The Garabagan

The Garabagan
Episode 31 : Gaji


__ADS_3

Darma penasaran, dia lalu memegang foto background biru itu kemudian mencabutnya secara perlahan... Perlahan... Perlahan mulai terlihat rambut orang dari foto itu.


"Heyyyy" teriak Olivia.


Darma menoleh, dan betapa terkejutnya ia ternyata itu adalah Olivia.


" Boss" ucap Darma. Olivia berjalan menghampirinya.


"do... Dompet gue!" Olivia mengulurkan tangannya meminta dompetnya.


"oh ini tadi ketinggalan di meja" Darma memberikan dompetnya ke tangan Olivia. Langsung Olivia membawanya dengan secepat kilat.


"gak sopan banget sih lo" sentaknya.


"eh?" bingung Darma. Salah lagi kan!


"lihat-lihat isi dompet atasan! Disini tuh banyak barang-barang penting tahu gak?" mengacungkan dompetnya.


"Aku cuma lihat foto-foto Boss kok" jawab Darma "tidak melihat yang lain"


"oh atau lo mau ambil ATM gue, iya?"


"ih gak... Gak" Darma menggelengkan kepalanya "Aku tidak akan melakukan hal itu. Aku cuma lihat dompet Boss di meja, kemudian aku berniat menyimpannya habis itu aku kasih ke Boss. Tapi tadi terjatuh dan terlihat foto Boss, kemudian hanya melihatnya, Gak ada niatan lain, demi Allah"


Olivia memandang Darma tajam.


"kalau lo nemuin barang pribadi gue, lo gak usah kepo lagi. Cukup kasih ke gue langsung saja"


"iya siap boss" Darma memberi hormat.


"ya udah. Gimana kerjaan lo udah beres?"


"sedikit lagi" Jawab Darma menunjukan tangannya membentuk tanda sedikit.


"Lo harus beresin malam ini juga. Baru lo bisa pulang!"


"Baiklah"


Olivia membalikan badan melangkah menuju pintu keluar.


"Boss" panggil Darma. Olivia menoleh ke arahnya.


"hati-hati di jalan" ucap Darma.


Olivia pergi tak menghiraukan perkataan Darma.


*****


Di dalam mobil Olivia membuka dompetnya, kemudian melihat foto kusamnya dahulu waktu SD.


"untung dia gak lihat!" Olivia membenturkan kepalanya pada setir "b*go banget sih gue"


*****


Darma akhirnya pulang ke kosannya, setelah dia selesai mencatat semua jadwal Olivia lalu menyimpannya di flashdisk yang dia bawa. Darma langsung membaringkan tubuhnya ke kasur lantainya, untuk membuang semua letih dan lelah. Saat itu malam sudah larut, Ferdian juga tak mengunjungi kosannya.


Di tengah dia sedang memejamkan matanya. Handphone miliknya berbunyi, membuat dia terperanjat bangun kembali.


Dia kemudian melihat Handphonenya, ternyata itu dari emak. Darma mengangkatnya.


"Hallo mak"


"Hallo, Assalamualaikum Darma"


"Waalaikumsalam mak, gimana sehat di sana?"

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat atuh."


" Darma gimana?" sahut abahnya mengambil telepon dari emak.


"Haha... Alhamdulillah"


"iya Alhamdulillah atuh, gimana pekerjaannya lancar?" tanya Abah.


Darma bingung mau bercerita, apa dia harus memberitahu emaknya kalau dirinya selalu di jahili di kantor bahkan mendapatkan perlakuan buruk dari atasannya. Ah tidak, dia tak ingin membuat orang tuanya khawatir.


"lancar bah" jawabnya berbohong.


"Alhamdulillah atuh lancar mah"


"sini atuh, emak juga mau bicara dengan Darma" pinta emak di telepon pada Abah kevin.


"ini ayang mbeb" jawab abah memberikan teleponnya. Darma tersenyum geli mendengarnya.


"Darma jangan lupa yang 5 waktunya"


"iya mak"


"jangan lupa jaga kesehatan"


"iya mak"


"jangan lupa cari jodoh juga di sana!" saut abah.


"hah?" kaget Darma.


"ah, tidak! Itu mah terserah kamu mau cari di sana atau cari di sini juga!" ucap Emak.


"haha iya"


"yang pasti cepat sempurnakan ibadah atuh"


"iya emak dan abah pasti do'akan"


"gimana kabar mang Abuy?"


"sehat dia"


"oh syukurlah"


"ya udah atuh Darma, udah malam"


"iya mak"


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Teleponpun di tutup. Darma kemudian berbaring kembali di kasur kemudian tertidur pulas di sertai bunga-bunga mimpi indahnya.


*****


Beberapa hari berikutnya, Darma selalu di sibukkan dengan Banyaknya pekerjaan. Di tambah lagi dia harus selalu mencuci mobil Olivia tiap tiga hari sekali. Alhamdulillah, Olivia jadi jarang menjahilinya. Mungkin Olivia mau membiarkan Darma bernafas dulu di tengah padatnya tugas perusahaan.


Dia telah di daftarkan BPJS dan ATM Bank. Untuk mendapatkan haknya sebagai karyawan seperti yang di jelaskan di website. Dia juga sudah terbiasa hidup sendirian tanpa adanya Diana.


Sudah hampir sebulan Darma berada di perusahaan ini, dan Hari ini adalah Hari Gajian. Darmapun tengah menghadap lngsung Olivia, untuk mengambil gajinya.


"Ini gajimu" Olivia menyodorkan sebuah Slip penarikan.


"lima ratus ribu?" Darma terkejut, padahal waktu dia mau daftar di perusahaan ini di iklan gajinya sebesar 5 juta sebulan.

__ADS_1


"iya" jawab Olivia.


"tapi kata di website Destinycorp.com katanya 10 juta sebulan?"


"Itukan hasil dari gimana hasil kerjamu"


Darma berfikir, bukankah selama dia bekerja dia tidak pernah melakukan kesalahan yang sampai fatal?


"apa aku sering membuat kesalahan?" tanya Darma.


"Banyak" jawab Olivia "Lagiankan sepuluh juta itu untuk pekerjaan yang di sebutkan di loker. Lo kan jadi Asisten gue!"


"Tapi bukankah, Jadi Asisten itu lebih tinggi?"


"siapa bilang!"


Darma terdiam, gajinya ini sangat sedikit, dia hanya bisa menggunakan untuk membayar kosannya saja. Bagaimana untuk dirinya makan? Bagaimana untuk kebutuhan sehari-harinya? Dompetnya sudah kosong sekarang, karena membantu mencari ayahnya anak-anak. gaji ini tak masuk di akal, bagaimana perusahaan besar bisa menggaji sekecil ini? Lagiankan UMR Jakarta 4 juta ke atas.


"Boss, ini hanya cukup untuk bayar kosanku saja"


"lah terus? Emang gue peduli" jawabnya dengan ketus.


Darma terdiam mendengarnya, apa dia harus melawan ketidakadilan ini?


"Boss, tolong jangan begini boss, ini tidak sesuai dengan yang tertera di website. Lagiankan UMR disini sebesar 4 ke atas"


"Dengar ya! Ini perusahaan gue. Aturan gue. Gue juga udah ajuin surat ijin sama pemerintah. Mau ambil atau tidak? kalau tidak gue ambil lagi. Itu terserah lo!"


Darma berusaha menabahkan hatinya, Kemudian tersenyum kepada Olivia. Dia lalu membalikan badannya berjalan keluar untuk mencairkan uangnya di bank.


"Rasain lo! Mati mati lo di sini!" ucap Olivia tersenyum.


****


Di kosan Darma bingung, kalau dia membayar uangnya besok, bagaimana untuk kebutuhan makan dan hidupnya? Dompetnya sudah tiada lagi uang. Ah dia benar-benar bingung.


Tok-tok! Suara ketukan pintu terdengar di telinganya. Darma kemudian membukanya, ternyata itu adalah bu Arini, pemilik kosan tempat tinggal Darma.


"Udah waktunya bayar kosan" ucapnya.


"duh bu, kalau hari ini belum ada" ucap Darma berbohong.


Dia harus berbuat apa? Kalau dia jujur bagaimana dia makan?


"kamu belum gajian?" tanya bu Arini.


Sekarang Darma bingung. Mau jawab apa? Benar kata orang, kalau kita satu kali berbohong maka akan banyak kebohongan lain yang di buat.


"udah bu. Tapi gajiku cuma 500 ribu" akhirnya Darma jujur.


"itu ada"


"tapi kan hanya pas buat bayar kos aja. Nanti untuk biaya hidup aku harus apa?"


"saya tidak mau tahu, Itu urusanmu. Kalau mau tinggal di sini, kamu harus bayar. Kemarin ada yang pesan kamar, tapi karena kamarnya penuh jadi saya tolak. Jika kamu tak membayarnya akan saya berikan kamar ini pada orang itu."


Darma terdiam sejenak, kemudian menarik nafasnya dan menghembuskannya panjang.


"boleh aku minta waktu satu minggu lagi bu?"


Bu Arini diam berfikir.


"ya sudah saya kasih kamu satu minggu lagi. Kalau kamu tidak bisa bayar juga, kamu harus out dari sini"


"baiklah bu"

__ADS_1


Bu Arini kemudian pergi dari kamar Darma, dengan keadaan marah. Darma melihat kepergian Bu Arini. Dia kemudian melihat ke atas, berharap tuhan akan membantunya.


Bersambung...


__ADS_2