
Kini Lailapun tengah duduk di sofa menghadap Olivia dan juga Darma. Laila merasa heran, kenapa Dirinya di panggil ke ruangan Olivia. Ada masalah apa?
"baiklah langsung saja" ucap Olivia merapatkan kedua tangannya.
"Laila apa kamu tahu Darma kemarin di larikan ke rumah sakit?" tanya Olivia.
"APA?!?" kaget Laila. Dia pun langsung menoleh ke arah Darma.
"apa itu benar Darma?" tanya Laila pada Darma. Dirinya benar - benar tidak tahu.
"ee...." Darma gugup menjawab pertanyaan dari Laila.
"iya" angguk Darma.
"Astaga!? Kenapa?" heran Laila.
"cih..." Olivia tersenyum sinis.
"kenapa kamu berpura - pura tak tahu seperti itu?" heran Olivia melotot pada Laila.
"berpura-pura?" bingung Laila.
"IYA" sewot Olivia "KENAPA KAMU MERASA TIDAK BERSALAH SEPERTI ITU HEH?"
"ke-kenapa Boss marah?" heran Laila.
"apa maksudnya dengan tidak bersalah?"
"GARA - GARA MASAKANMU DARMA JADI KERACUNAN MAKANAN!" sentak Olivia.
"Boss tenanglah" Darma mencoba menenangkan Olivia.
"masakanku?" Laila kemudian teringat dirinya yang memasak nasi goreng dengan asal saat dirinya kesal pada Darma.
"Astaga! Apakah separah itu?" batin Laila. Lailapun menatap Darma dengan rasa bersalah.
"apa itu benar Darma?" tanya Laila pada Darma.
"tentu saja" sahut Olivia "apa kau pikir aku akan berbohong?"
Laila terdiam menatap Darma. Dirinya benar - benar menyesal telah melakukan itu. Saat itu dirinya tak sadar karena cemburu melihat Olivia dan Darma jadian. Hatinya sangat sakit.
Tapi Laila juga heran, kenapa waktu itu Darma seperti sangat menyukai masakannya kalau sampai seburuk itu. Laila tidak mengerti.
"Tapi saat itu..." ucap Laila ragu.
"APA? APA ALASAN KAMU MELAKUKAN HAL ITU PADA DARMA? APA KAMU BERNIAT MERACUNINYA?"
"boss tenanglah" Darma memegang tangan Olivia untuk menenangkannya.
"Oh... Maaf" Olivia menenangkan dirinya, sekaligus senang tangannya bisa di pegang Darma.
"Kyaaaaa... Apa yang kamu lakukan di saat seperti ini Darma" batin Olivia histeris.
"kamu tidak bermaksud seperti itu kan, Laila?" tanya Darma dengan lirih.
Laila terdiam menatap hampa Darma. Diapun kemudian menundukkan wajahnya malu, dirinya benar - benar berkepala kosong saat ini. Haruskah dia jujur dan mengakui perasaannya? Astaga, Laila benar - benar bingung.
"ayo jawab" suruh Olivia.
"aku..." gugup Laila.
"aku..." Laila menggenggam erat celananya saking gugupnya.
"Ayo bicara!" kesal Olivia.
"aku melakukannya..."
Darma melihat iba Laila, dirinya tak tega melihat Laila tertekan seperti itu. Darmapun kemudian menghembuskan napasnya. Darma juga teringat sejak hari itu, Laila selalu menghindarinya. Apakah Darma ada salah pada Laila?
"baiklah. Mari anggap ini tak pernah terjadi saja" ucap Darma.
__ADS_1
"hah?" kaget Laila.
"Apa?" kaget Olivia bingung.
"jika aku ada salah padamu, Laila. Tolong maafkan aku" lanjut Darma.
"apa katamu?" bingung Olivia.
"mari kita berteman seperti sebelumnya lagi" ucap Darma.
Mata Laila berbinar menatap Darma. Dia tak menyangka, kenapa Darma malah minta maaf padanya. Seharusnyalah Laila yang meminta maaf pada Darma. Dirinya telah bersalah, membuat Darma sampai ke rumah sakit. Apakah Darma merasa kasihan melihat Laila di bentak Olivia.
"sebenarnya..." batin Laila.
"...seberapa menarik lagi kah dirimu..."
"Darma"
"jadi kita sudahi saja pembicaraan ini yah Boss" ucap Darma menoleh pada Olivia.
"Apa yang kamu bicarakan? Yang salah kan dia, kenapa kamu yang minta maaf?" heran Olivia.
"menurutku tidak penting siapa yang salah. Yang penting adalah..." Darma menatap Laila, "menjaga hubungan agar tetap baik"
"jadi Laila, Aku mohon maaf jika aku ada salah, tolong maafkan aku"
"hikss... Hiksss..." Laila menitikkan air matanya tak kuat menahan tangisnya.
"AAAAHHHH... KENAPA KAMU MENANGIS?" kaget Darma panik.
"kenapa kamu minta maaf?" tanya Laila.
"Aaaa jangan menangis" Darma berlari mengambil tisu lalu menyodorkannya pada Laila.
"KENAPA KAMU MALAH MINTA MAAF, BRENGSEK?" teriak Laila kemudian mengambil tisu itu.
"Hah...?!? Berengsek?" bingung Darma. Kenapa dirinya di panggil brengsek.
"Ah itu... Dari kemarin kamu menghindariku kan? Aku pasti punya salah, sampai kamu marah"
"hiiiiiiikkkkssss...." Tangis Laila semakin menjadi.
"AAAAAAAAAAHHHHH... jangan menangis, jangan menangis" Darma panik kemudian dengan segera mengambil tisu yang bekas di pakai Laila mengelap ingus. Iapun mengusap air mata Laila menggunakan tisu itu. Olivia yang melihatnya pun langsung kaget.
Lailapun terdiam menatap Darma yang sedang mengusap air matanya itu. Jantungnya kembali berdegup kencang tak terkendali. Bagaimana bisa ada orang yang masih perhatian dan peduli, setelah seseorang berbuat hal jahat padanya.
"jangan menangis lagi yah!" lirih Darma.
Melihat hal itu, hati Olivia merasa panas dan sesak. Oliviapun langsung menepak tangan Darma yang sedang mengusap tangan itu.
Plaaaakkkkk....
"Aw..." ringis Darma.
"apa yang kamu lakukan?" sentak Laila.
"dia menang... AAAAAAAHHHHH" teriak Darma melihat tisu yang di pegangnya. Dia pikir Olivia memberitahunya bahwa tisu yang ia gunakan telah di gunakan oleh Laila untuk ingusnya.
"maaf Laila ini bekas ingus mu" Darma kemudian membuang tisu itu kemudian mengambil lagi yang baru. Darmapun lalu mengusap air mata dari Laila kembali.
"heyyy..."
Plaakkkkkk....
Olivia pun menepak tangan Darma kembali. Darma menatap bingung pada Olivia. Ah sekarang dirinya mengerti, Olivia menyuruh Darma agar tisu yang bekas tadi jangan di buang sembarangan. Darmapun lalu memungut tisu tadi kemudian menyimpannya di meja.
"apa yang kamu lakukan?" bingung Olivia.
Darmapun mengusap air mata dari Laila kembali. Oliviapun menggenggam erat tangan dari Darma.
"kenapa kamu melakukan itu?" tanyanya.
__ADS_1
"dia menangis Boss" jawab Darma.
"kenapa harus mengusap pipinya segala?" heran Olivia.
"aku tak tahu, matanya bocor. Dia terus mengeluarkan air" canda Darma.
"dia telah meracunimu! Kenapa kau....?"
"AKU MEMBUAT NASI GORENG ITU, KARENA..." teriak Laila. Sontak semua matapun menatap ke arahnya.
"aku marah kalian jadian" lanjut Laila.
Mata Darma dan Oliviapun membulat kaget mendengar perkataan Laila barusan. Lailapun kemudian berdiri dan berlari keluar. Darma pun kemudian berdiri mengacungkan tangannya berniat memanggil Laila tapi tidak jadi.
"Ja... Jadian?" heran Darma.
Sementara Olivia diam mematung jantungnya masih berdegup kencang saking kagetnya. Wajahnya memerah akibat malu.
"Ja... Jadian?" bingung Olivia dalam hati.
"a-apa maksudnya Boss?" tanya Darma pada Olivia.
"eh?" kaget Olivia kemudian menoleh pada Darma.
"Jadian?" heran Darma.
"ppppfffttttt...." Darma menahan tawanya.
"kenapa kamu ketawa seperti itu?" tanya Olivia.
"Jadian? Aku dan Boss Hahahahahahahahaha" Darma tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya.
Melihat Darma yang tertawa seperti itu, entah kenapa hati Olivia merasa kesal dan sesak. Apakah selucu itu jika Darma dan Olivia jadian?
"ke-kenapa kamu tertawa?" Olivia bertanya dengan nada lesu.
"haha karena aku dan Boss mana mungkin jadian hahahahaha"
Mendengar candaan Darma tentang itu, hati Olivia merasakan sesak. Serasa ada yang menusuknya. Entah kenapa Darma seperti tidak pernah melihat Olivia sebagai wanita. Olivia membencinya. Kenapa Darma mengira kalau hubungan dirinya dengan Darma di anggap sebuah candaan? Sial, mata Olivia mulai berkaca - kaca kembali.
Oliviapun kemudian menginjak kaki Darma karena kesal. Oliviapun kemudian pergi ke luar.
"aw... Aw... Aw..." kesakitan Darma.
"kenapa Boss?" bingung Darma.
Setelah sampai di luar, Oliviapun bertemu dengan Diana yang tengah menuju ke ruangannya.
"Oh Boss" Diana menyapa.
"Apa?" sewot Olivia.
"anu... Darmanya ada di dalam?" tanya Diana.
"ishhh..." kesal Olivia. Kenapa orang - orang cantik ini harus suka sama Darma. Olivia jadi makin kesal.
"Dia gak masuk" bohong Olivia "sedang sakit"
"eh? Sakit kenapa?" panik Diana.
"sudah berapa lama dia sakit?"
"huffffttt..." Olivia menarik napas mencoba menenangkan diri, kemudian menghembuskannya.
"aku sedang sibuk sekarang, aku pamit dulu yah" Oliviapun kemudian melangkah pergi dari Diana.
"oh, baiklah" heran Diana. Merasa aneh dengan sikap Olivia.
"ah aku akan memeriksanya langsung saja" ucap Diana pelan.
Bersambung...
__ADS_1