The Garabagan

The Garabagan
Epesode 88 : Salah paham


__ADS_3

"hey Laila" panggil Olivia.


"iya"


"kamu suka Darma?" tanya Olivia pelan.


"siapa yang gak suka orang seganteng Darma sih Boss?" jawab Laila tanpa ragu.


"benar sekali. Dia sangat berbahaya. Dia tanpa ragu mengungkapkan perasaannya" batin Olivia menatap tajam Laila.


"Aaaaaaaaaahhhhh.... Aku harus bagaimana ini?" bingung batin Olivia.


"apakah aku juga harus mulai terang - terangan seperti Laila?"


"kalau Boss?" tanya Laila.


"hah? Apa?" bingung Olivia.


"apa Boss suka Darma?" tanya Laila kembali.


"hah aku?" tanya Olivia menunjuk dirinya sendiri.


"iya"


"aku sangat menyukainya" inginnya Olivia berkata seperti itu, namun jika berhadapan dengan Laila rasanya dia ingin menyembunyikan perasaannya.


"hah?" Olivia tersenyum sebelah "aku bukan orang yang mudah jatuh cinta! Apalagi cuma karena rupa" lanjutnya.


*****


Darma yang melihat Olivia nampak marah seperti itu, dia jadi merasa tidak enak hati. Padahal akhir - akhir ini mereka sudah mulai akrab. Darmapun merasa harus minta maaf pada Olivia. Tidak peduli dia salah atau tidak, yang penting hubungan dirinya dengan Olivia bisa baik - baik saja. Iapun segera keluar dan mencari Olivia.


"Wuahhhh tidak mungkin!" jawab Laila tidak percaya.


Darma yang hendak menyapa keduanya merasa tidak enak karena mereka tengah berbicara dengan asiknya. Diapun hanya menghampiri mereka saja.


"Boss itu sering bersamanya, pasti Boss jatuh cinta kan sama Darma?" terka Laila.


"heh?" Olivia tersenyum sinis " yang ada mungkin si Darma yang jatuh cinta padaku"


"haha aku tahu Darma orangnya seperti apa?" jawab Laila.


"dia itu masih belum terlalu mengerti dengan perasaannya" lanjut Laila.


"tapi aku yakin Darma menyukaiku" jawab Olivia.


"buktinya dia pernah memberiku boneka" Olivia teringat kembali Darma memberinya Boneka saat bertanding game Kadal Shooter.


"benarkah itu?"


"iya tentu saja, aku yakin boneka itu pertanda Darma menyukaiku" Olivia memejamkan matanya untuk menghayati lagak sombongnya.


Sementara itu, Setalah kesana kemari mencari Olivia, akhirnya Darmapun menemukan Olivia yang tengah berbincang dengan Laila di kantin. Dia sungguh senang bisa menemukan Olivia, Iapun dengan segera menghampiri mereka.


"lalu kenapa Boss tidak menyukai Darma?" tanya Laila.


Darma terus melangkahkan kakinya sampai bisa mendekati Mereka berdua. Laila melihat Darma yang tengah berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


"Dia itu tidak kompeten, sifatnya juga norak, terus berisik, terus suka joged-joged gak jelas, cerewet, suka bicara gak jelas..." Olivia terus bercerita berpura - pura tidak menyukai Darma.


Langkah kaki Darma terhenti mendengar semua ucapan Olivia itu. Dia terdiam menatap Laila dan juga Olivia.


"...Lah pokoknya aku gak suka dia lah" lanjut Olivia.


"tentu saja" batin Darma. Matanya melihat ke arah Olivia.


"Boss masih membenciku, dan sekarang aku tahu alasannya"


"Darma?" kaget Laila menatap Darma yang ternyata dia sudah berdiri menghadapnya.


Mata Olivia langsung membulat mendengar Laila mengucapkan kata Darma barusan. Diapun dengan segera berdiri dan membalikan badannya. Alangkah kagetnya Olivia, ternyata Darma sudah berdiri di belakangnya.


Sejak kapan dia di sana? Apakah dia mendengar semua perkataanku? Itulah yang ada di pikiran Olivia saat itu.


"Da-Darma?" kaget Olivia.


"hallo Boss" sapa Darma tersenyum menatap Olivia.


"se-sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Olivia ketakutan. Dia takut Darma mendengar semua ucapannya.


"aku ingin bicara sama Boss" pinta Darma.


"tunggu Darma, aku bisa jelasin" ucap Olivia.


"iya aku ingin bicara sama Boss" tekan Darma.


"Oh ba-baiklah"


"Huaaaaa!?" kaget Laila.


"jadi semua perkataan Boss itu semua benar. Darma suka sama Boss?" sekarang Laila mempercayai ucapan Olivia. Sulit memang menerima kenyataan itu, tapi apa yang dilihat dan di dengarnya membuktikkan kalau semua itu benar.


Kini dada Laila terasa sesak. Rasanya hatinya seperti ada yang memukul. Sakit sekali.


"Oh i-iya" jawab Olivia tergagap. Oh hari ini benar - benar hari yang menyebalkan untuk Olivia. Mulai dari tadi pagi, kejadian yang membuatnya malu di tambah sekarang di saat dia sedang berbicara yang buruk - buruk tentang Darma, sekaligus bicara soal Darma yang menyukainya, Darma malah mendengarnya. Benar - benar hari yang sial.


"di atas saja Boss" ujar Darma.


"oh ba-baiklah"


"sampai nanti ya Laila" pamit Darma.


"kamu mau bicara apa sama Boss?" penasaran Laila.


Darma hanya tersenyum ke arah Laila. Laila semakin sakit rasanya melihat senyuman Darma itu. Laila merasa bahwa prasangkanya benar, Darma menyukai Olivia.


"Assalamualaikum" salam Darma kemudian pergi meninggalkan Laila.


"Waalaikumsalam" jawab Laila dengan pandangan kosong.


Darmapun melangkahkan kakinya pergi dari sana, di ikuti Olivia mengekor mengikuti Darma. Sementara Laila terdiam mematung menatap kepergian mereka.


Di sebalik langkah kakinya berjalan, Olivia merasa bimbang. Dia merasa takut sekaligus malu. Dia takut Darma mendengar semuanya, Olivia takut Darma mengira dirinya kepede-an. Olivia juga merasa takut Darma mengira, dirinya masih membenci Darma. Olivia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Apa yang harus Olivia katakan kepada Darma?


Kini mereka telah sampai di depan lift, akan tetapi Darma berjalan melaluinya dia menuju arah tangga. Olivia bingung melihat Darma.

__ADS_1


"kenapa tidak naik lift?" tanya Olivia.


"kan lift hanya untuk Boss" jawab Darma heran.


"tidak" jawab Olivia "lift untuk semua orang"


"Hah?" bingung Darma "kan dulu Boss yang bilang, jika Boss naik lift maka tidak boleh ada yang ikut"


"itu..." ucapan Olivia terhenti, dirinya jadi ragu, apakah dia akan membongkar kebohongannya. Darma menatap bingung Olivia.


Tapi inilah saatnya dirinya jujur. Dia tidak mau ada kebohongan lagi antara dirinya dengan Darma.


"itu adalah kebohonganku" kata Olivia kemudian.


"kebohongan?" bingung Darma, dirinya belum sadar sampai sekarang. Darma mempercayai kebohongan Olivia sampai saat ini.


"itu semua aku lakukan agar..."


"jadi aku boleh naik lift?" tanya Darma. Olivia menatap Darma, kata - katanya jadi terpotong dengan pertanyaan Darma barusan.


"iya tentu saja" jawab Olivia merasa menyesal.


"Wahahaha.... Yeaaahhhhhhh!!!" teriak Darma malah senang mengangkat kedua tangannya. Olivia menatap Darma heran.


"jadi aku boleh naik lift tiap hari?" tanya Darma senang mendekati Olivia.


"i-iya" kaget Olivia. Kenapa Darma bisa masih ceria setelah mendengar ucapan Olivia tadi.


Melihat Olivia, Tiba - tiba Darma jadi teringat perkataan Olivia tadi di kantin.


"lalu kenapa Boss tidak menyukai Darma?" tanya Laila.


"Dia itu tidak kompeten, sifatnya juga norak, terus berisik, terus suka joged-joged gak jelas, cerewet, suka bicara gak jelas..."


".. Lah pokoknya aku gak suka dia lah"


Mengingat hal itu Darma yang tadinya senang berusaha menjadi pendiam. Dia mulai sedikit menjauhi Olivia.


Olivia melihat perubahan sikap Darma. Mungkinkah karena tadi perkataannya.


"maaf" ucap Darma menundukkan kepalanya.


"aku memang norak yah? Hehe" tanya Darma kemudian terkekeh.


"Darma aku..." Olivia berusaha mengatakan dirinya menyesal dan teringin meminta maaf pada Darma, akan tetapi perkataannya terhenti kala satu tangan Darma mengangkat.


"aku tahu" Darma tersenyum.


"itu memang sifatku" lanjut Darma. Darma menjatuhkan lututnya kelantai memohon.


Olivia jadi semakin tidak enak hati pada Darma. Melihatnya seperti itu membuat hatinya teriris. Dia jadi bingung harus berbuat apa?


"Darma berdirilah" Olivia memegangi kedua bahu Darma untuk membangunkannya.


"aku tahu aku cerewet, tidak bisa diam..." Darma menatap Olivia.


"kurasa memang benar, aku seharusnya membedakan bicara pada atasan"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2