
Di dalam ruangannya, Olivia tengah melihati Darma yang tengah bekerja memasukkan data di Komputernya sambil bernyanyi dan headseat yang terpasang di telinganya. Olivia merasa malu dengan kejadian di depan lift. Tapi Darma nampak biasa - biasa saja setelah kejadian tadi.
"tapi dengan satu syarat" Olivia mengacungkan jari telunjuknya.
"ehhhh apa syaratnya?"
"jangan hilangkan sifat cerewetmu itu"
"kenapa? Bukankah Boss membencinya?" bingung Darma.
"aku..." Olivia melihat mata dari Darma "menyukainya"
"hah?" kaget Darma. Jantungnya sampai berdetak kencang mendengar perkataan Olivia.
Olivia membulat kaget. Dirinya barusan mengucapkan kata suka? Astaga Pipi Olivia langsung memerah. Jantungnya berdebar kencang kembali. Dia tak sadar dengan apa yang dikatakannya barusan.
"ma-maksudnya apa Boss?" gagap Darma.
"ah?" bingung Olivia, "itu..." Olivia jadi gugup, dia tak tahu harus berkata apa.
"sudahlah! Sekarang kita banyak kerjaan"
"ehhhh benarkah?" kaget Darma percaya, padahal aslinya tidak terlalu banyak pekerjaan hari ini.
"iya" jawab Olivia memalingkan wajahnya.
"sekarang ka-kamu lewat tangga sana" tunjuk Olivia pada tangga.
"Huahhhhh bukankah lift untuk semuanya?" heran Darma dengan hebohnya.
Aaaaaaaaaahhhhh... Kenapa Olivia malah menyuruh Darma naik tangga. Ini pasti dikarenakan kegugupannya berhadapan dengan Darma.
"iya..." Olivia berpikir sebentar untuk mencari alasan. Entahlah, Olivia merasa kini dia tidak bisa berpikir dengan tenang, dia jadi salah tingkah seperti ini. Dia juga tidak mau naik lift bersama Darma, itu akan membuatnya canggung.
"untuk sekarang naik tangga dulu"
"kenapa?"
"itu... P-perintahku"
Darma memandang Olivia dengan rasa bingung. Dia jadi kepikiran, mungkinkah Olivia merasa tak nyaman bila dekat dengan dirinya.
"baiklah Boss" Darmapun dengan segera membalikkan badannya dan berjalan menuju tangga.
"tu..." Olivia mencoba mengehentikan langkah Darma. Hatinya merasa tak enak menyuruh Darma menggunakan tangga untuk ke lantai atas. Tapi dirinya merasa malu, akan tadi Perkataannya pada Darma. Dia takut canggung bila naik lift bersama Darma.
"Aaaaaaahhhhh.... Aku bodoh sekali" batin Olivia. Dirinya menggaruk - garuk atas kepalanya walaupun tidak gatal. Dirinya benar-benar pusing mengingat sikapnya tadi, kenapa dia berkata dan melakukan hal yang bodoh.
Olivia kemudian teringat tadi Darma yang memohon minta maaf padanya. Mengingatnya Olivia jadi senyam - senyum sendiri. Cara Darma yang meminta maaf seperti itu, bisa terbilang berlebihan dan terlalu lebay. Namun itulah sisi menariknya bagi Olivia, Dia belum pernah melihat orang yang meminta maaf seperti itu sebelumnya. Darma juga tadi menggenggam tangan Olivia, Ah Olivia jadi melihat tangannya yang tadi di pegang Darma. Olivia tersenyum melihat tangannya.
__ADS_1
"dasar orang aneh" batin Olivia sembari matanya melihat Darma yang tengah bekerja dengan serius menatap layar komputer sambil mengetik di keyboardnya.
Kemudian Olivia jadi teringat perkataan Renita.
"tapi yah lo harus segera memberitahu dia tentang perasaan lo yang sesungguhnya" ucap Renita kemudian pergi sambil melambai pada Olivia.
"nanti keburu orang lain loh yang lebih dulu" lanjut Renita.
Seketika Olivia mengingat percakapannya dengan Laila.
"hey Laila" panggil Olivia.
"iya"
"kamu suka Darma?" tanya Olivia pelan.
"siapa yang gak suka orang seganteng Darma sih Boss?" jawab Laila tanpa ragu.
Laila dengan mudahnya mengungkapkan rasa sukanya pada Darma. Olivia jadi mulai takut, apa yang akan terjadi jika Laila mengungkapkan rasa sukanya pada Darma.
"Jika dia nantinya malah memilih Laila. Apa yang akan terjadi padaku?" batin Olivia dengan mata yang terus memandangi Darma.
Bola mata Olivia mulai menurun melihat ke bawah. Diapun mengedipkan matanya, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Aku tidak harus galau seperti ini" batin Olivia. Matanya kemudian melihat ke arah Darma kembali.
"pertama, aku harus bercerita tentang masa laluku pada Darma. Dia harus mengerti kenapa aku selalu berbuat jahat padanya"
"aku harus bercerita padanya hari ini" Oliviapun mulai berdiri. Dia harus memberanikan diri untuk segera bercerita. Dia ingin Darma tahu bahwa Darma juga pernah menjahati dirinya sewaktu kecil. Oliviapun mulai mengepalkan kedua tangannya, untuk menambah kekuatan keberaniannya. Baiklah, ini dia... Olivia akan segera beraksi.
"Boss sudah selesai" ucap Darma tersenyum melihat ke arah Olivia.
Olivia pun langsung duduk kembali, pura - pura memainkan laptopnya.
"Ouh bagus. Langsung save aja" balas Olivia sambil mengetik tidak jelas di laptopnya.
"ouh baiklah" angguk Darma kemudian menoleh pada Komputernya lagi untuk melaksanakan perintah Olivia.
"nanti sajalah, istirahat" batin Olivia. Ahhhhh capek deh!
*****
Di ruangan Controller, Darma Adijaya sedang di beri pengarahan oleh pimpinan di sana bapak Handoko. Dengan cepatnya, Darma A mengerti setiap pekerjaan yang akan dia lakukannya.
"Oh hebat juga kamu" puji pak Handoko pada Darma A.
"makasih pak" jawab Darma A dengan datarnya.
"Ok mungkin hari ini, pengenalan nya cukup sampai di sini..."
__ADS_1
"kapan saya mulai kerja pak?" tanya Darma A memotong perkataan pak Handoko.
"Ouh besok kamu sudah mulai Bekerja di bagian editing"
"Oh baiklah"
"ini ID Card mu" pak Handoko memberikan ID Card pada Darma A. Darma A pun mengambilnya.
"makasih pak" Darma menundukkan kepalanya.
"iya sama - sama" pak Handoko tersenyum.
"kalau seragam kamu mungkin besok di kasih, untuk besok pakai baju kemeja yang kamu pakai saja"
"baik pak"
"kalau begitu, silakan kamu boleh pulang sekarang" pak Handoko menyodorkan tangannya menuju pintu keluar.
"baik pak. Terima kasih" Darma A Berdiri.
"iya" jawab pak Handoko.
"Oh yah pak. Apa boleh saya pergi keliling kantor"
"Ouh iya boleh, sekalian di antar oleh mentor kamu Sindi"
"ouh boleh pak"
"ya udah bilangin sama Sindi, di suruh kenalin lingkungan kantor sama pak Handoko gitu"
"ouh baik pak. Kalau begitu saya pamit pak"
"iya"
Darma A pun mengambil tasnya yang tadi di simpan kemudian membukakan pintu. Kemudian keluar untuk menghadap Sindi. Setelah melihat ke sekeliling Darma A pun menemukan Sindi. Dia berjalan menghampiri Sindi. Di setiap ia melangkahkan kakinya berjalan, Darma A selalu dilihati oleh pegawai yang ada di sana. Ada yang berbicara buruk perihal anting yang di pakainya, dan ada juga yang memuji akan tampangnya. Para pegawai itu saling berbisik pada teman kerjanya yang ada di samping.
"Bu Sindi" panggil Darma A.
"iya" Sindipun yang sedang bekerja di Komputernya, menoleh. Betapa terkejutnya dia, ada sesosok pria tampan menghampiri dirinya.
"Da-Darma?" kaget Sindi.
"kata pak Handoko, ibu di suruh untuk menemani saya mengenalkan semua lingkungan kantor" ucap Darma A tanpa ekspresi.
"Oh..." Oh Sindi tidak percaya dirinya akan berduaan keliling kantor bersama Darma A. Tidak sia - sia dirinya menerima Darma A ketika jadi HRD. Dirinya jadi bisa dekat dengan pria tampan itu.
"baiklah" lanjutnya.
Bersambung...
__ADS_1