
"kemana sih lama banget?" ucap Olivia melihat jam di tangan kirinya.
Sementara itu,
Aaaaaaaa..... Ringis Darma. Jikalau hidup Darma akan berakhir hari ini, dia merasa akan lega karena sedang membantu orang. Dirinya bisa mati syahid seperti yang dikatakan Ustad Steven.
Darma terus memeluk tas milik Olivia itu, tak membiarkan para preman itu menyentuhnya. Preman berambut panjang mulai kesal, diapun lalu mengjungkir balikkan Darma. Darma tergeletak sembari memeluk tas yang di pegangnya.
Preman yang berjaket kulit lalu bangun dan ikut menendangi Darma. Mereka nampak senang memukuli Darma. Keadaan jalan kala itu juga memang lagi sepi. Jadi mereka dengan leluasa bisa memukuli Darma.
*****
"hiss! Apakah dia kesal, dan balik lagi ke kantor?" gerutu Olivia kesal.
Diapun lalu parkir memutarkan mobilnya kemudian menginjak gasnya melaju ke arah kantor kembali.
Di trotoar akhirnya Olivia melihat seorang pemuda yang tengah dikeroyok oleh dua orang. Dia melewati mereka, mencoba supaya tidak ikut campur. Namun rasa-rasanya Olivia nampak tidak asing dengan seragam yang di pakai orang yang tengah di keroyok itu.
"Jas pink?" tanyanya dalam hati. Iapun lantas teringat Darma.
Olivia segera menginjak remnya, lalu keluar dari mobil.
"Woyyyyyy!!!" teriak Olivia.
Darma dengan Darah yang bercucuran di wajahnya melihat Olivia.
"Boss lariiiiiii!!! Ada siluman biyawaaaaakkkk" teriak Darma. Para preman itupun lalu melihat ke arah Darma dengan melotot kesal. Darma lalu ditendang punggungnya.
"ohoooo" Darma kesakitan.
Olivia yang melihat Darma di perlakukan seperti itu, langsung mengepalkan kedua tangannya. Marah, sangat marah. Dia tidak akan memaafkan para preman itu.
"Haaaaahhhhhhh!!!" Teriak Olivia berlari mengamuk ingin menghajar para preman itu.
Pukulan tangan kanan Olivia berhasil mendarat pada wajah pria gondrong. Kemudian Olivia menendang perut dari preman yang memakai jaket kulit.
Pria gondrong tak terima, Iapun mengarahkan pukulan. Akan tetapi Olivia bisa menangkis dan melempar preman gondrong itu. Olivia lalu menginjak wajah dari preman itu. Otomatis preman itu lalu pingsan.
Preman berjaket kulit melihat itu, iapun lalu mengamuk dan mengeluarkan sebuah pisau. Dia kemudian mencoba menusuk Olivia, namun Olivia mampu memegang tangan yang memegang pisau itu, lalu mematahkan tangannya.
Kreeeeekkkkkkkk!!!
Aaaaaaaaaahhhhh!!! Teriak preman itu.
Olivia lalu menendang pisau itu jauh-jauh. Kemudian menginjak-injak dada dari preman berjaket kulit itu sampai pingsan.
Ohok...Ohok... Darma terbatuk mengeluarkan darah. Kemudian melentangkan tubuhnya. Diapun kaget, ternyata para preman yang memukulinya sudah tergeletak pingsan. Dia melihat yang melakukannya pasti Olivia.
Oliviapun segera mendatangi Darma, bertinggung kemudian mengangkat dan menahan kepala Darma.
__ADS_1
"kamu gak apa-apa?" tanya Olivia.
"kamu?" kaget Darma, Olivia tiba-tiba memanggilnya dengan "kamu", benar-benar kejutan.
"lihat Boss! Tasnya tidak apa-apa" jawab Darma menunjukkan tasnya. Olivia menatap Darma.
"DASAAAARRRR BODOOOOHHHH!!!" teriak Olivia. Darma terkaget.
Olivia menitikkan air matanya. Betapa bodohnya pemuda ini, sampai-sampai mengkhawatirkan tasnya ketimbang nyawanya sendiri.
"Tas itu bisa ku beli lagi! Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?" Olivia marah menatap Darma. Dia merasa sakit melihat Darma kesakitan.
"tak perlu beli. Ini masih ada" jawab Darma mengangkat tas itu dengan santai.
Olivia bingung dengan sikap Darma. Padahal dirinya sudah berlumuran darah seperti itu tapi malah membahas tasnya. Olivia menatap Darma dengan seksama. Sampai terlihat jelas wajah tampan dari Darma yang berlumuran darah. Demi mengantarkan tasnya, Demi mengantarkan tasnya, Darma rela berlumurun darah seperti ini, melawan para penjahat itu.
"sudah cukup. Aku menyerah!" batin Olivia. Olivia mengelus pipi dari Darma.
"Ternyata aku memang menyukai pria ini" Olivia memegang erat Darma.
Olivia berkedip lambat. Apa yang dilakukannya pada Darma selama ini? Kenapa dirinya selalu berbuat jahat pada Darma. Hanya dikarenakan demi balas dendam waktu kecilnya. Padahal Darma dulu hanya anak kecil yang belum tahu apa-apa.
Darmapun bingung menatap Olivia.
"kenapa Boss marah? Bukankah aku sudah melakukan tugasku?" ucap Darma kesal.
"eh?" Olivia tercengang dengan perkataan Darma.
"aku sudah berhasil mempertahankan tas ini" lanjutnya. Darma benar-benar tidak mengerti lagi, kenapa Olivia harus memarahinya padahal Darma sudah melakukan tugasnya. Kenapa yang dilakukannya selalu salah.
"yang harusnya Boss marahi itu preman-preman itu yang sudah mengambil tas Boss"
Olivia tersenyum menatap Darma. "Benar-benar orang aneh" batin Olivia
"tapi..."
"Aku suka"
Olivia terus melihat Darma mengoceh tiada henti. Terlintas di benaknya ingin untuk mencium Darma, agar dia berhenti bicara. Tapi tidak mungkin kan? Emang dirinya siapa?
"Yahah tapi preman itu sudah dapat bogem dari..." Olivia menutup mulut Darma yang terus bicara. Dia tersenyum kemudian berkata,
"sudah cukup bicaranya! Ayo ke rumah sakit" ajak Olivia dengan lembut.
"hmmmm" Darma mengangguk.
Darmapun berdiri di bantu Olivia. Darma menatap Olivia, ini bukan mimpi kan? Hatinya bertanya-tanya. Seorang Olivia membantunya, itu betul-betul kejadian yang langka untuk ditemukan. Oliviapun membantu memapah Darma menuju mobilnya. Setelah Darma di dudukkan di kursi belakang. Olivia lalu menelepon polisi tentang kejadian ini. Setelah itu ia masuk kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Darma masih menatapnya bingung. Kemudian mengingat kembali kejahatan Olivia terhadapnya.
__ADS_1
Saat Olivia menyuruhnya berangkat pukul tiga subuh dan di suruh membawa besi dalam tasnya ke lantai 24 naik tangga di hari pertama dia kerja. Kemudian sebuah ember yang berisi air berwarna putih mengenai kepalanya, kemudian ketika matanya perih akibat semprotan yang di pasang di tong sampah, dan masih banyak lagi. Darma tahu itu semua ulah Olivia. Tapi Darma tak tahu atas dasar apa Olivia melakukan itu semua pada Darma. Tapi Darma selalu memaafkan Olivia atas perlakuannya.
Dan sekarang dia membantu Darma. Darma merasa senang, Olivia perlahan mulai jadi baik terhadapnya.
Olivia melihat Darma yang tengah tersenyum di kaca spion dalam. Iapun lalu ikut tersenyum senang.
Beberapa menitpun polisi berdatangan ke tempat kejadian. Disana Olivia sudah menulis "tangkap penjahat-penjahat ini". Polisi langsung menangkap mereka, karena mereka juga sudah lama di cari oleh pihak kepolisian. Dengan bantuan Olivia akhirnya mereka tertangkap juga.
Darma kemudian dilarikan kerumah sakit dekat dengan tempat kejadian perkara. Olivia lalu membantu memapah Darma berjalan ke rumah sakit.
Darma lalu di periksa dan ditangani oleh Dokter. Kemudian diapun di suruh menginap selama tiga hari oleh pihak rumah sakit. Selama proses di periksa dan pengobatan, Olivia selalu berada di sisinya menemani Darma.
"wuaw aku di perban" kagumnya melihat kepalanya di perban di cermin.
"malah bangga?" heran Olivia.
"kayak di film-kan? " tanya Darma sama Olivia.
"hehe" Olivia hanya tersenyum.
Oliviapun menundukkan kepalanya, dia jadi merasa bersalah. Karena dirinya, Darma jadi seperti ini.
"Darma..." ucap Olivia.
"iya Boss" jawab Darma.
"Ma...." Olivia jadi gugup meminta maaf pada Darma.
"Ma?" bingung Darma, "Makan?"
"bukan"
"terus?"
"Ma..." ucapannya terhenti kembali. Rasanya sulit sekali untuk meminta maaf pada Darma. Seperti suaranya ada yang menahan di kerongkongannya. Darma menatap Olivia bingung.
"Darma..."
"iya aku"
"sorry for all my mistake, and thank you for your kindness to me" ucap Olivia dengan bahasa inggris. Karena malu Oliviapun lalu pergi ke luar.
"Oh..." Darma melongo "yes!" lanjutnya...
Bersambung...
Jangan lupa like 👍
Comment💬
__ADS_1
Dan Rate 5 nya ⭐⭐⭐⭐⭐