The Garabagan

The Garabagan
Episode 38 : Darma


__ADS_3

"tapi kalau aku menang seperti yang tadi saja. Gajiku harus sesuai UMR. Dan juga beri Ferdian tanda tangan"


"Baiklah" Olivia tersenyum senang. Akhirnya dia bisa melawan Darma lagi. Merekapun berhadapan saling menatap sebagai rival.


*****


Pada akhirnya Darma dikalahkan dengan tipis oleh Olivia. Darma tertegun diam menjatuhkan pistolnya menatap layar monitor. Tak percaya dengan kekalahannya.


"Tidaaaaaaaakkkkkk!!!" teriaknya "Gajiku di potong lagi!"


"Haha" Olivia tertawa "nah sekarang lo dah tahu kekuatan gue kan?"


Olivia terdiam. Sudah lama dia tidak bermain-main seperti ini bersama temannya, bahkan dengan Renita. Dirinya terlalu sibuk bekerja. Hari ini sangat menyenangkan.


Aku sudah melupakan rasa sakitku. Ucap dalam batinnya. Dia lantas menatap Darma.


"Darma" Ferdian bersedih tidak bisa mendapatkan tanda tangannya Olivia.


Darma menatap Ferdian. Ah sial, dia membuat kecewa temannya. Iapun mengangkat kepalanya melihat ke atas... Kemudian menutup matanya, menghembuskan nafasnya.


"ah sudahlah... Lagipun tinggal dua bulan lagi"


Darma menghampiri Olivia. Olivia menatap Darma dengan tatapan merendahkan. Darmapun menyodorkan lambaian tangan kanannya pada Olivia.


"apa?" Olivia menatap Darma bingung.


"Selamat! Boss memang hebat" puji Darma.


"ouh tentu saja" Olivia menyilangkan lengannya dengan sombongnya, tak menghiraukan lambaian tangan dari Darma.


Darma masih melambaikan tangannya, menunggu balasan salaman dari Olivia. Olivia menatap tangan Darma yang hendak memberinya salaman itu. Iapun merasa iba, akhirnya menurunkan tangannya secara perlahan, membalas salaman dari Darma.


"kapan-kapan akan aku balas" Darma tersenyum menatap tajam Olivia.


Olivia tersenyum "gue tunggu" Merekapun melepaskan salaman mereka.


"eh!?" Olivia bingung. Kenapa dirinya bisa tersenyum seperti ini?


"ouh iya aku lupa" Ucap Darma menyogoh sakunya. Ternyata ada koin sisa di sakunya.


Olivia tersenyum. Sepertinya Darma akan menantangnya lagi. Darmapun berjalan tapi bukan kearah permainan tembakan melainkan ke mesin capit boneka.


Olivia hanya menyaksikan Darma yang sedang bermain capit boneka. Tak disangka, akhirnya Darma memenangkan sebuah boneka kera. Diapun membawanya, kemudian berjalan menuju arah Olivia.


"ini" Darma menyodorkan boneka tersebut.


"Apa ini?" heran Olivia.


"Hadiah buat Boss" jawab Darma dengan tersenyum


"Hadiah?" Olivia semakin bingung. Kenapa pula dia memberi Olivia hadiah.


"Iya. Karena Boss telah mengalahkanku"


Olivia menatap wajah Darma heran. Kenapa pula Darma harus memberinya hadiah segala.


"Ambilah. Kalau tidak aku merasa tidak layak kalah seperti ini" ucap Darma dengan gaya seperti karakter dalam game.

__ADS_1


"apaan hehe?" Olivia terkekeh.


Seperti adanya tarikan, kedua tangan Olivia perlahan mendekati boneka itu. Semakin dekat..... Semakin dekat... Semakin dekat.... Sampai akhirnya terpeganglah boneka itu. Olivia menatap wajah Darma. Darma tersenyum.


"ayo ambilah!" ucap Darma.


Oliviapun menerima boneka kera tersebut.


"nah kalau begitu aku pamit pulang ya boss" pamit Darma.


"Darma" ucap Ferdian.


"ayo" Darma merangkul Ferdian. Merekapun pergi dari tempat itu.


Olivia menatap kepergian Darma, hingga Darma sudah sampai bawah. Olivia kembali menatap boneka pemberian Darma tersebut.


"Aku menang!?" gumamnya.


Sedari tadi Olivia merasa sangat senang bisa bermain tembak-tembakan bersama Darma. Dia sudah melupakan rasa sedih di hati karena ayahnya. Kenapa hilangnya karena Darma? Kenapa karena orang yang sangat dibencinya?


Juga baru pertama kali ada seseorang yang menghargai atas keberhasilan hal sepele seperti ini. Padahal itu hal kecil bukanlah hal yang luar biasa. Hanya sebuah permainan tembak-tembakan anak kecil. Tapi kenapa rasanya seperti ini? Begitu mengesankan. Bahkan teman dekatnya, seperti Renita saja belum pernah memberinya hadiah karena pencapaiannya. Dia hanya memberi hadiah paling di hari ulang tahunnya saja. Dia jadi teringat ketika dia belajar dengan kakaknya. Waktu itu dia berhasil mengerjakan tujuh soal dari dua puluh soal.


"maaf kak!"


"ehhhhh sudah bagus kok ini! Ada peningkatan"


"tapi... Tetap saja dengan hasil seperti itu aku tak akan naik kelas"


"haha iya sih" Arina tertawa "tapi dalam hal belajar itu udah bagus, lakukan saja terus nanti kamu pasti bisa"


"iya" semangat Olivia kecil.


"Wahhhhhh... Benarkah?"


"iya adikku haha"


"yeahhhhhh...."


Namun pada akhirnya ketika Olivia kecil telah menjawab benar lebih dari sepuluh soal, Arina lupa. Karena sibuk akan pekerjaannya. Olivia kecil tidak pernah minta karena tidak percaya diri. Ah, kenapa rasanya gara-gara boneka itu Olivia jadi rindu kakaknya Arina.


"Boss" panggil Via.


"i... Iya?" Oliviapun terbangun dari lamunannya.


"ayo kita pulang... Udah malam" ajaknya.


"i... Iya"


Merekapun berjalan pulang. Angin malam saat itu rasanya begitu sejuk menjamah kulit dari Olivia. Rasanya berbeda dari malam biasanya. Kenapa seperti itu? Apakah dikarenakan hati Olivia yang sedang dilanda bunga?


*****


Di dalam kamar, Olivia berbaring sembari menatap boneka kera yang tadi diberi Darma.


"Kenapa?" ucap Olivia sembari memandang boneka itu.


"kenapa juga lo memberi ini?" Olivia heran "apakah karena lo gak mau kalah tanpa memberi? Atau karena..."

__ADS_1


Olivia mengingat ketika dirinya bermain bola bersama Darma waktu kecil. Darma yang tidak mau kalah dan malah berbuat curang. Kemudian dirinya malah mentraktir Darma permen.


"kenapa kamu tertawa bodoh?"


"kamu curang!"


"siapa yang curang?"


"kamu"


"aku tidak curang, dasar bodoh bleeee" dia berlari mengulurkan lidahnya.


Setelah itu Mereka duduk dilapangan dan makan permen bersama.


"Kenapa kamu bersedih gara-gara ayah ibumu lebih sayang kakakmu?" tanya Darma.


"bukan cuma itu! Aku juga selalu dimarahi kedua orang tuaku"


"haha..." Darma tertawa.


"kenapa kamu tertawa?"


"itu lucu.... Kasihan sekali kamu ini"


Olivia merana menatap tanah bumi. Rasanya tak ada yang bisa di harapkan berbicara pada semua orang.


"tidak boleh seperti itu!" ucap Darma. Olivia langsung menoleh ke arah Darma.


"kedua orang tuamu memarahimu bukan karena membencimu, dia ingin kamu berubah agar hidupmu tidak susah"


Olivia memandang Darma.


"jadi belajarlah bodoh!" Darma tersenyum. Olivia langsung terkagum waktu itu pada Darma.


"yah kalau di pikir-pikir itu adalah masa indahku dengan Darma"


"tapi karena kejahatannya waktu kecil, tak bisa ku maafkan!" Olivia mencengkam boneka itu dengan sebal. Olivia mengingat ketika Olivia dijahili oleh Alif, Geby, Faisal, dan Darma waktu kecil.


"Tapi kali ini... Kurasa dia telah berubah"


"kamu selalu baik padaku Darma" Olivia menatap boneka itu dengan penuh hayat. Olivia teringat ketika Darma membantunya ketika rapat dengan Mr. Martin. Ketika Darma membawanya menuju rumah sakit. Tertawanya. Lalu senyumnya yang manis. Ramah tamahnya. Kekonyolannya. Bawelnya. Banyolannya. Bahkan dia yang selalu mengingatkan Olivia untuk ibadah.


"padahal gue selalu jahatin lo!" Olivia mengingat kembali saat Darma dijahili dengan kejam oleh dirinya tapi dirinya selalu sabar dan membalasnya dengan senyuman.


"heh? Kenapa?"


"apa karena aku atasanmu?" Olivia kembali mengingat ketika Olivia dijahili oleh Alif, Geby, Faisal, dan Darma waktu kecil.


"ishhhhh kenapa gue jadi keinget lo mulu sih?"


Olivia memejamkan matanya. Ketika terpejam, terbayanglah sosok Darma tersenyum lebar padanya.


"Aaaaaaaaaahhhhh.... Gue pasti sudah gila!" ucap Olivia berteriak. Pipinya memerah.


"dah mending gue tidur... Tenangin diri" Olivia memegang kepalanya.


Hingga pada akhirnya dia tidak bisa tidur sampai pukul satu subuh.

__ADS_1


"Awaaaaasssss looooo Darmmaaaaaa!!!" kesalnya.


TBC...


__ADS_2