
Oliviapun ikut bersama nek Ratih untuk ikut makan bersama dirumahnya. Nek Ratih tetap memegang tangan dari Olivia.
"nama kamu siapa nak?"
"Olivia bu"
"ouh salam kenal yah. Nama saya Ratih kamu boleh panggil saya Nek Ratih saja"
"baiklah bu"
Merekapun masuk kedalam rumah. Bisa di bilang rumah nek Ratih cukup besar. Ruang tamunya juga lumayan megah.
Pantas saja Darma nolongin! Pasti dia ada maksud tertentu, pikir Olivia.
Merekapun duduk di meja makan, sementara Nek Ratih mesuk ke ruang dapur untuk menyajikan makanan.
"lo kok bisa kenal dia?" tanya Olivia pada Darma. Karena penasaran Olivia jadi berani untuk berbicara dengan Darma lagi.
"karena aku kenalan" jawab Darma seenak jidat.
Olivia kesal dengan jawaban Darma "yang benar!" kesal Olivia.
"ceritanya pendek!"
"ya udah cerita"
"jadi ketika aku sedang berada di panti asuhan Limpah Kasih, aku bertemu dengan Nek Ratih"
"tunggu! Ngapain lo ke panti asuhan?"
"menjenguk teman-temanku"
"oh teman!" Olivia pikir Darma hanya bertemu teman sebayanya. Karena menurut Olivia tak mungkin seorang Darma menyantuni anak yatim.
"iya... Boss harus bertemu mereka! Mereka sangat seru!!! Aku dan mereka selalu bermain kelereng kalau bertemu. Yah,,,, walaupun aku selalu kalah sih hehe"
Darma memandang Olivia yang sepertinya bosan dengan ceritanya.
"maaf" ucap Darma "Waktu pulang dari sana. Karena kita searah, Aku dan Nek Ratih pulang bareng naik mobilnya"
"kita hanya cerita-cerita terus akrab deh"
"begitu!"
"iya"
Nek Ratih pun datang membawakan wadah berisi makanan.
"aku bantu yah nek" pinta Darma.
"aku juga" ucap Olivia tak mau kalah.
"eh gak usah" tolak Nek Ratih.
Via juga ikutan membantu nek Ratih. Walaupun Nek Ratih menolaknya mereka tetap membantu Nya menyiapkan makanan. Makananpun sudah semua tersedia di meja. Mereka semuapun duduk dikursinya masing-masing untuk jamu makan. Kursi Nek Ratih dekat dengan Olivia.
Tapi kursi Oliviapun bersebelahan dengan Darma. Hah! Cobaan apa ini! Kenapa harus dekat dengan orang yang di bencinya ini?
"nah nak Darma coba pimpin doa dulu"
"Ok nek"
"sebelum berdo'a alangkah baiknya kita makan terlebih dahulu" Darma memimpin untuk berdo'a.
Semuanya mengangkat kedua tangannya untuk berdo'a. Tapi tunggu kayak ada yang salah dengan ucapan Darma!
"Berdo'a dulu bodoh!" Olivia membenarkan "baru makan"
"oh iya salah maaf" Darma tertawa menggaruk kepalanya.
"Hehhhh" kesal Via.
"haha" Nek Ratih tertawa.
"sebelum makan alangkah baiknya kita berdo'a terlebih dahulu" Darmapun mengulanginya lagi. Merekapun berdo'a kemudian makan bersama.
"Aamiin selesai"
"aku jadi rindu almarhum anakku" ucap Nek Ratih.
"emangnya anak nenek, kenapa nek?" tanya Olivia.
"Dia kecelakaan"
"astaga" kaget Olivia.
"dia anak semata wayang nenek. Jadi kalau melihat anak-anak seperti kalian teringat pada anakku"
__ADS_1
Olivia terdiam dan melanjutkan makannya semabri berpikir, Apakah kalau dirinya meninggal kedua orang tuanya akan sedih seperti ini? Ah rasanya tidak mungkin.
"kamu udah kenal lama sama Darma?"
"oh iya nek"
Darma yang sedang makanpun tersenyum. Lama darimana nya?
"nenek pernah di tolongin dia loh!"
"ditolong gimana nek?"
"waktu itu pas tas nenek di jambret, terus ada nak Darma deh yang nolongin"
Olivia menatap Darma. Darma hanya tersenyum pada Nek Ratih.
"iya mengejar dan mencoba merebut tas milik nenek namun malah di gebuki ama jambretnya"
Olivia ingat waktu Darma ke kantor dalam keadaan memar di pelipisnya.
"tapi syukurlah ada warga datang membantu"
"terus..." lanjut Nek Ratih "nenek juga selalu ditolongin nyebrang kalau kita bertemu"
Olivia berfikir. Darma bisa baik seperti itu karena apa? Atas dasar apa?
"pasti ada maunya itu nek" jawab Olivia.
"nah iya... Biar aku bisa makan masakan nenek yang enak" jawab Darma.
"oh jadi karena itu toh" canda Nek Ratih.
"iya haha... Habis enak sih"
"hehe" Nek Ratih tertawa kecil.
Oliviapun menyuapkan makanannya kemulutnya. Terdapat sisa makanan yang meleber dekat bibirnya. Nek Ratihpun mengusapnya.
"kotor ltuj" ucapnya.
"oh... Iya" Olivia melanjutkan makanannya. Dia jadi teringat sama neneknya. Perhatian Nek Ratih mirip dengan neneknya. Sikap Nek Ratih yang ramah begitu sangat spesial rasanya. Dirinya jarang mendapatkan perlakuan harmonis di rumahnya. Itu sebabnya Olivia lebih memilih pisah dengan keluarganya ketika sukses. Sendiri atau bersama keluarganya tidak ada bedanya menurut Olivia. Dirinya masih tetap merasa kesepian.
Darma yang melihat keakraban mereka berdua tersenyum senang.
"pipi Boss merah tuh"
"iya.. Maaf maaf"
Nek Ratih dan Via menatap mereka.
Olivia melanjutkan makannya menghindari tatapan mereka.
"kalian akrab banget ya!"
"darimananya nek?" jawab Olivia.
"itu tadi"
Oliviapun melanjutkan makan dengan lahapnya. Mereka makan sambil berbincang dan tertawa bersama sampai akhirnya jamu makan merekapun selesai. Perut mereka telah kenyang.
"nek aku bantu cuciin piringnya ya" ujar Olivia.
"eh gak usah biar nenek aja" tolak Nek Ratih.
"gak papa kok nek" Oliviapun membereskan piring di meja dan mengangkatnya.
"mau aku bantu Boss?" tanya Via sembari membereskan piring.
"gak apa-apa biar saya aja" tolak Olivia.
"Boss mu rajin yah" bisik Darma sambil membereskan piring.
"iya"
Olivia jengkel dengan sikap Darma, namun dirinya tak memperdulikannya. Dia menuju dapur dan mencuci piring bersama Nek Ratih.
"Nenek tinggal sendiri?" tanya Olivia sembari mencuci piring.
"iya sendiri... Kamu mau temani nenek?" canda Nek Ratih
"haha boleh"
"iya sekali-kali nginep disini"
"nanti kalau ada waktu yah nek"
"nenek akan senang hehe"
__ADS_1
Sungguh aneh, padahal baru saja bertemu tapi kenapa rasanya Olivia bisa sedekat ini dengan Nek Ratih.
"anak nenek emang siapa namanya nek?"
"Helena Syahla"
"wahhhh... Namanya persis sepertiku waktu kecil"
"oh yah?"
"iya nek. Dulu namaku Ati Syahla, namun ketika aku di smp selalu sakit akhirnya karena kepercayaan masyarakat setempat harus ganti nama kalau selalu sakit, akhirnya namaku ganti jadi Olivia Anna Jelita"
"wah masih ada yang percaya gituan yah?"
"iya. Tapi anehnya aku langsung gak sakit lagi"
"sugesti itu"
"iya sih"
"Nek..." panggil Darma menghampiri.
Olivia yang mendengar suara Darmapun terkaget. Sampai-sampai dirinya menjatuhkan piring yang di pegangnya. Kenapa dirinya bisa bodoh menceritakan semuanya pada Nek Ratih.
Belentrengg.... Suara piring pecah. Dirinya benar-benar kaget. Apakah Darma mendengar semua yang diceritakan Olivia?
"Boss?"
Oliviapun segera mengambil serpihan beling yang ada di lantai. Namun naas, jari telunjuknya tersuat oleh serpihan beling. Lukanya cukup panjang.
"Ahhh..." Olivia kesakitan.
"eh kamu gak apa-apa?" Nek Ratih langsung melihat tangan dari Olivia.
"Boss gak apa-apa?" Darma datang menghampiri.
"Boss?" kaget Nek Ratih. Ternyata wanita ini adalah Boss dari Darma!
"sebentar nenek ambil kotak P3K dulu"
"oh iya nek" jawab Olivia.
Darmapun mendekati Olivia. Kemudian memegang tangannya. Olivia masih merasa perih di jari telunjuknya.
"hmmmm" Darma menatap luka Olivia.
"kenapa?" tanya Olivia heran.
"kayaknya masih bisa selamat. Masih jauh dari usus mah"
"hah!?"
Oliviapun kesal memukul bahu dari Darma dengan tangan satunya.
Plakkkk
Aaaaaaa!!! Teriak Darma.
"maaf Boss bercanda" ujar Darma mengusap bahunya sakit. Olivia tersenyum geli.
Darmapun menarik tangan Olivia menuju tempat mengalirnya air. Dengan hati-hati Darma membersihkan darah yang terus keluar. Olivia menatap Darma. Dirinya begitu dekat dengan Darma. Kenapa dirinya dengan sukarela mau di bantu oleh orang yang di bencinya ini?
Darmapun melepas jasnya dan menutupi lukanya dengan tangan jasnya. Olivia melihat apa yang dilakukan Darma. Secara detail dirinya menyaksikkan Darma menolong dirinya.
"nanti kotor loh!" ucap Olivia.
"tidak apa-apa kok" ucap Darma. Lagian untuk apa jas pink bergambar kera unyu in the hoy ini? Pikir Darma.
"nanti darahnya terus keluar kalau gak di tutup"
Olivia menatap Darma. Jantungnya mulai berdebar kencang. Rasa perihnya seakan hilang ketika dia menatap Darma. Kenapa dirinya tak bisa berhenti memandang Darma? Rasanya seperti ada pesona tersendiri pada Darma.
Kemudian Nek Ratihpun datang. Olivia menarik tangannya yang dibuntal jas Darma. Kemudian membalikkan badannya ke arah Nek Ratih.
"sini biar saya obati"
Oliviapun menyodorkan tangannya. Nek Ratihpun memegang tangan Olivia.
"hati-hati nek"
"iya iya"
"Orang kaya emang lebay! Luka sigitu aja..." Batin Author "eh Astagfirullah"
Darmapun segera membantu membuka kotak P3K tersebut. Nek Ratihpun mengobati luka itu menggunakan alkohol kemudian memplesternya.
Olivia memandang Darma dan khawatir, apakah Darma mendengar yang ia ceritakan pada nek Ratih
__ADS_1
Bersambung...