The Garabagan

The Garabagan
Epesode 60 : Semangat!


__ADS_3

Dianapun segera masuk ke dalam untuk melihat Darma. Dia berjalan perlahan mendekati Darma. Dan ketika sudah tinggal dua langkah lagi. Dirinya jadi gugup dan takut.


"ternyata benar. Lebih baik balik" Diana kemudian membalikkan badannya.


Dianapun kemudian keluar dari ruangan. Tapi setelah di luar ruangan dirinya merasa khawatir pada Darma. Diapun lalu masuk kembali. Setelah di dalam, tinggal dua langkah lagi menuju Darma. Dirinya jadi gugup dan takut, diapun lalu kembali lagi keluar. Setelah di luar Diana merasa khawatir dan kembali lagi kedalam. Begitu terus sampai lima kali dia bulak balik.


Dianapun lelah, kini dirinya diam dekat Darma. Akhirnya Diana bisa mendekati Darma. Yah, Walaupun Darma sedang dalam keadaan pingsan. Dianapun menatap Darma. Kemudian dia mencoba menyentuh pipi dari Darma menggunakan telunjuknya, setelah tersentuh ia lalu menarik lagi tangannya itu. Dianapun tersenyum.


"coba saja tadi gak ada kamu Darma. Pasti aku sudah terhantam bola itu" batin Diana.


Diana lalu mengusap rambut Darma yang menghalangi dahinya. Darimanapun juga, ternyata Darma emang tampan. Dianapun tersenyum.


Darmapun mulai menggerakkan sedikit jari tangannya. Dianapun terkaget melihatnya sampai memundurkan langkahnya beberapa langkah.


Dengan keadaan mata yang runyem, Darma melihat ke arah Diana dengan agak di sipitkan.


"bukankah kamu harus ikut lomba kerajinan" ucap Darma.


"eh?" bingung Diana.


"cepat pergi, sebelum terlambat" lanjut Darma.


Karena keadaan Darma yang masih pusing Darmapun kemudian pingsan kembali. Diana melihatnya bingung.


"apa dia tertidur?" tanyanya dalam hati.


Dianapun mendekati Darma kembali. Kemudian dia mencoba menyentuh pipi Darma menggunakan telunjuknya, lalu setelah tersentuh ia lalu menarik lagi tangannya dengan cepat. Dia melakukan itu sebanyak tiga kali sampai dirinya sadar kalau Darma sudah pingsan kembali.


"apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus pergi dan meninggalkannya" tanya Diana dalam hati. Dirinya malah jadi bimbang.


"tapi dia menyuruhku untuk pergi mengikuti lomba" Diana menatap Darma. Diana kemudian bertinggung dan membelai pipi dari Darma.


"baiklah. Aku pergi Darma. Akan ku menangkan lomba itu demi dirimu" ucap Diana.


Dianapun berdiri kembali dan melangkah ke keluar kemudian menutup pintunya rapat-rapat. Di luar dia menoleh kembali melihat ke arah ruangan UKS. Langkahnya terasa berat, tapi apa boleh buat, Darma juga menyuruhnya pergi menuju area lomba. Dianapun lalu menghembuskan napasnya, menatap ke arah depan.


"ah tidak aku meninggalkan kardusnya" Diana teringat kardusnya yang dia tinggal.


Dianapun berlari ke lapangan untuk mengambil lagi kardus yang berisi alat dan bahan kerajinannya itu. Namun ketika di lapang dirinya tidak menemukan kardus miliknya. Dia jadi semakin bingung, dimana kardusnya berada?


"perasaan tadi disini deh?" ucapnya panik.


Tiba-tiba sebuah tangan pun menggenggam bahunya, Dianapun menoleh. Ternyata itu Agnes, sahabatnya.


"kardus itu sudah ada di ruangan lomba" ucap Agnes.


"Agnes?"


"cepat. Lombanya akan segera dimulai"


"baiklah Agnes makasih" Dianapun kemudian berlari kembali sekuat tenaga menuju ruangan di gelarnya lomba.


"berjuanglah sahabatku" ucap Agnes melihat Diana yang tengah berlari.


Dengan napas yang terengah-engah Diana berhasil sampai di ruangan. Peraturannya mengatakan jika ada yang terlambat atau tidak datang maka akan di diskualifikasi. Syukurlah Diana datang tepat waktu.


"As-Assalam-mualaikum" salam Diana terengah-engah.


"Waalaikumsalam" jawab semua orang yang ada di ruangan secara serentak.


"maaf saya terlambat" ucap Diana.


"tidak" jawab Bu Ginah, juri dari lomba itu.


"kamu tepat waktu. Cepat ke tempat kamu, kita akan segera mulai lombanya"

__ADS_1


"baik bu"


Dianapun berjalan menuju tempat kardusnya tersedia. Dia lalu mengeluarkan alat dan bahan untuk kerajinannya.


"Ok! Waktu lomba di mulai dari..." Bu Ginah melihat ke semua siswa siswi yang mengikuti lomba.


"SEKARANG!!!" teriaknya menggetarkan bumi.


Semua siswa pun mulai bergerak membuat kerajinannya masing-masing. Dengan sangat teliti dan hati-hati, Diana mulai membuat kerajinannya. Semua siswa berjuang sampai titik keringat penghabisan.


Hingga dua jam kemudian, lombapun selesai. Diana berhasil membuat sebuah lampu hias nan cantik. Namun sayang, itu hanya bisa membuatnya menjadi juara 2. Sayang sekali.


Yah walaupun Diana mendapat juara dua dia tetap bersyukur. Daripada tadi dirinya diam di UKS. Untung saja Darma mendorongnya pergi mengikuti lomba. Kalau tidak mungkin dia tidak akan meraskan pengalaman ini. Dirinya bahagia sekalisekarang.


"terima kasih Darma" ucap Diana tersenyum "terima kasih Agnes dan teman-temanku"


*****


Dianapun pergi dari ruangan, berjalan menuju kelasnya. Ketika di lapangan, Diana lagi-lagi melihat Darma tengah berjalan menuju lapang dan ketiga temannya mencoba menghentikannya.


"sudah Darma" pinta Arif menahan Darma.


"aku harus melakukannya" ucap Darma.


"jangan memaksakan dirimu" pinta Firda.


"tidak! Aku bisa" Darma berusaha lepas dari cengkeraman mereka.


"biar aku gantiin kamu Darma" ucap Billy.


"apa? Gak mau" tolak Darma.


"jangan"


PRETTTTTTTTT....


Darmapun mengentuti mereka. Membuat mereka melepaskan cengkeramannya karena bau.


"Uoooooookkkkkk" Firda tak kuat dengan baunya.


"Ahahahaha" ringis Arif.


"anjir bau kentut kudanil"


"haha rasakan!" Darmapun lalu berlari sambil menoleh meledek mereka. Diapun menoleh ke arah depan kembali namun terlihat di depannya ada sebuah tihang. Akhirnya dirinyapun menabrak tihang itu.


Bukkkkkk....


"aw" ucap Darma kesakitan.


"hahahaha" tiga sekawan itu tertawa melihat Darma.


"Pfffffttttt...." Diana menahan tawanya.


"bodoh emang dia itu" ucap Agnes menghampiri Diana.


"iya" jawab Diana tersenyum.


"tapi aku menyukainya"


Agnes menatap Diana, kemudian tersenyum kembali menatap Darma yang kemudian berdiri dan berjalan menuju lapang.


"woyyy Darma tunggu!" teriak Billy. Firda dan Arif pun berlari mengejar Darma. Kali ini mereka tak menghentikan Darma, tapi merangkulnya. Ternyata Darma ingin mengikuti lomba lari.


"jadi dia ikut lomba lari" ucap Agnes.

__ADS_1


"tapi apa tidak apa - apa dengan kepalanya?"


"entahlah" Agnes mengangkat bahunya tidak tahu.


"ayo nonton" ajak Diana.


"iya"


Mereka berduapun berlari menuju lapangan untuk menyaksikkan Darma dari dekat. Dari cara Darma berjalan dirinya seperti kelihatan masih pusing. Diana jadi khawatir.


"AYO SEMANGAT DARMA!" teriak Firda.


Darmapun mengacungkan jempolnya, cuman... Ke arah yang salah.


."yah kurasa matanya masih bereng"


"ppfffftttttt" Arif menahan tawanya "haha" akhirnya diapun tertawa lepas.


"haha" Billy juga ikut tertawa "emang bodoh dasar" ucapnya.


"eh kalian ini. Teman lagi susah jangan di tertawakan" ucap Firda. Billy dan Arif pun melihat ke arah Firda dengan rasa kagum.


"tumben bijak" ucap mereka serentak.


Diana tersenyum ke arah Darma. Tak lupa ia pun menyogoh ponsel di sakunya dan mencoba mengambil gambar dari Darma.


"sudah siap semua?" ucap wasit, Pak Hartono.


"siap sit!" jawab para peserta serentak.


"Mulai" Pak Hartonopun mengibaskan bendera kebawah pertanda memulai. Semua berlari kecuali Darma.


"AYO DARMA!!!" teriak Arif.


Darmapun berlari namun dia terjatuh waktu start. Iapun lalu berdiri namun arahnya bukan ke arah garis finis, namun malah berbelok ke arah pak Handoko. Dengan cepatnya dia bangun dan berlari kembali namun...


"AH TUNGGU..." teriak pak Hartono.


BRUUKKKK!!!


Darma menubruk pak Handoko. Keduanyapun jatuh tersungkur.


"DARMAAAAAAA!!!" teriak pak Hartono kesakitan.


Semua penonton tertawa melihatnya. Diana hanya melihatnya melongo sambil memfoto Darma yang tengah terjatuh di tanah itu.


"pppfftttttt" tiga sekawan menahan tawanya "ehahahahahahahahaha" mereka tak bisa memendung rasa geli di perutnya.


Karena kejadian itu pertandinganpun di ulang kembali. Mata Darma kemali membaik setelah tubrukannya dengan pak Hartono. Iapun memohon untuk bisa mengikuti kembali pertandingan. Karena Darma hampir selalu membantu pak Hartono. Darmapun di ijinkan. Alhasil Darmapun berhasil juara 3.


"yeahhhhh" teriak Darma senang.


Diana menatap Darma tersenyum, sembari memfoto apa yang di lakukannya. Ketidak putus asaannya membuatnya berhasil. Walaupun orang lain berkata tidak mungkin, Darma berhasil membuktikkan kalau dia bisa. Yah walaupun juara tiga. Oh Darma, Diana jadi tambah menyukaimu.


**Bersambung...


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Love U All๐Ÿ’•


Jangan lupa like ๐Ÿ‘


Comment๐Ÿ’ฌ


Dan Rate 5 nya โญโญโญโญโญ

__ADS_1


__ADS_2