The Garabagan

The Garabagan
Epesode 91 : Lihatlah Dia!


__ADS_3

"nah kalau itu tempat untuk produk - produk perusahaan disini di sosial media. Jadi selama delapan jam mereka bekerja, hanya memainkan ponsel dan laptop mereka" jelas Sindi.


"oh begitu" jawab Darma A tanpa ekspresi.


Darma A pun telah mengelilingi hampir seluruh kantor, di temani mentornya, Sindi. Sindi menjelaskan dengan semangatnya tentang bagian - bagian kantor, sementara Darma A hanya menjawabnya singkat dengan dingin tanpa ekspresi.


"cih... Menyebalkan sekali menjawabnya" batin Sindi sebal.


Mereka pun, akhirnya ke lantai satu menggunakan lift, tempat terakhir yang belum mereka kunjungi.


"nah kalau itu benda kotak yang disana..."


"itu check lock, untuk absen" potong Darma A.


"Be... Nar" ucap Sindi melongo.


Darma A pun melangkahkan kakinya melanjutkan petualangannya di kantor itu. Sindi yang melihat Darma A yang Mendahuluinya, dia merasa kesal akan tetapi dia tahan.


Di saat mereka berdua mau berjalan ke arah kantin. Datanglah seseorang wanita berambut panjang dengan pakaian formal panjang. Dia adalah Diana yang mau mengumpulkan dokumen - dokumen untuk keperluan cabang barunya.


Darma dan Sindipun terdiam melihat kedatangan Diana. Sindi terdiam kesal melihat Diana yang sudah berada di atasnya. Dan Darma Adijaya, dia terdiam melihat kecantikkan Diana.


Deg... Deg... Jantung Darma A berdetak kencang hanya melihat Diana. Darma A melihat dengan jelas pada Diana, mulai dari matanya, hidungnya, bibirnya, dan rambut Diana yang terurai panjang, sungguh mempesonakan dirinya.


Bagai kilatan petir yang membelah bumi, Darma A terpanjat dibuat Diana. Sesaat dunia seakan berhenti berotasi pada porosnya. Darma A melihat dengan anggun pesona dari Diana.


"woooaaahhh... Diana makin cantik saja yah?" ucap seorang pegawai kepada temannya yang saling berjalan dekat dengan Darma A. Emang kala itu waktunya sebentar lagi waktunya untuk Istirahat.


"iya yah"


Diana pun dengan segera berjalan masuk ke dalam lift. Darma A masih menatap wanita cantik itu sampai pintu lift tertutup. Diapun kemudian menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan diri dari tatapannya.


"siapa dia?" tanya Darma A pada Sindi.


"kenapa bertanya?" heran Sindi dengan nada jutek.


"enggak apa - apa" jawab Darma A.


"ayo ku tunjukkan tempat yang ada di lantai satu" ajak Sindi berjalan, dirinya mencoba mengalihkan topik.


"oh i-iya" jawab Darma A mengikuti Sindi.


*****


Waktu Istirahatpun tiba, Olivia harus berani untuk bercerita pada Darma tentang masa lalunya. Akan tetapi, Olivia merasa aneh, Darma tidak berbicara padanya bahkan ketika tugasnya selesai sekalipun. Sunyi sekali, biasanya juga bising oleh nyanyian Darma atau Darma yang selalu bercerita yang tidak penting pada Olivia. Bahkan ketika Olivia memandanginya, Darma sibuk akan ponselnya.


Olivia jadi mulai takut, apakah Darma sedang chattingan dengan wanita. Ahhhhh pikiran Olivia jadi pusing memikirkan hal itu. Diapun berdiri, kemudian memberanikan diri untuk bisa berbicara pada Darma duluan. Ini dia, Olivia mulai berjalan.


Olivia pun sampai di meja Darma. Darma sedang membaringkan keplanya Di meja sambil melihat ponselnya. Kemudian Oliviapun menghembuskan napasnya untuk menenangkan diri.


"Da-Darma" panggil Olivia.


Darmapun segera bangun. Kemudian melepaskan headseat yang terpasang di telinganya dengan cepat. Iapun melihati Olivia yang melihatnya, Darma pikir Olivia sedang marah melihat dirinya tertidur.


"iya Boss?" tanya Darma.


"aku mau..."


"Oh sudah jam istirahat yah?" potong Darma. Diapun kemudian berdiri.


"aku akan sholat dulu Boss, kemudian makan" Darmapun melangkahkan kakinya pergi menuju pintu.


"tu... Tunggu" tahan Olivia.


"Assalamualaikum" Darmapun pergi.


"Waalaikumsalam" jawab Olivia yang melongo melihat kepergian Darma. Diapun berjalan ke arah pintu.


Darmapun akhirnya bertemu dengan Diana depan lift. Darma terkaget, dirinya bisa bertemu Diana.


"Diana" kaget Darma.


"Darma" senyum Diana.


"kenapa kamu ke sini?" tanya Darma.

__ADS_1


"ini mau ngumpulin dokumen buat cabang baru sama Boss"


"ouh begitu. Hebat"


"ahahaha enggak kok"


"Boss nya ada di dalam, kasih aja"


"kamu mau ke kantin?"


"iya" angguk Darma tersenyum.


"kalau begitu aku makan dulu saja bareng kamu"


"Ehhhhhhh...?" kaget Darma dengan lebaynya.


"sekarang kan masih jam istirahat" lanjut Diana.


"ah benar juga haha" kekeh Darma.


"kalau begitu ayo!" Diana memegang tangan Darma. Darma terkejut.


"Aku kangen makan siang denganmu" lanjut Diana.


Deg... Jantung Darma berdetak lebih kencang dari yang biasanya.


"ah tung..." Darma mencoba menghentikkan Diana tentang memegang tangannya. Namun Diana keburu menariknya untuk ikut bersamanya ke kantin.


Olivia melihat kepergian Diana dengan Darma dari sebalik pintu. Melihat Darma dengan Diana berpegangan tangan seperti itu membuat dada Olivia jadi sakit.


"Kenapa harus pegangan tangan segala?" batin Olivia.


"si Darma lagi, gampang banget jadi orang" malah nyalahin Darma kan!


*****


Darma dan Diana pun turun menggunakan lift. Kini tangan mereka telah terlepas.


"wuuuuaahhhhhh... Siapa orang penemu lift pertama kali yah?" tanya Darma entah kepada siapa.


Diana menatap Darma, kemudian dia tersenyum.


"hebat. Kita jadi gak perlu naik turun lewat tangga. Kita juga bisa hemat waktu" puji Darma sambil melihat ke sekitar lift.


Pintu liftpun terbuka, pertanda Mereka telah sampai di lantai 1.


"ayo turun" ajak Diana.


"iya dengan senang hati" Darma menunduk seperti orang yang hormat pada ratu. Diana pun tersenyum.


Diana berjalan lebih dulu. Dan ketika beberapa langkah dia pun berbalik dan melihat Darma masih ada di lift.


"ayo" ajak Diana.


"duluan saja. Aku mau naik satu kali lagi" Darmapun menekan tombol menuju lantai 24.


"tung... Hey" teriak Diana akan tetapi pintu lift pun tertutup dan Darma pun naik ke lantai 24.


Pintu lift pun terbuka, pertanda Darma telah sampai di lantai 24. Setelah melihat dirinya ada di lantai 24, Darma tersenyum kagum.


"Wuaaahhhh..." kagum Darma. Diapun kembali menekan tombol menuju lantai 1.


Namun pintu lift pun terbuka di lantai 21. Mata Darma terkejut, di depannya ada Opik dan Gerard. Mereka juga ingin turun menggunakan lift. Mereka berniat ingin ke kantin.


"Ohhhh si bodoh!" ucap Opik pura - pura kaget. Darma hanya tersenyum menanggapi mereka.


"silakan masuk" Darma mengayunkan tangannya mempersilahkan mereka berdua masuk. Opik dan Gerardpun masuk ke dalam lift.


"lantai berapa adek manis?" tanya Darma pada Opik.


"lo meledek gue heh?" melotot Opik pada Darma.


"enggak" geleng kepala Darma tersenyum. Iapun menekan tombol menuju lantai 1. Liftpun turun ke bawah.


"teman kalian yang satu nya lagi kemana?" tanya Darma.

__ADS_1


"jangan so akrab deh lo" kesal Gerard.


"aku gak so akrab" jawab Darma heran, "itu cuma bertanya"


"kalau so akrab itu kayak gini..." Darma merangkul Opik yang berada di sampingnya.


"whatts up bro!" lanjut Darma tersenyum lebar.


"apaan sih?" Opik melepaskan rangkulan Darma, dia merasa jijik.


"lo meledek gue heh?" amuk Gerard.


"hey..." pelotot Opik pada Darma "apa lo sudah merasa hebat karena jadi asisten nya Boss?"


"haha" Gerard tertawa "lo itu cuma di jadiin babu"


"sama dong!" senyum Darma tanpa rasa takut. Opik dan Gerard melihat Darma bingung.


"kalian juga di jadiin babu. Tugas kalian hanya mengikuti arahan dari atasan, sama sepertiku.


"Ishhh" kesal Gerard mengangkat tangannya ingin memukul Darma. Namun pintu lift pun terbuka, mata Gerard membulat kaget melihat Diana yang Berada di depan lift.


"Darma!" kaget Diana melihat Darma mau di pukul. Dia pun dengan segera menarik tangan Darma dan membuat Darma keluar dari lift.


"ma-mau apa kamu Gerard?" tanya Diana dengan lantang Walaupun agak tergagap, padahal dirinya sendiri nya pun merasa takut. Namun karena melihat Darma mau disakiti, hati Diana tak rela. Darmapun di sembunyikan di belakang Diana. Diana tak peduli terhadap dirinya sendiri, yang penting Darma tidak apa - apa.


"eng-enggak" gugup Gerard mengangkat dan mengelebarkan Kedua tangannya.


"ka-kamu mau pukul Darma yah?"


"enggak. Siapa yang mau memukul Darma" jawab Gerard tersenyum di paksakan.


"lalu mau apa?"


"aku mau..." Gerard berpikir beberapa detik"ah mau tos"


"tos?" kaget Darma.


"iya. Dia ternyata asik kalau di ajak ngobrol yah hahaha"


"ehhhh benarkah?" tanya Darma dengan gembira.


"tapi katamu tadi jangan so akrab" heran Darma.


"kamu beneran mau pukul Darma?" tanya Opik pura - pura membela Darma.


"ih gak baik itu Gerard" ucap Opik dengan so keren pada Gerard. Opik ingin dirinya terlihat baik di mata Diana.


"lo juga tadi ngancam Darma" jawab Gerard bingung dengan ekspresi datar.


"hahhhh!? gak mungkin Gue seperti itu Gerard" sangkal Opik dengan nada lembut.


"kamu gak apa - apa Darma?" tanya Diana sambil meraba - raba tubuh Darma.


"Aku..." ucapan Darma terpotong, akibat Diana memegangi pipinya.


"gak apa - apa kan?" khawatir Diana.


"tidak... Gue..." mata Opik langsung terbelalak melihat Diana memegangi pipi dari Darma.


Darma pun memegangi tangan Diana yang memegangi pipinya.


"aku gak apa - apa" Deg... Deg... Jantung Darma berdebar jadinya. Pipinya juga memerah. Dia melihat Diana dari jarak yang sangat dekat, tangannya juga sedang menggenggam tangan Diana. Begitu pun Diana, dirinya terdiam menatap wajah tampan dari Darma. Jantungnya terus berdetak lebih cepat. Pipinya juga memerah merona. Tidak bisa di bayangkan, dirinya bisa begitu dekat dengan Darma. Ah situasi macam apakah ini.


"Ehemmmm" Opik terbatuk di buat - buat, membuyarkan pandangan kedua insan yang saling pandang itu.


"ayo ke kantin" ucap Darma menutup bibirnya malu.


"Oh i-iya" angguk Diana gugup.


Darmapun berjalan lebih dulu menuju ke kantin, kemudian di susul Diana. Opik yang melihat mereka berdua dekat seperti itu, hatinya merasa kesal.


"lihatlah si Darma itu" kesal Opik melihat Darma.


"iya. Dia mulai berlagak di depan kita" jawab Gerard mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Bersambung...


Selamat Hari Raya Idul Adha yang ke 1442 H semuanya😊❤


__ADS_2