The Garabagan

The Garabagan
Epesode 97 : Cukup!


__ADS_3

Malampun tiba, Darma yang sudah melaksanakan sholat magrib kini kembali ke ruangan Olivia, akan tetapi, Olivia belum kembali juga.


"kemana lagi si Boss?" heran Darma.


"E.... Aaaa" Darma masih merasakan sakit perut nya yang seperti mau meledak.


"ah terasa ada yang nyantet" canda Darma untuk menghibur dirinya sendiri.


"hahahahahahahahaha" Darma tertawa "gak lucu" lanjutnya.


"minggir" ucap seseorang di belakangnya.


Darmapun berbalik, dan terkaget setelah mengetahui ternyata itu adalah Olivia.


"Boss" senang Darma melihat Olivia.


Olivia memandang Darma dengan dinginnya.


"hmmm" Olivia memalingkan wajahnya ke depan kemudian berjalan munuju mejanya.


"daritadi kemana Boss?" tanya Darma.


Olivia tak menjawab dia terus berjalan kemudian duduk. Darma, ahah dia sudah terbiasa di cuekin Olivia. Lagipun, sekarang Darma sedang ingin berbicara dengan Olivia. Dia memiliki janji yang harus di tepati. Janji dengan bu Arini, untuk mempersatukan Olivia dengan ibunya kembali. Diapun kemudian mendekati Olivia kembali sambil memegangi perutnya yang sakit.


"Boss" panggil Darma.


Olivia diam tak menjawab. Darma menatap Olivia bingung. Apakah Olivia marah? Itulah pertanyaan yang ada di benak Darma. Tapi kalau marah, apa yang Darma perbuat sehingga Olivia marah? Darma terheran - heran bukan main.


"ah apakah hari ini tidak ada pekerjaan lagi?" tanya Darma kembali. Olivia tetap diam tak menjawab.


"Hmmm..." Darma mendekatkan wajahnya pada Olivia, kemudian mengernyitkan matanya, bingung. Olivia terkaget dan memundurkan wajahnya.


"ihhhh apaan sih?" Olivia mendorong wajah Darma. Ah jantungnya kembali berdebar kembali.


"wuahhh akhirnya bicara" senang Darma.


"tapi, aneh" ucap Darma melihat ke atas.


"padahal tadi siang Boss udah maafin aku" gumam Darma menempelkan jari telunjuk dan jempol pada dagunya.


"tapi kenapa masih marah yah?"


Olivia menghela napasnya, kemudian memainkan laptopnya. Kemudian diapu terkejut, lalu menempelkan tangannya pada kepalanya, pusing. Oliviapun dengan segera memanggil seseorang lewat ponselnya.


"tolong revisi file 23 ini" sentaknya.


"gimana sih kok gini? Harusnya kan saya suruh pengeditan ulang"


Oliviapun dengan segera menutup teleponnya.


Darma menatap merinding Olivia. Nampaknya Olivia sedang bulan merah, hingga dia marah - marah seperti ini. Darmapun mengingat kembali hari kemarin ketika dirinya sedang makan siang bersama Olivia, kemudian ada salah satu karyawan yang menelepon dan melaporkan kesalahan, menghilangkan file program.


"Oh iya tidak apa - apa. Suruh tim programing membuatnya lagi aja. Kemudian revisi lagi" jawab Olivia dengan senyuman.

__ADS_1


Mengingat senyuman Olivia itu, Darma jadi menginginkan senyuman Olivia itu kembali. Sekarang Bossnya itu bahkan menjadi dingin kembali. Apa yang harus dilakukan Darma?


"anu Boss..."


Olivia menatap Darma dengan menyeramkannya. Hiiiiihhhhh.... Bulu kuduk Darma langsung merinding melihatnya.


"ada yang mau aku obrolin" ucap Darma.


"obrolin apa?" tanya Olivia dengan juteknya.


"wahahahaha... Akhirnya di jawab" senang Darma menempelkan kedua tangannya.


Darmapun menghembuskan napasnya. Kemudian menatap Olivia dengan serius. Dirinya harus berani untuk membujuk Olivia agar mau berbaikkan dengan Bu Arini.


"Boss..." panggil Darma kembali. Olivia diam memainkan laptopnya.


"aku kepikiran terus..."


"apa tidak apa - apa Boss terus seperti itu sama bu Arini?"


Olivia langsung menoleh pada Darma, setelah mendengar kata Arini, ibunya itu.


"aku tak tahu apa yang dilakukan bu Arini sama Boss dulu? Tapi bu Arini... "


"cukup!" Olivia mengacungkan tangannya pertanda obrolannya harus di hentikan.


"... Bu Arini sudah meminta maaf sama Boss. Dia sangat merasa menyesal..."


"SUDAH DARMA!"


BAKKK... Olivia menggebrak mejanya.


"AKU BILANG CUKUUUPPP!!!" teriak Olivia.


Darma terdiam kaget menatap Olivia.


"Mau mu apa sih?" sentak Olivia.


"mauku ingin Boss..."


"keren?" tanya Olivia dengan manatap tajam.


"apa kamu pikir kamu akan terlihat keren jika mencampuri urusan orang lain?"


"aku melakukan itu bukan karena ingin terlihat keren"


"LANTAS MAUMU APA?" teriak Olivia. Dirinya sudah tak tahan lagi. Olivia mulai menitikkan air matanya.


Sebenarnya dirinya tidak ingin membentak Darma seperti ini. Tapi menurut Olivia, yang Darma lakukan sudah berlebihan. Mengapa dirinya begitu ikut campur dalam urusan keluarganya? Itu sudah di luar batas.


"KENAPA KAMU IKUT CAMPUR URUSAN KELUARGAKU?"


"EMANGNYA KAMU TAHU KELUARGAKU SEPERTI APA?"

__ADS_1


"EMANGNYA KAMU MERASAKAN APA YANG KU ALAMI?"


"KAMU TAHU APA?"


"TAHU APA DARMA?"


"HEHHHH!?!?" Olivia menitikkan air matanya tiada henti.


Darma merasa iba melihat Olivia menangis seperti itu. Dia jadi bingung, apakah yang di lakukannya benar? Apakah benar dirinya harus ikut campur urusan keluarga Olivia? Darma menatap Olivia yang tengah menangis. Melihatnya menangis seperti itu membuat dirinya merasa tak tahan. Ingin sekali Darma segera menghapus air matanya itu.


"Aku hanya..."


"... Peduli sama Boss" jawab Darma dengan lirih.


Olivia terdiam menatap Darma. Dadanya semakin sakit. Kenapa Darma harus peduli padanya, jikalau Darma menyukai Diana? Itulah yang ada dalam batin Olivia.


"aku tidak mau Boss menyesal nantinya"


"Heh, menyesal?" sinis Olivia.


"aku ingin Boss merasakan kebahagiaan dengan kedua orang tua Boss selagi mereka masih ada"


"hah?"


"jika Boss lihat di luar sana. Lihat Ucup dan adik - adiknya. Mereka sangat ingin melihat dan bermain bersama kedua orang tuanya. Mendapatkan kebahagiaan dan kasih sayang kedua orang tuanya. Namun, Ucup dan adik - adiknya tak punya kesempatan itu lagi. Ibunya sudah tidak ada. Bahkan ayahnya hilang entah kemana."


Darmapun memegang bahu kiri Olivia. Olivia terkejut melihat Darma memegang bahunya.


"syukurlah, Boss masih punya orang tua di dunia ini" Darma, matanya mulai berkaca - kaca.


"bahagiakanlah dia Boss. Bahagiakanlah Bu Arini. Selagi ia masih bisa bernapas di bumi"


Olivia menatap Darma. Matanya yang berkaca - kaca begitu indah penuh dengan ketulusan. Kata - kata Darma yang lembut mulai menggetarkan hatinya.


"Ingatlah, Bu Arini pernah mengandung Boss selama 9 bulan. Ingatlah, ia pernah memberi Boss air susunya. Ingatlah ia yang mengurus Boss sewaktu kecil"


Olivia semakin tak kuasa menahan air matanya, ia mengingat dirinya bermain saat waktu kecil dulu.


"ayo kejar ibu, Ati" ucap Bu Arini berlari pelan pada Olivia kecil. Olivia kecilpun mengejar Bu Arini.


Bu Arini memelankan larinya agar Olivia kecil menangkapnya. Dan akhirnya, Olivia kecilpun berhasil menangkapnya.


"wah ibu tertangkap"


"hole... Ibu teltangkap" senang Olivia kecil.


"haha... Pinter anak ibu ini" Bu Arini pun memeluk Olivia kecil.


Namun Olivia membenci semua itu. Pada saat Bu Arini mulai membuat bisnis dengan ayahnya, Irwan. Bu Arini seolah melupakan Olivia. Bu Arini hanya sibuk mengurus bisnisnya, sementara Olivia mulai di asuh oleh kakaknya, Arina Jelita. Terlebih lagi setelah Arina meninggal. Semuanya menjadi parah. Bu Arini bahkan menuduh Olivia sebagai penyebab kakaknya Arina meninggal. Mengingat hal itu, membuat Olivia semakin kesal dan membenci ibu nya itu. Dan Sekarang, yang membara dalam hatinya hanyalah api amarah.


"Darma, aku tak akan memaafkan dia" ucap Olivia dengan nada amarah.


"kenapa Boss?"

__ADS_1


"kamu mau dengar? Baiklah aku ceritakan"


Bersambung...


__ADS_2