
Akupun kemudian bergegas pulang ke rumah untuk melihat jasad kakakku di makamkan. Setelah sampai di rumah, akupun terkejut melihat ramainya orang mendatangi rumah.
Akupun menguatkan hati untuk melihat jasad kakakku. Aku terus berjalan sambil sempoyongan, dan akhirnya akupun melihat kakak yang terbaring tidak berdaya sedang di sholatkan.
Akupun merasa tak berdaya. Air mata di mata ini mulai terjatuh merintik pada pipi. Aku tak percaya semua ini terjadi. Kakak ku yang baik hati dan sering tersenyum itupun kini sudah tiada lagi.
Akupun mulai mendekati jasad kakakku itu. Ayah melihatku dengan api membara di matanya. Diapun kemudian berdiri.
"MAU APA KAMU?" sentak ayahku.
Aku tak mempedulikan ayahku yang marah itu, aku hanya ingin menyentuh kakak untuk yang terakhir kalinya. Akan tetapi ketika aku hendak menyentuh, tangan ayah menarikku.
"MAU APA?" teriaknya membuat semua orang melihat ke arah kami.
"SUDAH PUAS KAMU?"
"SUDAH PUAS KAMU HEH?"
Aku tediam membisu. Aku hanya bisa menangis dengan keadaan ini semua.
"sudah Wan sudah" ucap Ibu menenangkan ayah.
"LIHAT!" ayahku menunjuk kakak yang terbaring.
"ITU SEMUA GARA - GARA KAMU!" ayahku menunjuk diriku. Aku kaget di teriaki seperti itu, dan semakin membuat hati ini merasa pecah saking sakitnya.
"enggak bukan!" jawabku.
"kalau kamu gak ajak kakak kamu waktu itu. Ini semua gak akan terjadi!" ucap ayah mendekati wajahku dengan mata yang melotot.
"pergi kamu sekarang" usir ayahku.
"PERGIII!!!" teriak ayahku.
Aku semakin berderai air mata. Kenapa selalu aku yang salah di mata mereka.
"sabar pak!" ucap seorang ustadz menenangkan ayahku.
"PERGI KAMU DASAR PEMBUNUUUUUH!" teriaknya kembali.
Mendengar teriakan ayahku itu, hatiku di selimuti rasa sedih dan amarah. Di teriaki seorang pembunuh oleh ayahnya sendiri di depan banyak orang. Padahal aku tak melakukan apapun. Ayah macam apa dia ini?
Akupun kemudian pergi dan segera berlari masuk mobil. Di dalam mobil akupun menangis histeris. Dan dengan segera melajukan mobil pergi dari rumah neraka itu.
Aku menangis sepanjang jalan, sampai Akhirnya karena tidak fokus akupun hampir menabrak motor. Namun syukurlah aku berhasil membelokkannya dengan cepat. Mobilkupun berhenti hampir menabrak pohon.
Akupun membuka pintu mobil, dan kemudian keluar.
"AAAAAAAAAAHHHHH" teriakku pada seluruh alam.
"ini semua salahku!" rintihku kemudian menjatuhkan diri sambil menangis. Disaat itu pula, akupun kemudian teringat wajah - wajah orang yang membunuh kakakku. Akupun mengepalkan jari - jariku.
"ini bukan salahku! Ini salah me... Reka" ucapku kesal.
Keesokkan harinya, aku meminta Renita menggantikanku sementara. Aku minta cuti selama satu minggu. Renitapun menyetujuinya.
Aku memiliki cara menyelesaikan masalahku sendiri kali ini. Yaitu dengan menyiksa dan membunuh kedua orang itu. Akupun merekrut sebuah tim untuk mencari keberadaan kedua orang itu. Orang itu berjumlahkan 6 orang gadis yang bisa bela diri, di antaranya Via. Akupun mulai membeli senjata haram Handgun dari dark web untuk mempersenjatai mereka. Bahkan untuk jaga - jaga, akupun kemudian belajar silat, untuk bela diri.
"jangan bunuh mereka. Biarkan aku yang membunuh mereka berdua" ucapku pada timku.
__ADS_1
"Baik" ucap mereka serentak.
Merekapun mulai beraksi
Alhasil, dalam kurun waktu tiga hari, mereka berhasil menemukan kedua orang itu dan membawanya kepadaku dalam keadaan pinsan. Akupun menyewa sebuah rumah di tempat yang terpencil untuk menghabisi mereka.
"hehhhh... Bahkan merekapun mengalahkan polisi dalam hal mencari" ucapku.
Mula - mula, akupun mengikat mereka di sebuah kursi, kemudian setelah selesai aku pun mengguyur mereka dengan air agar bangun. Merekapun akhirnya bangun dan melihatku dengan sempoyongan. Disana aku hanya di awasi dan di jaga oleh Via, jika ada sesuatu.
"APA MAU LO SET*N?" teriak satu orang pria.
"di... Dimana ini?" tanya pria satunya lagi.
Dorrr!!! Akupun menembak kaki satu orang dari mereka. Saat itu tanganku gemeteran, aku baru pertama kali memegang sebuah pistol.
"AAAAAAAAAAHHHHH!!!" teriaknya kesakitan.
"anj*ng!" umpatnya.
Dorrr!!!
AAAAAAAAAAHHHHH!!!
Akupun kemudian menembak kuping dari satu pria lagi. jujur aku mual melihat darah yang mengalir seperti itu, tapi karena di hatiku sudah di penuhi rasa kebencian, aku tidak memperdulikan itu. Viapun memalingkan pandangannya karena merasa jijik.
"apa yang kalian lakukan terhadap kakak gue?" tanyaku pada mereka.
"TIDAAAKK... TOLOOOONGGG!!!" teriak salah satu pria.
"DIAAAMMM!" amukku.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN TERHADAP KAKAKKU?" teriakku.
"apa kami akan di lepaskan setelah mengaku?" tanya satu prianya lagi.
"iya" jawabku berbohong.
"kami memperk*sanya kemudian mencekiknya sampai mati" ucapnya.
DUAAARRRR... Akupun menembak pria itu tepat di jantungnya. Diapun kemudian tak bergerak kembali. Mendengar hal itu membuat dadaku sakit sekali, aku ingin segera menghabisi mereka di dunia ini.
"AAAHHHHH!!!" teriak temannya itu, menyaksikkan rekannya tewas.
"kenapa?" tanyaku melihat orang itu.
"TIDAK! JANGAN KUMOHON! SAYA MINTA MAAF.."
DOARRRR... Akupun menembak bagian perut pria itu.
"E...AAAAAKKK!" sakit pria itu seperti kehabisan napas, namun dia belum mati.
Aku tak sanggup lagi, aku tak bisa membunuh orang. Aku melihat tangan halusku yang memegang pistol itu.
"VIA" teriaku.
"iya, Boss?" Via menghampiriku.
"kamu yang eksekusi saja, kemudian kuburkan mereka di hutan"
__ADS_1
"baik Boss"
"eksekusinya setelah saya berada di luar yah!"
"baik Boss"
Akupun berjalan pergi ke luar, dan setelah aku menapakkan kaki ku di luar, kemudian terdengarlah suara ledakan pistol. Akhirnya semuanya pun berakhir. Kedua orang itu telah tamat. Timku pun menguburkan mereka di hutan. Aku telah menjadi orang yang ayahku sebutkan, sang pembunuh.
*****
"Sejak saat itu hingga sekarang, aku tak pernah menemui kedua orang tuaku lagi. Aku terlalu membenci mereka, aku juga merasa malu. Aku tak ingin lagi, Darma" Olivia kemudian mengusap air matanya.
"HUEEEEEKKKK!!!" Darma menangis.
"EH KAMU MENANGIS?" kaget Olivia.
"habisnya, sedih sekali cerita Boss ini"
"ah sudahlah" Olivia bingung harus melakukan apa, melihat Darma menangis seperti itu.
"tapi ada action dan thrillernya juga" lanjut Darma.
"hehe" Olivia jadi tersenyum geli dengan perkataan Darma.
"apa Boss benar - benar menembak mereka?" tanya Darma.
"iya. Aku melakukannya" jawab Olivia menundukkan kepalanya malu, kemudian mengusap air matanya.
Darma terdiam harus berkata apa, ternyata Olivia adalah seorang mafia.
"aku menjijikkan yah Darma?" Olivia terkekeh menertawai hidupnya yang hancur itu.
"apa yang Boss katakan?" ucap Darma mendekati Darma.
"Boss itu orang yang hebat" Darma menatap Olivia.
Olivia pun menatap Darma yang malah memujinya. Wajah Darma terlihat bersinar kembali. Jantungnya berdebar tidak karuan pipinya memerah. Bahkan setelah mendengar, dirinya telah membunuh orang, Darma malah tetap memujinya.
"Boss adalah orang yang tetap kuat walaupun keadaannya benar - benar berat. Boss tetap bisa berdiri..." Darma tersenyum.
Mata Olivia semakin terkesima melihat Darma yang terus memujinya itu. Apalagi di tambah dengan senyuman manisnya. Ah membuat jantung Olivia berdegup kencang.
"...walau dunia sedang tidak berpihak pada Boss" Darmapun mengangguk kemudian melihat wajah Olivia dengan serius.
"Boss adalah orang yang hebat. Jadi jangan lagi merendahkan diri sendiri"
"tidak semua orang bisa sekuat dan setegar Boss"
"Boss ini orang terkuat yang pernah aku temui"
"Darma" ucap Olivia menatap wajah Darma. Wajah Darmapun memerah dilihati oleh Olivia seperti itu.
Olivia menatap dengan jelas wajah Darma. Kenapa rasanya, hanya Darma sangat mengerti Olivia. Walau biasa saja di tambah kelakuan konyolnya, tapi itu semua membuat perasaan Olivia jadi lega.
"Darma" panggil Olivia.
"iya" jawab Darma.
Olivia berkedip lambat menatap wajah Darma. Hatinya terus berdebar tidak karuan. Akan tetapi Oliviapun tersadar bahwa Darma menyukai Diana. Itu membuat dadanya sakit kembali.
__ADS_1
Bersambung...