
Darmapun mulai membuka matanya kemudian menguap sembari membentangkan tangannya. Diapun melirik ke kanandan ke kiri, tanpa di sadari semuanya telah sepi. Semua orang telah pergi, Hanya ada dirinya beserta Olivia dan Diana di sampingnya.
"Wuahhhhhh...." teriak Darma "Aku ketiduran"
"heh di ajak ke pesta malah tidur" ucap Olivia.
"hehe maaf" jawab Darma mengusap rambutnya.
"tapi tidurmu nyenyak kayaknya yah?" ucap Diana.
"hah? Benarkah?" jawab Darma.
"iya sampai ngiler loh" Diana tersenyum.
"haha... Itu mah pasti. Hampir Semua manusia pasti ngiler saat tidur"
"ah masa?"
"kamu juga pasti ngiler saat tidur"
"darimana kamu tahu? Emang pernah lihat?"
"belum. Tapi aku yakin"
"heh..." Diana tersenyum.
Olivia menatap mereka, begitu asiknya mereka ngobrol.
"gawat! Aku tidak boleh kalah. Aku harus cari topik juga" batin Olivia.
"tapi apa ya?" Olivia bingung.
"si Boss juga pernah ngiler" tunjuk Darma.
"hahhhhh!? Apa katamu?" syukurlah Olivia akhirnya bisa berbaur.
"itu loh waktu di rumah sakit" ucap Darma.
"rumah sakit?" bingung Diana.
"oh yah kamu tidak tahu. Empat hari yang lalu aku masuk rumah sakit"
"kenapa?"
"aku di seruduk bayi king kong" canda Darma. Olivia ikut tersenyum geli mendengarnya.
"bohong" jawab Diana tidak percaya.
"iya benar kok" jawab Olivia.
"benar bohongnya" lanjutnya.
"kenapa kamu suka banget bohong sih" ujar Diana.
"haha... Aku hanya bercanda, bukan bohong" jawab Darma.
"oh iya Diana, kenapa kamu belum pulang?" heran Darma.
"ah... Itu anu..." Diana jadi gugup. Dia tak tahu harus berbuat apa? Dirinya ada di situ karena khawatir Darma akan berduaan dengan Olivia.
"aku tahu" ucap Darma.
"kamu pasti..."
Diana membuntang menatap Darma. Apakah Darma sadar kalau Diana suka padanya.
"tapi tidak mungkin. Darma menyadarinya" batin Diana.
"ingin menyanyi di panggung kan?" terka Darma.
__ADS_1
"ah sudah ku duga" batin Diana.
"hahaha" Olivia tertawa.
"wahaha aku juga mau bernyanyi di panggung itu" ucap Darma sembari berdiri menatap panggung.
"jangan deh. Suaramu berbahaya" ucap Olivia. Darmapun lalu menoleh pada Olivia.
"heh dasar Boss ini, belum sadar juga kalau suara aku ini merdu layaknya bambang pamungkas"
"bambang pamungkas itu pemain bola" ujar Olivia membenarkan.
"hah? Benarkah?" kaget Darma.
"dasar" ucap Olivia kemudian berdiri.
"ayo kita pulang"
"sejak kapan bambang pamungkas jadi pemain bola?"
"dia emang pemain Bola" jawab Olivia sembari berjalan melewati Darma.
"ehhhh...?"
"sampai nanti yah Darma" pamit Diana.
"oh iya. Sampai nanti Diana" jawab Darma.
"ayo. Mau bareng tidak?" ajak Olivia.
"eh Boss tunggu" Darmapun mengejar Olivia.
Diana menatap mereka berdua. Diapun kembali mengingat percakapannya dengan Olivia tadi.
"Aku menyukainya" Olivia menatap Diana.
Diana benar-benar kaget dengan pernyataan Olivia. Ternyata benar tebakan dirinya, Olivia adalah rivalnya.
"jadi mari kita bersaing secara sehat" ucap Olivia kembali.
"baiklah" jawab Diana.
"tapi kalau mau bersaing secara sehat. Biarkan aku membuka cabang dekat kantor pusat"
"hah?"
"tidak adil rasanya jika Boss dekat dengan Darma, sedangkan aku jauh"
"itu kan kamu dulu yang mau jadi manajer di toko itu"
"A..." Diana terdiam. Memang benar dirinya lah yang menyetujui untuk jadi manajer di toko Destiny 47.
"Boss curang. Pasti..."
"saat itu aku belum menyukainya" pungkas Olivia "aku menjadikanmu manajer karena kamu berpotensi"
Diana terdiam. Apakah perkataan Olivia benar?
"itu tak ada hubungannya dengan Darma" lanjut Olivia.
"dan pernah ku bilangkan, kalau kamu punya Inovasi yang membedakan usahamu plus yang bisa menarik konsumen dengan cepat. Kamu boleh buka cabang disana. Adakah kamu ide untuk membuat inovasi tersebut?"
"Aku..." Diana belum bisa menjawab.
"ini bukan soal Darma, tapi soal bisnis. Jika kamu sudah dapat ide terang terhadap inovasi tersebut aku akan ijinkan"
Jrennngggg.... Penampilan kahitnapun selesai. Itu merupakan penampilan terakhir, dan sang pembawa acarapun mulai menutup acaranya.
Oliviapun menghadap kedepan, dan bertepuk tangan.
__ADS_1
Setelah acara selesai, semua orang pun pergi. Kemudian para tamu penting saling berfoto, hanya Olivia yang masih duduk di bangkunya, karena takut Darma akan dikuasai Diana. Kemudian Darmapun bangun.
Mengingat itu, Diana lalu mengepalkan kedua tangannya. Dia semakin berambisi untuk menambah cabang toko Destiny di area dekat kantor pusat.
*****
Di dalam kamar, Olivia tengah membaringkan badannya di tempat tidur. Dia melihat ke arah langit-langit sembari mengingat Diana yang mengungkapkan perasaannya.
"aku sangat menyukainya" jawab Diana.
Olivia lalu memeluk gulingnya.
"apakah aku akan menang?" gumamnya.
"Diana itu sangat cantik"
"Darma memang tak punya kontak Diana. Tapi aku tak tahu, bagaimana perasaan Darma pada Diana?"
"pembicaraan mereka juga nyambung"
Olivia menutup matanya, hatinya merasa sakit memikirkan hal itu. Dirinya jadi cemas, kalau Darma berhasil di rebut Diana.
"kalau Darma nanti menyukai Diana. Apa yang akan terjadi terhadapku ya?"
Olivia lalu mengingat percakapannya terhadap Diana.
"jadi mari kita bersaing secara sehat" ucap Olivia kembali.
"bersaing secara sehat apanya?" Olivia menutup matanya dengan tangannya.
"beginikah rasanya jika kita suka sama orang lebih dulu. Harus siap merasakan sakit"
Ting... Suara notifikasi ponsel Olivia. Oliviapun lalu mengambil dan melihat pada ponsel miliknya. Ternyata itu dari nama kontak bernama "si garabag" alias Darma.
"makasih Boss, aku senang hari ini"
Dug... Dug...
Betapa senangnya hati Olivia melihat pesan itu. Pipinya pun mulai memerah dan menahan lengkungan garis bibirnya.
"yeahahaha" teriaknya senang tak tertahan. Diapun lalu tengkurap sembari menatap layar ponselnya.
"ah Biarlah masa depan itu menjadi misteri, yang harus aku lakukan sekarang adalah menyusun rencana dan berjuang"
Oliviapun membalas pesan chat itu,
"sama-sama 😊" dengan emot yang tersenyum manis.
Oliviapun kembali mengirim pesan pada Darma,
"belum tidur?"
Namun Darma tak menjawabnya. Setelah dua jam ia tunggu, Darma tak kunjung membalas juga.
"Aaaaaaahhhhh... Kenapa tidak di balas jugaaaaaaaaaaaa!!!" teriaknya di malam hari, mengalahkan kuntilanak yang sedang tertawa menghiasi malam. Padahal Darma langsung tidur setelah mengirim pesan itu.
*****
Sementara itu, Diana sedang pusing di dalam kamar apartemennya. Dia tengah mencari ide inovasi untuk menambah cabangnya. Dia gulang guling sembari mencari ide - ide di google, akan tetapi tidak ada yang cocok. Dan akhirnya setelah beberapa lama berpikir, Diapun akhirnya memiliki ide.
"ahah!" Diapun dengan segera membuka laptop dan membuat proposalnya. Hingga akhirnya dia menyelesaikan proposal nya di dini hari.
"Akhirnya selesai juga"
Kini Diana telah siap pergi ke medan tempur kembali. Dirinya telah siap untuk berangkat besok pagi. Akan tetapi karena dia mengantuk akhirnya dia tertidur dan bangun kesiangan.
"Ah tidak" Diana menatap waktu di layar ponselnya.
"aku kesiangan" Dianapun menundukkan kepalanya kecewa.
__ADS_1
"mungkin besok saja lah"
Bersambung...