mau bilang, kalau ibu minta maaf. Maaf untuk Ibu tak selalu ada buat kamu. Maaf Ibu lebih mementingkan bisnis ketimbang kamu. Maaf untuk semua kesalahan Ibu. Tapi dalam cerita majalah itu, Ibu hanya ingin kamu tahu. Ibu tidak pernah membenci kamu nak. Kecuali kemarin saat kamu berkata - kata tidak pantas. Namun saat memikirkannya, salah jika Ibu harus membenci kamu. Yang harus Ibu salahkan, ternyata adalah Ibu sendiri. Ibu yang telah gagal mendidik kamu nak. Sekarang Ibu sadar, Uang bukanlah segalanya. Tapi keluarga yang utuh itu, segalanya buat Ibu.


Ibu datang ke kantormu waktu itu, adalah untuk melihatmu. Melihat kamu telah berjaya. Anak Ibu, Olivia telah membuktikan kalau dirinya bisa. Namun Ibu kaget nak, ketika Ibu mendengar kamu mengatakan hal - hal yang tidak pantas kepada kedua orang tuamu. Ibu sakit hati nak. Tapi Ibu rasa, itu sakit hati yang kecil ketimbang sakit hati dirimu selama ini. Ibu sekarang tidak butuh uang kamu nak. Ibu sekarang butuh kamu. Sekali lagi Ibu minta maaf, Oliv.


Melihat pesan itu, aku pun tersenyum.


"apa ini?" heranku.


"sekarang dia menyesalinya?" ucapku tersenyum namun tidak terasa, air yang ada di mata ini menitik jatuh pada ponsel.


Hikss... Air mata itu mulai berjatuhan banyak sekali. Hati ini rasanya bergetar sakit.


"air mata apa ini hikss..." ucapku menghapus air mata.


"orang seperti mereka tak pantas aku tangisihihihi" tak sadar sama sekali. Aku lagi - lagi menangis.


"AAAAAHHHHHHHHHHHH!!!" teriakku.


"ada apa Vi?" tanya Renita membuka pintu ruangan, kemudian berlari mendekatiku.


"ada apa Vi?" tanya Renita.


*****


Keesokan harinya, kakakku meminta agar dirinya bisa bekerja di perusahaanku. Otomatis akupun menyetujuinya. Karena bagiku, kakakku adalah pahlawanku.


Keesokan harinya, kakakpun bekerja di tempatku. Aku dan kakakpun bercanda gurau bersama di perusahaan ini. Aku langsung angkat kakakku sebagai Direktur Divisi 3.


Satu bulan kemudian, perusahaan kami berkembang pesat. Namun aku dan kakakku jarang berbicara kembali karena sibuknya pekerjaan. Lalu kemudian...


"bisakah kamu mau mempekerjakan ayahmu ini?" mohon seorang yang kusebut ayah.


"bukankah tanpa bekerjapun aku sudah mengirim ayah uang?" jawabku memalingkan wajah dan badanku.


"ayah ingin menebus kesalahan ayah nak. Biarkan ayah memegang salah satu cabangmu"


Akupun menghembuskan napasku, kemudian menatap pria itu.


"enggak yah. Aku gak percaya sama ayah" ucapku.


"tapi Oliv..."

__ADS_1


"kalau tidak ada percakapan yang penting lagi keluar saja. Aku sibuk" sentakku.


Ayahkupun menatap dengan mata yang berapi - api. Aku melihatnya dan sadar, apa yang di ucapkannya tidaklah serius.


Dua bulan kemudian, aku dan kakakku memutuskan untuk berlibur berdua untuk pergi ke mall untuk jalan - jalan kembali. Kali ini aku berencana untuk membelikan kakakku baju dan celana.


"ini kak! Ayo kakak coba!" ucapku menyodorkan sebuah baju pada kakakku itu.


Kakakpun melihat baju itu dan tersenyum. Baju pilihanku yaitu sebuah gaun princess.


"kenapa seperti ini?" tanya kakakku.


"biar nanti kakak nikah, pakai ini!" ucapku.


"haha iya do'ain yah" kakakku tertawa, nampaknya dia masih jomblo kayaknya.


Setelah berbelanja kamipun keluar dari mall itu. Hari itu sangat indah, aku dan kakakku kembali bermain dan berbelanja bersama kembali.


"kita ke taman dulu yuk!" ajak kakakku.


"iya" jawabku.


Kamipun berjalan menuju taman. Dan ketika kami berjalan dua orang pria menghadang kami berdua.


"hey nona manis, siniin tasnya" pinta pria itu.


Gawat! Keaadaan di sana sedang sepi, hanya ada mobil satu dua yang berlalu lalang.


Aku tak tahu harus bagaimana, di tasku itu penuh dengan barang - barang penting. Kakakku melihatku khawatir. Diapun maju ke depan untuk menghalangi ku.


"pergi atau kami teriak!" gertak kakakku.


"hehe... Coba saja!" tantang pria itu.


"dia manis juga yah" ucap pria satunya kemudian memegang tangan kakak.


"jangan menyentuhku" tepis kakakku.


"hmmmm" kedua pria itu tersenyum saling menatap.


Satu priapun membekam kakak, kemudian aku pun teriak. Satu lagi pria itu membekamku, kemudian kamipun pingsan.


"heyyyy...!!!" teriak salah satu warga.


"tinggalkan dia, kita ambil yang ini!" teriak pria itu.


Kakakpun di bawa oleh salah satu pria itu. Sementara yang satunya menodong satu warga dengan pistol.


"kakak!" ucapku.


Kemudian duniapun gelap. Aku tak ingat apa - apa. Yang ku ingat setelah itu, aku bangun dan sudah berada di klinik.


"KAKAK!" teriakku sambil membangunkan badanku.


"tenang Bu, tim polisi sudah bergerak untuk menangkap pelaku penculikan"


"benarkah?" tanya ku dengan mata yang berkaca - kaca.


"hiks... Kakak" isak tangisku.


Dua hari kemudian, polisi menemukan seorang mayat perempuan dengan keadaan baju yang sobek - sobek. Dan polisi bilang itu adalah kakakku, dan pelaku masih buron.


Mendengar hal itu, Aku menentang semua kenyataan itu, aku menentang semua bukti bukti yang ada termasuk gaun princess yang sudah bukti kuat kalau itu milik kakakku. Aku merasa prustasi, kenapa keadaan selalu membuatku sedih? Kenapa tuhan memperlakukanku seperti ini? Bahkan kakakku orang yang ku cintai di renggut dariku.


Bersambung...


wuahhh dah 100 epesode aja gengs. Terimakasih sudah stay buat baca, jangan lupa like, comment, dan vote nya yah gengs.

__ADS_1


Love U All ❤


__ADS_2