The Garabagan

The Garabagan
Epesode 59 : Bukkk!!!


__ADS_3

"Iya. Aku suka dia" jawab Diana "Aku suka dia Nes"


Agnes tersenyum, kemudian melotot pada Diana "kejar dong! Bukan cuma diam" kesal Agnes.


"masa cewek yang ngejar cowok sih?"


"emang itu salah?"


Diana terdiam. Inginnya sih Diana mengejar Darma seperti itu. Tapi tidak mungkin, dirinya terlalu takut.


"kalau gak berani. Ya udah lupakan dia" ucap Agnes kemudian.


Mata Diana terjegal menatap Agnes "itu dia!" ucap Diana memegang kedua bahu Agnes. Agnes menatap Diana bingung.


"aku tinggal melupakannya" ucap Diana.


"hah?" bingung Agnes bukan itu maksud Agnes "tidak... Itu"


"yah itu yang harus kulakukan Nes"


"haaaah!!" Agnes menepak jidatnya pusing.


Kemudian Dianapun mulai berusaha melupakan Darma, akan tetapi itu sangat sulit. Di dalam mimpinya, Diana selalu terbayang wajah Darma. Di saat makan, tempenya malah seperti wajah Darma. Di dalam pikirannya di penuhi oleh Darma. Sulit sekali. Sulit sekali. Sudah seminggu berusaha melupakan, tapi Diana belum bisa melupakan Darma.


Di dalam kamar, Diana pun membuka media sosial facebook. Betapa terkejutnya ia, ketika melihat... Melihat... Saran teman yang ditunjukkan Facebook kepadanya, 'Darma Bledug Zedar'. Dari namanya itu, Diana sudah pasti tahu kalau itu Darma. Diapun menekan ikon menambahkan pertemanan. Permintaan pertemananpun terkirim, namun setelah menekan ikon itu,,,


"Aaaaaaaaaahhhhh!?!!" teriak Diana.


"bagaimana ini? Aku malah menekan tombolnyaaaaaa!!!!" Diana panik.


"bagaimana kalau Darma tahu? Bagaimana kalau... Kalau... Dia dapat notifnya"


Belum juga satu menit, Dianapun melihat notif pemberitahuan bahwa Darma menerima pertemanan nya. Diana menatap ponselnya tak percaya, dan...


"Aaaaaaaaaahhhhh!?!!" teriak Diana tidak percaya.


"ada apa sih brisiiiiiiiiiikkkkkkkk??" teriak Tenri, ibu dari Diana, Membuka pintu kamar Diana.


"maaf mah maaf" jawab Diana dengan keadaan riang.


"dah jangan berisik lagi! Mamah mau lanjut tidur"


"iya mah. Mimpi indah yah" jawab Diana.


Bu Tenripun menutup pintu kembali dan kembali bobo cantik di kamarnya.


"Brissssssiiiiiiiikkkkkkkk!!!" ucap seorang pria berkumis tipis membuka pintu kamar Diana kembali, dia adalah Beni ayahnya Diana.


"telat!" ucap Diana menatap ayahnya itu dengan datar.


"Oh" jawab ayahnya salah tingkah


"yahhh..." Ayahnya bingung "baiklah ayah tidur dulu. Jangan berisik lagi"


"iya ayah"


Ayahnya itu menutup kembali pintu rapat-rapat. Diana langsung memeluk bantalnya, kemudian telungkup memandangi ponselnya. Diana tersenyum menatap layar ponselnya.


"baiklah. Aku akan berjuang sekali lagi" ucap Diana tersenyum.


Seminggu kemudian, Diana mendengar bahwa Yopi telah menyatakan cintanya lewat surat. Akan tetapi tidak ada yang tahu setelah itu. Apakah mereka jadian atau tidaknya.


Diana jadi gugup jadinya. Dia benar-benar takut mereka jadian. Sampai beberapa hari Diana dilanda rasa gelisah. Mau bertanya tapi merasa malu, tidak bertanya dia penasaran. Ah Diana jadi bimbang.


Disaat di lapang, Diapun menatap Darma dari kejauhan.


"Aku akan mencoba melupakanmu lagi, Darma" ucapnya.


"apa yang kamu katakan?" ucap Agnes dari belakangnya. Dianapun menoleh.


"Agnes?"


"belum juga melangkah. Udah menyerah" lanjut Agnes


"aku gak berani Agnes"


"kalau begitu, beranikan dirimu"


"aku tidak bisa"


Haahhhh... Agnes menghembuskan napasnya. Apa yang harus dia lakukan kepada sahabatnya ini? Melupakan tidak bisa, berjuangpun tidak mau.


"ikuti kata hatimu, Na. Apa yang kamu inginkan?"

__ADS_1


Diana hanya terdiam tak bisa menjawab. Agnespun kembali tersenyum.


" Darma mungkin sudah jadian dengan Yopi" ucap Diana.


"mereka tidak jadian" jelas Agnes


"hah?" kaget Diana.


"aku sudah tahu dari Billy dan Firda. Mereka tidak jadian. Darma menolaknya?"


"t-tapi kenapa?"


"mungkin saja dia menyukaimu"


Mata Diana membulat mendengar perkataan Agnes itu. Pipinya memerah, tersipu malu.


"ahaha ma-mmana mungkin" gagap Diana membelai rambutnya ke belakang telinga.


"mungkin sajakan?"


Diana menatap Agnes.


"lihat dirimu Diana" tunjuk Agnes pada Diana dengan kedua tangannya.


"Kamu itu cantik. Tidak, sangat cantik. Kenapa kamu tidak percaya diri sekali?"


"apa Yopi jelek?" tanya Diana menekan. Agnes terdiam tidak menjawab.


"Dia itu juga cantik, Agnes. Kurasa Darma tidak memandang fisik"


"ya sudah pendam saja perasaanmu itu"


"hah?"


"sudahlah" Agnes kemudian memegang kedua bahu Diana "Lebih baik kamu fokus pada lomba membuat kerajinan nanti di porseni"


"oh iya" angguk Diana.


"ayo ke kelas" ajak Agnes merangkul Diana. Merekapun berjalan kembali ke kelas.


*****


Dua minggu kemudian Porsenipun di gelar. Semua murid bersiap mengerahkan segala kemampuan terbaiknya untuk jadi yang nomor satu.


Diana sedang mempersiapkan barang-barang kerajinannya untuk mengikuti lomba. Dirinya begitu bangga bisa mengikuti lomba itu, karena dia bisa mewakili kelasnya.


"iya tenang saja. Aku pasti memenangkan lomba ini"


Dianapun membawa alat dan bahan kerajinannya di sebuah kardus menuju tempat lomba kerajinan di adakan, yakni di ruang kelas 12 Tata Boga. Ketika Diana sedang berjalan membawa barang-barang kerajinannya di lapangan, lagi-lagi Diana melihat Darma di depannya tengah duduk di pinggir lapangan. Kala itu juga tengah ada pertandingan sepak bola antar kelas.


Diana merasa gerogi berjalan, dia terus memandangi Darma yang tengah bercanda dengan ketiga temannya. Tertawanya yang indah membuatnya tidak bisa memalingkan pandangannya pada Darma.


Darmapun berdiri dan melihat ke arah Diana. Diana yang sadar dilihat oleh Darma, kemudian memalingkan wajahnya kesamping kiri. Darma berjalan ke arahnya.


"ke-kenapa dia menuju kemari?" tanya batin Diana.


Darma terus berjalan mendekati Diana. Semakin dekat, dan terus mendekat.


Diana tidak bisa menatap Darma, dirinya terlalu takut. Dan ketika Darma sebanjar di samping kanan dengannya, Darma menatap gadis itu. Dianapun juga sama memandang pria yang ia sukai itu. Rupanya Darma sedang menuju kearah yang berlawanan dengan Diana.


Deg... Deg...


Jantung Diana berdetak sangat kencang. Waktu seakan berhenti ketika mereka saling pandang. Namun Tiba-tiba sebuah bola dari arah lapangan mengarah kepada mereka dan mengenai kepala dari Darma.


Bukkkkkk....!!!


"Ahaahaaaaaa!!!" teriak Darma kesakitan.


Darma tersungkur beberapa langkah ke samping mendekati Diana. Diana menatap Darma kaget. Darma kemudian terdiam memegangi kepalanya. Siswa siswi yang menyaksikkan pertandingan bola malah tertawa melihat Darma yang tertabrak bola itu.


"kamu tidak apa-apa?" tanya Diana.


"wohoh" Darma mengacungkan jempolnya, kemudian tersungkur kebelakang pingsan sembari masih mengacungkan jempolnya.


"haaaaaahhhhh!?" panik Diana, kemudian menaruh kardusnya lalu bertunggung, menggoyang-goyangkan tubuh Darma, berharap agar dia bangun lagi.


"Wooooaahhhhhh??" kaget Billy, kemudian berlari mendekati Darma.


Firda dan Arif juga berlari mendekati Darma. Semua siswa siswi yang tadinya tertawa jadi hening melihat ke arah Darma.


Billy kemudian duduk dekat Darma. Arif dan Firda membungkuk melihat Darma.


"Dar kamu gak apa-apa?" tanya Billy sembari menggoyangkan tubuhnya.

__ADS_1


"tidak, aku tidak apa-apa" Jawab Arif menceletuk menatap Billy kesal.


"TENTU SAJA DIA GAK BISA JAWAABBB!!!" teriak Arif.


"woy Darma banguuuuuuunnnnnn!!!" isak tangis Firda.


"jangan mati dulu" lanjut Firda.


Arif menepak kepala dari Firda "itu moncong asal bicara aja yah"


"AKU PANIIIIKKKK" teriak Firda melotot pada Arif.


"sudah kalian ini" henti Billy.


Billy kemudian mengangkat kepala Darma "ayo tolong aku" ucapnya.


"tolong apa?" tanya Firda.


"tolong aku buat cari sempaknya pak Dimas?"


"buat apa?" bingung Firda.


"yah tolongin angkat Darmalah koplak"


"ahahaha" Arif meledek Firda.


"Hih!" kesal Firda.


Arif dan Firdapun ikut menggotong Darma. Para pemain sepak bola yang dilapangan pun dengan segera berdatangan untuk ikut membantu menggotong Darma. Darmapun di bawa ke UKS.


Diana ikut pergi untuk memastikan bahwa Darma baik-baik saja. Dirinya sampai melupakan kardus yang di bawanya.


Setelah Darma di baringkan, dari jendela Diana melihatnya khawatir. Para pemain sepak bola yang tadi ikut membantu menggotong Darmapun kembali lagi menuju lapang untuk melanjutkan permainan. Tim PMI pun datang untuk memeriksa keadaan Darma. Setelah Darma di periksa dan di tangani, Tim PMI pun akhirnya keluar dari ruangan.


"gimana dia?" tanya Diana.


"baik-baik saja" jawab Tia, ketua dari PMI.


"oh Alhamdulillah" syukur tiga sekawan Arif, Billy, dan Firda.


"udah kayak dokter aja yah" celetuk Arif.


"haha" Firda tertawa.


"oh yah! Kalian belikkan obat merek Hudang di apotek" perintah Tia.


"emang gak ada di sini?" tanya Billy.


"sudah habis"


"ehhhhhh" ledek Firda.


"ya udah mana uangnya?" Billy membentangkan tangan kanannya meminta uang.


"ishhhh" kesal Tia, kemudian menyogoh sakunya dan memberikan uang pada Billy.


"Ayo teman-teman kita jalan-jalan" ajak Billy.


"yeahhahaha" senang Firda.


"akhirnya keluar juga. Bosan di sekolah kalau gak belajar" ucap Arif.


Mereka bertigapun kemudian pergi untuk membeli obat Hudang. Diana melihat Darma dari jendela kemudian menatap Tia.


"Tia, apa boleh aku melihatnya?"


"boleh" jawab Tia dingin "asal jangan berbuat yang tidak-tidak"


"eng-enggaklah" jawab Diana tergagap.


"ya udah aku mau ke lapang lagi" pamit Tia.


"iya" angguk Diana.


Dianapun segera masuk ke dalam untuk melihat Darma.


**Bersambung...


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Love U All๐Ÿ’•


Jangan lupa like ๐Ÿ‘

__ADS_1


Comment๐Ÿ’ฌ


Dan Rate 5 nya โญโญโญโญโญ


__ADS_2